
Keesokan paginya, seluruh kekaisaran gempar dengan berita perselingkuhan istri utama menteri perang dengan seorang pejabat rendahan. Semua orang terus membicarakan kabar itu dari pagi sehingga menyebabkan pengadilan lebih sibuk dari biasanya.
Kebanyakan pendapat dari pejabat itu meninta agar Kaisar menurunkan jabatan pelaku. Tindakan seperti itu benar-benar mencoreng nama dan membuat malu Istana.
Entah kenapa Xie Hongyi merasa sedikit kasihan dengan Keluarga An. Kepala keluarganya telah dijebak melakukan pembakaran dan sekarang istrinya dituduh berselingkuh dengan salah satu pejabat Istana.
Tapi dia juga penasaran, apa benar istri An Ziming berani menjalin kasih dengan seorang pejabat yang mengandalkan posisi wanita? Xie Hongyi semakin curiga karena fakta bahwa laki-laki yang menjadi selingkuhan Nyonya An adalah Lan Xu.
Xie Hongyi berpikir dengan sangat keras sehingga alisnya berkerut. Tapi dia tetap menyuapkan sepotong semangka ke dalam mulutnya. Memang aneh memakan semangka di musim dingin.
Ketika ia sedang berpikir, Xie Hongyi tidak menyadari bahwa Huang Long datang mendekatinya. Bahkan setelah pria itu duduk dihadapannya, Xie Hongyi tidak bergeming dan terus tenggelam dalam pikirannya.
Huang Long tidak mencoba menganggu Xie Hongyi. Dia menatap wanita itu dengan tatapan lekat.
Pikiran Xie Hongyi tersadar saat merasakan ada seseorang yang menatapnya. Dia menoleh dan mendapati sosok Huang Long yang sedang duduk.
Xie Hongyi tiba-tiba tergagap saat di tatap Huang Long. "Yang Mulia?"
Jatungnya berdetak dengan kencang, dan nafasnya sedikit memburu. Xie Hongyi kaget! Kenapa Huang Long tidak bersuara saat dia datang?
Huang Long menjawab singkat. "Umm."
"Kamu makan semangka?"
"Iya. Apa Yang Mulia mau?"
"Tidak. Hari ini tidak cocok memakan buah itu."
Mendengar sarkastik Huang Long, Xie Hongyi menunjukkan giginya. "Hehe."
"Apa persiapan kita pulang sudah selesai?"
Pulang, kata itu membuat Huang Long terpaku sejenak. Pulang, artinya mereka akan kembali ke Selatan, rumah mereka. Entah kenapa saat memikirkan hal itu, secara tak sadar telinga Huang Long memerah.
Xie Hongyi tidak menyadari kelainan Huang Long karena dia fokus dengan semangka.
Sistem dari tadi sangat tergiur dengan buah semangka yang Xie Hongyi makan. Dia meminta buah itu, namun Xie Hongyi sangat pelit. Alasan yang dikatakan wanita itu adalah bahwa semangka ini persediaan terakhir dari musim gugur yang diberikan Pangeran Yu khusus untuknya.
Karena kesal, sistem kemudian mengigit tangan Xie Hongyi yang berada di atas meja. Xie Hongyi spontan berteriak dan menarik atensi Huang Long.
"Ada apa?"
Xie Hongyi mengibaskan tangan yang di atas kulitnya terdapat bekas cetakan gigi dan sedikit berdarah. Dia lalu melotot sehingga bola matanya hampir keluar pada sistem.
Huang Long mengikuti arah pandangan Xie Hongyi dan merasa heran. "Darimana rubah ini berasal?"
Xie Hongyi dan sistem secara bersamaan berkata, "Eh?"
Mereka berdua menoleh ke arah Huang Long, dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajah.
Eh.... Eh.... Eh, mengapa Huang Long bisa melihat sistem?
***
Yin Tianrui benar-benar pusing dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Satu-persatu masalah berdatangan, seperti hujan yang datang tiba-tiba. Dia tidak keberatan jika masalah itu hanya menyangkut beberapa hal sepele seperti biasanya, namun akhir-akhir ini masalah yang datang lebih serius.
Para pejabat juga memerhatikan ada yang salah baru-baru ini. Dengan itu mereka mengusulkan agar Yin Tianrui pergi ke kuil untuk meminta berkah agar semua masalah yang terjadi dapat diselesaikan.
Siang ini, Yin Tianrui akan pergi ke kuil yang berada di kaki gunung yang tidak jauh dari istana. Kira-kira memakan waktu empat jam menggunakan kereta untuk bisa sampai. Dia juga berniat menginap, dan memerintahkan beberapa kasim pelayan untuk mempersiapkan keperluannya.
Kabar kepergian Kaisar ke kuil untuk meminta keberkahan sudah menyebar ke segala penjuru istana. Beberapa orang berkumpul untuk membicarakannya.
Seperti yang dilakukan para wanita halaman belakang yang berbicara mengenai hal ini di sebuah taman yang sebagian besar tanaman di sana dipenuhi salju.
Taman itu kebetulan dilalui oleh Yin Tianrui yang hendak pergi keluar. Ketika Yin Tianrui lewat, dia melihat beberapa selir terlihat berkumpul, termasuk Selir Lan. Penampilannya masih cantik seperti biasa, namun hanya dia yang tahu pagi ini dia memakai lebih banyak bubuk bedak untuk menutupi wajahnya yang pucat. Malam tadi ketika mimpi itu berakhir, dia tidak bisa tidur lagi sehingga menimbulkan efek pada kulitnya menjadi kusam.
Pagi ini dia juga mendengar berita, namun tetap tenang karena mengira kakaknya tidak akan melakukan hal sebodoh itu. Dia juga berada di mood yang buruk dikarenakan kesal dengan selir lain yang berbicara tentang kejelekan kakaknya. Tapi, dia tinggal di istana tidak sebentar, oleh sebab itulah dia tahu bagaimana cara mengahadapi para selir bermulut kotor ini yakni dengan diam. Dia mencoba untuk tidak memperdulikan apa yang orang lain katakan mengenai kakak dan dirinya.
"Sepertinya kalian tampak bersenang-senang."
Seperti ngengat yang menghampiri api, saat Yin Tianrui selesai berbicara, para selir itu kemudian mengerumuninya.
"Yang Mulia, kami mendengar bahwa Anda akan pergi mengunjungi kuil?"
"Apa Yang Mulia pergi untuk meminta berkah?"
"Apa Yang Mulia akan membawa salah satu dari kami untuk menemani?"
Melihat orang lain yang mengambil tindakan terlebih dahulu, Selir Lan sedikit panik. Ketika ada seorang selir yang berbicara kalimat terakhir, dia tidak berpikir banyak dan langsung berbicara dengan keras. "Yang Mulia, apa saya boleh ikut?"
Suasana mendadak menjadi hening. Para selir yang bicara sebelumnya menjadi diam dan menatap Selir Lan. Mereka menatap Selir Lan dengan kaget, namun sedetik kemudian pandangan itu digantikan dengan cemoohan.
Selir yang lain berbisik. "Apa dia tidak tahu malu? Kenapa dia meminta Yang Mulia pergi bersamanya?"
"Benar. Kalau aku jadi dia, aku mungkin akan menggantung diriku sendiri."
"Bukannya kakaknya berbuat tindakan yang memalukan? Mengapa ia masih berani bertingkah?"
"Benar-benar tidak tahu malu."
Dipermukaan, hubungan para istri raja itu terlihat seperti adik-kakak yang harmonis, tapi siapapun tahu bahwa mereka bersaing secara diam-diam untuk naik ke posisi yang lebih tinggi. Kadang, cara yang digunakan cukup ekstrim, dengan membunuh atau memfitnah satu sama lain.
Selir Lan terdiam mendengar cemoohan dan ejekan dari selir lain, namun hatinya terbakar panas. Sialan, para kelompok ****** akan menerima akibatnya!
Ketika mendengar suara Selir Lan, Yin Tianrui menjadi kesal. Dia merasa awal semua masalah berasal darinya. Yin Tianrui pun berkata dengan dingin. "Kau sebaiknya tetap diam ditempat. Hukuman mu belum diputuskan, jadi lebih baik kau tidak pergi kemana-mana."
Ada tawa tertahan yang terdengar samar.
Wajah Selir Lan langsung kehilangan semua darahnya. Dia tidak menyangka Yang Mulia yang selalu memanjakannya akan menolaknya dengan kejam!
Kesempatan yang baik telah datang, dan tentu saja tidak akan ada orang yang ingin menyia-nyiakan nya. Seperti, salah satu selir yang berdiri dekat Yin Tianrui. "Kalau begitu, apa boleh saya yang menemani Yang Mulia pergi? Kebetulan beberapa hari yang akan datang adalah peringatan kematian ayah saya."
Yin Tianrui menatap orang yang berbicara dengannya. Dia adalah salah satu selir yang ia angkat tahun lalu. Wajahnya cukup cantik, dan dia memilki latar belakang keluarga yang cukup kuat.
Yin Tianrui berpikir sebentar, lalu ia menjawab, "Baiklah."
Selir Lan menggenggam tangannya dengan erat sehingga kukunya yang cukup panjang membuat telapak tangannya berdarah. Darah dari tangannya menetes pada salju, menjadikan titik merah itu menjadi seperti noda.
Tidak hanya Selir Lan, namun beberapa selir lainnya juga merasa marah. Mereka menyesal kenapa tidak berbicara terlebih dulu dengan Yin Tianrui.
Ada yang berani mengajukan diri untuk ikut. "Yang Mulia, apa saya juga boleh ikut?"
Suara Yin Tianrui terdengar datar tanpa emosi. "Kalian diam saja di Istana."
Tentu saja ia tahu para wanita ini berusaha menarik perhatiannya. Dan, Yin Tianrui bebas memilih siapa yang akan mendapatkannya.
"Tunggu Yang Mulia, aku juga ingin pergi ke kuil untuk mendoakan kakakku!"
Melihat Yin Tianrui yang hendak pergi, Selir Lan berteriak. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Yin Tianrui!
Namun, Selir Lan mendapatkan respon yang tidak diharapkan dari Yin Tianrui..
Yin Tianrui menatap Selir Lan dengan dingin, seperti es yang membekukan. "Apa kamu tidak mendengar apa yang kukatakan?"
Selir Lan bersuara dengan pelan. "Aku dengar."
Selir Lan menunduk ketika berbicara. Dia tidak berani menatap mata Yin Tianrui seperti ingin tidak melihatnya. Selir Lan juga takut dengan Yin Tianrui yang kini terasa asing.
Saat ini, dia menyadari bahwa hubungannya dengan Yin Tianrui mulai retak.
Tanpa berkata-kata lagi, Yin Tianrui langsung pergi melangkah diikuti selir yang akan pergi ke kuil dengannya.