The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 69



Tentara rahasia Huang Long adalah hal yang sangat privat. Mereka dibentuk untuk dipersiapkan sebagai senjata. Huang Long tidak memberitahu siapa pun bahkan keluarganya sendiri. Jadi, kenapa Selir yang pangkatnya baru diangkat dengan santainya berkata seperti itu?


Xie Hongyi tahu bahwa dia salah, berusaha menutup kegugupannya. "Apa aku mengatakan sesuatu?"


Semua orang menatap Xie Hongyi dengan aneh. Xie Hongyi memiliki ekspresi ⊙﹏⊙ diwajahnya.


Huang Long menatap Xie Hongyi dengan tajam. Wanita itu telah mengungkapkan rahasia terbesarnya dihadapan banyak orang. Dia tidak mungkin tidak marah kan?


"Yang Mulia, apa benar Anda mempunyai pasukan rahasia? Mengapa aku tidak mengetahuinya?" Huang Ruifeng bertanya.


Xie Hongyi ingin menggali lubang untuk bersembunyi. Dia hanya bisa meminta bantuan pada sistem. "Sistem cepat lakukan sesuatu!"


Sistem muncul dengan senang. Akhirnya Xie Hongyi memangilnya. Dia tahu bahwa hostnya tidak bisa melakukan sesuatu tanpa dirinya. "Host ingin aku menghapus ingatan mereka? Tindakan ini membutuhkan 100 poin untuk ditukar setiap orang."


Xie Hongyi berucap dengan buru-buru. "Ya, cepatlah."


Entah apa yang dilakukan sistem, semua orang di ruangan ini tiba-tiba berhenti bergerak. Lima detik kemudian, yang pertama kali bergerak adalah Jiang Zhi.


"Jika Yang Mulia pergi, lalu siapa yang akan menjaga Istana?" Jiang Zhi mengerutkan keningnya. Dia merasa pernah mengatakan itu.


Xie Hongyi tidak mau melakukan kesalahan yang sama. "Aku tidak punya ide tentang hal itu. Yang Mulia, apa Anda mempunyai rencana?"


Huang Long terdiam sejenak untuk berpikir. "Zhen yang akan mengurus hal itu." Dia kemudian melirik Xiao Zhang. Pria itu membuatnya tidak senang karena Xie Hongyi datang bersamanya.


"Apa dia bisa dipercaya?"


Xie Hongyi malah bertanya pada Xiao Zhang. "Ya, apakah kau bisa dipercaya?" Mungkin karena masih ada sisa panik dihatinya, Xie Hongyi secara tak sadar berbicara seperti itu.


Sudut mulut Xiao Zhang berkedut. Dia tidak menyangka bahwa Xie adalah wanita bisa dengan cepat mengubah perilakunya.


"Aku tidak menyuruh kalian untuk percaya padaku. Tapi aku bisa menunjukkan jalan yang cepat ke Utara dengan benda yang kau berikan." Xiao Zhang menunjukkan kompas yang diberikan Xie Hongyi.


Mata Huang Long menyipit saat melihat benda itu.


Ya, tidak ada salahnya bekerjasama dengan mereka. Mungkin orang-orang Istana Utara tidak akan mencelakainya secara terang-terangan, pikir Xiao Zhang.


Huang Ruifeng mengakhiri diskusi. "Bagus. Aku rasa diskusi ini sampai di sini saja. Jika Yang Mulia ingin melanjutkan, Anda bisa memanggil kami."


Mo Jixuan dan Jiang Zhi juga pamit pergi. Huang Long mengangguk mengizinkan mereka untuk kembali.


Saat mereka beranjak keluar ruangan, kebetulan Xie Hongyi berjalan paling belakang. Melihat punggung Xie Hongyi, Huang Long tidak bisa mengendalikan diri lagi, dia lantas memeluknya. Xie Hongyi hampir melompat saat ada beban berat di punggungnya. Yang lain sudah keluar ruangan dan tidak menyadari Xie Hongyi tertinggal.


"Y-Yang Mulia..." Huang Long menyembunyikan wajahnya di rambut hitam Xie Hongyi. Dia melakukan hal itu untuk memastikan bahwa Xie Hongyi benar-benar ada disini. Huang Long tidak pandai mengungkapkan perasaannya, jadi dia hanya bisa melakukan ini.


Xie Hongyi tetap diam dipelukan Huang Long sampai pria itu akhirnya melepaskannya.


Huang Long membuka tutup mulutnya ingin mengatakan sesuatu. Namun entah karena apa yang ia sampaikan terlalu berat, Huang sama sekali tidak berbicara.


Huang Long tiba-tiba mengucapakan kata-kata yang membuat Xie Hongyi bingung. "Kau memberikannya sebuah benda."


Nada suara Huang Long begitu tajam dan wajahnya juga masam. Xie Hongyi mengerutkan keningnya mencoba mencari tahu siapa yang dimaksud Huang Long. Setelah mengetahuinya, Xie Hongyi menghela nafas. Dia lalu mengangkat salah satu alisnya dan bertanya dengan nada seperti ibu yang memaklumi anaknya berbuat nakal. "Jadi hanya karena itu Yang Mulia marah?"


Astaga, Huang Long marah hanya karena dia memberikan Xiao Zhang kompas!


Huang Long tidak menjawab dan malah mengalihkan pandangannya. Sepertinya dia benar-benar merasa kesal dengan Xie Hongyi. "Kau sepertinya sangat menyukai HongLian." Huang Long melirik pedangnya.


Walaupun tahu Huang Long berusaha mengganti topik pembicaraan, Xie Hongyi berhasil dialihkan. Dia dengan bersemangat berkata: "Aku memang sangat menyukainya! Yang Mulia, pedang mu adalah senjata paling hebat yang pernah aku lihat!"


Xie Hongyi tentu saja membaca bagian adegan bagaimana Huang Long mengalahkan musuhnya dengan HongLian. Dia merasa takjub saat penulis menggambarkan bagaimana Huang Long menggerakkan pedang itu.


Melihat pedang yang tergeletak di atas meja, Huang Long tidak bisa tidak memikirkan masa lalu.


Beberapa tahun yang lalu.


Orang yang memperlakukan Huang Long dengan baik di kamp militer adalah Mo Jixuan. Mo Jixuan mendapat pengajaran dari ayahnya kalau dia tidak boleh meremehkan siapapun dan harus bersikap hormat. Jadi, dia memperlakukan Huang Long yang merupakan seorang Pangeran berbeda dengan orang lain yang tidak menyukainya. Lambat laun, hubungannya dengan Huang Long bertambah erat. Dia bahkan menganggap Huang Long sebagai adik.


Pada saat itu, pasukan Kerajaan Selatan masih dipimpin oleh Mo Yuan dan Jiang Wei.


Mo Jixuan yang menjadi asiten Jenderal, ditugaskan berpatroli di wilayah lain. Para prajurit yang tidak menyukai Huang Long memanfaatkan situasi ini untuk menindasnya.


Salah satu orang prajurit dengan sombongnya memerintah. "Cepat pergi mencari daging untuk kami makan. Jika kau kembali dengan tangan kosong, jangan salahkan aku jika nanti aku akan melakukan sesuatu yang buruk padamu."


Setelah dibentak, Huang Long tanpa suara beranjak dari sana.


Setibanya di hutan dekat kamp militer, Huang Long melihat seekor rusa yang gemuk sedang minum air di sungai. Dia mencoba menangkap rusa itu.


Rusa hutan liar tidak mudah ditangkap. Para prajurit itu memberikan panah dan busur yang sangat berat untuk tangan kecil Huang Long. Walaupun mustahil, Huang Long tidak menyerah untuk memburu rusa. Alhasil, tangannya terluka karena goresan kayu busur ketika anak panah diluncurkan. Dia merintih.


Rusa hutan itu seketika siaga saat mendengar suara. Telinganya bergerak-gerak, lalu ia berlari sekencang mungkin.


Huang Long mengejar rusa itu. Tapi karena dia tidak berhati-hati, kakinya tersandung akar kayu. Seketika tubuhnya terjatuh dan dia menderita luka di lengan dan kaki.


Huang Long tidak bangkit karena kakinya begitu sakit. Dia mengira bahwa hidupnya akan berakhir disini, tapi seorang gadis kecil tiba-tiba muncul.


Gadis itu memilki wajah kecil kekanakan yang imut dan rupawan. Sangat mudah menebak bahwa dia akan menjadi seorang wanita cantik di masa depan. Bahkan Huang Long yang belum tidak tahu mengenai hubungan dua lawan jenis yang sudah dewasa, merasakan dirinya terpikat. "Ya ampun! Kau terluka?" Gadis kecil itu berteriak. Dia langsung membuka kotak yang dibawanya dan mengobati Huang Long. Huang Long tidak sempat berbicara karena gadis itu mengangkat tubuhnya dengan keras.


Huang Long yang dipaksa diobati oleh gadis kecil, hanya bisa diam pasrah menahan sakit.


Mungkin karena gadis itu baru mempelajari medis, dia sama sekali tidak memiliki kelembutan saat mengoleskan obat. Dia juga melilit perban itu acak-acakan. Setelah selesai, gadis kecil itu menatap puas hasil kerjanya. Dia lalu membereskan kotak obat sembari bertanya. "Kau anak dari keluarga mana? Kenapa kau berada di hutan sendirian? Apa keluargamu tidak khawatir?"


Huang Long balik bertanya. "Kenapa kau juga berada di hutan?"


Wajah gadis kecil itu langsung memerah saat Huang Long bertanya. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia kabur dengan kakaknya dari kediaman karena ingin mengambil beberapa bahan obat. Ayah angkatnya sempat melarang untuk pergi, tapi dia dan kakaknya terlalu bandel untuk menurut. Gadis kecil itu memperhatikan Huang Long dan merasa dia tidak ingin anak ini meniru tindakannya. Dia berucap dengan penuh kebohongan. "Aku hanya jalan-jalan. Lagipula, hutan ini dekat dengan rumahku."


Huang Long meragukan perkataan gadis itu. Hutan ini sangat jauh dengan keramaian, jadi bagaimana bisa dia tinggal di sekitar sini?


Mereka berdua tersentak saat mendengar seseorang berteriak. "Hongyu kau dimana?! Kita harus cepat kembali sebelum ayah marah!"


Gadis itu gelagapan. Kepanikan tercetak jelas di wajahnya yang cantik. "Gawat, aku harus kembali! Gege, jika ditakdirkan, mungkin kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa!" Gadis kecil itu lalu lari tunggang-langgang meninggalkan Huang Long.


Huang Long melirik kantong berukuran sedang yang ditinggalkan gadis kecil itu. Kantong itu berwarna merah dengan sulaman bunga teratai di kainnya.


Mungkin karena kepanikan membuat dia lupa kantong ini. Huang Long lalu membukanya dan mendapati seekor kelinci kecil berwarna putih yang sudah kaku. Dia seketika merasa dicubit hatinya. Huang Long tidak menyangka bahwa dia kalah dari seorang gadis kecil dalam hal berburu. Dia bertekad harus menjadi lebih kuat. Semangatnya untuk menjadi kuat disulut hanya karena seorang gadis kecil.


Huang Long kembali ke hutan itu keesokan harinya. Tapi gadis itu tidak pernah muncul lagi. Huang Long kecewa, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Dua tahun kemudian.


"Gege, siapa ini?" Seorang remaja yang sangat tampan, dengan memakai baju prajurit yang membuatnya tampak lebih gagah, bertanya pada laki-laki disampingnya. Ditangannya ada kulit kayu yang diatasnya terlukis seorang gadis cantik. Gadis itu tampak berusia sekitar 12 tahun.


Di usianya yang sudah 14 tahun, tubuh Huang Long mengalami pertumbuhan yang signifikan. Tubuhnya tampak lebih tinggi dan besar dari remaja seusianya. Disampingnya ada Mo Jixuan yang juga memakai baju prajurit, tapi ada beberapa lencana tergantung di bagian dadanya. Sosoknya tampak menonjol dengan setelan seperti itu.


Mo Jixuan berkata dengan malu. Wajahnya memerah. Dia juga marah namun rasa malu lebih mendominasi perasaannya. "Darimana Yang Mulia mendapatkan ini?"


"Kau menjatuhkannya tadi."


Mo Jixuan pura-pura tenang. "Oh. Dia bukan siapa-siapa."


"Jika bukan siapa-siapa, kenapa kau selau menatap lukisan itu setiap hari?" Huang Long bertanya karena penasaran kenapa setiap selesai diskusi dengan beberapa Jenderal, Mo Jixuan selalu memandangi lukisan ini.


Memandangi wajah Huang Long yang ingin tahu, Mo Jixuan pasrah berkata jujur. Tatapan remaja itu mirip dengan adiknya Mo Wuyue saat dia menginginkan sesuatu darinya. "Yang Mulia, ini adalah rahasia. Kau jangan beritahu siapapun. Dia adalah gadis yang kusukai."


"Oh." Huang Long melihat lukisan itu dengan lekat. Wajah gadis dilukisan itu memang cantik, tapi dia tidak bisa menemukan perasaan yang sama saat dia bertemu dengan gadis yang pernah menolongnya.


"Sudah jangan bahas hal ini lagi. Kita harus segera pergi ke pengrajin besi untuk membuatkan mu senjata."


Huang Long patuh. "Baik."


Mereka kemudian pergi ke sebuah tempat pengrajin besi yang paling terkenal. Mo Jixuan awalnya mengira dia akan mengeluarkan banyak uang untuk membuat pedang berkualitas untuk Huang Long. Tapi mungkin pengrajin itu bisa meramal atau memiliki ilmu sesuatu, dia mengatakan bahwa Huang Long akan menjadi orang yang besar, jadi dia tidak mengambil sepeser pun biaya darinya. Dia dengan sukarela membuatkan Huang Long senjata karya terbaiknya. Pengrajin itu hanya meminta bahwa ketika ucapannya benar, Huang Long tidak akan melupakannya.


Huang Long dan Mo Jixuan setuju.


Setelah senjata itu selesai dibuat yang memakan waktu tiga bulan, Huang Long memandangi pedang itu bahagia. Dia bahkan tidak melepaskan pedang itu ketika tidur dan memperlakukannya seperti harta.


Dia menamai pedang itu HongLian karena teringat gadis kecil itu mungkin suka dengan warna merah dan bunga teratai.


Kemudian Huang Long berperang melawan pasukan musuh dan diberi gelar Agung. Setelah itu, orang dari keluarga Shi dan Chen dan beberapa keluarga besar di Kekaisaran, satu persatu mendatanginya menawarkan kekuatan.


Mengingat rasa sakitnya, Huang Long tanpa pikir panjang menyetujuinya. Dan balas dendamnya dimulai pada saat itu.


Pada saat dirinya menjadi Kaisar, Huang Long perlahan-lahan melupakan gadis yang pernah memilki kesan dihatinya.