The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 66



Tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya. Jika hari ini di tahun kemarin, akan ada banyak masyarakat yang sibuk mempersiapkan festival tahun baru. Bahkan sebelum malam tahun baru tiba, jalanan ibukota sudah ramai dengan orang yang berlalu-lalang atau pergi ke danau untuk membuat lentera harapan.


Istana memutuskan untuk tidak mengadakan festival karena sibuk mengurus para pemberontak yang semakin meresahkan. Mereka juga khawatir jika mengadakan acara yang melibatkan banyak orang, para pemberontak itu akan melakukan sesuatu yang membahayakan warga sipil.


Di sebuah kedai makanan yang ramai dikunjungi di malam hari, ada dua orang pria yang sedang duduk berbincang-bincang. Pria yang memakai baju berwarna coklat berkata: "Aku kecewa karena tahun ini Istana melarang festival."


Pria lainnya yang mengikat seluruh rambutnya menjadi gulungan menyahut. "Aku juga. Tadi siang aku melihat beberapa orang prajurit tampak terlihat di jalan utama hari ini. Apakah keadaan Istana sedang tidak baik?"


"Aku dengar bahwa sekarang Istana sedang mencari cara untuk memusnahkan pemberontakan Keluarga Shi."


Lawan bicaranya terkesiap. "Apa? Keluarga Shi memberontak? Tidak heran kalau mereka berani bertindak. Mereka adalah keluarga terbesar di Kerajaan ini. Pasti tidak mudah untuk mengalahkan mereka. Lalu sekarang bagaimana nasib Permaisuri?"


Pria itu memelototi rekannya yang berbicara sedikit keras. "Ssst, pelankan suaramu. Kita seharusnya tidak membicarakan hal ini."


Pria itu lalu bertanya dengan suara rendah. "Jadi?"


"Katanya sekarang keberadaan Permaisuri tidak diketahui. Bukan hanya dia yang bersembunyi, tapi seluruh anggota keluarganya."


Pria yang rambutnya diikat itu berkomentar. "Mereka sangat pandai bersembunyi selama bertahun-tahun dan berhasil lepas dari kecurigaan."


"Mereka memegang setengah kekuatan Kerajaan Selatan. Menurutmu, apakah mereka akan berhasil merebut takhta Yang Mulia Kaisar?"


"Entahlah. Yang pasti, akan ada perubahan situasi yang besar."


Mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi ada dua orang yang diam-diam mendengarkan percakapan. Dia orang itu memainkan gelas cangkirnya. Setelah kedua orang yang tadi berbincang-bincang itu pergi, salah satu dari mereka berbicara.


"Kemana sebenarnya Tuan Muda pergi? Sudah beberapa hari dia tidak memberi kabar. Kita tidak boleh berada di sini lebih lama lagi." Dia dengan hati-hati mengangkat tangannya yang dibalut perban agar tidak melambai dan menimbulkan rasa sakit.


Pria yang satunya lagi menjawab. "Aku tidak tahu.


"Keadaanku sudah lebih baik. Kita harus cepat kembali ke Utara."


Pria didepannya berucap dengan tegas. "Aku tidak akan pergi tanpa Tuan Muda."


"Kalau begitu kita bisa menunggu beberapa saat lagi. Jika Tuan Muda tidak muncul, kita harus mencarinya."


Pria itu mengangguk. Dia lalu mengangkat gelasnya dan menenggak minumannya.


Huang Long memberi perintah untuk memperkuat pertahanan di Ibukota. Dia tidak bisa membiarkan para pemberontak itu berhasil merebutnya.


Saat ini, para pemberontak itu telah berhasil merebut wilayah selatan dan beberapa kamp militer. Huang Long harus bekerja ekstra untuk mengatasi masalah ini.


Keadaan tubuhnya sudah membaik berkat pil yang diberikan oleh Xie Hongyi. Wanita itu memberikannya banyak sekali pil penahan racun. Mengingat nama itu lagi, Huang Long merasa hatinya sakit.


Walaupun kenyataannya sudah jelas, dia yakin bahwa wanita itu masih hidup. Ini adalah pertama kalinya dia mempunyai harapan setelah bertahun-tahun tidak mempercayainya.


Menurut Huang Long, berharap sesuatu yang tidak mungkin itu sangat membuang waktu. Sebenarnya, bukan hanya itu alasan kenapa ia tidak percaya dengan harapan.


Dulu satu-satunya harapan yang ia memiliki adalah Ibunya memilki kasih sayang dari ayahnya. Tapi, harapan itu tidak pernah terkabul. Harapan itu hilang tanpa bekas seperti asap ketika ibunya meninggal dicelakai oleh wanita kesayangan ayahnya.


Pada saat itu dia hanya seorang anak kecil yang belum mengenal dunia luar. Dia belum mengerti kenapa orang dewasa begitu jahat. Setelah kematian ibunya, saudara-saudara tirinya mulai menindas Huang Long. Dia kemudian tumbuh dilingkungan yang penuh dengan intrik dan trik jahat.


Belum lagi perlakuan orang-orang di kamp militer, membuatnya harus memiliki mental yang kuat.


Perhatiannya kembali teralih saat seseorang berbicara. "Yang Mulia, kami sudah mencari di sekitar tebing, tapi kita tidak menemukan Selir Xie."


Huang merasa pikirannya kosong. Dia berkata dengan nada yang dingin. "Terus mencari. Jangan abaikan petunjuk sekecil apapun."


Pria berpakaian hitam yang berlutut di depan Huang Long melakukan gerakan setuju. "Baik Yang Mulia."


Dia berada di ruang kerjanya tanpa menyalakan obor. Ruangan itu begitu gelap dan hawa yang dikeluarkannya membuat orang bergidik. Cahaya remang-remang dari bulan terkadang muncul menyinari wajah Huang Long yang tampan. Disampingnya ada sebuah pedang yang berkilau. Walaupun tertutup sarung, pedang itu memancarkan aura yang buas, seperti singa yang bersiap menerkam siapapun yang mendekatinya.


Pedang itu adalah pedang yang sangat ingin Xie Hongyi lihat.


Huang Long harus mencari kekuatan yang mendukung keluarga Shi. Dia yakin selain sumber daya yang melimpah, baik dana maupun tenaga manusia, bukan hanya kekuatannya.


Dia sudah memeriksa ruang rahasia, dan secara mengejutkan, semua harta dan beberapa dokumen di dalamnya hilang. Untung saja dia sudah mengamankan surat perjanjian dengan Kerajaan Utara. Dia tidak bisa membayangkan jika surat itu dipegang oleh orang yang salah.


Urat biru di dahi Huang Long muncul saat menyadari ada seseorang yang memanfaatkan situasi dirinya yang lengah.


Disebuah pondok di halaman belakang, dua orang wanita cantik duduk dengan anggun sambil meminum teh hangat.


Selir Hu yang memiliki wajah kekanak-kanakan, berbicara. "Selir Chen, kenapa aku merasa akhir-akhir ini Istana terasa sangat dingin?" Dia sudah terbiasa dengan aura dingin Istana yang disebabkan oleh Huang Long, tapi akhir-akhir ini suasananya begitu berbeda.


Selir Chen memaklumi Selir Hu yang tidak menyadari situasi. Dia dan Selir Hu sudah berteman lama, sehingga dia tahu bagaimana sifatnya. "Kau pasti sudah mendengar apa yang terjadi."


Selir Hu membuka mulutnya. "Ah, jadi itu alasannya."


Tidak heran ayahnya dipanggil Kaisar beberapa hari yang lalu. Dia adalah tipe orang yang kadang tidak peduli dengan sekitar dan hanya fokus dengan dunianya sendiri. Tapi, pelayannya yang banyak bicara memberitahunya bahwa sekarang para pejabat sibuk dengan para pemberontak. Dia tidak mengerti, mengapa mereka memberontak, padahal Huang Long sangat mampu dalam mengurus pemerintah.


Selir Chen tiba-tiba berkata: "Jika terjadi sesuatu, kita harus bisa bertahan hidup."


Selir Hu menatap Selir Chen dengan ngeri. "Selir Chen, kau jangan menakutiku."


Selir Chen tersenyum. "Aku hanya berbicara kemungkinan yang terjadi di masa depan."


Sebenarnya, Selir Chen merasa sedikit khawatir. Dia takut bahwa ternyata keluarganya terlibat dengan pemberontakan. Jika itu benar, maka seluruh anggota keluarganya pasti akan dipenggal.


Ibu Suri memiliki suasana hati yang buruk. Dia memiliki pemikiran yang sama dengan Selir Chen. Ketika dia mendengar berita tentang pemberontakan, dia memikirkan adik laki-lakinya yang menjadi pemimpin keluarga. Ibu Suri memijat kepalanya yang terasa sangat pusing.


Seseorang yang berada di luar tiba-tiba berkata. "Tuan Chen Bufang datang berkunjung."


Pas sekali.


Ibu Suri dengan berkata dengan semangat. "Suruh dia masuk."


Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang masih bugar di usianya yang senja masuk. Dengan melihat sosok itu, orang-orang sudah pasti tahu dia adalah pria yang mempunyai otoritas kepemimpinan tinggi. Pria itu adalah Chen Bufang, pemimpin keluarga Chen. Setelah dia masuk, Chen Bufang memberi hormat. "Memberi hormat pada Ibu Suri. Bagaimana kabar Anda?"


Ibu Suri menjawab pertanyaan adiknya. "Suasana hatiku sedang tidak baik setelah mendengar Keluarga Shi memberontak." Ibu Suri dengan hati-hati melanjutkan perkataannya. "Kau tidak terlibat dengan ini kan? Kuberi tahu, jangan sampai kau membahayakan seluruh keluarga karena ambisimu." Tumbuh bersama selama bertahun-tahun membuat Ibu Suri hafal bagaimana karakter adiknya.


Chen Bufang hanya tersenyum melihat wajah kakak perempuannya. "Ibu suri tidak perlu khawatir dengan hal ini."


Ibu Suri menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"


"Meski keluarga kita adalah keluarga yang besar, tapi aku harus tetap meningkatkan kekuatan keluarga."


Sudah lama keluarga Chen selalu ada dalam bayang-bayang Ibu Suri. Chen Bufang adalah pemimpin keluarga, dan dia merasa jika terus menggantungkan nasib keluarganya di tangan Ibu Suri, sebagai pemimpin dia pasti merasa sangat malu.


Juga menurutnya, Ibu Suri terlalu lembek, tidak pantas menjadi pilar keluarga. Sifat lembut dan baiknya suatu hari pasti akan membawa bencana. Chen Bufang berpendapat bahwa kebaikan dan kelembutan tidak akan membawa kemajuan yang besar untuk keluarganya.


"Aku tidak perlu persetujuanmu untuk memutuskan bagaimana aku bertindak."


Chen Bufang lalu tersenyum misterius. "Baiklah, aku kesini hanya untuk melihat bagaimana keadaan Ibu Suri. Ternyata, Ibu Suri menjalani hidup yang baik di Istana. Jaga kesehatan mu. Aku pamit pergi."


Melihat adiknya pergi begitu saja, Ibu Suri lantas berteriak. "Cepat kembali!" Namun, pria itu sudah pergi jauh.