
Dengan memegang pedang ditangannya, Xie Hongyi bergegas membantu Dugu An. Saat ini di dalam aula hanya terdengar suara dentingan pedang yang beradu satu sama lain.
Fokus Dugu An sebenarnya sedikit terganggu dengan gerakan Xie Hongyi. Namun, dia dengan cepat kembali ke pikirannya.
Walaupun para pembunuh itu adalah seorang wanita, mereka sangat terampil dalam bela diri sehingga kelompok Dugu An sedikit terdesak. Dalam keadaan itu, Xie Hongyi memainkan beberapa trik untuk mengecoh lawan. Trik itu berhasil dan para pembunuh berhasil dilumpuhkan.
"Huh, keterampilan mereka sangat bagus. Aku ingin tahu dimana mereka mempelajarinya." Xie Hongyi menghela nafas. Tubuh ini benar-benar tidak mempunyai stamina yang lemah sehingga membuatnya lelah.
Dugu An sedikit melirik Xie Hongyi, lalu memerintahkan bawahannya untuk mengurus para pembunuh yang tidak sadarkan diri. "Bawa mereka ke penjara bawah tanah."
"Baik." Kemudian para pembunuh itu dibawa oleh bawahan Dugu An. Dugu An pun berkata pada Xie Hongyi yang sedang menjadikan pedangnya sebagai tongkat tumpuan. "Terima kasih Selir Xie, kalau tadi Selir tidak membantu, mungkin kami akan berada dalam kesulitan."
Xie Hongyi menjawab dengan santai. "Hanya bantuan kecil. Lebih baik kita sekarang lihat keadaan orang-orang yang teracuni."
"Selir Xie pergilah sendiri. Ada hal yang harus ku urus saat ini." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dugu An menghilang.
Saat menyadari bahwa dia ditinggal sendirian, Xie Hongyi pun memutuskan untuk keluar. Saat kakinya melangkah, dia melihat tiga orang berlari ke arahnya. "Nyonya, darimana saja kau tadi? Kami khawatir kau hilang." Yi'er berkata dengan cemas, namun saat melihat bahwa Nyonyanya baik-baik saja, dia menghela nafas lega.
"Aku tidak apa-apa.Oh, dibawa kemana orang-orang yang keracunan?"
Ling'er lah yang menjawab pertanyaan Xie Hongyi. "Mereka sedang diperiksa di kantor medis kekaisaran."
"Kalau begitu kita pergi ke sana."
"Baik Nyonya." Ketiganya berjalan mengekor Xie Hongyi.
Ditengah jalan, Xie Hongyi mendadak berhenti. Dia kemudian berbalik dan bertanya dengan wajah serius. "Terletak dimana kantor medis itu?"
Nyonya, siapa tadi yang bersemangat jalan duluan?
Di kantor medis kekaisaran.
Satu-persatu orang-orang yang diracuni diperiksa oleh para tabib. Wajah pasien dan dokter itu tidak terlalu baik.
"Tabib, kenapa perutku sakit sekali?" Tanya salah satu Tuan muda dari keluarga Hu.
Tabib itu menjawab dengan nada lemah. "Tuan diracuni oleh racun Xin. Kami hanya bisa memberikan obat untuk menghilangkan rasa sakitnya saja." Wajah Tuan Muda itu pucat saat mendengar tabib berbicara. "Apa kau tidak punya penawarnya?"
Tabib itu menggelengkan kepalanya.
Setelah memeriksa makanan dan minuman yang disajikan untuk pertemuan, mereka menemukan bahwa racun itu berasal dari minuman alkohol. Kemudian salah satu tabib yang mengerti tentang racun mengatakan bahwa racun itu adalah racun Xin, salah satu racun dari Xinjiang Selatan.
Racun Xin adalah salah satu racun yang mematikan. Bahan-bahan untuk membuat penawarnya mudah ditemukan. Tetapi, sekarang masih musim gugur dan bahan obat yang paling penting hanya tumbuh ketika pertengahan musim dingin. Jika mereka menunggu saat musim itu tiba, maka racun Xin akan lebih dulu melelehkan usus mereka.
Cara kerja racun itu ketika masuk tubuh akan merusak selaput lambung dan usus. Saat racun itu berada dalam waktu yang lama dalam tubuh, secara korosif racun itu akan merusak bagian organ dalam sehingga organ-organ itu tidak lagi berfungsi.
Disaat Xie Hongyi tiba di kantor medis kekaisaran, telinganya mendengar banyak suara rintihan. Kemudian dia masuk, dan melihat orang-orang yang teracuni berbaring di sebuah dipan sambil diperiksa. Suasana ini mengingatkan Xie Hongyi masa lalu saat dia masih menjadi dokter militer. Kala itu, ketika berperang demi mempertahankan wilayah perbatasan, para tentara itu terluka dan di bawa ke tenda medis. Pada saat itu, Xie Hongyi sepenuhnya memegang tanggung jawab untuk mengobati mereka. Suasananya kurang lebih seperti yang terjadi saat ini, para pasien yang merintih kesakitan dan para dokter yang sibuk mengobati.
Xie Hongyi kemudian berjalan ke arah tabib yang sedang mencatat sesuatu di tangannya. Dia kemudian bertanya. "Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka akan baik-baik saja?"
Kepala tabib itu mengadah saat dia mendengar Xie Hongyi bicara. Dia kemudian menjelaskan situasinya. Dahi Xie Hongyi sedikit mengernyit setelah selesai mendengar penjelasan. "Berapa lama mereka akan bertahan?"
"Mungkin sekitar lima hari."
"Begitu singkat?" Xie Hongyi terkejut dengan kalimat itu.
Tangan Xie Hongyi memegang dagunya sendiri. Gerakan ini mengisyaratkan bahwa gadis itu sedang memikirkan sesuatu. Bahan obat itu memang tidak ada untuk saat ini, tapi bukankah dia punya sistem yang memiliki segalanya? Xie Hongyi pun tersenyum cerah. "Sistem, apakah ada obat untuk racun ini?"
Kemudian sistem menjawabnya. [Ada. Tapi item ini memerlukan poin yang banyak. Apakah kamu yakin ingin menukarkannya?"
"Memangnya berapa poin yang dibutuhkan?"
[300 poin untuk 100 pil penawar]
Wajah Xie Hongyi terdistorsi. Dia kemudian mencoba menawar. "Apakah kau tidak mau memberiku diskon?"
[Ada jenis pil yang sama, harganya 100 poin untuk 100 pil]
Merasa senang, Xie Hongyi dengan cepat berkata pada sistem. "Kalau begitu cepat tukarkan!"
[Tapi pil penawar ini berkualitas rendah, apakah kamu yakin tetap akan menukarnya?]
Pil penawar kualitas rendah? Xie Hongyi berpikir kalau itu sama saja. Seperti Paracetamol dan ibuprofen yang berfungsi menyembuhkan sakit kepala kan? "TUKARKAN!"
Kemudian sebuah kantung muncul di telapak tangannya. Xie Hongyi membuka kantung itu. Didalamnya terdapat beberapa pil berwarna merah. Sedikit merendahkan kepalanya, Xie Hongyi mencium bau pil itu dan berkata dalam hati. 'Yah, tidak buruk.'
Sementara itu, tabib yang tadi Xie Hongyi ajak bicara sedikit bingung. Dia tidak mengerti kenapa Xie Hongyi tiba-tiba berbalik lalu berbicara sendiri. Saat dia hendak bertanya, Xie Hongyi kembali berbalik dan menyerahkan sebuah kantung padanya. "Periksa apakah itu penawar racunnya."
Tabib itu jelas kaget. Dia kemudian dengan cepat memeriksa apa yang ada di dalam kantung. Aroma pil itu memang mirip dengan penawar racun Xin, tapi ia tidak mau bertindak gegabah dengan langsung memberikannya pada pasien. "Hal ini, aku harus memeriksanya dengan senior."
Xie Hongyi melambaikan tangannya. "Pergilah." Tabib pergi dengan cepat.
Xie Hongyi kemudian duduk disebuah kursi. Tak lama dari itu, tabib yang tadi kembali dengan seorang pria tua berjenggot. "Darimana kau mendapat kan ini?" Pria tua itu bertanya sambil menyelidiki Xie Hongyi.
"Aku berasal dari keluarga Xie, dan penawar itu dibuat tahun lalu oleh pamanku. Dia ingin aku berjaga-jaga jadi dia memberikan itu padaku." Xie Hongyi menjelaskan.
Pria tua masih tidak yakin. "Aku tidak tahu ini akan efektif atau tidak. Kita tidak boleh sembarangan memberikan obat."
"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba." Xie Hongyi berucap dengan sabar. Menghadapi senior memanglah butuh kesabaran yang lebih
"Apa kau menggurui ku? Kau mau pasien mati karena salah obat hah!?"
Wajah Xie Hongyi masih tetap santai. "Kau tidak bisa melihat mereka kesakitan? Apa kau akan membiarkan mereka terus seperti ini sampai musim dingin? Tidak mungkin kau mau disalahkan atas penanganan yang kurang cepat sehingga menyebabkan pasien meninggal?"
"Kamu!" Pria itu melotot marah.
Perdebatan mereka pun menjadi pusat perhatian orang-orang. Semua mata mengarah kepada dua orang yang sedang berdebat. Pada saat ini, suara yang dingin dengan nada diktator terdengar.
"Biarkan Zhen mencoba obat itu."
Xie Hongyi dan tabib senior itu menoleh ke arah sumber suara. Di arah sana terlihat Huang Long yang masih pucat berjalan sambil ditopang oleh kasim.
Tabib itu mencoba mencegah. "Yang Mulia, kita tidak tahu obat itu akan berfungsi atau tidak, sebaiknya..."
Kata-katanya belum selesai saat Huang Long menatapnya dengan dingin. Tabib itu kemudian tidak berani berbicara lagi. Kasim yang berdiri di samping Huang Long merebut kantong pil itu dari tabib senior lalu menyerahkan nya pada Huang Long.
Tanpa ragu-ragu, Huang langsung menelan pil itu. Semua orang cemas dengan apa yang terjadi setelahnya. Kaisar Selatan itu tidak menunjukkan banyak ekspresi, sehingga orang sulit untuk menebak reaksinya.
"Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?"