
"Sistem cepat hitung poinku!" Xie Hongyi berujar dengan semangat di dalam kereta kuda. Saat ini Xie Hongyi terlihat seperti seorang anak yang menantikan sebuah permen atas hal baik yang dilakukannya.
Setelah mengklaim wilayah gurun pasir sebagai wilayah kerajaan selatan, satu hari setelahnya mereka melakukan perjalanan untuk kembali ke istana. Mereka juga memutuskan untuk tidak membunuh pasukan utara yang selamat, tetapi menjadikan pasukan itu sebagai tawanan perang. Berita itu seharusnya sudah sampai ke kerajaan Utara, tapi mereka belum melakukan pergerakan apa pun.
Wu Zhantian adalah salah satu Jenderal besar di Utara. Mereka pasti ingin mengambil dia kembali.
[Selamat karena telah menyelesaikan misi. 200 poin telah ditambahkan ke akun kamu. Bonus misi sampingan: 50 poin. Riwayat pertukaran item: peralatan medis (50 poin), alat tulis (25 poin), kabel listrik 50 poin, dan pil 150 poin. Saat ini kamu memiliki 350 poin.]
[200 exp telah ditambahkan ke akun kamu]
Xie Hongyi senang namun sedikit tidak puas. Lain kali dia tidak akan sembarangan lagi menggunakan poin, kalau tidak dia akan menjadi miskin. "Huh, untung saja nanti Huang Long akan memberiku imbalan. Semoga saja dia memberiku uang yang banyak." Membayangkan hal ini, mata Xie Hongyi berbinar dan seakan-akan berubah bentuk menjadi koin uang. Xie Hongyi kemudian berkata lagi. "Sistem, kau harus sering-sering memberikan misi semacam ini, sehingga, aku bisa mendapatkan poin dan juga imbalan."
Sistem akhirnya tahu bahwa Xie Hongyi adalah orang yang serakah. Dia kemudian berbicara pada Xie Hongyi dengan nada sistematis nya yang sedikit naik. [Apa kau tidak puas dengan hanya mendapatkan poin?]
"Sistem, kau tidak boleh memarahiku. Inilah yang disebut melempar burung dengan satu batu. Juga, apa salahnya dengan meminta uang pada suamiku? Lagipula dia kaya, jadi dia tidak mungkin bangkrut jika aku meminta uang padanya sedikit." Xie Hongyi melanjutkan setelah jeda sedikit. "Kau berkata seperti itu seolah-olah kau manusia saja."
Sistem sepertinya benar-benar marah dengan Xie Hongyi karena setelah itu dia diam. Tidak peduli seberapa keras Xie Hongyi mengajaknya bicara lagi, sistem tidak tergoyahkan. Lama-lama Xie Hongyi juga kesal karena dia seperti berbicara sendiri. Dia pun akhirnya mengabaikan sistem.
Rombongan itu berhenti untuk beristirahat di tepi danau. Xie Hongyi melihat bahwa danau itu berada disebuah hutan. Hari mulai siang, dan ketika orang-orang melihat air, mereka dengan cepat pergi ke sana. Walaupun ini sudah masuk musim gugur, cuaca ketika di siang hari masih terasa panas.
Tidak lama kemudian, kelompok prajurit yang diperintahkan untuk berburu mereka kembali. Kelompok itu membawa seekor rusa hutan dan tiga ekor kelinci. Ketika mereka melihat Xie Hongyi, mata mereka berbinar. Dari tatapannya, Xie Hongyi tahu bahwa mereka ingin dia memasaknya.
Setelah hewan buruan itu dibersihkan, Xie Hongyi mulai memanggangnya. Aroma yang dihasilkan oleh hewan bakar itu membuat orang-orang meneteskan air liur. Ketika mereka merasakan masakan Xie Hongyi lagi, mereka menunjukkan wajah puas.
Setelah makan, pasukan Utara mulai kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun ketika kereta itu berangkat, tiba-tiba mereka diserang oleh orang-orang berbaju hitam. Sepertinya itu bukan pembunuh, tapi para bandit yang menguasai hutan. "Cepat! Ambil harta mereka!" Teriak salah satu bandit.
Para bandit itu benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan suasana orang-orang yang tidak waspada. Rupanya, mereka telah mengawasi kelompok Huang Long sejak dari tadi. Pasukan Selatan kalah jumlah dengan sekelompok bandit itu, sehingga mereka kewalahan menghadapinya. Apalagi, para bandit itu ternyata ahli beladiri. Huang Long, Jenderal Jiang dan Jenderal Mo juga terlihat kewalahan saat melawan kelompok mereka.
Nafas prajurit Selatan terengah-engah dan wajah mereka memerah. Mereka tidak sempat menyeka keringat yang mengalir karena kelompok bandit itu dengan cepat mengayunkan pedangnya. Salah satu prajurit selatan itu berbisik. "Apakah kita akan mati disini?"
Melihat jelas situasi yang tidak menguntungkan di pihaknya, Xie Hongyi tidak ingin tinggal diam. Dia dengan cepat turun dari kereta sambil membawa pedang lalu mengayunkan pedangnya pada salah satu bandit yang hampir menebas Huang Long.
Huang Long yang menyadari Xie Hongyi keluar dari kereta, harinya merasa was-was. Dia dengan tegas berkata pada wanita itu. "Kau mau mereka membunuhmu? Tetap di kereta!"
Xie Hongyi sedikit gemetar saat mendengar Huang Long marah. Namun jika dia tidak membantu, maka pasukan selatan akan benar-benar tiada. Dengan keyakinan ini, dia memiliki tekad yang kuat untuk menyanggah Huang Long. "Aku akan membantu! Tidak peduli kau berkata tidak padaku!" Huang Long sedikit pusing dengan Xie Hongyi yang keras kepala. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena bandit-bandit itu mulai menyerang lagi.
Xie Hongyi kemudian juga membuat gerakan menyerang para bandit. Tidak lama kemudian, dia berhasil menumbangkan lima orang bandit sekaligus. Melihat gerakan Xie Hongyi, para prajurit yang tadinya putus asa dan pasrah mati ditangan bandit, akhirnya bergerak lagi, seakan-akan mendapat dorongan untuk berjuang. Mereka tidak mungkin kalah dengan seorang wanita! Perasaan egois itu muncul di hati mereka.
Situasi kini berbalik menjadi kelompok bandit yang kewalahan. Pemimpin kelompok itu menjadi sedikit panik saat sebagian besar anak buahnya berhasil di tumbangkan. Pemimpin kelompok kemudian itu melihat Xie Hongyi yang lihai menjatuhkan anak buahnya,dan dia memiliki satu rencana. Lewat lirikan mata, dia memberi isyarat pada anak buahnya. Kemudian kelompok bandit itu mengepung Xie Hongyi, lalu mereka mengeluarkan bom asap berwarna hitam. Mereka melemparkannya dengan jumlah yang besar sehingga pandangan semua orang kabur.
Xie Hongyi yang ada dalam kabut tidak menyadari seseorang berdiri dibelakangnya. Kemudian ketika dia hendak berbalik, lehernya dipukul oleh sebuah benda tumpul. Kegelapan menghampiri pandangannya dan dia pun pingsan.
Tidak ada satupun barang yang dicuri ketika kabut itu menghilang. Tapi kelompok bandit itu berhasil menculik Xie Hongyi! Wajah Huang Long menjadi gelap. Kemudian dengan otoritas nya sebagai pemimpin, dia memberi perintah. "Cepat cari jejak mereka! Jangan biarkan satu pun bisa lolos."
Jenderal Jiang dan Jenderal Mo segera mematuhi perintah Huang Long. "Baik Yang Mulia." Kemudian mereka pergi untuk mencari jejak para bandit.
Disebuah gua di tepi hutan.
Beberapa orang nampak berkerumun sambil berdiskusi. Di sisi kanan mereka, Xie Hongyi berbaring dalam keadaan pingsan.
"Bos, apa yang akan kita lakukan pada wanita ini?" Ucap salah satu anak buah bandit yang memiliki bekas luka di dahinya sambil menunjuk Xie Hongyi.
Bos bandit itu juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di juga tidak bisa membuang Xie Hongyi karena satu-satunya rampasan yang berhasil di ambil dari kelompok itu, hanyalah wanita ini.
Salah satu anak buah lainnya menyarankan. "Bos, bagaimana kalau kita jual saja dia pada Tuan Haowei di pasar gelap?"
Mata bos bandit itu menjadi cerah. "Ide bagus!"