You are the Reason

You are the Reason
Bab 32. Pupus



Untuk terakhir kalinya Kiara menatap lekat wajah lelaki di depannya itu, tersenyum getir saat El kemudian memalingkan wajahnya.


“Selamat tinggal Abang. Semoga hari-harimu akan selalu menyenangkan,” bisik Kiara dalam hati.


Kiara berbalik dan keluar dari dalam kamar El, sesaat ia berhenti di depan pintu. Masih berharap El berseru memanggil namanya dan menahannya untuk tetap berada di sisinya.


“Tuhan, tolong lembutkan hatinya untukku.” Kiara memohon dalam hati seraya memejamkan matanya, ada air yang mengalir dari sudut matanya yang basah.


Namun itu hanya impian Kiara semata, tidak terdengar suara El memanggilnya. Lelaki itu bahkan tidak melihat padanya.


Kiara mengusap air matanya, mencoba tersenyum meski terasa sulit. Ia melangkah keluar kamar dengan gontai.


Bugh ...


“Aow!” Kiara meringis memegang bahunya yang sakit.


Raisha berjalan cepat menerobos masuk melewatinya, dan seperti sengaja menabrakkan tubuhnya pada Kiara. Hampir saja Kiara terjatuh kalau saja tangan kuat Ed tidak segera menahan tubuhnya.


“Kamu gapapa?” tanya Ed khawatir sembari memegang bahu Kiara.


Kiara menggeleng pelan, “Aku gapapa kok, Mas.” Kiara mengedikkan bahunya pelan dan menjauhkan tubuhnya dari jangkauan tangan Ed.


Ed menyadari hal itu, dengan cepat menarik tangannya dari bahu Kiara saat melihat tatapan mata Kiara mengarah ke pintu kamar El.


“Keterlaluan Kamu, Sha!” seru Ed berang, melihat Raisha berdiri melipat tangan di dada dengan pandangan mencemooh memperhatikan dirinya dan Kiara.


Raisha melirik Ed sekilas, lalu menoleh pada Kiara dan tersenyum mengejek.


“Ck, harusnya kalian berdua itu malu. Ngaca! Noh, ada cermin gede tuh di wastafel. Jelas-jelas kalian adalah pasangan, dan perempuan ini mau saja menurut disuruh mengaku sebagai istri El. Sampai segitunya ya kalian mau merusak hubunganku dengan El!” cecar Raisha.


“Jaga ucapanmu! Kami tidak seperti apa yang Kamu tuduhkan. Kamu yang harusnya malu memanfaatkan kondisi Abang yang sedang amnesia dengan mengaku sebagai tunangannya.”


“Aku memang tunangan El!”


“Mantan! Kamu pikir Aku tidak tahu.”


“Kamu yang mengaku-ngaku istri El, cih! Gak malu apa, ya. Udah miskin belagu! Apa kurang harta cowok lo yang sekarang?” sembur Raisha, sudut bibirnya terangkat dengan mata menatap sinis pada Ed.


“Aku memang istri sah Elvan Aksa Abiputra! Aku memang perempuan miskin, tapi asal Kamu tahu. Aku menikah dengannya bukan karena mengejar hartanya, dan Aku tegaskan sekali lagi padamu. Aku dan Edgar tidak memiliki hubungan apa-apa, dan sampai detik ini Aku masih istri sah Elvan!”


Kiara maju selangkah mendekati Raisha, tangannya terkepal kuat. Ingin sekali rasanya menutup bibir lemas itu dengan kepalan tangannya.


“Mana buktinya, jelas-jelas El tidak mengenalmu. Masih saja ngeyel ngaku-ngaku istri El. Apa, apa! Ngajak berantem, siapa takut!” Raisha melotot menatap Kiara, sudah saling berhadapan.


Hadeh!


Ed memijit keningnya yang mendadak pening, berada di antara dua wanita yang saling bersitegang. Raisha terus bicara dan berhasil menyulut emosi Kiara yang biasanya selalu bersikap tenang dan tidak mudah terpancing.


“Raisha, cukup!” seru El membuat keduanya langsung menoleh padanya.


Lelaki itu berdiri berpegangan pada sandaran kursi, menatap dua orang wanita yang saling berhadapan itu dengan wajah pucat. Tubuhnya masih lemah dan detik berikutnya ia terjatuh.


“Abang!” Kiara berlari mendekat, namun lengan kuat Edgar telah terlebih dahulu menyangga tubuh El dan membawanya kembali ke tempat tidur.


“Lebih baik Kamu istirahat,” ucap Ed lalu beranjak dari atas tempat tidur.


“Please, Ed. Bawa wanitamu itu pergi dari sini,” pinta El sambil memegang lengan Ed. “Please.”


Ed tertegun, membutuhkan waktu beberapa saat untuk bisa memahami apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana bisa El berpikir kalau Kiara adalah wanitanya?


“Maksudmu, Aku dan Kiara ...” Ed menunjuk dirinya dan Kiara, lalu menoleh pada El lagi.


Kiara yang terduduk lemas di tepi tempat tidur, menggeleng tak percaya mengetahui kalau El masih menganggap dirinya adalah wanitanya Ed. Sementara Raisha yang sudah naik ke atas ranjang, duduk merapat di samping El.


“Tidak! Aarggh ...” El memegangi kepalanya yang sakit.


Perawat yang baru saja tiba bergegas menuju kamar El dan langsung menyuruh mereka semua yang ada di sana untuk keluar.


“Aku akan tetap berada di sini, El membutuhkan Aku di sini.” Raisha tetap bertahan di dekat El.


“Termasuk Anda juga, tidak ada pengecualian di sini. Silah kan tinggalkan kamar ini,” perintah tegas perawat itu lagi.


“Ish!” Raisha turun dari ranjang dengan bibir mengerucut. Sempat melirik El sekilas, namun laki-laki itu berbaring memejamkan mata rapat dengan tangan menggenggam erat sesuatu.


•••••


“Kiara, tunggu!”


Ed berlari mengejar Kiara, dilihatnya wanita itu berjalan kaki ke arah taman kota.


“Mau ke mana?”


Ed berdiri di depan Kiara, menatap dalam mata bulat yang kini terlihat sembab. Pipi pucat itu terlihat basah, sepertinya Kiara menangis sepanjang jalan tadi.


“Hmm, apa Kamu baik-baik saja.”


Kiara memalingkan wajahnya, “Pulang,” jawab Kiara singkat, tanpa menoleh pada Ed. “Dan Aku baik-baik saja,” imbuh Kiara lagi tak dapat menyembunyikan suaranya yang bergetar.


Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ed, meski saat ini hatinya sedang kacau.


“Aku antar Kamu pulang. Datang ke mari denganku pulang pun harus denganku!” tegas Ed.


“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Kiara, tangannya memegang kuat tali tas di bahunya.


“Jangan buat Aku khawatir seperti ini. Kamu sedang tidak baik-baik saja saat ini, sudah malam. Dan Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri dalam keadaan menangis seperti itu!”


Kiara tersenyum kecil, mendongakkan wajahnya menatap pada Ed.


“Maaf, Aku tidak berniat membuat Mas khawatir. Terima kasih sudah banyak membantuku sejauh ini,” ucap Kiara tulus. “Aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Aku pamit pulang.”


Kiara meneruskan langkahnya, setitik air mata kembali jatuh di pipinya. Dengan ujung jarinya, Kiara menghapus air matanya. Dan semua itu tidak luput dari pandangan mata Ed yang terus memperhatikannya dari jauh.


“Oh ya, kita lihat saja bagaimana caramu mengatasinya!” teriak Ed gusar, berkacak pinggang menatap punggung Kiara yang berjalan semakin menjauh.


Kiara berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan lewat, hari sudah semakin malam. Wajahnya menengadah memandang langit malam, banyak bintang di atas sana.


“Jika aku tidak lagi bisa menemanimu, percayalah aku akan selalu ada untukmu. Lihat aku di antara bintang-bintang yang bersinar.”


“Abaaang!”


Kiara terduduk, menangis terisak di pinggir jalan mengingat kebersamaannya dengan El.


Satu rengkuhan kuat di bahunya membuat Kiara tersentak. Ia berdiri menatap wajah di hadapannya itu dengan berurai air mata.


“Apa masih tersisa harapan untuk kami bisa bersama lagi?” Kiara bertanya, menunggu jawaban.


“Menangislah, jika itu bisa membuat hatimu lega.”


Bukan jawaban seperti yang diharapkan Kiara.


“Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dan Aku sudah kehilangan dirinya. Ya Tuhan, kenapa mencintainya bisa sesakit ini rasanya.”


••••••••