
Ternyata kembang api yang dinyalakan Shi XuanRan adalah tanda isyarat agar pasukan pemberontak bergerak.
Pasukan pemberontak segera menuju istana, seperti gerombolan semut yang hendak mendekati gula, seperti ngengat yang mendekati api terbuka, berbondong-bondong dengan kuda berlari menuju tujuan mereka. Pasukan pemberontak itu berasal dari pasukan kerajaan kecil yang beraliansi dengan keluarga Shi dan pasukan yang dilatih selama bertahun-tahun oleh keluarga Shi.
Kavaleri pasukan pemberontak berjumlah kurang lebih 10.000 orang. Mereka menggunakan taktik untuk menyerang langsung target.
Pasukan Istana telah bersiap. Mereka menghalau pasukan pemberontak yang ingin menerobos gerbang utama. Panah api yang diluncurkan pasukan Istana sebagai pertahanan melayang di atas langit seperti bintang jatuh. Dan bintang jatuh itu menimpa pasukan pemberontak yang berpacu dengan kuda mereka.
Sebagian pasukan pemberontak jatuh, dan sebagiannya lagi tetap gigih untuk berdiri. Disaat melihat rekannya yang terjatuh, mereka bukannya tertekan, melainkan menjadi lebih semangat untuk bisa memenangkan peperangan.
Panah api yang diluncurkan berhasil ditangani oleh pasukan pemberontak yang menahannya dengan tameng besi. Mereka dengan semangat melanjutkan perjalanan mendekati gerbang yang dijaga oleh pasukan Istana.
Jarak antara pasukan pemberontak dan gerbang Istana semakin dekat. Para prajurit istana yang bertugas untuk mempertahankan gerbang mulai panik dan mulai meluncurkan panah api lagi. Namun, itu semua sia-sia karena pasukan pemberontak telah sampai.
Mereka berteriak sembari mendorong gerbang utama. Sementara pasukan Istana menahan gerbang agar tidak terbuka. Tarikan yang berlawanan itu menyebabkan gerbang besi itu bergetar.
Dengan suara keras, gerbang itu terbuka.
Pasukan Istana yang menahan gerbang terinjak-injak oleh pasukan pemberontak yang menerobos. Mereka menginjak manusia layaknya rumput di atas tanah.
Gerbang utama telah berhasil diterobos dan para pemberontak mulai memasuki Istana.
Pertahanan kedua Istana sudah siap menunggu pasukan pemberontak. Mereka bergegas maju ketika ribuan orang masuk ke dalam Istana. Para pasukan pemberontak dan pasukan Istana bertempur di halaman depan, menumpahkan banyak darah dan menghilangkan nyawa.
Bunga yang baru mekar terinjak-injak, rumput yang basah menjadi rata dan merah karena darah memercik.
Pasukan pemberontak itu dipimpin oleh Chen Guang yang mengenakan armor hitam. Dia menaiki kuda berwarna serupa, dan berlari menuju bangunan Istana seperti angin.
Pasukan Istana yang menghalanginya ia tebas hingga tumbang.
Di sudut yang tidak terlihat, seorang wanita berdiri diam menyaksikan pemandangan dari perang konvensional tanpa ada peluru melayang dan ledakan nuklir.
Pasukan Istana terlihat kewalahan mempertahankan Istana karena kekuatan pasukan pemberontak yang besar.
Melihat kondisi yang tidak bagus, wanita itu bertindak.
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
"Boom!"
Tiba-tiba, sebuah ledakan yang besar muncul. Sebagian pasukan pemberontak terkena jebakan ranjau Xie Hongyi hingga tumbang. Tubuh mereka hancur, terpisah dan terkoyak bagaikan potongan ayam.
Xie Hongyi menekan pemicu ranjau ketika pasukan pemberontak hendak mendekati bangunan utama. Tahap pertama, pertahanan yang dilakukan oleh pasukan Istana telah gagal. Sekarang saatnya untuk melaksanakan tahap kedua.
Strategi itu hanya diketahui petinggi Istana dan Huang Long serta jenderal-jenderal yang bertugas untuk memimpin pasukan, namun Xie Hongyi dengan mudah bisa mengakses informasi yang sangat rahasia itu.
Pasukan pemberontak sempat terdiam sejenak. Banyak dari rekan mereka yang gugur. Belum sempat mereka memulihkan diri, pasukan bantuan dari Istana yang dipimpin oleh Jiang Zhi muncul.
Xie Hongyi pergi saat pasukan Jiang Zhi muncul. Dia yakin Jiang Zhi pasti bisa mengatasi Chen Guang. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Xie Hongyi yakin bahwa pasukan pemberontak ini tidak hanya menyerang secara terbuka. Wanita itu memperkirakan bahwa ada pemberontak yang masuk ke Istana dengan memanfaatkan situasi yang sedang kacau.
Sekarang Huang Long tidak ada di sini jadi Xie Hongyi lah yang mengurusnya.
Dibelakangnya juga ada ayahnya, Jiang Wei. Sebagai kontribusi terakhirnya dalam dunia militer, Jiang Wei memutuskan untuk bertempur melawan pemberontak.
Jiang Zhi tidak tahu bahwa pasukan yang ia bawa berasal dari Utara. Dia menganggap bahwa mereka hanya prajurit Istana biasa.
Chen Guang tercengang melihat anak buahnya tiba-tiba gugur karena sebuah ledakan. Dia penasaran dengan apa yang menyebabkan ledakan itu, namun segera setelah mendengar Jiang Zhi berteriak, perhatiannya kembali ke medan perang.
Chen Guang menatap Jiang Zhi dengan penuh kebencian. Dia tidak mungkin melupakan apa yang telah Jiang Zhi lakukan. Dia kemudian memecut kudanya dan melaju ke arah Jiang Zhi.
Pedang di tangannya ia angkat untuk menebas Jiang Zhi. Jiang Zhi yang merasakan aura pembunuh yang pekat, langsung waspada. Di depan sana, ditengah lautan manusia yang sedang bertikai, Chen Guang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi menuju Jiang Zhi.
Dentingan pedang beradu terdengar di tengah lautan suara teriakan dan kemudian tenggelam bagai batu yang dimasukkan ke air.
Keduanya terlempar dari atas kuda masing-masing. Seolah tidak merasakan sakit, keduanya bangkit dan melanjutkan pertarungan.
Bagaikan ayam yang menunjukkan ekornya, Tuan Muda yang dulunya ceroboh itu berubah menjadi pejantan yang kuat. Setiap ayunan pedangnya memancarkan aura prajurit yang kentara.
"Dimana kakakku?" Jiang Zhi bertanya pada saat Chen Guang menahan pedangnya.
Chen Guang dengan susah payah menahan tenaga pedang yang sangat kuat, walaupun begitu dia tetap tidak terpengaruh dengan aura Jiang Zhi. "Kau sungguh ingin tahu?"
Karena tidak mendapat jawaban yang ia inginkan, Jiang Zhi marah. Dia mengarahkan tenaga lebih pada pedangnya sehingga membuat Chen Guang tersungkur.
Chen Guang meludahkan seteguk darah. Wajahnya pucat. Kemudian dia bangkit dan menusukkan pedangnya ke arah Jiang Zhi dengan cepat.
Jiang Zhi sempat kewalahan dengan serangan Chen Guang, tapi untung saja dia bisa mengatasinya.
Keduanya bertarung sekitar setengah dupa dengan hasil yang seimbang.
Chen Guang mengerutkan kening, dia yakin jika terus melanjutkan bertarung dengan Jiang Zhi, hasilnya tidak akan memuaskan. Dia memutar otaknya untuk menemukan sebuah ide.
Tiba-tiba, seorang pasukan pemberontak jatuh tepat di hadapan Chen Guang. Chen Guang mengangkat kepala untuk melihat siapa yang menjatuhkan pria itu.
Melihat Jiang Wei yang menebas anak buahnya, Chen Guang tersenyum licik.
Dia kemudian menjauh dari Jiang Zhi. Jiang Zhi yang melihat gerakannya tiba-tiba merasa aneh. Lalu saat mengetahui apa yang diinginkan Chen Guang, mata Jiang Zhi melebar.
"Ayah!"
Di depan sana, Chen Guang hendak menusuk Jiang Wei dari belakang dan sepertinya ayah dari Jiang Zhi itu tidak menyadarinya.
Jiang Zhi bergerak dengan cepat, dia melesat ke arah dimana Jiang Wei berada.
Tapi dia terlambat. Chen Guang telah menusukkan pedangnya ke punggung Jiang Wei. Seketika darah menyembur dari tubuh berlubang Jiang Wei seperti pancuran air.
Sebenarnya, Jiang Wei juga menyadari bahwa ada seseorang yang mendekatinya, namun dia tidak bisa berbalik karena pasukan pemberontak masih menyerangnya. Di saat telah menjatuhkan pasukan pemberontak, Jiang Wei hendak berbalik untuk melawan seseorang yang bergegas ke arahnya. Namun, punggungnya terlebih dulu tertusuk oleh benda tajam.
Rasa sakit dari pedang yang menembus jantungnya membuat Jiang Wei tersungkur dan berlutut di atas tanah.
Jiang Wei mendongakkan kepalanya dan melihat Chen Guang tersenyum puas. Chen Guang lalu mengangkat pedang hendak menusuk kembali Jiang Wei.
Suara dentingan senjata besi kembali terdengar. Jiang Zhi berhasil menahan pedang Chen Guang. Dia kemudian menusuk Chen Guang, kali ini dia berhasil melukai Chen Guang di bahunya.
"Ah!" Jerit Chen Guang kesakitan pada saat darah mengalir dari bahu yang membuat lengan kirinya mati rasa.