
Rupanya saat mereka berada di Paviliun Tujuh, seorang pembunuh itu menggantikan kusir, dan membawa mereka ke sebuah hutan yang sepi.
"Siapa kalian?"
Salah satu pembunuh itu terkekeh. "Bukankah tadi pelayanmu memanggil kami pembunuh?" Lalu dia menghunuskan pedangnya ke arah Xie Hongyi.
Xie Hongyi menahan serangan itu dengan belati yang ia pakai untuk memotong jari petugas tadi. Mereka berdua sempat terhempas ke belakang sebelum mulai menyerang satu sama lain. Satu orang pembunuh ikut menyerang Xie Hongyi.
Ling'er, Wan'er, dan Yi'er berhasil mempertahankan diri mereka dari serangan pembunuh dengan gerakan bertahan yang di ajarkan Xie Hongyi. "Ah!" Xie Hongyi mendengar teriakan Yi'er kemudian suara dentingan besi. Sepertinya Yi'er memilih batu sebagai senjata.
Ada lima orang pembunuh yang menyerang mereka.
Para pembunuh itu heran. Mereka jelas-jelas adalah wanita, tapi mengapa bisa mereka bertahan sampai saat ini? Dua orang pembunuh yang paling kuat adalah pembunuh yang menyerang Xie Hongyi. Secara ganas, mereka menyerang Xie Hongyi sehingga membuat beberapa goresan di kulit pohon.
Karena gerakan pertarungan yang sembarangan, Xie Hongyi terpisah dari para pelayannya. Dia berlari secara acak sambil diikuti oleh pembunuh.
Para pembunuh itu menguasai ilmu meringankan tubuh, jadi mereka dengan cepat bisa menyusul Xie Hongyi yang berlari di atas tanah. Tanpa menoleh ke belakang dan hanya mengandalkan pendengarannya, Xie Hongyi mencoba mengecoh para pembunuh itu dengan masuk ke semak-semak yang sangat rimbun.
Jejak kaki Xie Hongyi hilang setelah dia masuk. Salah satu pembunuh itu berkata dengan tidak percaya. "Dia berhasil kabur?"
Pembunuh yang lain menggertakkan giginya. Harga dirinya direndahkan. Dia tidak mungkin kalah dengan seorang wanita! "Cepat cari dia di sekitar sini!"
Kemudian mereka berdua menyusuri jejak terakhir Xie Hongyi.
Xie tidak punya pilihan lain selain bersembunyi jauh di dalam semak. Setelah tidak lagi mendengar suara langkah kaki, dia perlahan keluar dari sana. Pemandangan pertama yang ia temukan setelah keluar adalah sebuah pondok kayu di tengah hutan.
Sementara di sisi yang lain, ketiga pelayan Xie Hongyi mengahadapi kesulitan saat mereka melawan pembunuh. Ibarat seperti burung dewasa dan burung yang baru lahir, mereka bukanlah tandingan dari para pembunuh ini. Karena terlalu fokus dalam mempertahankan diri, mereka tidak menyadari Nyonyanya yang telah pergi jauh.
Pada saat mereka hampir tidak bisa bertahan, beberapa orang muncul dan menyerang para pembunuh. Para pembunuh itu kemudian mati ditangan orang-orang itu.
Xie Hongyi mencoba memanggil sistem saat dia masuk ke dalam pondok. "Sistem?" Tidak ada jawaban dari sistem.
Bagian dalam pondok itu gelap walaupun di siang hari. Xie Hongyi meraba-raba di sekitar, dan menyentuh sebuah benda. Xie Hongyi terkejut, matanya melebar saat cahaya matahari menembus celah pondok kayu, menerangi benda yang disentuhnya.
Di dalam ruangan itu, banyak sekali boneka-boneka kertas. Ada boneka berbentuk anak kecil, pria dewasa dengan tampang sangar, dan wanita muda yang wajahnya dibedaki oleh bubuk pemerah pipi. Raut wajah mereka pun beragam, tapi kebanyakan dari boneka itu tersenyum menyerigai. Pola pakaian mereka bahkan lebih indah daripada kain yang digunakan Xie Hongyi.
Boneka kertas digunakan untuk pemakaman. Katanya mereka dibuat untuk menemani arwah orang mati.
Xie Hongyi kemudian berbicara lagi pada sistem. "Sistem, kau tidak merubah genre cerita menjadi horor kan?"
Sungguh, walaupun boneka kertas itu dibuat mirip manusia dan diperindah dengan aksesoris yang cantik, mereka tetap terlihat menyeramkan. Suasana ruangan itu sangat sepi, sehingga Xie Hongyi dapat mendengar suara nafasnya.
Terdengar suara langkah kaki di tengah ruangan. Suara ketukan itu sangat jelas, perlahan-lahan mendekat ke arah Xie Hongyi. Di tengah kegelapan, sesosok putih muncul.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Xie Hongyi menghela nafas lega ketika ia tahu sosok putih itu adalah manusia. Sebelum Xie Hongyi sempat berbicara, terdengar gemerisik suara orang melangkah di luar pondok.
"Cepat periksa pondok itu!"
Xie Hongyi berkata dengan pelan pada sosok putih itu. "Dimana aku bisa bersembunyi?"
Sosok itu kemudian mengerti situasi yang dihadapi Xie Hongyi. "Ikuti aku!" Sosok itu meminta Xie Hongyi untuk mengikutinya.
Suara pintu terbuka. Sepertinya para pembunuh itu berhasil masuk. Sesaat terdengar suara terkesiap. Sepertinya para pembunuh itu juga kaget dengan apa yang ada di dalam ruangan. Tapi hal itu tidak membuat mereka takut. Mereka kemudian melangkah untuk mencari Xie Hongyi.
Salah satu pembunuh itu berujar saat dia selesai mengamati seluruh isi ruangan. "Dia tidak ada di sini."
Pembunuh itu tidak menyadari ada satu boneka kertas yang matanya melotot lebih lebar dari yang lain. Boneka kertas itu tiba-tiba bergerak, menyenggol boneka kertas disisinya. Seperti efek domino, puluhan boneka kertas yang lainnya terjatuh menimpa tubuh mereka.
Salah satu boneka kertas begerak mengeluarkan sebuah belati lalu menusuk tenggorokan salah satu pembunuh. Darah seketika memercik ke lantai. "Hei, apa yang terjadi?" Pembunuh lainnya bertanya saat dia tidak mendengar gerakan rekannya.
Rekannya tidak menjawab karena sudah mati. Pembunuh yang masih hidup itu kemudian menyenggol tubuh rekannya yang terbujur kaku, sebelum dia sempat bergerak, sebuah benda tumpul menghantam bagian belakang kepalanya. Pembunuh itu melihat boneka kertas cantik yang menyeringai padanya sebelum pandangannya gelap.
"Itu adalah cara untuk bertahan hidup. Jika aku tidak membunuh mereka, maka akulah yang akan mati." Melihat sosok putih itu masih takut, Xie Hongyi berkata lagi. "Juga, aku tidak membunuh yang satunya lagi."
Xie Hongyi menatap bajunya yang dia pinjam dari sosok putih itu. "Terima kasih sudah menolongku. Aku akan mengembalikan pakaianmu nanti."
Sosok putih itu mengangguk. "Sama-sama. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini."
"Mengapa?"
"Apa kau tidak takut padaku?"
"Kenapa aku harus takut padamu?
"Aku terkena kutukan. Jadi lebih baik kau menjauh dariku sebelum kau sial."
"Kutukan?" Xie Hongyi lalu melihat penampilan sosok putih itu, kemudian dia tertawa. "Siapa namamu?" Ucap Xie Hongyi setelah dia bisa menutup mulutnya.
Sosok putih itu mengerutkan keningnya. Dia menjawab dengan suara rendah. "Jiang Baixi."
"Nona Jiang, jika kau mengatakan bahwa seseorang yang mendekatimu akan sial, lalu mengapa kau tidak menyuruhku pergi dari awal? Dalam hatimu, pasti kau tidak terlalu yakin akan kutukan itu."
Jiang Baixi terdiam. Xie Hongyi berkata lagi. "Katakan padaku, bagaimana bisa kau disebut terkena kutukan?"
Sempat ragu sejenak, Jiang Baixi kemudian menjelaskan cerita hidupnya. Dia lahir dengan seluruh tubuh berwarna putih. Penampilannya yang berbeda itu membuat orangtuanya cemas. Mereka kemudian mengundang beberapa pendeta untuk memeriksa. Pendeta itu berkata bahwa dia terkena kutukan. Setiap musim dingin, dia harus di kurung ditempat yang jauh dari hunian manusia agar tidak menimbulkan kesialan. Dan boneka kertas ini katanya bisa menangkal kesialan itu.
Salah satu sudut mata Xie Hongyi berkedut. "Biar ku beritahu, itu bukanlah kutukan melainkan kelainan gen yang disebut albino."
Albino atau Albinisme (dari Bahasa Latin albus, "putih"; atau dalam Bahasa Indonesia: Bulai), merupakan salah satu bentuk kelainan bawaan hipopigmentasi yang dikarakterisasikan oleh kurangnya ataupun tidak adanya pigmen melanin pada mata, kulit dan rambut. Albinisme diakibatkan oleh pewarisan alel gen resesif.
"Kalau bukan kutukan, kenapa aku tidak bisa berdiri bawah matahari?" Kulitnya akan langsung memerah setelah ia berdiri dibawahnya. Juga dia tidak bisa melihat cahaya.
Xie Hongyi menjelaskan. "Itu karena kulitmu tidak memiliki pigmen yang dapat melindungi dari radiasi."
"Aku tidak mengerti." Jiang Baixi menggelengkan kepalanya.
Xie Hongyi mendesah. "Lupakan." Tidak ada gunanya memberitahu.
***
"Aku berjanji akan meluruskan kesalahpahaman ini. Harus kau ingat, penampilanmu berbeda dari orang lain itu karena kau istimewa bukan karena kutukan." Xie Hongyi berkata saat dia berdiri di luar pondok.
Jiang Baixi tersenyum, terlihat tidak sepenuhnya mempercayai Xie Hongyi. Tapi setidaknya dia memiliki harapan yang ia titipkan padanya. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan."
Kemudian Xie Hongyi berjalan ke arah luar hutan sesuai dengan petunjuk Jiang Baixi.
Diluar hutan, beberapa orang nampak berdiri di sana. Salah satu dari mereka mondar-mandir berjalan kesana-kemari. Wajah yang bisanya tegang dan datar kini dipenuhi ekspresi cemas. Dia bergumam. "Gawat, Yang Mulia pasti menghukumku."
Seseorang datang. Pria yang cemas perlahan mengendurkan wajahnya. "Bagaimana? Kau menemukan Selir Xie?"
Pria yang baru datang itu menghela nafas. "Tidak."
Wan'er yang duduk di sebuah batu bertanya dengan nada serak. "Tuan, apa Nyonya sudah ketemu?"
Dugu An dengan berat menggelengkan kepalanya.
Yi'er menangis histeris. "Ini adalah salahku seharusnya aku lebih memperhatikan Nyonya." Ling'er yang duduk disampingnya mengelus punggung Yi'er. Matanya berlinang.
Sejak Xie Hongyi keluar dari istana, Dugu An mengikuti wanita itu. Tapi pada saat dia melihat kejadian di Paviliun Tujuh, Dugu An dengan bodohnya terdiam dan kemudian tidak menyadari kepergian Xie Hongyi. Alhasil ketika dia bertemu dengan kelompok Selir Xie, mereka telah diserang oleh pembunuh dan Xie Hongyi hilang. Dugu An tidak bisa membayangkan kemarahan Huang Long karena dia lalai dalam tugas.
Pada saat ini, terdengar suara langkah kaki yang ringan dari arah hutan.