
"Lapor, sampai saat ini masih belum ada pergerakan dari pemberontak." Seseorang berbaju hitam berkata pada seorang laki-laki dihadapannya.
Pria yang berada di depan adalah Huang Ruifeng, yang saat ini menggantikan Huang Long mengurus Istana.
Mendengar laporan dari bawahannya, Huang Ruifeng menanggapi. "Terus amati mereka. Jangan sampai sedetik pun luput dari pengawasan!"
Laki-laki berbaju hitam itu meletakan kedua tangannya di depan wajah, menunjukkan bahwa dia patuh. "Baik."
Kekuatan keluarga Shi tidak boleh diremehkan. Sebagian kerajaan di bawah kerajaan Selatan telah mendukung keluarga Shi. Entah apa yang dijanjikan mereka pada para Raja, saat ini kerajaan-kerajaan kecil telah bersekutu melawan pemerintah Kerajaan Selatan.
Ada pula beberapa Kerajaan yang masih setia mendukung Kerajaan Selatan, namun sebagian besar tidak dapat membendung kekuatan gabungan perdana menteri.
Mereka jelas telah merencanakan pemberontakan sejak lama.
Setelah anak buahnya pergi, seseorang tiba-tiba masuk dengan tergesa-gesa.
"Lapor, kami mendapat berita dari Paviliun Tianyi bahwa Yang Mulia Ibu Suri dan Selir Hu telah diculik!"
Semenjak munculnya pemberontak, para wanita Istana dikirim ke Paviliun Tianyi agar mereka aman dan tidak perlu terlibat. Tetapi tampaknya tempat yang dikira sangat aman itu masih bisa diketahui musuh.
Huang Ruifeng menaikkan suaranya. "Apa?!"
"Siapa yang melakukannya?"
Pria yang baru memberikan laporan itu berbicara lagi. "Pelakunya berasal dari Keluarga Shi. Mereka meninggalkan petunjuk di lokasi kejadian."
Huang Ruifeng tampak menghela nafas. Bagaimana bisa lokasi Paviliun Tianyi diketahui? Berarti ada seorang mata-mata diantara mereka.
Huang Ruifeng tidak akan bertindak gegabah dengan langsung mencari pengkhianat itu. Kemungkinan yang terjadi jika dilakukan penyelidikan adalah pengkhianat itu akan bunuh diri dan Huang Ruifeng tidak akan mendapat informasi apapun.
Huang Ruifeng berkata dengan tergesa-gesa. "Suruh beberapa orang untuk mengambil kembali Ibu Suri dan Selir Hu! Mereka harus kembali secepat mungkin."
Raut wajahnya menampilkan ekspresi panik, namun siapa yang tahu bahwa didalam harinya Huang Ruifeng merasa dingin. Setelah perintah ini diturunkan, pengkhianat itu pasti akan menunjukkan diri. Dia hanya perlu menunggu.
Di tempat lain.
"Ayah, kenapa kau melakukan ini?" Seorang wanita dengan mata memerah menatap pria paruh baya di depannya.
Pria paruh baya itu menjawab Chen Xiang. "Masa kejayaan Keluarga Huang sudah seharusnya dari dulu sudah musnah. Chen Xiang, kau tidak mengerti. Jadi lebih baik kau tidak ikut campur dalam masalah ini."
Chen Xiang sungguh tidak mengerti jalan pikiran ayahnya yang menentang Huang Long. Dia juga awalnya tidak menyangka bahwa ayahnya telah bekerja sama dengan pemberontak. Tapi, itulah yang telah terjadi.
"Ayah, aku harap kau tidak menyesali keputusan mu."
Mendengar kata-kata putrinya, kepala Keluarga Chen naik darah. "Apa? Kau mau menentang ku sama seperti Chen Mingzhu? Anak tidak berbakti, sekarang pergi kamar mu dan jangan keluar tanpa seizin ku!"
"Ayah!" Chen Xiang berteriak saat dua orang pelayan memegang tangannya dan menyeretnya keluar.
Chen Xiang dibawa oleh kedua pelayan itu kesebuah ruangan. Setelah keduanya mengunci ruangan itu, mereka lantas pergi.
"Ayahmu terlalu gegabah."
Chen Xiang berbalik. "Ibu Suri."
Sosok Ibu Suri masih cantik seperti biasanya, namun dia sedikit kurus. Wanita itu sekarang sedang duduk di atas kursi sambil menyesap teh. Pandangannya menatap syair puisi Spring Dawn yang ditempatkan di sekat layar kertas.
Chen Xiang tidak tahu kenapa ayahnya menempatkan Ibu Suri di ruangan yang sama dengannya.
Sejak pemberontakan terjadi, Chen Xiang terlebih dulu dibawa oleh ayahnya ke Keluarga Chen, sedangkan Ibu Suri baru ditempatkan tidak lama setelah dia diculik, lebih tepatnya dibawa oleh keluarganya sendiri.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Mungkin dalam waktu dekat, aku tidak akan menyandang gelar itu lagi."
Ibu Suri berkata lagi setelah terdiam sejenak. "Dia tidak puas dengan posisiku sebagai Ibu Suri."
Chen Xiang mendengarkan tanpa berniat menginterupsi.
"Ingat jangan sampai kau seperti ayahmu. Lakukan hal yang menurut kata hatimu benar, jangan terlalu terbutakan dengan kekuasaan."
Dia juga bukan orang yang suci dan tidak pernah melakukan intrik untuk mencapai posisinya sekarang. Tapi, dia tidak bodoh dengan melakukan hal yang melewati batas.
"Aku mengerti."
***
Di penjara bawah tanah Kerajaan Utara.
Dalam keheningan, sosok berjubah hitam melangkah tanpa suara menuju sebuah sel yang berada di tempat paling ujung.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, satu-satunya pria tahanan dalam sel tidak bergerak.
"Xiao Zhang." Setelah mendengar suara yang menyebutkan namanya, barulah dia mengangkat kepala.
Xiao Zhang sangat mengenali suara ini. Dia tidak akan pernah melupakannya.
Xiao Zhang menatap sosok di depannya dengan tatapan yang sangat dingin.
Xie Hongyi memiliki sedikit dendam dengan Yin Tianrui, sehingga dia ingin melepaskan Xiao Zhang agar membuat Kaisar Utara itu menjadi panik. Dia tidak akan memberi bantuan walaupun diminta. Biar pria itu rasakan akibatnya! Siapa yang menyuruhnya untuk menggigit seseorang yang memberinya pertolongan? Xie Hongyi bukanlah tipe orang yang pasrah saja ketika seseorang akan menyakitinya.
Selain itu, dia memiliki Pangeran Yu di belakangnya. Jadi jika ketahuan, Xie Hongyi bisa memanfaatkan hubungannya dengan Pangeran Yu untuk menyelamatkan diri.
Suara Xiao Zhang terdengar tak senang saat dia menjawab. "Kenapa kau kemari?"
Keadaan Xiao Zhang bisa dikatakan sangat menyedihkan. Dia terduduk di lantai yang dingin dengan satu kakinya terikat dengan rantai besi. Kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya, mungkin terluka. Pakaiannya yang tadinya berwarna putih kini berubah menjadi kecoklatan dan dipenuhi bercak darah hampir di semua lapisan kain.
Xie Hongyi memegang sel besi yang dingin dengan kedua tangannya. Wajahnya tampak polos. "Aku hanya ingin menemui teman lama. Apakah itu salah?" Arti tersirat dalam kata-kata adalah di datang ke sini untuk membebaskan Xiao Zhang.
Setelah menatap Xie Hongyi dengan dingin, Xiao Zhang lalu melihat Xie Hongyi dengan ganas. Terlihat seperti binatang buas yang akan menerkam mangsanya kapan saja.
Xiao Zhang menatap semua yang terjadi dengan wajah kebingungan, namun ketika dia menyadari apa niat Xie Hongyi, kepalanya di penuhi banyak pikiran.
Baru sedetik rantai besi itu dilepaskan, Xiao Zhang tiba-tiba bergerak.
Xiao Zhang berniat untuk membawa Xie Hongyi saat dia keluar dari sel, tapi dia terkejut bahwa wanita itu bergerak sangat cepat dan seketika sudah hilang dari pandangannya alias kabur!
Dia tidak punya waktu untuk mengejar Xie Hongyi, jadi dia kemudian bergegas pergi dari penjara.
Semua penjaga telah dilumpuhkan oleh Xie Hongyi karena itulah Xiao Zhang dengan mudah melarikan diri.
Di saat yang sama, Xie Hongyi sedang dalam pelarian. Awalnya dia dengan lancar kabur menjauh dari Xiao Zhang, tapi di tengah jalan dia harus berhenti.
Seseorang hendak menyelinap kedalam bangunan itu, jelas dia bukan pemiliknya karena tidak mungkin seseorang akan datang ke tempatnya sendiri secara sembunyi-sembunyi.
Xie Hongyi dan seseorang itu bertukar pandangan sejenak.
Xie Hongyi menghentikan langkahnya.
Mereka berdua saling menatap.
Sosok itu tampak sedikit kaget saat Xie Hongyi mengetahui keberadaan dirinya. Namun, dengan cepat pria itu kembali mendapatkan ketenangannya.
Tanpa aba-aba pria itu bergerak dan mulai menyerangnya. Xie Hongyi sedikit terkejut atas serangan pria itu. Dia hanya lewat oke, bukannya menggangu pria itu.
Tapi, sepertinya sosok itu tidak berpikir sama seperti Xie Hongyi. Dia mungkin kesal karena ketahuan wanita itu.
Seni beladiri pria itu lebih tinggi dari Xie Hongyi, jadi wanita itu hanya bisa melakukan pertahanan.
"Orang ini sangat sulit!" Xie Hongyi berseru dalam hati.
Merasa tidak akan menang dengan tangan kosong, pria itu kemudian menyentuh pinggangnya dan mengeluarkan sebilah pedang.
Setelah pria itu mengeluarkan pedang, Xie Hongyi merasa bahwa senjata itu begitu akrab.
Tanpa berpikir lagi, Xie Hongyi berteriak. "Ini aku!"
Gerakan pria itu membeku.
Pria itu mengehentikan pedangnya yang hendak menusuk leher lawan. Jika pria itu sedikit lagi bergerak, pedang tajam itu akan menembus tenggorokan.
Sesuai dugaan pria dibalik baju hitam itu adalah Huang Long.
Setelah Huang Long menurunkan pedangnya, Xie Hongyi bertanya. "Yang Mulia, apa yang sedang Anda lakukan disini?"
Tanpa menjawab, Huang Long mengalihkan pandangannya ke ruangan yang hendak dimasukinya. Seingat Xie Hongyi, ruangan ini merupakan ruang belajar Kaisar. Dalam beberapa saat Xie Hongyi akhirnya tahu mengapa Huang Long datang kemari.
Ternyata dia dan Huang Long memiliki niat yang sama. Huang Long ingin sedikit memberi Kaisar Utara pelajaran mungkin dengan mencuri beberapa dokumen penting dalam ruang kerja Kaisar atau semacamnya. Tapi di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Xie Hongyi.
Wanita itu merasa ini sangat menarik. Dia tahu bahwa Huang Long adalah orang yang pendendam, tapi dia tidak menyangka kalau pria itu akan bergerak di waktu yang sama dengannya. Tanpa berpikir, dia berkata, "Yang Mulia, saya akan membantumu."
Keduanya lalu masuk ke dalam ruang kerja Kaisar. Seperti ruang belajar pada umumnya, terdapat sebuah meja serta kursi yang diatasnya ada tinta dan beberapa buku laporan.
Xie Hongyi dan Huang Long berkeliling sekitar beberapa menit.
"Kamar tidur?" Xie Hongyi bergumam saat menemukan satu set peralatan tidur dekat meja belajar Kaisar yang dipisahkan oleh sekat kayu dengan motif dedaunan di permukaannya.
Xie Hongyi tidak berpikir lebih jauh sebelum menebak mungkin kamar tidur ini dipakai Yin Tianrui untuk beristirahat. Dia kemudian berjalan menuju meja belajar Kaisar.
Melihat buku laporan yang tergeletak di atas meja, Xie Hongyi memiliki sebuah ide.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan."
Xie Hongyi menukar buku laporan itu dengan buku yang dibawanya. Lebih tepatnya, item yang ia tukarkan dengan poin.
Pada saat ini tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Xie Hongyi dan Huang Long mencari tempat sembunyi. Tidak ada waktu untuk pergi karena langkah kaki itu semakin dekat.
Huang Long masuk ke bawah ranjang kemudian diikuti Xie Hongyi.
Suara seorang wanita yang halus terdengar. "Yang Mulia kenapa kita tidak pergi ke tempatku?"
"Zhen ingin melakukannya denganmu di sini. Apa Lan'er keberatan?" Seorang laki-laki berbicara menjawab wanita itu.
Xie Hongyi dan Huang Long mengenali suara ini adalah milik Yin Tianrui.
Di antara percakapan yang terdengar, kedua orang yang ada di bawah tempat tidur segera mengetahui apa yang akan terjadi.
"Pelayan ini akan selalu menuruti perintah Yang Mulia."
Suara wanita itu terdengar begitu manja sehingga Xie Hongyi hampir muntah. Untung saja mulutnya lebih cepat ditutupi oleh tangan Huang Long.
Ada suara tarikan kain disusul dengan dentuman di atas tempat tidur. Pria dan wanita itu kemudian terjerat di bawah sprei.
Dan kemudian, dua orang di bawahnya akhirnya tahu fungsi ranjang di ruang belajar.
Sedangkan dua orang yang berada di bawah mereka, berada di dalam situasi yang sangat canggung.
Xie Hongyi bahkan merasakan ada sesuatu yang mengeras di punggungnya. Dia ingin bertanya, tapi tidak berani bersuara.
Huang Long yang berbaring di belakang Xie Hongyi kaku seperti kayu. Wajahnya memerah dan nafasnya sedikit terengah-engah.
Malam itu ketika dia melakukannya dengan Xie Hongyi, dia tidak begitu menyadari karena berada dalam pengaruh obat perangsang. Tapi sekarang meskipun tidak melihatnya, namun suara-suara yang ditimbulkan kedua insan itu membuatnya tidak karuan.
Huang Long diam-diam mengusap wajah dan mengatur nafas agar bisa tenang.