
“Yang Mulia, terimakasih telah melaksanakan apa yang ku minta.” Ucap Xie Hongyi saat di sampai di hadapan Huang Long.
Huang Long menjawab, “Tidak masalah.” Dia kemudian terdiam. Mulutnya membuka dan menutup secara cepat, seperti ingin menyampaikan sesuatu. Kemudian, karena tidak tahan, Huang Long akhirnya bertanya, “Apa ini semua adalah jebakan?”
Xie Hongyi yang sempat menoleh untuk melihat para prajurit yang sedang bekerja, memutar kepalanya kembali untuk menatap Huang Long sambil mengangguk. “Ya.”
“Darimana kamu mendapatkan semua benda ini? Aku tidak pernah melihat ahli pembuat senjata membuat semua semua ini."
Xie Hongyi terdiam. Jantungnya mendadak berdetak kencang dan keringat dingin mengalir dari dahinya. Sial, bagaimana dia harus menjawab? Secara tak sadar dia menatap sistem yang meringkuk di dekapannya. Merasakan Xie Hongyi menatap, sistem membuang muka. Artinya dia tidak mau terlibat dan biarkan Xie Hongyi yang mengurusnya sendiri.
Ada guratan pembuluh darah yang menonjol di kening Xie Hongyi. Sistem menyebalkan, apa dia tidak mau tenggelam bersama?
Xie Hongyi pun menjawab dengan tergagap.
“Ah ya, itu…Emm aku-“ Belum sempat Xie Hongyi menyelesaikan perkataanya, dia diinterupsi.
Seseorang yang memakai baju prajurit mendekati Huang Long untuk melaporkan hasil kerjanya. “Yang Mulia, semuanya sudah selesai.”
Atensi Huang Long teralihkan. Dia menatap prajurit yang merupakan salah satu pemimpin dari pasukan rahasianya dan memberi perintah. “Baik. Kembalilah berjaga.”
“Bawahan mematuhi perintah.”
Saat Huang Long menoleh, sosok Xie Hongyi telah menghilang. Huang Long tertegun sejenak.
Huang Long menggaruk keningnya yang tak gatal. Pemimpin pasukan rahasia itu menahan agar bibirnya tidak berkedut. Bertahun-tahun menjadi bawahan Huang Long, baru kali ini dia melihat Yang Mulia Kaisar yang biasanya berekpresi seperti papan cucian itu dibuat tidak berdaya. Dan yang membuatnya tidak berdaya adalah seorang wanita. Di masa depan, pemimpin pasukan itu berpikir harus lebih menghormati Xie Hongyi.
Hari-hari awal musim semi dimulai dengan turunnya hujan. Langit begitu mendung dan awan hitam tampak di seluruh langit. Angin berhembus cukup kencang, sehingga membuat takut akan terjadi badai.
Suasana di ibukota Selatan yang biasanya ramai, berubah menjadi suram. Orang-orang tidak berani keluar untuk berkativitas seperti biasa, takut akan pemberontak dan pihak Istana yang akan menghukum jika ada yang berani keluar dari rumahnya.
Musim semi yang harusnya hangat, menjadi dingin seperti kutub es.
Di sebuah kedai makanan yang tertutup, dimana seharusnya tidak ada pelanggan di sana, duduk dua orang yang beda generasi sedang berbincang. Suasana dalam kedai itu sangat aneh.
Pria yang lebih tua berbicara. “Dia sudah kembali.”
“Baguslah. Dengan begini kita akan lebih mudah membunuhnya.”
Pria tua itu mencibir. “Anak muda selalu tidak sabaran.”
Bukannya marah, Shi XuanRan malah balas mencibir. “Bukankah kata-kata itu yang pantas untukmu?”
“Cih, jangan menyangkalnya.”
“Yang penting aku tidak serakah sepertimu.”
Pria tua itu menyipitkan matanya dengan tajam. Dia tidak membantah apa yang dikatakan Shi XuanRan karena memang itulah kenyataannya. Dia ingin Selatan hancur. Dendam dalam dirinya sudah berakar pada tulang dan daging, tidak mudah untuk disingkirkan dan dia pun tidak mau menyingkirkannya.
“Hanya nyawa Huang Long yang aku inginkan. Sisanya terserah apa yang kau lakukan.”
Jiang Zhi sedang berdiskusi dengan beberapa jenderal lainnya di sebuah ruangan yang ada di Istana. Mereka sedang berdiskusi mengenai waktu pemberontak akan menyerang. Tidak dapat dipungkiri, semua orang tahu bahwa waktunya sudah dekat.
Salah satu bawahannya tiba-tiba masuk. Dengan terburu-buru, bawahan itu memberi hormat. Setelah ia selesai, dia melaporkan dengan panik.
“Gawat! Tuan Muda, putri Jiang telah diculik!”
Mata Jiang Zhi langsung melotot. Dia langsung berdiri dari duduknya. Lalu dia bertanya dengan keras pada anak buah di depannya. “Apa? Siapa yang melakukannya?”
Bawahan itu buru-buru berteriak. “Mereka adalah orang dari keluarga Chen!”
Saat mendengar penjelasan, Jiang Zhi langsung naik pitam. “Keluarga Chen! Beraninya mereka menculik kakakku? Siapkan pasukan! Kita akan menyerang Kediaman Chen!”
Mendengar perintah Jiang Zhi, bawahan dan beberapa orang lainnya mengerutkan kening. Satu pikiran melintas dibenak mereka. Bawahan itu kemudian mengungkapkan apa yang ada di benak semua orang. “Tapi Tuan Muda, apakah kita bisa menembus pertahanan keluarga Chen?”
Suara Jiang Zhi masih terdengar tinggi. “Aku tidak peduli! Yang penting kakakku bisa kembali!”
Pada saat ini, Jiang Zhi benar-benar panik. Kakaknya yang lain, Jiang Qingyuan yang ada di sana juga panik, namun ia tidak seheboh Jiang Zhi.
Jiang Zhi tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain menyelamatkan Jiang Baixi. Kesehatan kakanya sangat buruk, dia tidak bisa membayangkan bagaiman dirinya yang berada dalam tekanan. Keluarga Chen benar-benar sangat berani menculik kakaknya, dia Jiang Zhi pasti akan menghancurkan Keluarga Chen.
“Tenanglah, saat ini kita tidak boleh bertindak gegabah.”
Mata Jiang Zhi memerah saat dia menatap Jiang Qingyuan. “Aku tidak peduli! Aku ingin kakakku!”
Jiang Qingyuan tahu bahwa Jiang Zhi masih muda dan selalu bertindak sesuai apa yang ia mau. Tapi sebagai kakaknya, yang telah mengalami situasi seperti ini beberapa kali, Jiang Qingyuan harus mencegah agar Jiang Zhi tidak terjebak.
“Aku tahu, tapi sekarang keadaannya berbeda. Kita tidak tahu apa yang sedang menunggu kita diluar.”
Kekesalan Jiang Zhi telah mencapai puncaknya. “Jiang Qingyuan sudah kukatakan, aku tidak peduli! Jika kau tidak mau membantuku, aku akan pergi sendiri.”
Tidak peduli walaupun yang ada di depannya adalah juga kakanya, Jiang Zhi membentak.
Jiang Zhi kemudian berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi, meninggalkan Jiang Qingyuan yang tertegun. Pria itu kemudian menghela nafas.
Sesuai dengan perkataannya tadi, Jiang Zhi menyiapkan pasukan bersenjata lengkap untuk pergi menyerang kediaman Chen. Dengan sosoknya yang tinggi, dia menaiki kuda berwarna hitam, memecut pantat kuda itu lalu melesat secepat angin. Bawahannya yang diberikan oleh Huang Long dengan cepat mengikutinya.
Namun, belum sampai Jiang Zhi ke wilayah keluarga Chen, Keluarga Shi mengirimkam sebuah pesan yang di sampaikan oleh seekor merpati. Surat itu berisi bahwa pihak Istana tidak boleh melakukan tindakan apapun, dan jika melawan, mereka tidak akan segan-segan menghabisi nyawa sandera. Dalam surat itu juga dikatakan bahwa mereka ingin Yang Mulia Kaisar untuk pergi ke taman yang tidak jauh dari Istana sebelum matahari terbenam.
Setelah Xie Hongyi mendengar berita itu, di dalam kamar ia berkata, “Sepertinya adalah hari ini ya,”
Ling’er yang sedang menuangkan teh untuk Xie Hongyi, menghentikan gerakannya saat mendengar Xie Hongyi bergumam. “Hari ini? Apa yang akan terjadi hari ini?”
Xie Hongyi hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Ling’er. “Ling’er, Wan’er, dan Yi’er bersiaplah. Kita akan melakukannya malam ini.”
Mendengar apa yang diucapkan Xie Hongyi, ketiganya langsung mengerti.
Tidak ada yang mengetahui bahwa dibalik tenangnya sikap Xie Hongyi, wanita itu sebenarnya sudah tidak sabar untuk beraksi. Dia sangat bersemangat seakan-akan pembuluh darahnya akan pecah. Namun karena tidak mau membuat keributan, Xie Hongyi menyembunyikan antusiasmenya dengan bersikap elegan.