
Xiao Zhang terdiam begitu lama. Dia tidak juga tidak berani menatap Xie Hongyi. Tidak lama dari itu dia akhirnya berkata: "Kau tidak perlu tahu."
Xie Hongyi tidak merasa kecewa sedikit pun mendengarnya. Dia sudah memperkirakan bahwa Xiao Zhang tidak akan semudah itu memberi tahu.
Perihal identitas sebenarnya Xiao Zhang, dia akan mencarinya sendiri saat pergi ke Utara. "Baiklah. Tidak apa-apa jika kau tidak mau memberi tahu."
***
Xie Hongyi dan Xiao Zhang masuk Istana dengan menyelinap setelah mereka menguburkan mayat Xiao Shi dan Xiao Ling. Pemilik penginapan sangat terkejut begitu mengetahui salah satu pengunjungnya tewas. Dia tidak berhenti meminta maaf karena tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik.
Xiao Zhang dengan dingin mengabaikan pemilik penginapan itu.
Ling'er, Wan'er dan Yi'er melihat kedatangan Nyonyanya yang tiba-tiba langsung berteriak. "Nyonya!" Mereka berlari menuju Xie Hongyi.
Pangeran Jue yang juga ada disana juga ikut berlari. "Ibu!"
Tubuh Xie Hongyi hampir terjungkal saat dirinya dipeluk empat orang. Dia mencoba menenangkan mereka yang memeluk tubuhnya dengan erat.
Pangeran Jue yang hanya kebagian memeluk betis Xie Hongyi berkata dengan suara susunya. "Ibu aku senang kamu kembali."
Yi'er berkata sambil menangis. "Itu benar. Nyonya, aku sangat takut saat mendengar kau jatuh dari tebing." Wan'er dan Ling'er tidak berbicara, tapi mereka juga menangis tanda mereka memiliki perasaan yang sama dengan Yi'er.
Yi'er lalu berkata dengan suara serak. "Nyonya, jika Anda tidak membawa kami, kami merasa ilmu beladiri yang kami pelajari tidak berguna karena tidak bisa melindungi mu."
Xie Hongyi tertegun. Sedalam itu kah perasaan mereka padanya? Dia kemudian tersenyum. "Baiklah. Ketika aku pergi lagi, aku pasti akan mengajak kalian."
Mereka akhirnya melepaskan pelukan kecuali Pangeran Jue. Pangeran Jue masih memeluk betisnya seperti koala. "Apa aku juga boleh ikut?"
"Kau masih kecil. Tunggu sampai kau bisa turun dari pohon dengan baik."
Pangeran Jue cemberut. Dia berkata dengan tidak setuju. "Aku tidak seperti itu. Ibu hanya tidak tahu bahwa setelah kakiku sembuh, Miao selalu naik ke atas pohon dan akulah yang menurunkannya."
Xie Hongyi menyipitkan matanya pada Pangeran Jue. "Ah Jue, lain kali jangan lakukan itu lagi. Jika Miao bandel, suruh seorang penjaga untuk membantunya turun. Mengerti?"
Pangeran Jue menyusutkan lehernya pada pakaian Xie Hongyi. "Aku mengerti."
Xie Hongyi mengelus rambut hitam Pangeran Jue. "Aku akan mengunjungi Yang Mulia. Kalian tunggulah disini."
Pangeran Jue menunjukkan wajah keberatan. Xie Hongyi sedikit tertawa. "Aku akan mengajakmu bermain nanti." Wajah Pangeran Jue kembali cerah setelah Xie Hongyi bicara.
"Xiao Zhang, ayo pergi." Xiao Zhang yang bersandar pada gerbang kediaman sambil melipat kedua tangannya di dada, langsung siap. "Ayo."
Xie Hongyi dan Xiao Zhang pergi ke ruang kerja Huang Long. Saat mereka sampai, Xie Hongyi langsung membuka ruangan itu. Di dalam ruangan terlihat beberapa beberapa orang berkumpul. Sepertinya mereka sedang mendiskusikan sesuatu.
Huang Long tidak mengalihkan pandangannya saat mendengar pintu terbuka. Dia mengira bahwa itu adalah anak buah pamannya atau seorang pelayan yang tidak tahu sopan santun. Dia masih serius berkata. "Kita harus fokus untuk memikirkan cara agar para pemberontak itu tidak berhasil merebut wilayah sentral lainnya. Paman, aku ingin meminjam kekuatan mu untuk menjaga beberapa tempat."
Huang Ruifeng, tidak menjawab. Pandangannya menatap sebuah objek di depan pintu. Begitu pula orang-orang yang ada di ruangan, mereka juga menatap ke arah yang sama. Mendengar pamannya tidak berbicara, Huang Long mengikuti pandangan Huang Ruifeng. Seketika, dia merasa tidak bisa bernafas.
Di depan pintu, berdiri sosok seorang wanita yang memakai pakaian berwarna merah dan biru. Rambutnya yang panjang diikat dengan pita merah dengan hiasan kepala berbentuk bunga teratai yang dipasang di ikatan rambutnya. Wajahnya tampak tersenyum yang membuat hati siapapun tenang.
"Maaf jika aku menganggu kalian. Aku harus menyampaikannya sesuatu." Setelah berkata seperti itu, dia berjalan diikuti Xiao Zhang menghampiri kumpulan yang terdiri dari generasi kedua Jenderal.
Jenderal besar seperti Jiang Qingyuan dan Mo Wuyue masih berada di perbatasan. Sementara ayah mereka sudah pensiun, jadi keluarga Jenderal mengirimkan yang keturunannya yang lain.
Jiang Zhi terpaksa menurut perintah ayahnya karena pria tua itu mengancam tidak akan mengizinkannya lagi pergi ke gedung hijau. Sementara Mo Heixue, dia diancam tidak akan diizinkan keluar kediaman lagi. Jiang Wei dan Mo Yuan sama-sama berpikir bahwa inilah saatnya putra mereka yang nakal untuk menunjukkan bahwasanya mereka berguna.
Mo Heixue yang melihat Xie Hongyi, secara tidak sadar memegangi bagian bawah perutnya.
Huang Ruifeng bertanya pada saat Xie Hongyi mendekat. "Siapa ini?"
"Aku hampir lupa memperkenalkan diri. Salam, aku adalah Xie Hongyi, selir dari keluarga Xie." Xie Hongyi merasa geli saat menyebut dirinya sebagai selir.
"Ah ternyata Selir Xie. Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku ingin ikut berdiskusi dengan para Tuan ini."
Xiao Zhang langsung menoleh pada Xie Hongyi. Dia kira wanita itu akan memberi tahu siapa dirinya pada mereka.
Xie Hongyi berdiri di sisi Huang Long yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Xie Hongyi diam-diam mencolek tubuh Huang Long. Tapi pria itu tidak bergerak sedikit pun. Matanya tidak berkedip melihat Xie Hongyi.
Xie Hongyi sangat heran kenapa Huang Long menjadi kaku seperti kayu. Tapi, seketika perhatiannya teralih pada benda bersinar di atas meja Huang Long. Dia melebarkan matanya. Bukankah itu HongLian, pedang legendaris Huang Long?
Dikatakan bahwa pedang itu dibuat oleh pengrajin besi yang paling terkenal. Bahannya berupa besi yang tahan karat. Katanya pula, pedang itu adalah senjata paling mematikan dalam sejarah Kerajaan Selatan.
Huang Ruifeng berucap: "Begitu rupanya."
Huang menjawab secara tak sadar. "Ya."
Huang Ruifeng memperhatikan keponakannya dan Xie Hongyi. Ada kilatan jahil dimatanya saat dia menyadari sesuatu. "Baiklah, aku tidak bisa menentang keputusan Kaisar. Jadi, Selir Xie, silahkan."
Xie Hongyi berjalan perlahan menuju HongLian dan mencari kesempatan untuk menyentuhnya.
Mereka akhirnya melanjutkan diskusi yang sempat tertunda.
Setelah bisa menenangkan dirinya, Mo Heixue berbicara. "Yang Mulia, aku juga akan memberi perintah pasukan keluarga Mo untuk memperkuat keamanan dibeberapa tempat."
Huang Long tidak menatap lagi menatap Xie Hongyi. Dia berkata dengan nada pemimpinnya yang khas. "Ya. Lakukanlah, tapi utamakan keselamatan warga sipil dan para tentara. Jangan bertindak gegabah jika ada musuh yang menyerang."
Mo Heixue mengangguk. "Baik."
Pada saat ini, Jiang Zhi bertanya. "Kita tidak bisa terus-terusan bertahan kan?"
Mo Heixue berkata dengan tidak suka. "Lalu apa kau punya rencana lain?"
Jiang Zhi lalu memberi saran yang membuat semua orang ingin memukulnya. "Kita menyerah saja."
Mo Heixue langsung mendebatnya. "Apa otakmu bermasalah? Bagaimana bisa kau memikirkan ide konyol itu?"
Jiang Zhi balas menatap tidak suka. "Lalu apa yang kau rencanakan? Bunuh diri dengan bertarung melawan mereka?"
Huang Ruifeng tampak memegang dahinya saat menyaksikan mereka berdua bertengkar.
Xie Hongyi dengan tenang menyela mereka. "Yang Mulia, apa Anda menyimpan surat perjanjian perdamaian?"
Huang Long menatap Xie Hongyi. Wanita itu tidak mengetahui bahwa gerakannya yang diam-diam menyentuh HongLian disadari Huang Long. "Ya."
"Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi ke Kerajaan Selatan sambil membawa perjanjian perdamaian?"
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Xie Hongyi. Tatapan mereka menyiratkan bahwa mereka bertanya apa maksudnya.
Hanya satu orang yang mengerti maksud Xie Hongyi. Huang Long sebenarnya juga sempat memikirkan hal ini. Jika mereka mendapat bantuan dari Utara, maka mereka akan lebih mudah melawan Keluarga Shi.
Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman.
Jiang Zhi berbicara dengan nada tinggi. "Apa? Kau ingin masuk ke kandang singa?"
Xie Hongyi berucap dengan santai. "Tenang, perjalanan kita pasti aman karena punya penunjuk jalan di sini. Benar kan Xiao Zhang?"
Semua orang terkesiap. Mereka lantas menatap tajam pada Xiao Zhang yang tidak mereka perhatikan tadi. Xiao Zhang yang ditatap dengan tajam juga mengambil langkah waspada.
Huang Ruifeng bertanya dengan suara beratnya. "Dia adalah orang Utara?"
"Aku mohon pada kalian untuk tenang. Aku jamin di tidak akan melakukan apapun." Dia kemudian menatap Mo Heixue.
"Tuan Muda Mo, kau adalah sarjana dengan salah satu nilai ujian tertinggi kan? Aku yakin kau sudah mempelajari tentang strategi perang."
Huang Long menyimak dengan seksama semua perkataan Xie Hongyi. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu.
Mo Heixue mengangguk, lalu berkata dengan bangga. "Nilaiku pada materi itu adalah tertinggi."
Xie Hongyi menunjukkan wajah puas, tidak peduli dengan nada sombong Mo Heixue. Dia lalu menoleh pada Jiang Zhi.
"Tuan Muda Jiang, beladiri mu cukup hebat. Jadi, aku rasa kau bisa mengalahkan beberapa pasukan musuh."
Jiang Zhi ragu. "Aku tidak yakin itu akan berhasil. Keluarga Shi memiliki pasukan dengan beladiri tinggi."
"Kalau begitu jangan kalahkan mereka tapi, lemahkan mereka. Kau bisa berbicara dengan Tuan Muda Mo untuk membuat rencana." Belum sempat Jiang Zhi berbicara, Xie Hongyi langsung membuka mulutnya lagi.
"Sementara itu, aku, Yang Mulia dan Xiao Zhang akan pergi ke Utara. Kita akan menggunakan perjanjian perdamaian itu untuk mendapat bantuan dari sana."
Huang Ruifeng yang tadi diam, membuka suara. "Selir Xie yakin ini akan berhasil?"
"Aku yakin."
Semua orang diyakinkan wajah Xie Hongyi yang penuh dengan tekad.
Jiang Zhi menyela. "Jika Yang Mulia pergi, lalu siapa yang akan menjaga Istana?"
Xie Hongyi berbicara secara tak sadar. "Perintahkan saja tentara rahasia Yang Mulia untuk melindungi Istana."
Situasi menjadi hening. Xie Hongyi menutup mulutnya saat menyadari dia salah berbicara. Mengenai tentara rahasia, itu adalah hal yang paling Huang Long sembunyikan. Jadi, bagaimana bisa Xie Hongyi tahu?