
Malam semakin larut dan pertempuran belum berakhir. Di Istana, tempat pertempuran itu terjadi,suara keributannya masih dapat terdengar hingga beberapa mil.
Sementara itu, di dalam Istana, dimana dua pihak yang menjadi pelopor terjadinya pertempuran bertemu, suasananya di dalamnya begitu hening. Dua pihak yang berselisih itu menghadap satu sama lain dengan tatapan permusuhan yang sangat kuat.
Pria tua itu hanya berdiri didepan dan sama sekali tidak terlihat akan bergerak. Namun,Xie Hongyi dan Huang Long masih tetap waspada.
Anggota kerajaan tertua yang masih hidup ketika Huang Long kecil adalah kakeknya. Dia tidak mengetahui keberadaan anggota kerajaan lainnya selain orang itu.
Lalu sekarang dihadapkan dengan orang yang mempunyai wajah hampir sama dengannya namun tertutup dengan kerutan dan jenggot putih,Huang Long tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
Pria tua itu melirik dengan dingin Xie Hongyi dan Huang Long. Dia kemudian tiba-tiba berkata,"Malam ini, keturunan Huang Bingshu harus mati." Kalimatnya mengandung jejak kebencian yang sangat kuat.
Setelah mendengar pria itu berbicara, Huang Long kemudian teringat sesuatu. Dalam catatan yang berisi nama-nama dan riwayat hidup dari anggota keluarga kerajaan terdahulu, Huang Long kemudian mengetahui bahwa orang di depannya adalah Huang Bingshan, mantan pangeran kedua pada masa pemerintahan Kaisar Bingshu. Orang ini adalah satu-satunya adik laki-laki kaisar yang tersisa.
Kaisar mati pada saat perjalanan pulang dari Utara, kemudian Pangeran Kedua memberontak dan keluarga Xu dimusnahkan. Peristiwa yang terjadi pada tahun itu melekat pada ingatan semua orang yang hidup pada masanya.
Tidak akan ada orang yang menyangka jika setelah dua puluh tahun menghilang, Huang Bingshan masih tetap hidup. Bahkan dia menjadi dalang dari pemberontakan yang terjadi saat ini.
Ternyata setelah dua dekade, ambisi Huang Bingshan masih melekat dalam dirinya.
"Dia adalah ayah dari kakek." Huang Long memberi tahu Xie Hongyi yang berada di sampingnya.
Xie Hongyi juga tahu peristiwa yang terjadi pada dua puluh tahun yang lalu. Oleh karena itu setelah diberitahu Huang Long, Xie Hongyi tahu siapa sosok didepannya.
Jadi dia adalah kakek buyut Huang Long?Dalam hati Xie Hongyi berseru takjub. Dia tidak mengira akan bertemu dengan seseorang yang memiliki umur panjang, apalagi di umur yang panjang ini, orang didepannya memiliki ambisi yang kebanyakan dimiliki oleh anak muda. Xie Hongyi hanya berpikir orang di usia ini hanya akan bersantai menikmati hasil kerjanya di masa muda. Tidak, itu sebenarnya hanya pendapat Xie Hongyi tentang apa yang akan ia lakukan di usia senja. Tapi mungkin di dunia asalnya,dia tidak akan pernah bisa mencapai usia tua karena keadaannya.
Xie Hongyi kemudian berkata sembarangan. "Sudah tua masih memikirkannya tentang urusan dunia. Mau aku belikan Robo-Love untuk menemanimu?"
Xie Hongyi mengucapkan istilah dari dunia asalnya dan tentu saja ketika orang-orang ini mendengar, mereka tidak mengerti.
Sementara itu, Huang Long mengerutkan kening saat Xie Hongyi berbicara. Wanita ini mengucapkan kata-kata yang aneh lagi.
"Dua puluh tahun yang lalu..." Huang Long tidak bisa menyelamatkan kalimatnya karena dia juga tidak tahu apa yang harus dikatakan selanjutnya.
Semua itu adalah akal-akalan nya sendiri. Dialah yang memberi tahu semua orang bahwa Kaisar Bingshu mati di tangan orang Utara padahal malam itu ia menusuk dada Huang Bingshu dengan tangannya sendiri. Dia juga yang membuat bukti-bukti palsu yang membuat keluarga Xu di cap sebagai pengkhianat.
Alasan Huang Bingshan membunuh kakaknya sendiri adalah karena ia tidak setuju jika Utara dan Selatan berdamai. Orang-orang Utara telah membunuh istrinya dan menjadikannya toilet pria para tentara utara. Setelah diculik, istrinya itu tidak bisa menanggung penghinaan lagi sehingga pada suatu malam dia menusuk dadanya sendiri menggunakan pedang milik salah satu prajurit yang hendak melakukan hal tidak senonoh padanya.
Saat itu, Huang Bingshan yang masih memikirkan cara untuk mendapatkan isterinya kembali, dikejutkan dengan berita yang tiba-tiba datang. Hatinya sangat sedih, namun orang mati tidak bisa dihidupkan kembali sehingga Huang Bingshan menaruh semua kebenciannya pada orang Utara.
Lalu pada saat Kaisar Bingshu hendak pergi ke Utara, Huang Bingshan mengira kakaknya itu akan menyerang Utara. Namun ternyata kenyataan tidak sejalan dengan pikirannya. Seketika,dia merasa kecewa dan marah terhadap kakaknya. Kekecewaan dan kemarahan itu berubah menjadi kebencian dan hasrat membunuh sehingga hal itu menjadi alasan mengapa ia membunuh Huang Bingshu.
Setelah Huang Bingshu mati, terjadi gejolak di Kerajaan Selatan. Para pejabat sipil mendesak agar Putra Mahkota naik takhta sementara pangeran-pangeran yang lain berlomba-lomba menyusun kekuatan tersembunyi. Keadaan pada masa itu menjadi kacau.
Kebencian Huang Bingshan sudah mencapai darah dan dagingnya. Kebencian itu bukan hanya untuk Utara, tetapi juga berimbas pada kakaknya. Huang Bingshan tidak akan membiarkan keturunan Huang Bingshu menjadi kaisar selanjutnya sehingga ia membunuh beberapa pangeran dan juga merencanakan pemberontakan. Awalnya Huang Bingshan memilih keluarga Xu sebagai sekutu karena keluarga itu mempunyai kekuatan dan nama di kerajaan Selatan. Namun Keluarga Xu menolak sehingga Huang Bingshan marah dan menjebaknya.
Pemberontakan tetap ia lakukan dengan kekuatan yang berhasil Huang Bingshan kumpulkan. Namun saat itu, Putra Mahkota Qing, berhasil memukul mundur pasukan pemberontak. Huang Bingshan berhasil melarikan diri dan kemudian dianggap menghilang. Ketika dia dianggap menghilang, kebencian dan kemarahannya belum memudar sehingga dalam dua puluh tahun ini dia diam-diam mengumpulkan kekuatan untuk memberontak lagi.
Banyak mata-mata yang Huang Bingshan tanam di dalam istana, termasuk salah satunya adalah Shi XuanRan. Huang Bingshan sengaja menyuruhnya mendekati Huang Long untuk mengawasinya.
"Cepat selesaikan mereka." Suara serak dari Huang Bingshan terdengar.
Dengan gerakan tiba-tiba, pasukan pemberontak itu serentak menerjang dan menyerang Huang Long.
Huang Long yang belum bersiap sedikit kewalahan saat beberapa orang menghunuskan pedang padanya dan hampir saja ada satu pedang yang berhasil menusuknya jika saja Xie Hongyi tidak memblokir pedang itu.
Pasukan istana masih bertempur di halaman, dan ada sedikit dari mereka yang bersama dengan Huang Long sehingga posisi mereka saat ini tidak begitu menguntungkan.
Dari pihak Huang Long, hanya ada dirinya dan Xie Hongyi serta beberapa prajurit istana yang kelelahan, berbanding terbalik dengan pasukan pemberontak yang sangat bersemangat dan energik.
Pada saat ini, Shi XuanRan juga bergerak. Target yang ia incar kali ini bukanlah Huang Long.Dia bergerak untuk menyerang Xie Hongyi.
Xie Hongyi kemudian berhadapan dengan Shi XuanRan yang memiliki niat membunuh yang sangat kuat. Jika bukan karena sistem yang membantunya, mungkin dia sudah tumbang sejak tadi.