
"Pada musim dingin bulan pertama hari ke dua belas, Kaisar terdahulu kita, Yang Mulia Bingshu pergi ke Kerajaan Utara dengan adiknya, Pangeran Kedua. Tapi pada saat perjalanan, Kaisar kita dibunuh oleh orang-orang utara, menyebabkan kemarahan kerajaan kita, kemudian perang meletus di berbagai daerah." Pendongeng itu dengan berapi-api bercerita dihadapan para pengunjung restoran. Ditangannya ada beberapa kertas naskah berisi bahan cerita.
"Kemudian setelah sempat berhenti, negara kita mengalami kekacauan dengan pengkhianatan keluarga Xu. Mereka berniat untuk merebut kerajaan di saat Kaisar tidak ada! Untung saja Pangeran Kedua cepat bertindak dengan memusnahkan keluarga Xu tanpa ada satu pun tersisa. Di malam itu, Pangeran Kedua membakar kediaman Xu dan membantai seluruh anggota keluarganya. Menurut apa yang ayahku katakan, pembantaian itu berlangsung satu hari satu malam, dan pada saat itu darah tumpah dimana-mana, teriakan pilu anggota keluarga Xu yang sedang disiksa terdengar sampai ke negara tetangga."
"Tapi..." Pendongeng itu sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, membuat orang-orang yang mendengarkan menanti dengan antusias.
"Ternyata Pangeran Kedua memberontak! Tapi, dengan kehebatan Putra Mahkota Qing, pemberontakan itu berhasil dipadamkan. Pangeran Kedua dan pengikutnya kabur dan tidak berhasil ditemukan. Negara kita damai untuk beberapa dekade."
Restoran tempat pendongeng itu bercerita bernama Xinyuan, yang terletak di lokasi strategis ibukota. Pada saat siang hari seperti ini, restoran Xinyuan ramai dipenuhi dengan orang-orang yang sedang istirahat makan siang. Pendongeng itu memanfaatkan keramaian demi mencari keping-keping uang.
Topik yang ia bicarakan sebenarnya adalah topik yang tidak aneh sama sekali. Semua orang sudah tahu bagaimana akhirnya kisah ini, namun mereka tidak bosan mendengarnya beberapa kali.
Kaisar yang dimaksud dalam cerita ini adalah bernama lengkap Huang Bingshu, kakek buyut Huang Long. Beberapa bencana terjadi di Kerajaan Selatan setelah kematiannya, membuat rakyatnya tidak bisa hidup dengan tenang pada masa itu. Pembunuhan Kaisar, pengkhianatan keluarga Xu, serangan dari Kerajaan Utara, kudeta besar, terjadi dua puluh tahun yang lalu di musim dingin.
Setidaknya itulah yang Xie Hongyi tahu dari cerita pendongeng. Dia sedang duduk di kursi barisan belakang sambil meminum teh hangat.
Setelah pendongeng itu selesai bercerita, dia disambut dengan tepuk tangan yang riuh dari para pendengar. Kemudian, setelah ia mendapat bayaran, dia memeluk erat naskah didadanya dan pergi dari sana.
Melihat pendongeng itu pergi, Xie Hongyi berkata pada Ling'er yang duduk disampingnya. "Ling'er, kau tunggulah disini. Aku punya urusan sebentar." Ling'er menjawabnya dengan anggukan kecil.
Pendongeng itu berjalan ke sisi restoran untuk pergi ke restoran lain. Dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Pada saat dia hendak berbelok, pendongeng itu dikejutkan dengan kemunculan Xie Hongyi didepannya secara tiba-tiba. Lantas ia berteriak. "Tolong jangan bunuh aku, aku belum menikah!"
Sisi restoran itu jarang dilalui orang-orang, sehingga tidak ada yang mendengar teriakan si pendongeng.
Xie Hongyi memutar matanya. Memangnya kalau kau sudah menikah, maka sah-sah saja untuk membunuhmu?
Melihat pendongeng itu masih merasa takut, Xie Hongyi kemudian berkata: "Aku ingin melakukan bisnis denganmu." Wanita itu menunjukkan dua buah ingot yang berisi kepingan emas. Dalam hati Xie Hongyi bersedih, ini adalah setengah gajinya pada bulan ini, dan belum ia nikmati sepeser pun.
Pendongeng itu menurunkan tangan dari wajahnya. Kewaspadaannya menurun saat mendengar suara seorang wanita. Dia seketika berbinar saat mendengar suara uang. Kemudian dengan hati-hati berkata: "Apa yang harus kulakukan?"
"Mudah saja. Besok, kau kembali ke restoran Xinyuan dan ceritakan pada orang-orang..." Xie Hongyi kemudian berbisik ditelinga pendongeng.
Mata pendongeng itu terkejut. Dia berucap dengan kaget. "Apakah itu benar?"
"Tidak peduli apakah itu benar atau tidak. Yang harus kau lakukan adalah hanya bicara dan sebarkan berita itu."
Pendongeng itu hanya peduli dengan uang yang ada di genggaman Xie Hongyi. Jadi dia dengan cepat setuju. "Kau tenang saja. Aku pasti melakukan tugas ku dengan baik!"
Xie Hongyi berkata lagi setelah memberikan ingot pada pendongeng. "Setelah kau selesai, aku akan memberimu uang tambahan."
Pendongeng itu sangat bahagia. Dia mengangguk pada Xie Hongyi beberapa kali seperti boneka mobil.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan pendongeng, Xie Hongyi kembali ke dalam restoran dan mengajak Ling'er pergi ke suatu tempat.
Mereka berdua berjalan di tengah keramaian kota. Para penduduk masih bersemangat beraktivitas seperti biasanya di musim yang dingin ini.
Xie Hongyi berencana untuk pergi ke keluarga Mo dan menyembuhkan Mo Heixue. Ditengah perjalanan ia bertanya pada sistem dalam benaknya. "Sistem, berapa poin yang aku punya saat ini."
Sistem yang masih nyaman meringkuk di kepala Xie Hongyi, menjawab. "Poinmu saat ini berjumlah 750 setelah dikurangi dari beberapa pembelian item." Ah, lumayan banyak, pikir Xie Hongyi.
Ketika ia sampai di sana, beberapa penjaga keluarga Mo mencegahnya masuk "Apa urusanmu datang kemari? Kalau tidak penting, sebaiknya kau segera pergi!" Penjaga itu menjawab dengan arogan, sama sekali tidak peduli pada Xie Hongyi yang seorang wanita.
Beberapa tabib terkenal sudah memeriksa keadaan Mo Heixue, dan mereka mengatakan bahwa Mo Heixue tidak bisa disembuhkan. Jadi, bagaimana bisa para penjaga ini percaya pada Xie Hongyi? "Pergilah! Kami tidak akan membiarkan seorang pembohong masuk ke kediaman Mo!"
Xie Hongyi mengerutkan bibirnya dan berdecak. Pada saat itulah dia mendengar suara seorang pria. Dua penjaga itu segera memberi hormat pada pria yang ada dibelakang Xie Hongyi.
Mo Wuyue datang dan menghampiri Xie Hongyi. "Selir Xie, ada hal apa yang membuatmu mengunjungi kediaman Mo?"
Xie Hongyi berkata seolah-olah ia teraniaya. "Jenderal Mo, aku datang untuk melihat penyakit Tuan Muda kedua. Tapi dua orang ini tidak mengizinkanku masuk."
Mo Wuyue melihat dua orang penjaga seperti melihat ikan mati. "Biarkan dia masuk." Mungkin setelah ini dia harus memberikan hukuman pada keduanya karena sikap mereka yang tidak pantas.
Dua penjaga itu ragu, tapi melihat tatapan Mo Heixue, mereka tidak berani membantah.
Mo Wuyue membawa Xie Hongyi langsung ke kamar Mo Heixue. Mo Wuyue membuka pintu kamar adiknya dan mempersilahkan Xie Hongyi masuk.
Setelah Xie Hongyi masuk, dia langsung melihat keadaan Mo Heixue yang menyedihkan.
Pria philanderer itu terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat, tampak terlihat sangat lemah.
Xie Hongyi berkata dengan nada bahagia yang disembunyikan. "Tuan Muda Mo, bagaimana keadaanmu?"
Mendengar suara wanita yang tidak akan pernah dilupakannya, pria di atas tempat tidur langsung bangun dari tidur ayamnya dan menatap Xie Hongyi dengan ganas. "Kau-" Mo Heixue tidak bisa melanjutkan perkataannya karena rasa sakit dari bagian bawahnya terasa.
Xie Hongyi meletakkan telunjuk dibibir. "Stt, Tuan Muda tidak boleh berbicara keras, atau kau akan merasa sakit lagi."
Mo Heixue melotot seakan berkata: 'Ini adalah salahmu membuatku jadi begini!' Dia tidak bisa mengatakan hal itu didepan kakaknya.
Xie Hongyi kemudian duduk di samping ranjang Mo Heixue. "Jenderal Mo, bisakah kamu meninggalkan kita?"
Mo Wuyue ragu-ragu dengan permintaan Xie Hongyi. "Tapi, seorang wanita tidak boleh berada di ruangan yang sama dengan pria, apalagi wanita yang sudah menikah.
Xie Hongyi dengan tenang berkata. "Aku akan meninggalkan Ling'er disini."
Mo Wuyue akhirnya menurut. "Baiklah." Kemudian dia pergi dari sana. Sementara itu, Mo Heixue melihat kepergian kakaknya dengan mata melotot. Dia hendak bangkit tapi bahunya ditahan oleh tangan Xie Hongyi sehingga dia kembali berbaring lagi.
Xie Hongyi menyerigai pada Mo Heixue. "Tuan Muda Kedua, mari kita mulai pengobatan mu."
Diluar ruangan, Mo Wuyue memerintahkan beberapa pelayan untuk menyiapkan makanan. Kemudian ia pergi ke kamarnya.
Kediaman Mo terlihat sepi karena tuan rumahnya sedang pergi. Mo Yuan, kepala keluarga Mo juga tidak mengambil selir, jadi dia tidak mempunyai saudara tiri sehingga tidak banyak anggota keluarga yang tinggal di sini.
Setelah Mo Wuyue keluar dari kamarnya, dia melirik bilik adiknya. Tidak terdengar suara apapun dari dalam ruangan itu, tapi dia tidak meragukan apa yang hendak dilakukan Xie Hongyi.
Mo Wuyue kemudian duduk di kursi meja makan. Didepannya, sudah ada beberapa hidangan tersaji. Ruang makan ini tidak mempunyai penghalang, jadi dia akan melihat Xie Hongyi setelah wanita itu keluar dari kamar Mo Heixue.
Mo Wuyue sedang minum secangkir teh saat telinganya menangkap suara pintu terbuka.
Catatan:
Philanderer: laki-laki yang terlibat hubungan cinta dengan banyak wanita tanpa keterikatan emosi.