
[Mohon perhatian! Misi sampingan wajib telah dipicu. Jika tidak dapat menyelesaikan misi, maka kamu akan mendapat hukuman. Kamu tidak boleh jauh dengan protagonis dalam jarak 1 meter dalam waktu 20...19...]
Xie Hongyi masuk ke dalam tenda dengan berlari. Wajahnya memang terlihat masam, karena sistem memberinya misi secara dadakan, dan juga jenis misi apa itu! Jadi secara tidak langsung dia harus menempel seperti tanaman merambat dengan Huang Long?
Xie Hongyi tidak punya pilihan lain. Jadi ketika ia masuk, dia tanpa kata-kata langsung memeluk Huang Long. Terkejut karena tiba-tiba seseorang memeluknya, Huang Long terpaku dan pikirannya kosong sesaat.
Setelah mendengar suara terkesiap dari dua orang didepannya, Huang Long tersadar dan bertanya sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa kau memelukku?"
Xie Hongyi berkata dengan serius. "Jika aku tidak menyentuhmu, aku akan mati." Huang Long tahu bahwa Xie Hongyi tidak berbohong padanya.
Xie Hongyi memeluk tubuh Huang Long dari samping seperti guling. Pria itu mencoba melepas tangannya karena merasa mereka tidak pantas melakukan hal itu ketika sedang dalam situasi yang serius. Tapi tangan Xie Hongyi melilit tubuhnya dengan sangat seperti tanaman merambat, sehingga usahanya sia-sia dan ia pun mengabaikannya. Lagipula, dipeluk oleh Xie Hongyi tidak membuatnya jijik, bahkan terasa nyaman dan hangat. Mengetahui bahwa dia berpikiran seperti itu, telinga Huang Long perlahan-lahan memerah. Warna merah itu juga merambati pipinya, membuat laki-laki itu memalingkan muka agar orang-orang yang ada di ruangan itu tidak menyadarinya.
Dengan wajah tanpa dosa, Xie Hongyi berkata. Dia juga sudah merubah wajahnya yang semula muram menjadi tersenyum menatap Jenderal Mo dan Jenderal Jiang. "Silahkan lanjutkan. Aku tidak akan menggangu kalian."
Salahkan sistem yang memberinya misi untuk harus dekat dengan protagonis. Jika saja ia menjauh satu meter darinya, maka dia akan mendapat hukuman berupa rasa sakit di kepalanya.
Oleh karena itu, walaupun malu ditatap oleh para Jenderal Mo dan Jenderal Jiang, Xie Hongyi dengan erat memeluk Huang Long.
Jenderal Mo berbisik. "Aku tidak tahu bahwa Yang Mulia bisa semesra ini dengan Selir Xie."
"Sekarang kau tahu. " Orang yang ada disampingnya balas berbisik. Saat ini mereka seperti sedang melihat pasangan yang baru menikah, enggan berpisah dan terus menempel satu sama lain.
Karena Huang long tidak berbicara lagi, mereka pun melanjutkan diskusi membahas tentang strategi apa yang harus mereka lakukan untuk melawan kerajaan utara. Pendapat demi pendapat bergantian diutarakan, dan mereka pun melupakan postur tubuh dua orang itu yang ambigu. Xie Hongyi mendengarkan mereka tanpa niat menyela.
Xie Hongyi menatap peta diatas meja. Gambar-gambar di dalam peta itu terlihat begitu sederhana, berupa beberapa simbol yang berbeda dan diberi warna-warna berbeda pula. Xie Hongyi kemudian hendak bertanya arti dari satu simbol yang berwarna hijau, tampak begitu mencolok dan dominan dalam peta. Dia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Huang Long, tetapi dengan cepat ia memeluk Huang Long lagi karena ketika ia menjauh darinya, rasa sakit yang tajam terasa ditubuhnya. Di pun bertanya sambil tetap memeluk Huang Long. "Apa simbol berwarna hijau itu?"
Yang menjawab pertanyaan Xie Hongyi adalah Jenderal Mo. "Ini adalah kawasan rawa. Lokasi itu berada di sebuah hutan dekat dengan Padang pasir."
Entah kenapa ketika mendengar Xie Hongyi berbicara, Jenderal Jiang secara tak sadar menjelaskan. "Pasukan utara memilki gerakan yang cepat dan gesit. Jika kita menghambat pergerakan mereka, maka kekuatannya akan berkurang. Oleh karena itu kami berniat untuk memancing mereka agar menyerang terlebih dahulu."
Jenderal Mo kemudian melanjutkan. "Tapi karena sebagian besar prajurit sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan, kita akan mencari cara lain."
Xie Hongyi sedikit tersenyum. Dia telah menjadi dokter militer selama puluhan tahun, tidak jarang dia juga ikut dalam diskusi strategi dengan komandannya. Jadi, dalam situasi seperti ini, sebuah ide muncul di dalam pikirannya. "Jalankan saja rencana itu. Aku tahu bagaimana memancing mereka keluar."
Pada saat ini, semua orang yang ada di dalam tenda menatap Xie Hongyi. Huang Long dengan serius bertanya. Wajahnya juga sudah tidak memerah. "Bagaimana caranya?"
***
Suhu di padang pasir ketika malam hari sangatlah dingin. Para prajurit Utara mengatasi suhu udara yang dingin itu dengan menyalakan sebuah api unggun. Mereka juga memanggang seekor rusa hutan yang mereka buru tadi siang di hutan dekat padang pasir. Panggangan itu menimbulkan aroma harum yang membuat semua prajurit lapar. Suasana masih santai dan aman untuk saat ini.
Pada saat ini, terdengar sebuah ledakan. Di langit malam, sebuah cahaya besar tampak berpendar disekitarnya. Prajurit Utara menjadi waspada, bahkan mereka melupakan rusa bakar itu. Jendral yang bertugas sebagai pemimpin mereka, Jenderal Wu Zhantian juga keluar dari tenda setelah mendengar suara itu. Wu Zhantian gagah sepeti nampaknya seorang jenderal dengan tubuh tinggi dan aura dominan yang milikinya. Dia bertindak cepat dengan memberi perintah pada prajuritnya. "Kembang api? Siapa yang menyalakannya sebelum tahun baru? Cepat periksa!"
Beberapa prajurit kemudian pergi. Ketika mereka sampai di tempat yang mereka duga adalah sumber suara, mereka tidak menemukan apapun. Setelah memeriksa dengan teliti pada seluruh tempat, para prajurit itu hendak kembali dan melapor pada Jendral mereka ketika sebuah benang tipis muncul dan menghalangi jalan mereka. Salah satu prajurit itu kemudian memberanikan diri menyentuhnya, dan seketika dia mengalami kejang-kejang kemudian jatuh tak sadarkan diri.
Melihat bahwa benang itu berbahaya, para prajurit lainnya melangkah dengan hati-hati agar tidak menyentuhnya benang itu. Tapi ketika cahaya bulan memantul menyinari mereka, ternyata benang itu ada dimana-mana dan melilit tubuh mereka!
Xie Hongyi, Huang Long, Jenderal Jiang, Jenderal Mo dan beberapa orang prajurit berdiri di sudut tak terlihat. Kecuali Xie Hongyi, wajah mereka menampilkan ekspresi terkejut. Benang itu sebenarnya adalah kabel listrik, dan Xie Hongyi memegang alat kendalinya. Benda itu ditukar dengan 50 poin. Xie Hongyi sedikit tidak rela, tapi demi keuntungan yang besar, dia harus mengorbankan sesuatu. Tidak ada yang mengetahui bahwa diam-diam Xie Hongyi merencanakan meminta imbalan pada Huang Long apabila strategi yang ia ajukan berhasil. Yah, hitung-hitung sebagai ganti poinnya yang ditukar untuk membantu lelaki itu. "Cepat, nyalakan kembang apinya lagi!" Xie Hongyi berteriak.
Mereka yang terkejut pun akhirnya tersadar. Prajurit yang bertugas menyalakan kembang api kemudian menuruti perintah Xie Hongyi. Sebenarnya, kembang api ini selalu digunakan digunakan jika dalam keadaan darurat, seperti sebuah sinyal untuk memberikan informasi.
Sekali lagi, nyala kembang api itu menerangi langit. Saat suara ledakan kembang api terdengar, Xie Hongyi sedikit mengepalkan tangannya. Tubuhnya juga bergetar sedikit. Di dalam hati, ketakutan itu berontak menjadi sebuah trauma. Tiba-tiba kehangatan menyelimuti tangannya yang terkepal. Xie Hongyi merasa aman dan nyaman dengan kehangatan itu, kemudian dia menoleh untuk menemukan siapa pelaku yang menggenggam tangannya.
Ternyata dia adalah Huang Long. Ketika dia ditatap oleh Xie Hongyi dari samping, wajahnya mengadah ke arah langit. Cahaya kembang api membuat wajah pria itu terlihat indah dan bersinar. Dia dengan acuh tak acuh menggenggam tangan Xie Hongyi, mengalirkan sebuah kehangatan yang sampai kedalam hati wanita itu. Xie Hongyi tersenyum dan diam-diam bergumam. "Terimakasih."