The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 38



Semua orang yang telah diracuni pada saat malam perjamuan, sudah sembuh. Istana kini sudah mulai bisa melanjutkan rutinitasnya.


Setelah Huang Long selesai dengan urusan pengadilan, dia mengunjungi kediaman Ibu suri. Dia memakai baju pengadilan, membuat dirinya tampak berwibawa. Aura dingin yang kuat membuat setiap orang yang menyaksikan langkahnya menggigil.


Ibu Suri merupakan Permaisuri terdahulu. Dia berasal dari keluarga Chen, bernama Chen Mingzhu. Dulu pada saat ibu kandung Huang Long meninggal, Ibu Suri lah yang merawat Huang Long sampai dia dikirim ke militer. Pada saat itu Ibu Suri menentang Kaisar yang membuat keputusan untuk nasib Huang Long. Ibu Suri merasa Huang Long masih terlalu kecil untuk mengetahui segala yang berhubungan dengan peperangan.


Tapi, tetap saja keputusan Kaisar tidak mudah untuk dibatalkan. Maka pada saat itu, Ibu Suri harus rela menyaksikan anak angkatnya pergi ke kamp militer.


Huang Long hanya mendapat perlakuan yang cukup baik di bawah asuhan Ibu Suri.


Setelah Huang Long berjalan cukup lama, dia akhirnya tiba di kediaman Ibu Suri. Huang Long tidak bisa menebak alasan ibu angkatnya memanggilnya ke sini.


Huang Long berdiri di depan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda. Garis wajahnya tidak bisa menyembunyikan kecantikan di masa lalu. Wanita itu memakai baju yang terlihat sangat mewah berwarna keemasan, dengan bebagai macam perhiasan terpasang di tubuhnya.


Huang Long kemudian sedikit membungkukkan badannya. "Zhen memberi hormat pada Ibu Suri."


Suara Ibu Suri lembut. "Duduklah." Huang Long kemudian menurut untuk mendaratkan pantatnya di sebuah kursi .


Ibu suri membuka pembicaraan mereka dengan mengajukan pertanyaan. Nada suara nya penuh dengan kekhawatiran saat dia bertanya. "Long'er, bagaimana keadaan mu saat ini? Aku dengar beberapa hari yang lalu kau teracuni?"


"Itu benar. Tapi, Zhen sangat beruntung karena Selir Xie mempunyai penawarnya."


Dahi ibu suri mengernyit saat mendengar nama yang asing namun tampak familiar. "Selir Xie?"


"Selir Xie dikirim ke Istana satu tahun yang lalu oleh keluarga Xie.


"Aku ingat. Dia adalah gadis pendiam itu kan?"


Huang Long mengangguk. Satu tahun ini dia benar-benar tidak tahu keberadaan Xie Hongyi, kalau saja tidak ada kejadian pembunuhan, mungkin selamanya dia tidak akan tahu mengenai wanita itu.


Tiba-tiba Ibu Suri berkata. "Semalam aku memimpikan Chen'er." Nada suaranya lemah.


Huang Long terdiam mendengar tuturan Ibu Suri. "Mohon Ibu jangan sedih. Bagaimana jika Zhen memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya lagi?" Huang Long mengatakan kata-kata yang menghibur dengan wajah yang datar.


"Tidak perlu. Sudah belasan tahun dia menghilang. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak."


"Kalau itu keputusan Ibu, Zhen tidak berani membantah."


Ibu Suri tersenyum saat melihat Huang Long yang patuh. Anak laki-laki yang dulu pendiam kini sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang matang. Ibu Suri kemudian memikirkan sesuatu. "Long'er, sudah berapa lama kau jadi Kaisar?"


Huang Long menjawab. "Kurang lebih enam tahun."


"Sudah lama. Apakah ada dari selir-selir mu yang sedang mengandung?"


Huang Long kemudian tahu arah pembicaraan Ibu Suri. "Tidak ada." Dia menjawab dengan jujur.


Alis panjang Ibu Suri menyatu. "Kenapa? Apa kau tidak tertarik pada selir-selir mu? Istana membutuhkan beberapa penerus."


Huang Long berbicara dengan acuh tak acuh. "Sudah ada Pangeran Jue."


Wajah Ibu Suri berubah drastis. Wanita paruh baya itu berkata dengan marah. "Hanya dia? Seharusnya di usiamu sekarang setidaknya kau mempunyai lima orang anak. Bagaimana jika aku mengirimkan beberapa selir lagi untukmu?" Ibu Suri berpikir kalau Huang Long tidak tertarik dengan para selirnya. Asumsi itu diperkuat dengan hanya satu pangeran yang lahir sejak Huang Long berkuasa.


"Tidak perlu menyusahkan Ibu untuk memberiku selir lagi. Sekarang, aku hanya ingin fokus untuk mengurus negara ini."


Ibu Suri menghela nafas lelah melihat anaknya yang keras kepala. Namun, dia juga adalah seorang memiliki sifat yang sama. "Aku akan tetap mengirimkan beberapa selir untukmu."


Huang Long juga menghela nafas dan hanya bisa pasrah dengan keputusan ibunya. Lagipula, dia tidak perlu mengurus secara langsung mengenai haremnya. Mungkin Huang Long akan memperlakukan wanita-wanita itu sebagai hiasan yang tidak akan pernah ia pakai.


***


Sambil melangkah keluar dari kediaman Permaisuri Shi, Xie Hongyi menghela nafas. Dia tidak mendapat informasi apapun dari Permaisuri. Xie Hongyi juga tahu bahwa sebenarnya Permaisuri Shi tahu sesuatu, tapi dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


Huang Long menatap tanpa ekspresi Xie Hongyi yang sedang kesakitan. Dia berkata dengan nada datar. "Kau tidak apa-apa?"


Xie Hongyi mengangkat kepalanya saat mendengar suara orang bertanya padanya. Dia menurunkan tangan yang mengusap kening, kemudian berkata dengan nada datar juga. "Aku tidak apa-apa."


Kepala Huang Long mengangguk sedikit. Dia kemudian hendak berjalan lagi, tapi karena ada Xie Hongyi, sekarang dia yang malah menabrak wanita itu. Kedua bahu orang itu bertabrakan.


Xie Hongyi merintih saat Huang Long menyentuh lukanya semalam. Xie Hongyi memegang bagian bawah bahunya sendiri, dan tidak berani untuk menyentuh bagian yang terluka. "Sakit!"


Nada suara Xie Hongyi berbeda dengan yang tadi. Sekarang dia bersuara seakan benar-benar kesakitan. Entah kenapa, hati Huang Long juga sakit seperti ada yang mencubitnya saat mendengar nada suara Xie Hongyi. Dia kemudian ikut memengang lengan Xie Hongyi, tepat di area yang terluka.


Mata Xie Hongyi memerah saat Huang Long menekan lukanya, lalu terbelalak saat mendengar suara kain yang dirobek.


"Hei! Kenapa kau merobek bajuku?! Xie Hongyi berteriak kaget saat Huang Long merobek lengan bajunya. Setelah lengan baju itu dirobek, guratan luka yang terbungkus dengan perban berwarna kemerahan terlihat di pandangan Huang Long. Tadi pagi Xie Hongyi memang tidak sempat melepas perban yang dipasangkan Ling'er. Untung saja, baju yang dipakainya hari ini berbahan lembut dan halus, sehingga tidak terlalu menggesek luka yang terbungkus perban tipis.


Alis Huang Long bersatu saat melihat perban luka yang memerah di lengan Xie Hongyi. Dia tidak mengatakan apapun, tapi garis wajahnya begitu gelap walaupun tidak terlalu nampak. Tanpa kata-kata, dia menarik tangan Xie Hongyi yang tidak terluka, membuat wanita itu berjalan terhuyung-huyung mengikuti langkah Huang Long yang lebar. Dia diseret beberapa waktu kemudian berhenti di depan sebuah bangunan.


Xie Hongyi menatap sekilas papan kaligrafi yang menggantung di atas pintu bangunan. Dia ternyata dibawa Huang Long ke ruang kerjanya.


Ketika mereka sampai di dalam ruangan, Huang Long memengang bahu Xie Hongyi lalu mendudukkan wanita itu di sebuah kursi. Ia kemudian berjalan ke meja belajarnya, membuka laci lalu mengambil sebuah kotak dari dalamnya.


Saat Huang Long kembali lagi ke hadapan Xie Hongyi, dia membuka kotak itu. Kotak itu ternyata berisi beberapa botol obat dan beberapa helai kain kasa. Huang Long kemudian membuka salah satu botol obat, lalu mengoleskannya ke luka Xie Hongyi setelah melepas perban bekas.


Obat itu berbau khas tanaman herbal dan menimbulkan sensasi dingin pada kulitnya pada saat dioleskan. Jari-jari tangan Huang Long yang ramping dan panjang dengan hati-hati mengoleskan obat itu pada luka Xie Hongyi. Terlihat bahwa Huang Long seperti pertama kali mengobati seseorang. Gerakannya tidak teratur dan terlihat asal.


Xie Hongyi menatap dengan lekat jari-jari ramping milik Huang Long. Jari-jari itu sangat indah, dan membuat Xie Hongyi kagum. Namun, dia tiba-tiba tersentak saat Huang Long selesai mengoleskan obat.


"Ah! Kau mengikat perbannya terlalu kencang!"


Xie Hongyi benar-benar ingin menangis saat Huang Long mengikatkan lapisan kasa. Apakah laki-laki ini menggunakan tenaga dalam saat dia memakaikan kain itu?


Mendengar suara kesakitan Xie Hongyi lagi, Huang Long kemudian mencoba untuk melilitkan kain kasa itu dengan perlahan. Tidak lama dari itu, Huang Long akhirnya berhasil membungkus luka Xie Hongyi.


Huang Long berkata dengan puas. "Selesai." Dia kemudian menatap Xie Hongyi dengan tatapan seperti seorang anak yang meminta pujian saat melakukan sesuatu yang baik.


Xie Hongyi melihat hasil pekerjaan Huang Long dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. Kain kasa itu dililitkan secara asal, tidak ada rasa estetika sama sekali. Tapi, Huang Long dengan percaya diri mendesah puas. Xie Hongyi tidak tega untuk memberikan komentar yang buruk tentang hasil kerjanya, jadi dia diam.


Mengambil kotak itu kembali untuk diletakkan di dalam laci, Huang Long bertanya pada Xie Hongyi. "Zhen dengar kau bertanya tentang orang yang hilang di Istana."


Pada saat Huang Long kembali dari kediaman Ibu Suri, dia tidak sengaja mendengar Xie Hongyi bertanya pada Permaisuri Shi tentang orang yang hilang saat dirinya berjalan melewati kediaman Phoenix. Dengan indera pendengarannya yang tajam karena berlatih beladiri selama bertahun-tahun, Huang Long mendengar setelah Xie Hongyi bertanya, Permaisuri Shi tidak memberikan jawaban yang benar. Untuk itulah, dia menyuruh kasim yang sedari tadi ada dibelakangnya untuk kembali, sementara dia akan menemui Xie Hongyi. Setelah dirinya bertemu dengan Xie Hongyi, dia akan kembali dan tiba-tiba menabrak lengan Xie Hongyi yang terluka. Secara spontan dia membawa Xie Hongyi untuk di obati.


Huang Long kemudian bertanya lagi ketika melihat Xie Hongyi yang terdiam. "Kenapa kau menanyakan hal ini?"


Xie Hongyi kemudian menjawab Huang Long dengan pertanyaan juga. "Apakah Yang Mulia berkenan untuk memberitahu sesuatu padaku?"


"Jika kau ingin mencari tahu tentang orang yang hilang di istana, maka kau harus berurusan dengan Ibu Suri."


"Kenapa aku harus berurusan dengan Ibu Suri?"


"Kasus orang hilang di Istana sudah sering terjadi. Kebanyakan korbannya adalah budak atau pelayan. Mereka semua hilang dan tidak pernah ditemukan. Tapi, hal itu merupakan kejadian yang biasa terjadi. Kau pasti tidak akan menyelidiki kasus seperti itu?"


Huang Long menebak dengan benar seperti yang diharapkan dari seorang protagonis. "Benar. Aku ingin mencari tahu seseorang seperti keluarga kerajaan atau bangsawan yang sempat hilang di Istana. Tapi kenapa aku harus berurusan dengan Ibu Suri?" Xie Hongyi mengajukan pertanyaan yang tidak sempat Huang Long jawab.


Alih-alih menjawab pertanyaan Xie Hongyi, Huang Long malah mengajukan pertanyaan lagi. "Apakah kau mau mencari tahu seperti waktu itu kau pergi ke kediaman Selir Li dan menyelidiki tentang kebenaran tentang kematiannya?"


Xie Hongyi tertegun sejenak. "Yang Mulia tahu?"


"Tentu saja. Apa menurutmu Zhen ini bodoh?"


Huang Long jelas tidak memiliki ekpresi yang jelas diwajahnya, sulit untuk menebak apakah dia mencibir atau hanya berkata dengan biasa.