
Seorang pria berkata dengan marah pada seseorang yang berlutut dihadapan nya. "Bodoh, kenapa kau pergi ke tempat itu? Bagaimana jika ada seorang dari pemerintah mengetahui siapa dirimu?"
Kedua orang itu sedang berada di sebuah bangunan yang jauh dari keramaian. Mereka semua berbaju hitam dan memiliki tampang yang menyeramkan.
"Bos, tenang saja. Sejauh yang aku tahu, rumah bordil itu jarang didatangi oleh orang Istana."
"Kemungkinan apapun bisa terjadi! Sial, kenapa kau begitu bodoh?!"
Orang itu tidak lagi menjawab. Dia hanya ingin mencari sebuah kesenangan kecil sebelum mereka melakukan misi yang diberikan Rajanya.
Pria yang marah itu seakan tahu pikirannya. "Tentu saja itu salah! Kau bisa mencari kesenangan jika kita sudah kembali!" Kemudian dia menghela nafasnya seakan ingin mengendalikan amarah. "Sudahlah. Karena kau telah melakukan kesalahan, kita harus menjalankan misi lebih cepat dari yang direncanakan."
Pria yang dimarahi olehnya bertanya. "Kapan?"
"Kita akan menjalankan rencana sebelum tahun baru. Perintahkan yang lain untuk bersiap-siap."
***
Ibu Suri tentu saja tahu bahwa Selir Chen tidak berhasil dan malah Selir Xie yang tidur dengan Huang Long.
Tapi tidak sedikitpun dia tidak merasa bahagia, karena itu adalah Selir Xie, dia tidak akan melakukan sesuatu padanya.
Selir Chen Xinjing dan Selir Zhou begerak cepat. Mereka mulai mengutus seseorang untuk menjebak Xie Hongyi. "Pastikan mereka menerima berita darimu." Ucap Selir Chen Xinjing seorang laki-laki berbaju hitam.
Laki-laki itu memilki bekas luka diwajahnya yang membuat tampilannya menjadi seram. Dia menyerigai dan merima ingot perak dari tangan Selir Chen Xinjing. "Tentu saja aku akan melakukan tugasku dengan baik."
Setelah pria itu pergi, Selir Chen Xinjing dan Selir Zhou terkekeh kejam.
"Hari ini salju turun dengan deras." Gumam Xie Hongyi sambil memegang sebuah payung. Dia menatap langit yang gelap gulita tanda hari sudah malam.
"Yi'er, siapkan arang panas dan letakkan di bawah ranjang ku. Aku ingin berjalan-jalan sebentar."
Yi'er yang berada disampingnya bertanya. Mereka sekarang berada didepan halaman Kediaman Teratai. "Nyonya, kenapa kau mau keluar? Apakah kau tidak takut dengan hantu salju?" Salju turun dengan lebat malam ini dan udara menjadi semakin dingin.
Dia menoleh untuk menatap Yi'er. "Tidak. Kau pergilah."
Yi'er ingin membantah, tapi melihat tatapan Nyonyanya, dia akhirnya menurut.
Xie Hongyi berjalan keluar dari kediaman. Sistem yang sudah kembali menjadi seekor rubah dengan nyaman meringkuk di lehernya.
"Yang Mulia, sumber dana yang diberikan pada para pejabat itu berasal dari sebagian upeti yang diberikan oleh rakyat. Aku menanyai mereka satu persatu siapa orang yang memberikan uang itu, tapi mereka menjawab tidak tahu."
Xie Hongyi berhenti melangkah ketika mendengar sebuah suara.
"Kau sudah menyelidiki siapa wanita di gedung hijau yang sebelumnya memilki buku itu?"
"Beberapa hari yang lalu, penghibur itu ditemukan tewas tercekik diruangannya. Aku sudah memeriksa siapa saja yang pernah menjadi pelanggannya, tapi tidak ada satupun yang bisa dicurigai."
"Terus selidiki siapa pemilik buku itu. Kau pergilah."
"Baik Yang Mulia." Kemudian terdengar suara langkah yang menjauh dari sana.
Huang Long mengangkat cangkir teh hangatnya dan menyesap dengan perlahan. "Aku tahu kau disana."
Xie Hongyi pun keluar dari persembunyiannya. Dia menunjukkan gigi harimau kecilnya. "Hehe, Yang Mulia."
Huang Long menatap Xie Hongyi dengan tatapan andalannya. Dia tiba-tiba bertanya. "Bagaimana menurutmu?"
Xie Hongyi mengangkat bahunya. "Yah, ini adalah urusan negara. Lebih baik aku tidak ikut campur." Melihat Huang Long yang sepertinya tidak berminat bercanda, Xie Hongyi akhirnya menyerah. Dia meletakkan payungnya lalu duduk dihadapan Huang Long.
Mereka saat ini duduk disebuah gazebo yang berada di dekat Istana bunga dengan lentera minyak yang menerangi dan angin malam yang berhembus menemani. Xie Hongyi sedikit bergidik saat angin itu melewati tubuhnya.
"Aku rasa Yang Mulia harus lebih memperhatikan beberapa pejabat. Bisa jadi salah satu dari mereka adalah pelakunya. Tapi yang aku ingat, Yang Mulia bisa mengetahui orang yang berbohong, namun jika orang itu adalah ahli tipu muslihat, dia pasti bisa dengan lancar mengatakan kebohongan tanpa ketahuan. Yang Mulia, bukannya aku meremehkan mu, tapi orang-orang yang pandai melakukan itu, Yang Mulia pasti tahu apa yang akan terjadi."
Orang yang melakukan lese majeste ini harus dibasmi. Huang Long tidak boleh memelihara monyet yang memakai topi dalam pemerintahannya.
"Semua orang yang mengunjungi wanita itu harus dicurigai."
Huang Long terdiam begitu lama, terlihat sedang berpikir. Dia kemudian menatap ke arah lain. Tiba-tiba ia bangkit lalu mengambil payung yang tergeletak di timbunan salju. Dia berbalik dan kemudian berkata: "Ayo pulang."
Xie Hongyi tertegun. Dia mengamati langit dan melihat bahwa salju turun lebih deras. Dia pun tersenyum dan dengan riang ia berkata: "Ayo!"
***
Untuk saat ini, Istana terlihat aman dan damai. Tapi semua orang pasti tahu bahwa hal ini tidak akan berlangsung lama, dan sebentar lagi pasti sesuatu akan terjadi, entah baik atau buruk.
Empat hari kemudian, rombongan biksu mendatangi Istana. Huang Long langsung menyambut mereka di aula.
Salah satu biksu yang merupakan pemimpin dari Kuil Yinyang, kuil terbesar di Kekaisaran, berkata. "Yang Mulia, pada malam tadi aku bermimpi sesuatu yang buruk telah terjadi di Istana ini."
Huang Long bicara dengan nada khasnya. "Apa itu Biksu Han?"
"Seseorang di istana ini telah dirasuki oleh roh jahat dan akan menyebabkan bencana bagi Kekaisaran."
Ada seorang suruhan Selir Chen Xinjing yang memberitahu pada biksu tentang ketidaknormalan perilaku Xie Hongyi. Pada saat itu, tenyata kepala biksu telah meramalkan hal, ini jadi orang itu sengaja mengarahkan semua ciri pada Xie Hongyi.
Secara mengejutkan, ternyata roh jahat dalam mimpi biksu itu ternyata mirip dengan yang dikatakan orang suruhan itu. Para biksu itu dengan cepat pergi ke Kekaisaran untuk membawa Xie Hongyi agar roh jahat ditubuhnya bisa disingkirkan.
"Amitabha, Buddha menghargai kebaikan dan selalu mengasihi. Untuk itu jika diperkenakan, biarkan kami membawa Selir Xie agar kami bisa menghilangkan roh jahat yang merasukinya."
Huang Long tiba-tiba tersentak. Jantungnya berdebar kencang. "Selir Xie?"
"Betul.
Huang Long berkata pada kasim disampingnya. "Kasim Zhu, panggil Selir Xie kemari."
Yang dipanggil hanya Xie Hongyi, tapi yang datang malah seluruh wanita Huang Long. Tidak ketinggalan Selir Chen Xinjing dan Selir Zhou yang ingin melihat pertunjukan Xie Hongyi berpisah dengan Huang Long. Pada saat mereka masuk, mereka tersenyum satu sama lain.
Setelah semua selir memberi hormat, Permaisuri Shi bertanya. "Yang Mulia ada apa ini?"
Huang Long tidak menjawab dan malah menatap Xie Hongyi yang terlihat santai.
"Amitabha, siapa yang bernama Selir Xie?"
Selir Chen Xinjing langsung menunjuk Xie Hongyi. "Dia."
Xie Hongyi menatap Selir Chen Xinjing dengan datar, benar-benar ingin menekan tombol F untuk menghormati Selir Chen Xinjing.
Biksu itu kemudian menghampiri Xie Hongyi. Setelah dia tiba dihadapannya dia memindai Xie Hongyi berulangkali sambil merapalkan sebuah mantra.
Setelah dia selesai, biksu itu berkata. "Yang Mulia, kami harus membawa wanita ini."
Ada dua orang yang diam-diam tersenyum lebar.
Huang Long terlihat keberatan. Tapi dia tidak berani menyinggung para biksu. Itu semua karena ibunya. Ketika Shen Wushuang masih hidup, dia berpesan pada Huang Long untuk menghormati para biksu dan jangan menentang mereka. Saat Huang Long bertanya mengapa, wanita itu mengatakan bahwa seorang biksu pernah menyelamatkannya sehingga membuat dirinya bertemu dengan ayah Huang Long. Pada saat itu Huang Long bertanya, kenapa ibunya selalu membela ayahnya walaupun lelaki itu tidak pernah memberikannya kebahagiaan? Ibunya tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil mengusap rambutnya. Dan pertanyaan itu tidak pernah terjawab sampai ia dewasa.
Melihat ketidakrelaan Huang Long, Xie Hongyi sedikit senang. Sebelumnya dia sudah bertanya pada sistem apakah ia harus ikut dengan para biksu atau tetap tinggal di Istana. "Aku akan pergi."
Huang Long menatap Xie Hongyi. "Aku akan baik-baik saja. Yang Mulia jangan khawatir." Xie Hongyi mengedipkan sebelah matanya pada Huang Long yang membuat lelaki itu menjadi merah wajahnya.
Ucapannya tak ayal telah menyulut api cemburu dari dua orang.
Biksu Han dengan nada lembut berkata. "Amitabha, kalau begitu kami minta izin untuk pergi."
Xie Hongyi pergi dengan rombongan biksu. Tapi sebelum itu, dia menoleh ke satu arah dan tersenyum.
Selir Chen Xinjing dan Selir Zhou merinding di sekujur tubuhnya karena tatapan Xie Hongyi. Tapi mereka dengan cepat menguasai diri dan berpura-pura tidak melihat tatapannya.
Catatan Penulis:
Lese majeste: kejahatan kenegaraan.
Monyet memakai topi: orang-orang tidak berguna.