
Huang Long dan Xie Hongyi tertahan di ruangan itu sampai subuh. Keluar dari sana, mereka langsung berpisah tanpa berkata-kata karena tidak sanggup untuk bertatap muka.
Setelah kejadian itu, Huang Long dan Xie Hongyi berada di situasi yang sangat canggung. Lebih tepatnya, Huang Long yang mendadak bersikap aneh. Jika mereka berdua bertemu, Xie Hongyi akan menyapa Huang Long, tapi pria itu malah memalingkan muka lalu berjalan ke arah lain. Dalam beberapa hari ini sudah sering Xie Hongyi ditinggalkan Huang Long dalam keadaan terpaku.
Jelas sikap Huang Long menyiratkan bahwa dia ingin menjauh dari Xie Hongyi. Wanita itu merasa aneh. Xie Hongyi merasa bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang merugikan Huang Long, jadi mengapa saat pria itu melihatnya seperti melihat sesuatu yang jijik dan harus dijauhi?
"Sistem aku tidak mengerti dengan protagonis. Mengapa dia mencoba menjauhiku? Apa aku melakukan semua yang membuatnya tersinggung?"
Sebenarnya Xie Hongyi memiliki beberapa tebakan di dalam hatinya. Dia berpikir bahwa perubahan sikap Huang Long ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin.
Kejadian itu memang memalukan, Xie Hongyi akui itu. Tapi, semestinya tidak harus sampai seperti itu kan?
"Kurasa tidak."
Xie Hongyi mengerutkan keningnya. "Benar kan? Tapi kenapa dia bersikap aneh?"
Sistem menjawab dengan nada datarnya. "Aku tidak mengerti dengan perasaan manusia."
Xie Hongyi lupa bahwa sistem hanyalah sekumpulan data yang tahu perasaan manusia namun tidak mengerti. Lagipula, kenapa dia mendiskusikan tentang perubahan sikap seseorang pada sebuah mesin? Sejak awal ini memang salahnya.
Xie Hongyi merasa tidak ada gunanya berdiskusi dengan sistem.
Dia kemudian mengajukan pertanyaan lain. "Apa tidak ada misi untukku?"
"Prioritas sekarang adalah menyelesaikan misi utama. Jadi untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan misi jenis lainnya akan ditangguhkan."
Mendengar perkataan sistem, Xie Hongyi meletakan dagunya di atas meja sembari menghela nafas bosan. Pikirannya berkelana. Tidak ada misi, tidak ada kegiatan, dan sekarang protagonis malah menjauh darinya.
Xie Hongyi tiba-tiba berteriak dan menggebrak meja.
Xie Hongyi bangun dari duduknya dengan tergesa-gesa. "Aku ingin tahu apa yang menyebabkan Huang Long menjauhiku! Kalau tidak, aku pasti akan mati karena penasaran!" Karena tidak ada misi sampingan yang harus dia kerjakan, daripada terus bermalas-malasan sepanjang hari, Xie Hongyi memutuskan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan Huang Long bersikap aneh. Jika Huang Long bersikeras untuk tetap menjauhinya, maka apapun caranya, dia akan memaksa pria itu mengatakan kenapa dirinya bersikap aneh.
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Xie Hongyi berlari meninggalkan sistem.
Xie Hongyi dan Huang Long tinggal di kediaman Pangeran Yu sejak terungkapnya siapa Xie Hongyi.
Entah kenapa, ketika Pangeran Yu bertemu dengan Huang Long, ayah kandung Xie Hongyi itu selalu memandangnya dengan tajam seakan-akan Huang Long adalah duri dimatanya. Tapi, Xie Hongyi tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia mengira bahwa Pangeran Yu adalah salah satu orang yang tidak suka dengan orang Selatan, kecuali ibunya.
Sementara itu, pada hari-hari sebelumnya, di pengadilan Kerajaan Utara, ada insiden yang membuat Kaisarnya bingung untuk meletakan wajahnya dimana.
Yin Tianrui harus menahan malu karena laporan yang ia pegang ternyata berubah menjadi buku dengan konten ekplisit. Untuk menyelamatkan martabatnya, dia memarahi seluruh penjabat yang hadir di pengadilan dan memerintahkan untuk menyelidiki siapa yang mengirim laporan itu. Tentu saja, si pengirim laporan menyangkal karena yang ia kirimkan adalah benar laporan asli.
Setelah itu, sebuah rumor yang mengatakan bahwa Kaisar begitu cabul sampai menyimpan buku kamasutra di meja kerjanya sehingga tertukar dengan laporan tersebar. Ada banyak spekulasi mengapa Kaisar bisa melakukan kesalahan seperti itu, contohnya ada orang yang berpendapat bahwa kemampuan ranjang Kaisar belum mahir sehingga dia memerlukan buku itu. Ada juga yang mengatakan bahwa buku itu akan dibaca di waktu senggang oleh Kaisar untuk memuaskan para selirnya.
Reputasi Yin Tianrui seketika anjlok. Tapi meskipun semua orang mengetahui rumor itu, mereka tidak berani membicarakannya secara terang-terangan karena siapapun yang melakukan itu akan di kirim ke penjara.
Lalu, ada laporan mengenai kaburnya Xiao Zhang dari penjara, membuat kepala Yin Tianrui menjadi sangat pusing. Dia kemudian juga memerintahkan untuk menyelidiki bagaimana Xiao Zhang bisa kabur dengan marah, membuat orang-orang suruhannya menjadi takut.
Seakan ingin menambah api, Xie Hongyi menulis surat kepada Yin Tianrui yang isinya menanyakan kapan dia akan membahas tentang masalah perjanjian mereka. Di surat itu Xie Hongyi juga mengancam jika perjanjian perdamaian yang mereka ajukan tidak dipertimbangkan, maka Yin Tianrui akan kehilangan salah satu kekuatannya, yakni Pangeran Yu.
Awalnya, Yin Tianrui meras lucu saat membaca surat itu. Dia berpikir bagaimana bisa Yin Yu mengkhianatinya? Namun, pikirannya itu dipatahkan dengan kedatangan Pangeran Yu ke Istana di sore hari.
"Yang Mulia, Hong'er telah menceritakan padaku bahwa tujuan perjalanannya ke Utara adalah untuk mengajukan perjanjian perdamaian kedua negara. Aku ingin tahu bagaimana kelanjutannya?" Walaupun nadanya bertanya, ada makna tersirat di dalam kata-katanya, yang berarti bahwa jika Yin Tianrui tidak segera bertindak maka, hal yang tidak ia inginkan akan terjadi.
Yin Tianrui menatap saudaranya. Pasrah, dia akhirnya berkata, "Yah, baiklah. Yang Mulia ini akan mengadakan pertemuan dengan pejabat kemudian bertemu dengan mereka. Hal ini tidak boleh diputuskan sendirian."
Mendengar bagaimana Yin Tianrui menjawabnya, Pangeran Yu menahan cibiran. "Aku hanya dapat mengandalkan Yang Mulia."
Makna di balik kata-katanya sangat jelas. Yin Tianrui adalah seorang pemimpin dan sepatutnya para pejabat itu mematuhi keputusannya. Jadi ini semua tergantung dengan apa keputusan Yin Tianrui.
Tapi pernahkah Yin Yu berpikir apakah mudah menghilangkan kebencian antara dua negara yang telah berperang selama bertahun-tahun? Yin Tianrui merasa sakit gigi saat memikirkannya. Tetapi, dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa menentang Pangeran Yu.
Dengan suara pemimpinnya yang khas, Yin Tianrui berkata pada para pejabat yang hadir di rapat pengadilan. "Sudah bertahun-tahun Kerajaan Selatan dan Utara berperang. Menurut Zhen, sudah waktunya kita berhenti."
Salah satu penjabat bertanya walau sudah paham maksudnya. "Maksud Yang Mulia?"
"Zhen mengusulkan untuk membuat perjanjian dengan Selatan. Bagaimana menurut kalian?"
Sesuai prediksi, kata-kata Yin Tianrui menimbulkan reaksi luar biasa dari antek-anteknya.
Menteri perang menyuarakan pendapatnya dengan berapi-api. "Yang Mulia, bukankah saat ini Kerajaan Selatan tengah menghadapi pemberontak? Seharusnya kita memikirkan cara menyerang mereka, bukannya membuat perjanjian perdamaian!"
Kaisar Utara itu juga sempat memilki pemikiran yang sama dengan menteri perang. Akan tetapi, Yin Tianrui memiliki firasat bahwa jika dia menyerang Kerajaan Selatan, hal itu akan menjadi bumerang baginya.
"Saat ini kita tidak boleh menyerang mereka."
"Kenapa?"
Kesal karena beberapa kali ditentang juga suasana hatinya yang tidak menentu, Yin Tianrui menaikkan nada suaranya. "Apakah ada yang menentang Zhen? Kalau ada, silakan maju dan terima hukuman akibat menentang keputusan Kaisar!"
Terhenyak akan nada tinggi yang dikeluarkan Yin Tianrui, para pejabat tidak berani bersuara lagi meskipun mereka keberatan akan keputusannya. Tetapi, mereka telah bertahun-tahun melihat bagaimana Yin Tianrui berkuasa. Kaisar mereka tidak pernah mengingkari perkataannya. Bahkan tahun lalu, pernah ada seorang pejabat yang berani menentang keputusan Yin Tianrui dan berusaha menggagalkan kebijakannya. Keesokan harinya, rumah pejabat itu ditemukan terbakar dan para penghuninya hilang entah kemana.
Mengambil pelajaran dari masa lalu, mereka diharuskan tunduk akan setiap keputusan yang dibuat oleh Kaisar. Lagipula sampai sekarang, belum ada satupun kebijakannya yang merugikan para penjabat maupun rakyat.
"Sudah diputuskan, Zhen akan menulis perjanjian dengan utusan Selatan. Tenang saja, syarat-syarat yang Zhen minta akan sepadan dengan perjanjian ini. Pengadilan, bubar." Setelah itu, Yin Tianrui bangkit dari takhtanya dan keluar dari ruangan.
Sesaat hilangnya sosok Yin Tianrui, ruangan itu kemudian riuh dengan berbagai diskusi.
Walaupun dipermukaan mereka tampaknya setuju dengan keputusan Yan Tianrui, tetapi beberapa kepala telah memikirkan bagaimana caranya Yang Mulia Kaisar menarik kembali keputusannya. Salah satunya adalah pejabat yang paling tidak mencolok, tampak sendirian ketika yang lainnya berdiskusi.
Ketika langit mulai gelap, satu-persatu para pejabat akhirnya pergi untuk pulang. Kecuali, ada satu orang pejabat yang berjalan ke arah tempat dimana ada salah satu selir Kaisar tinggal didalamnya.
Suara wanita terkejut terdengar di halaman tempat selir tinggal. "Ge! Kenapa kau kemari?"
Melihat sosok anggun dan cantik menghampirinya, pria itu tersenyum. "Aku ingin bertemu dengan adikku? Apa itu tidak boleh?"
Sang adik ikut tersenyum. "Kau bercanda. Mana mungkin tidak boleh. Kemarilah Ge, nikmati secangkir teh. Udara sangat dingin saat menjelang malam."
Pria itu kemudian menuruti perkataan adiknya. Setelah duduk di dalam ruangan, dia memberi tahu tujuannya datang kesini.
Setelah mengetahui tujuan kakaknya, sang adik menjatuhkan cangkir tehnya. "Apa? Kaisar ingin membuat perjanjian perdamaian dengan Kerajaan Selatan? Tidak mungkin!"
"Kau mungkin tidak percaya. Tapi hari ini Yang Mulia mengadakan pertemuan mendadak untuk memberitahu bahwa dia akan membuat perjanjian."
Suara si adik menjadi cemas saat kata-kata itu dilontarkan. "Kita harus mencegah Yang Mulia agar perjanjian itu tidak akan dibuat. Tapi, bagaimana caranya?"
"Aku mendengar bahwa ada tiga orang mencurigakan yang datang ke ibukota. Mereka tampaknya adalah orang-orang yang membantu Yang Mulia menangani keluarga Xiao. Menurut mata-mata yang dikirin untuk mengawasi mereka, tidak salah lagi bahwa memang benar mereka berasal dari Utara."
Si adik tampak menunggu kakaknya melanjutkan.
"Dengar, mereka pasti bukan orang Selatan biasa. Aku kira mereka mempunyai jabatan yang penting di Selatan atau mungkin mereka adalah utusan. Jika kita melakukan sesuatu pada mereka, pihak Selatan pasti akan marah pada Kaisar dan menyerang Utara."
"Ide yang sangat cerdas! Tapi bagaimana caranya kita mengadu domba kedua pihak itu?"
Pria itu tersenyum misterius. Dia kemudian menengok ke arah kiri-kanan, takut ada orang yang memperhatikan. Lalu, dia mencondongkan tubuhnya ke arah adiknya dan berbisik.
Setelah tubuh pria itu menjauh, mata sang adik kemudian berbinar-binar.
"Aku yakin mereka akan keluar untuk berjalan-jalan. Beberapa hari kemudian, kau carilah alasan untuk keluar dari Istana."
Sang adik menyipitkan matanya dengan licik. "Aku akan."