
Melihat garis cakrawala, warna hitam telah memenuhi langit. Bintang-bintang musim semi mulai bermunculan, bersinar indah seperti mutiara malam.
Berbanding terbalik dengan langit yang indah, di atas bumi tanahnya dikotori dengan tumpahan darah yang mengalir dimana-mana.
Aura kematian dapat dirasakan setiap sudut. Banyak mayat dari pasukan pemberontak maupun Istana yang tergeletak begitu saja ditanah, seperti butiran beras yang tumpah. Dimana-mana, kita bisa melihat darah, potongan tubuh, mayat yang terkoyak dan senjata besi yang dilumuri oleh darah. Pemandangan ini mencerminkan situasi yang ada di neraka.
Pertarungan antara pasukan pemberontak dan Istana masih berlanjut. Suara teriakan dan senjata yang beradu terdengar bergema sampai ke luar Istana.
Warga sipil yang bersembunyi di rumah mereka menjadi cemas. Mereka khawatir dengan keadaan yang terjadi di negeri mereka sendiri. Rumah yang harusnya menjadi tempat yang paling aman dan tentram, berubah menjadi mimpi buruk yang akan membayang-bayang selamanya.
Setelah membunuh Jiang Wei dan terluka oleh Jiang Zhi, Chen Guang menjauh. Melihat luka dibahunya, Chen Guang menjadi kesal.
Jiang Zhi menyaksikan ayahnya, tertusuk pedang musuh tepat di depan mata. Pupilnya melebar, pikirannya mendadak kosong. Kakinya berjalan secara tidak sadar, mendekati Jiang Wei yang hampir tumbang.
"Tidak!" Jiang Zhi berteriak ketika melihat Jiang Wei yang sudah mencapai batasnya.
Jiang Wei merasa pandanganya menjadi gelap. Tubuhnya perlahan mati rasa, dari kaki hingga merambat ke tubuh bagian atas.
Jiang Wei sepertinya mendengar suara Jiang Zhi, tapi dia terlalu lemas untuk menghiraukan. Tusukan yang mengenai dadanya telah membocorkan hampir semua darah Jiang Wei.
Belum sempat Jiang Zhi menyentuh Jiang Wei, suara teriakan menghentikan seluruh gerakannya. Dengan kaku dia menoleh ke arah sumber suara, dan jantungnya berdebar.
"Jiang Zhi!"
Jiang Baixi berteriak saat dia mendengar suara Jiang Zhi. Matanya tertutup, sehingga dia tidak bisa melihat pemandangan berdarah didepannya.
Jiang Zhi dipegang oleh Chen Guang dibelakangnya. Dia terus meronta-ronta agar bebas, namun Chen Guang yang terluka masih punya tenaga lebih.
"Jiang Zhi, saksikanlah dengan baik apa yang akan kulakukan!"
Sedari awal, Jiang Baixi memang sudah berada di medan perang. Anak buah Chen Guang yang diberi tugas khusus menjaganya agar tidak kabur.
Jiang Baixi mendengar suara teriakan dan senjata beradu, menjadi gugup dan cemas. Dia yakin bahwa dirinya telah dipindahkan, tapi dia tidak mengetahui dibawa kemana. Dan setelah mendengar Jiang Zhi berteriak, Jiang Baixi mencoba menarik perhatiannya dengan melakukan hal yang sama. Hasilnya, dia ditarik dan dicekal oleh Chen Guang.
Belum sempat memulihkan diri dari gelombang kejut akibat ayahnya tewas, Jiang Zhi sekali lagi mendapat guncangan.
Chen Guang menusuk punggung Jiang Baixi hingga pedangnya tembus ke dada. Seketika darah mengalir seperti air yang ditumpahkan, bersatu dengan tanah.
Kain yang menutup mata Jiang Baixi basah. Rasa sakit menusuk-nusuk dadanya sehingga Jiang Baixi kesulitan bernafas. Dengan kasar, Chen Guang mendorong tubuh Jiang Baixi yang lemas.
Jiang Zhi menyaksikan seluruh adegan didepannya dalam diam. Matanya memerah seperti hendak menangis, namun tidak ada air mata yang keluar. Tubuh Jiang Zhi seakan membawa benda berat, sangat sulit untuk melakukan gerakan kecil.
Yang paling parah terluka adalah hatinya.
Mengapa? Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jiang Zhi merasa dirinya tidak berguna. Mereka ada dihadapannya dan mengapa dia tidak bisa melakukan apapun? Apa gunanya semua beladiri yang ia kuasai? Uang yang ia punya? Wajah tampan? Semuanya hanya omong kosong belaka.
Sial. Sial. Sial.
Api kemarahan dan keputusasaan menyelimuti seluruh tubuh Jiang Zhi. Hanya ada satu kata dalam pikirannya, yaitu bunuh. Bunuh semua orang yang telah menghabisi ayah dan kakaknya.
Keduanya dibunuh tanpa diberi kesempatan untuk mengatakan hal-hal terakhir.
Dengan cepat, Jiang Zhi bergegas ke arah Chen Guang. Kali ini dia melakukannya dengan penuh aura membunuh sampai-sampai Chen Guang tidak berkutik.
Jiang Zhi dengan keras menusuk perut Chen Guang yang tertutup armor besi, saking kuat tenaganya armor itu sampai berlubang. Ujung pedangnya berhasil merobek kulit perut Chen Guang, dilanjutkan dengan tusukan yang dalam padanya.
Chen Guang tidak menyangka akan mati dengan cara ini. Dengan mata melotot, dia menatap Jiang Zhi dengan mata penuh kebencian. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Pasukan pemberontak yang menyaksikan pemimpinnya tewas, masih tetap tenang dan bertempur dengan ganas. Situasi ini sudah diperkirakan oleh atasannya yang lain, sehingga juga ada rencana yang disiapkan jika hal ini terjadi.
Bersamaan dengan itu, bantuan pasukan pemberontak telah datang. Karena gerbang Istana runtuh, pasukan pemberontak itu berhasil memasuki Istana dengan mudah. Ini adalah rencana lain jika salah satu pemimpin pasukan pemberontak tewas.
Situasi kembali di kuasai oleh para pemberontak. Mereka membantai prajurit Istana sehingga hanya tersisa beberapa puluhan orang.
Tiba-tiba, ada seseorang yang bergerak cepat seperti angin. Gerakannya begitu ganas sehingga sulit untuk menghindari serangannya. Dalam sekali tebas, dia mengirimkan musuhnya langsung ke dunia lain.
Jiang Zhi membantai pasukan pemberontak untuk melampiaskan emosinya. Dia sangat terguncang, sehingga dimatanya hanya ada hasrat untuk membunuh.
Pasukan pemberontak mengepung Jiang Zhi yang seperti sapi mengamuk dalam sebuah formasi melingkar. Mereka menyerang Jiang Zhi secara bersamaan untuk membunuhnya. Namun, bagaikan tak terkalahkan, Jiang Zhi menusuk semua musuhnya.
Tetapi, pasukan pemberontak juga tidak pantang menyerah. Walau sepertinya mustahil untuk menjatuhkan Jiang Zhi mereka terus menyerangnya.
Walaupun tenaga Jiang Zhi yang seperti babi hutan, jumlah pasukan Istana semakin sedikit. Mereka terpojok dalam situasi yang tidak menguntungkan. Jika seseorang melihatnya, mereka pasti berpikir bahwa pihak yang lebih banyak akan menang.
Namun ternyata, kemenangan pasukan pemberontak masih jauh. Ketika mereka masih melawan pasukan Istana yang tersisa, ada suara gemuruh kaki kuda yang terdengar dari arah dalam Istana.
Mo Heixue dan Jiang Qingyuan datang, memimpin pasukan yang lebih besar daripada sebelumnya.
Kemudian dengan aba-aba Jiang Qingyuan, pasukan yang dipimpinnya menyerang.
Yang Jiang Qingyuan dan Mo Heixue bawa adalah pasukan rahasia milik Huang Long. Diantaranya, ada Dugu An yang ikut menjadi prajurit. Seperti Jiang Zhi, mereka belum tahu siapa orang-orang yang mereka pimpin.
Ditengah pertarungan, setelah Jiang Qingyuan membunuh salah satu anggota pemberontak ,dia terpaku melihat dua sosok tubuh yang sangat dikenalnya tergeletak di antara tumpukan mayat.
Ini, tidak mungkin?
Berbeda dengan Jiang Zhi, Jiang Qingyuan dengan cepat memulihkan kesadarannya. Walaupun terguncang, dia masih terkendali. Sekarang yang paling penting adalah mengalahkan semua musuh agar kedamaian kembali.
Jiang Qingyuan juga melihat Jiang Zhi.
Jiang Zhi berdiri disana dengan berlumuran darah, tatapannya kosong. Namun tubuhnya masih bergerak untuk menyerang musuh.
"Jiang Zhi! Sadarlah!" Jiang Qingyuan merasakan sesuatu yang tidak beres pada Jiang Zhi, mencoba menghentikannya.
Tapi, seolah-olah tuli, Jiang Zhi sama sekali tidak mengindahkan Jiang Qingyuan.