
Huang Long memperhatikan Xie Hongyi yang duduk didepannya. Dia yakin wanita ini akan terus menyelidiki kasus tentang orang hilang sampai kebenarannya terungkap. Huang Long kemudian berbicara lagi, kali ini dia memberikan informasi yang diinginkan Xie Hongyi.
"Orang yang hilang itu adalah putra dari Permaisuri terdahulu, calon putra mahkota."
Seakan telah lama berada di kegelapan lalu tiba-tiba mendapat sebuah cahaya, Xie Hongyi benar-benar bahagia. Protagonis ternyata adalah orang baik! "Jadi itulah alasannya mengapa Yang Mulia berkata aku harus berurusan dengan Ibu Suri?" Xie Hongyi tentu tahu siapa Ibu Suri yang disebut Huang Long.
Huang menjawab singkat. "Umm."
"Apakah putra Ibu Suri hilang pada usia 5 tahun?"
Kali ini Huang Long sepenuhnya memerhatikan Xie Hongyi. "Bagaimana kau tahu?"
Tersenyum menjawab pertanyaan Huang Long, Xie Hongyi tidak mengatakan apa-apa. Matanya berkilat dengan penuh kesenangan. Akhirnya, misi ini akan dia selesaikan! "Besok aku akan menemui Ibu Suri." Lantas ia dengan santai bangkit lalu hendak keluar dari ruang kerja Huang Long.
"Tunggu."
Langkah kaki Xie Hongyi spontan berhenti saat dia mendengar suara ini. Dia kemudian membalikkan badannya dan kembali berhadapan dengan Huang Long. "Yang Mulia?"
Jari Huang Long menunjuk pada luka Xie Hongyi yang baru dia obati. "Kamu mau keluar dengan penampilan seperti itu?"
Xie Hongyi kemudian melirik pada lengan kanannya, lalu meringis saat menyadari seperti apa keadaannya. Huang Long kemudian mengambil sebuah kain yang tergantung di pembatas dinding yang ada di ruangan itu, dan setelahnya dia memakaikan kain itu di bahu Xie Hongyi. Entah kenapa, telinga Xie Hongyi merasa terbakar saat mendapat perlakuan seperti ini. "Terima kasih Yang Mulia."
Huang Long berkata dengan suara khasnya. "Pergilah." Kemudian dengan langkah yang sedikit cepat, Xie Hongyi pergi dari ruangan kerja Huang Long.
Huang Long menatap Xie Hongyi tanpa berkedip sampai wanita itu hilang di pandangannya. Entah apa yang Xie Hongyi tahu, Huang Long percaya bahwa wanita itu pasti punya rencananya sendiri. Dia hanya ingin menunggu dan melihat apa yang akan Xie Hongyi lakukan besok. Kalau dia benar-benar tahu sesuatu tentang putra mahkota, maka itu akan menjadi hal yang baik.
Setelah berhasil keluar dari ruang kerja Huang Long, Xie Hongyi mulai tersadar. Dia kemudian memikirkan plot yang terjadi saat ini.
Orang-orang yang mengatur di belakang ini terlalu kejam. Mereka menargetkan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Lalu orang itu mengatur Huang Long sebagai Kaisar yang baru. Xie Hongyi menghela nafas. Dalam pikirannya, semua plot di dalam cerita telah di atur oleh penjahat terbesar.
Baiklah, misinya hanya menemukan siapa sebenarnya identitas pemilik kerangka yang dia temukan di danau, tidak harus menyelidiki siapa yang membunuhnya. Xie Hongyi yakin, jika pembunuhnya ditemukan, maka plot cerita ini akan makin cepat mendekati akhir.
Xie Hongyi tidak menyadari bahwa setelah dia keluar dari ruang kerja Huang Long, semua orang yang melihatnya berjalan sambil memakai jubah Kaisar, menatapnya sambil bergosip.
"Itu Selir Xie? Ku kira dia adalah Selir yang tidak disukai. Tapi sekarang aku melihatnya berjalan keluar dari ruang kerja Kaisar dan memakai jubahnya!"
"Benar. Aku hampir tidak mempercayai apa yang ku lihat."
"Kita harus melaporkannya ke Permaisuri Shi."
Kedua orang pelayan yang berdiri di sudut sambil bergosip kemudian pergilah untuk melaporkan berita ini.
Ketika berita itu sampai di telinga Permaisuri Shi, wanita nomor satu di Kerajaan Selatan itu menyeringai. Akhirnya kini dia tahu siapa wanita yang berada di tenda dengan Huang Long waktu itu.
Huang Long dan dirinya sudah berteman sejak mereka kecil, dan ini pertama kalinya dia melihat Huang Long perhatian dengan seorang wanita. Permaisuri Shi sangat bersyukur Huang Long menjadi normal.
Dia tahu betul sosok Huang Long yang seperti sepotong kayu. Hanya fokus dengan perkembangan untuk memajukan Kerajaan.
Dia juga sangat dingin pada wanita di sekitarnya, kecuali Permaisuri Shi dan Ibu Suri.
Setelah Xie Hongyi mengganti bajunya dengan yang baru, dia berniat untuk mengunjungi kediaman Pangeran Jue. Pada saat dia tiba di kediaman anak itu, mata Xie Hongyi melebar dan ia menjerit panik. "Ah Jue, apa yang kau lakukan di atas pohon?!"
Xie Hongyi benar-benar khawatir dan cemas saat melihat tubuh kecil Pangeran Jue berdiri di salah satu cabang pohon yang sangat tipis. Pohon itu memilki ketinggian kurang lebih sepuluh meter, dengan hanya cabang-cabangnya yang terlihat tanpa ada satupun helai daun.
Pangeran Jue terlihat menoleh saat dia mendengar suara yang akrab. Matanya berbinar saat melihat Xie Hongyi yang berdiri di tak jauh dibawah pohon. Tanpa menyadari kecemasan Xie Hongyi, dia bergerak dengan sembarangan sambil membalas berteriak pada Xie Hongyi. "Ibu!"
Kecemasan Xie Hongyi bertambah saat melihat gerakan Pangeran Jue. "Ah Jue, apa yang kau lakukan? Cepat turun!"
Pangeran Jue menggelengkan kepalanya tidak mau menurut. Dia menunjuk ke satu arah. "Aku masih tidak mau turun sebelum Miao juga turun!"
Xie Hongyi bergumam. "Miao?" Dia kemudian melihat arah yang ditunjuk Pangeran Jue. Di salah satu cabang lainnya, ada seekor kucing putih yang gemetar memeluk badannya sendiri. Sepertinya kucing itu sangat ketakutan, sampai ia tidak bisa bergerak.
Pangeran Jue kemudian tidak memperhatikan Xie Hongyi lagi. Miao sangat penting baginya. Kucing putih gemuk itu ia rawat sedari kecil. Miao juga yang selalu menemaninya saat dia kesepian di Istana yang besar ini sebelum Xie Hongyi datang. Pangeran Jue sangat menyayangi kucing itu, jadi tanpa memperhatikan pijakannya, dia bergerak ke arah Miao. Alhasil karena tidak melihat apa yang dipijaknya, cabang di bawah kakinya itu patah, dan Pangeran Jue jatuh ke tanah seperti air terjun dengan cepat sebelum Xie Hongyi sempat menangkapnya.
Xie Hongyi menjerit.
Pangeran Jue tampak menangis sesenggukan saat dia duduk di ranjangnya. Salah satu kakinya dibungkus kain putih. Setelah Pangeran Jue terjatuh, pelayannya yang mengasuhnya itu dengan cepat pergi untuk menemui tabib ketika ia kembali dari dapur untuk membawa makanan. Pelayan pengasuh itu juga tidak tahu Pangeran Jue yang memanjat pohon untuk menangkap kucing kesayangannya. Dia kini juga ikut menangis saat melihat Pangeran Jue yang kesakitan.
Tabib itu berkata. "Kakinya patah. Aku hanya bisa meresepkan obat untuk mengurangi rasa sakitnya."
Patah kaki di zaman ini hanya di sembuhkan dengan mengoleskan obat dan minum ramuan. Jadi setelah kaki patah itu sembuh, maka penderitanya akan berjalan tidak normal karena tulang yang menjadi bengkok itu tidak disembuhkan.
Xie Hongyi menatap kepergian tabib itu dalam diam. Dia sangat marah, benar-benar marah. Tapi emosi itu menghilang saat dia mendengar suara tangisan Pangeran Jue. "Nanxi, berhentilah menangis. Ambilkan aku dua potong kayu berukuran sedang dan tali." Nanxi adalah nama pelayan yang mengasuh Pangeran Jue. Wajah wanita tua dan gemuk itu penuh dengan air mata.
Nanxi segera berhenti menangis saat mendengar Xie Hongyi bersuara. "Nyonya, untuk apa benda-benda itu?"
"Jangan banyak tanya. Cepat ambil benda itu sekarang."
Takut dengan tatapan Xie Hongyi yang tajam, Nanxi kemudian berjalan terpogoh-pogoh meninggalkan kediaman Pangeran Jue. Setelah Nanxi hilang dari pandangan, Xie Hongyi duduk di tepi ranjang Pangeran Jue. Di pelukannya, ada Miao yang sedang meringkuk tertidur menyerupai sebuah bola. Sementara itu tanpa ada yang bisa melihat, sistem yang berwujud rubah juga meringkuk di atas kepala Xie Hongyi. Sistem rubah itu sempat menguap dengan malas sebelum dia tertidur. Xie Hongyi berkata dengan muram pada Pangeran Jue yang sedang menangis. "Ah Jue, inilah akibatnya jika kau tidak mau menurut pada ibu."
Pangeran Jue akhirnya berhenti menangis. Kepalanya menunduk, tampak menyadari kesalahannya. "Ibu, maaf." Pangeran Jue berkata dengan lemah.
Hati Xie Hongyi luluh saat mendengar nada suara Ah Jue-nya. Tangannya dengan lembut mengelus kepala Pangeran Jue. "Jangan diulangi lagi." Pangeran Jue menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Nanxi kembali dengan membawa barang-barang yang di minta Xie Hongyi. Tanpa banyak bicara, Xie Hongyi menempelkan dua buah kayu pada kaki Pangeran Jue, lalu mengikatnya dengan tali, sesuai prosedur pertolongan pertama pada kaki pasien patah kaki. Setelah selesai, dia berpesan pada Nanxi. "Berhati-hatilah pada saat memandikannya, jangan sampai terkena air. Aku akan melepas kayu ini nanti." Nanxi hanya bisa menurut.
Pangeran Jue memerhatikan wajah Xie Hongyi yang terlihat tegas. Dia dengan spontan berkata. "Ibu, wajahmu mirip dengan Miao yang marah ketika anaknya diambil."
"Apa!?" Miao yang tidur di tepi ranjang Pangeran Jue terlonjak kaget. Kucing putih itu kemudian melompat dan keluar dari sana. Saking kerasnya suara Xie Hongyi, sistem yang berbaring di kepalanya juga terbangun. Dia dengan linglung menatap keadaan di sekitarnya, memasang tampang yang bodoh.
Pangeran Jue menyamakannya dengan kucing ganas yang baru melahirkan. Xie Hongyi tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Catatan Penulis:
Xie Hongyi: Suamiku sangat baik, ah!
Huang Long: Aku hanya baik pada istriku.