
Pada hari yang sama, terlepas dari semua kesedihan tentang anaknya, Ibu Suri menulis surat pada beberapa keluarga besar di kerajaan untuk meminta putri mereka untuk dijadikan selir.
Total ada 11 surat yang ia kirimkan, dan dihari yang sama, surat balasan datang. Setengahnya dari keluarga yang dikirm surat menyanggupi permintaan Ibu Suri. Keluarga yang bersedia mengirimkan putri mereka menjadi selir adalah keluarga Chen, Zhuo, Li, Jiang dan Wen. Ada satu surat yang khusus Ibu Suri berikan pada negara tetangga di bagian barat. Jarak antara Kerajaan Selatan dan Barat cukup jauh, jadi membutuhkan setidaknya seminggu sampai surat itu sampai ke tangan mereka.
Keinginan untuk memiliki cucu lagi sangat kuat melebihi kokohnya tinggi gunung, untuk itulah tidak perlu adanya pemilihan selir.
Huang Long hanya menghela nafas
dengan tindakan yang dilakukan Ibu Suri, tidak terlalu peduli. Dia kini terfokus dengan kematian tawanan perang Wu Zhantian yang ditemukan tadi siang.
Seorang petugas keamanan yang diperintahkan untuk menyelidiki kasus ini, melapor pada Huang Long. "Kami hanya menemukan belati yang digunakan untuk membunuh Jenderal Wu. Sisanya, tidak ada jejak sama sekali."
Huang Long menjawab dengan nada memerintah. "Cari petunjuk lagi, sekecil apapun, jangan mengabaikannya."
"Baik Yang Mulia."
Wu Zhantian mati karena kehabisan darah dan mayatnya masih berada di dalam sel. Diperkirakan bahwa dia telah mati sejak malam tadi.
Huang Long juga bergerak untuk memeriksa tempat kejadian perkara. Tapi dia tidak menemukan petunjuk apapun. Hanya ada sebilah belati yang tergelak dan percikan darah di tanah.
Pelaku pembunuhan ini sangat pintar. Dia berhasil pergi tanpa membuat jejak yang lain.
Setelah Huang Long kembali dari penjara, dia pergi ke ruang kerjanya. Di dalam ruangan itu, sudah ada Dugu An yang menunggu.
Ekspresi bawahan Huang Long itu terlihat seperti anak kecil yang membuat kesalahan dan takut dimarahi. Dia menutupinya dengan segera memberi hormat pada Huang Long. "Yang Mulia, Selir Xie telah sampai ke Kediaman Keluarga Xie dengan selamat. Tapi pada saat di tengah jalan, Selir Xie diserang oleh pembunuh." Dugu An tidak bisa menyembunyikan apapun dari Huang Long. Jadi daripada Tuannya tahu, Dugu An memilih untuk mengatakannya terlebih dahulu. Urusan dia akan mendapat hukuman nanti, bisa ia pikirkan terakhir. Dugu An memiliki keyakinan bahwa Huang Long tidak akan membunuhnya.
Raut wajah Huang Long yang tadinya tenang saat mendengar wanita itu baik-baik saja, berubah tegang ketika mendengar kalimat terakhir. Duduk di kursinya, Huang Long menatap Dugu An dengan kejam.
Dugu An buru-buru bersujud. "Yang Mulia, maafkan aku karena tidak berguna!"
Huang Long tidak bicara sepatah katapun, membuat Dugu An lebih cemas.
Hari itu, Dugu An dihukum dengan dicambuk 10 kali.
***
Xie Hongyi berkata sambil menahan geraman. "Tuan Muda ini siapa? Apa yang kau inginkan dariku?" Gagal rencananya mengikuti pria itu.
Tuan Muda yang disebut Xie Hongyi itu tersenyum dan melepaskan tangan Xie Hongyi. "Perkenalkan, namaku Mo Heixue. Nona, kamu sangat cantik." Mo Heixue berkata dengan penuh sanjungan pada Xie Hongyi, terlihat tulus saat dia mengucapkan kata-kata.
Mo Heixue, kau kira aku tidak tahu reputasimu di mata pembaca dan sifatmu yang sebenarnya?
Mo Heixue adalah Tuan muda dari keluarga Mo. Berbeda dengan kakaknya Mo Wuyue yang memilih menjadi Jenderal mengikuti ayahnya, Mo Heixue adalah salah satu sarjana muda yang sangat pintar. Dia berhasil memenangkan posisi pertama dalam ujian Kekaisaran tahun lalu. Tapi sayangnya, Mo Heixue memiliki sifat yang buruk, sangat buruk. Dia adalah bajingan dibalik wajahnya yang tampan.
Ketika dia menyukai seorang wanita, dia akan merayu terlebih dahulu, kemudian setelah hasutannya berhasil dia akan membawa wanita itu ke tempat tidur. Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Mo Heixue mencampakkannya. Kadang dia memberikan wanita bekasnya ke para bawahannya untuk dipakai ramai-ramai.
Dia juga sering membuat masalah dengan Tuan Muda keluarga lain, hampir membuat Keluarga Mo dimusuhi oleh pihak lainnya.
Jiang Zhi dan Mo Heixue adalah tipe orang yang sama, sama-sama tidak mempunyai rasa kemanusiaan.
Mo Heixue tahu siapa wanita didepannya adalah milik Kaisar. Tapi menurut informasi yang ia dapatkan, Kaisar itu tidak menyukai wanita ini. Untuk itulah dia berencana menjalin hubungan dengan wanita ini. Dia kaya, pintar, memiliki status dan wajah yang rupawan, jadi dia yakin Xie Hongyi akan jatuh kepelukannya.
"Terimakasih atas pujian Tuan. Aku akan pergi jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi." Xie Hongyi hendak berbalik, tapi Mo Heixue menahannya lagi.
Mo Heixue tidak peduli dengan wajah Xie Hongyi yang masam. Dia masih melancarkan godaannya lagi. "Nona, apakah kau ingin minum denganku? Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu denganmu."
"Aku menolak. Ada urusan penting yang harus kulakukan."
"Nona apakah kau menolak Tuan Muda ini? Aku tidak akan menyita waktumu terlalu banyak."
Melihat Mo Heixue yang keras kepala, Xie Hongyi akhirnya menyetujui usulannya. Tuan Muda ini tidak akan berhenti membujuk sebelum dia menyetujuinya. "Baiklah, tapi hanya segelas."
Mo Heixue tersenyum, kemudian dia melambaikan tangganya memanggil salah satu pelayan. "Cepat sajikan anggur yang paling bagus."
Mo Heixue menuangkan anggur itu dengan gerakan yang anggun, khas bangsawan berbudaya. Dia memberikan gelas pada Xie Hongyi lalu menuangkan segelas anggur lagi untuk dirinya sendiri. "Bersulang."
Xie Hongyi tentu tidak berani meminum anggur lagi. "Sistem, cepat ubah minuman ini menjadi air biasa." Perintah Xie Hongyi dalam hati.
Gelas keduanya kosong. "Nona, kau belum memberitahu siapa namamu."
Xie Hongyi menatap Mo Heixue seperti ikan mati, diam-diam mencibir dalam hatinya. Untuk apa Mo Heixue menanyakan ironi tentang namanya? Xie Hongyi yakin bahwa Tuan Muda didepannya sudah tahu siapa dia.
Menyembunyikan rasa kesalnya, Xie Hongyi menjawab. "Namaku adalah Xie Hongyi."
Xie Hongyi kemudian memikirkan sesuatu. Dia lalu menyuruh sistem untuk menempatkan sesuatu di minuman Mo Heixue.
Sementara itu, pria yang tampak familiar tadi masuk ke sebuah ruangan tertutup. Di sana sudah ada seorang pria paruh baya menunggu sambil memutar gelas. Wajah pria tua itu penuh dengan kerutan, alisanya yang putih melengkung tajam, rambutnya berwarna abu-abu dan kulitnya keriput. Pria tua itu memancarkan aura yang jahat.
Setelah duduk di depan pria tua, pria itu bertanya. "Kenapa kau memanggilku?"
Suara serak pria paruh tua itu menjawab. "Kenapa kau menyuruh orang untuk membunuh wanita itu?"
Kemudian di melanjutkan. "Ingatlah, kita harus fokus dengan rencana kematian Huang Long. Jangan buang-buang waktu dengan mengurusnya."
Pria itu tetap tidak menjawab. Dia dengan santai mengangkat gelas dan meminum air didalamnya. "Aku hanya ingin menyingkirkan orang yang berpotensi menghalangi rencana."
Pria tua itu mengangkat sebelah alisnya. "Oh, apa yang membuatmu menganggap wanita itu sebagai ancaman?"
"Dia mempunyai penawar racun Xin dan menemukan jasad calon Putra Mahkota terdahulu. Kita menyembunyikan jasad anak itu dengan sangat baik, tapi kenapa bisa seorang wanita harem dapat menemukannya?"
Wajah pria tua itu berubah. "Untuk sekarang, kau harus mencari cara untuk membuka ruang rahasia itu. Jangan sampai Huang Long lebih dulu yang membukanya."
"Aku sedang memikirkannya. Huh, kalau saja dulu kau tidak membangun ruang rahasia itu dengan kokoh, mungkin kita bisa membukanya lebih dulu."
Pria tua itu menjawab dengan dingin. "Ruangan rahasia itu menyimpan sesuatu yang sangat penting. Bagaimana bisa aku membiarkan orang lain dengan mudah memasukinya?" Kemudian dia melanjutkan kata-katanya dengan nada tajam. "Jika saja Mo Cheng tidak mengkhianatiku."
Pria di depannya menyesap minuman dengan santai. "Jangan mengeluh tentang masa lalu. Lagipula, kita akan menghancurkan keluarga Mo setelah kerajaan ini kita kuasai."
Suasana hati pria paruh baya itu membaik setelah mendengarnya. "Kau benar."
"Apakah kau tidak mempunyai petunjuk lain untuk memasuki ruangan rahasia itu?"
Pria tua itu mengernyitkan dahinya, terlihat seperti mengingat sesuatu. "Ruang rahasia itu terhubungkan dengan salah satu bangunan Istana. Dulunya bangunan itu adalah tempat tinggal istriku. Aku tidak tahu sekarang bangunan itu masih ada atau telah dihancurkan." Saat dia menyebutkan kata istri, wajahnya melembut. Tidak lebih dari sedetik, wajahnya menjadi gelap. Matanya berkilat dengan penuh dendam.
Pria didepannya tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu jika pria tua itu sudah menyebutkan kata istri, dia harus tutup mulut.
***
Setelah berhasil membuat Mo Heixue pergi, Xie Hongyi akhirnya bisa pergi ke arah pria tadi. Tapi pada saat dia tiba di ruangan itu, tidak ada satupun orang yang ada di dalamnya.
Wajah Xie Hongyi menjadi buruk. Dia terus-menerus mengutuk Mo Heixue di dalam hatinya.
Xie Hongyi memutuskan untuk kembali ke Kediaman Keluarga Xie. Di depan gerbang Keluarga Xie, sudah ada Ling'er, Wan'er dan Yi'er yang menunggunya.
Xie Hongyi bersyukur mereka tidak banyak bertanya kemana dia pergi.
Ketika mereka berkumpul, Wan'er memberi usul. "Nyonya, hari sudah malam. Aku takut akan ada pembunuh yang menyerang kita lagi. Bagaimana jika malam ini kita menginap di sini?"
Dia juga sedikit trauma dengan apa yang ia alami tadi siang.
Xie Hongyi setuju dengan Wan'er. "Ide bagus. Aku juga sangat lelah dan malas melakukan perjalanan. Ayo masuk." Ketiga pelayannya mengangguk. Mereka berempat kemudian pergi ke dalam kediaman.
Catatan:
Author mau ucapin terimakasih buat yang udah baca dan dukung cerita ini! Jangan bosen dan terus mampir ya!🥰