
Tentu saja anak buah Huang Long tidak akan menemukan Xie Hongyi karena wanita itu dan Xiao Zhang sudah pergi.
Setelah mengobati luka-luka Xiao Zhang, mereka berdua berjalan ke arah timur menuju ibukota. Semalam ketika mereka membahas apa yang harus mereka lakukan, Xiao Zhang sempat menolak ide Xie Hongyi untuk kembali. Dia tahu bahwa situasi sedang kacau, kemungkinan identitasnya akan segera terungkap. Tapi, dengan kekuatan verbal Xie Hongyi yang kuat, Xiao Zhang kalah. Tapi pria itu tidak mau mengakui kekalahan dan berkata akan mengabulkan permintaan Xie Hongyi dengan satu syarat. Xie Hongyi menyetujuinya karena Xiao Zhang hanya berkata mereka harus pergi ke sebuah tempat untuk bertemu dengan orang dikenal Xiao Zhang.
Walaupun sistem telah memberi Xie Hongyi misi baru, tapi dia tidak akan pergi ke Utara terlebih dahulu. Situasi di Selatan sedang kacau. Dia tidak bisa meninggalkan negara ini begitu saja. Untungnya sistem mengatakan bahwa membantu protagonis lebih penting.
Mereka berdua berjalan menyusuri hutan yang pohonnya ditutupi butiran salju. Di tengah perjalanan, Xie Hongyi tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berkata: "Aku lelah, bisakah kita berhenti?"
Xiao Zhang berucap dengan kesal. "Ini sudah ke sepuluh kalinya kita berhenti. Jika kau terus begini, kita tidak akan pernah sampai!"
Inilah yang membuat Xiao Zhang jengkel. Dialah yang menderita banyak luka, tapi kenapa Xie Hongyi yang malah bertindak seperti orang sakit?
Xie Hongyi menatapnya dengan tatapan tidak berdosa. "Fisik wanita dan laki-laki itu berbeda."
Xiao Zhang berdecak dan terpaksa ikut duduk sedikit jauh dari wanita itu.
Xie Hongyi sedikit terkekeh melihat Xiao Zhang yang berwajah masam. "Kau seharusnya bersikap lebih baik kepada seorang wanita. Jika tidak, mungkin kau tidak akan pernah mendapat istri."
Xiao Zhang mengabaikan Xie Hongyi. Dia kemudian melihat kompas yang ada ditangannya. Kompas ini sama sekali berbeda dengan kompas yang Xiao Zhang tahu. Xie Hongyi berkata bahwa kompas ini lebih efektif menunjukkan arah.
Setelah berpikir panjang, Xie Hongyi memutuskan untuk merawat anaknya. Xie Hongyi tidak akan bertindak sembarangan karena takut membahayakan anak itu. Karena itulah dia sering meminta banyak istirahat.
Dulu, dia terkadang merasa iri dengan rekan-rekan wanitanya yang kadang datang berkunjung ke markas dengan perut besar. Dia juga ingin menikah dan punya suami yang perhatian seperti mereka, tapi dia tidak pernah menemukan pria yang membuatnya jatuh cinta.
Dia sempat berpikir ingin mempunyai anak dengan cara donor ******. Tapi rekan-rekan nya menentang keras niat Xie Hongyi. Dan pikiran itu perlahan-lahan terkubur di karena kegiatan Xie Hongyi yang padat. Dia harus melakukan perjalanan ke beberapa negara untuk membantu tentara.
Xie Hongyi melihat-lihat sekitarnya yang rata-rata berwana putih karena salju. Pandangan Xie Hongyi teralih saat matanya melihat sebuah objek yang menarik perhatian.
Bunga senja! Xie Hongyi sangat bahagia dan tanpa pikir panjang, dia berjalan dengan cepat untuk memetik bunga senja.
Kelopak bunga senja berwarna kuning dengan ukuran seperti bunga peony. Pohonnya pendek sementara daunnya menjari seperti daun singkong. Sesuai namanya, bunga itu akan mekar ketika matahari hampir tenggelam. Ini masih siang hari, jadi kuncup bunga itu belum mekar.
Xie Hongyi tahu itu adalah bunga senja karena buku yang diberikan sistem melampirkan gambar bahan-bahan penawar. Menurut buku itu, bunga ini mekar sepanjang musim, jadi tidak heran jika bunga ini masih tumbuh di musim dingin.
Saat mengambil bunga itu, secara tak sadar kaki Xie Hongyi menginjak batu licin yang membuatnya tergelincir. Dia hampir saja jatuh jika Xiao Zhang tidak menahan tubuhnya. Pria itu berkata dengan marah. "Kau mau terjatuh lagi dari tebing?"
Xie Hongyi baru menyadari bahwa yang ada dibawahnya adalah sebuah tebing curam. "Tentu saja tidak mau."
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin mengambil ini." Xie Hongyi menunjukkan bunga senja ditangannya pada Xiao Zhang.
Xiao Zhang menyipitkan matanya. "Hanya karena sekuntum bunga kau tidak peduli dengan nyawamu?"
Xie Hongyi berkata dengan nada polos. "Kau tidak tahu kalau sebenarnya bunga ini adalah hidup dan matiku."
"Maksudmu? Apa hidupmu akan berakhir jika bunga itu tidak ada?"
Setengah benar, ucap Xie Hongyi dalam hati, karena jika dia tidak membantu Huang Long, sistem akan memberikan hukuman. "Yah bisa dibilang seperti itu. Bunga ini adalah salah satu bahan untuk membuat obat."
Xiao Zhang melepaskan tangannya yang menahan Xie Hongyi. Pria itu berkata dengan acuh tak acuh. "Oh." Sudahlah, yang penting wanita ini tidak jadi terjatuh.
Setelah beristirahat cukup lama, keduanya akhirnya melanjutkan perjalanan. Pada saat tiba di tepi kota, Xie Hongyi menahan Xiao Zhang yang sedang berjalan.
Seketika, kekesalan Xiao Zhang muncul lagi. Dia berkata dengan tidak sabar. "Sekarang apa lagi?"
Xie Hongyi menunjuk Xiao Zhang. "Kau yakin akan memakai pakaian itu ke ibukota?"
Xiao Zhang tidak mau membuang waktu untuk membeli pakaian, jadi dia tidak peduli.
"Tunggu disini."
Xiao Zhang ingin menghentikan Xie Hongyi, tapi wanita itu berjalan sangat cepat dan Xiao Zhang tidak sempat menyusul. Dia dengan berat hati menuruti perintah Xie Hongyi.
Sekitar satu dupa kemudian, Xie Hongyi kembali. Ditangannya ada beberapa potong kain pakaiannya yang terlihat bagus.
Xie Hongyi berucap: "Aku mengambilnya dari seorang saudagar." Alias mencuri. Dia awalnya meminta baik-baik pada saudagar itu, tapi dengan congkaknya saudagar itu menolak. Xie Hongyi menjadi marah sehingga dia memberi saudagar itu obat bius.
Selain mengambil beberapa potong pakaian, dia juga membawa barang berharga milik saudagar itu.
Melihat Xiao Zhang yang enggan, Xie Hongyi mendesaknya. "Cepatlah ganti bajumu. Kau tidak ingin membuang waktu lagi kan?"
Xiao Zhang membawa Xie Hongyi ke sebuah penginapan. Penginapan itu hanya memiliki satu lantai tapi memiliki wilayah yang lebar.
Setelah berbicara pada pelayan, Xiao Zhang dan Xie Hongyi berjalan ke sebuah kamar yang terletak di sudut terpencil.
Ketika pintu kamar dibuka, mereka terkejut begitu melihat dua tubuh yang berbaring tidak bergerak. Salah satu mayat itu berada di atas kasur dengan sebuah belati yang menancap di dadanya. Sedangkan yang satunya lagi berbaring di bawah jendela dengan luka di leher yang menganga.
Xiao Zhang yang melihat pemandangan itu meraung. "Xiao Shi! Xiao Ling!"
Xie Hongyi mengenal kedua orang ini. Dia pernah menyelamatkan yang satunya ketika dia berada di Paviliun Tujuh. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kedua orang ini berasal dari Utara.
Dia berjongkok di depan mayat dekat jendela. Tanpa rasa takut, dia menyentuh luka berdarah dilehernya. "Pria ini mati karena kehabisan darah. Dia mati malam tadi."
Xiao Zhang masih shock. Tubuhnya bergetar saat mendengar Xie Hongyi berbicara.
Xie Hongyi lalu berjalan ke mayat yang satunya lagi. Dia memeriksa seluruh tubuhnya yang kaku. "Pria ini mati tidak lama kemudian."
Xie Hongyi berkeliling di sekitar ruangan dan memperhatikan setiap detail yang ada. Setelah melihat seluruh ruangan, dia kemudian duduk di tepi ranjang.
Xie Hongyi membuat opini. "Pembunuh ini datang dari jendela. Ketika dia datang, dia langsung mengunakan senjata tajam untuk menggorok lehernya."
Dia lalu melanjutkan. "Korban kedua yang menyadari temannya tewas, segera melawan sang pembunuh. Perlawanannya sia-sia karena dia sedang terluka, jadi dia mati ditangan pembunuh itu. Para penjaga penginapan tidak mendengar keributan apapun karena letak kamar ini sangat terpencil."
Xiao Zhang mendengarkan Xie Hongyi dengan seksama. Tangannya mengepal dengan erat. Dia merasa sangat terpukul atas kematian Xiao Ling dan Xiao Shi. Mereka berdua adalah salah satu bawahannya yang paling setia.
Xie Hongyi mengambil secarik kain berwarna hitam yang tergeletak di atas ranjang. Dia yakin bahwa kain ini adalah milik sang pembunuh karena pakaian kedua korban tidak robek. Selain jejak kaki, ini adalah satu-satunya petunjuk untuk menemukan sang pembunuh.
Xiao Zhang yang tahu dentitasnya telah terbongkar, berkata dengan marah. "Kalian orang-orang Selatan sangat kejam!"
Xie Hongyi memainkan kain kecil ditangannya, menyangkal. "Kau marah padaku? Aku bukan pelaku yang membunuh mereka."
"Aku tidak menyalahkamu. Hanya saja, cara kalian bertindak benar-benar kejam."
Xie Hongyi berkata dengan tidak setuju. "Bukankah kalian orang Utara sama saja?" Pria ini tidak mungkin lupa bagaimana negaranya bertindak dalam peperangan kan?
Xiao Zhang mendengus. Dia mencibir. "Itu mereka, bukan aku."
Xie Hongyi makin penasaran dengan identitas Xiao Zhang yang sebenarnya. Dia tidak tahan untuk bertanya. "Xiao Zhang, siapa dirimu sebenarnya? Kau sepertinya sangat membenci pemerintah Utara." Dia pasti bukan orang Istana ataupun orang pemerintah, karena jika ya, Xiao Zhang tidak akan membunuh Wu Zhantian.
udah segitu dulu ya, nanti dilanjut๐๐๐