The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 64



Xie Hongyi dan Xiao Zhang berdiri diam di depan tebing. Para pengejar itu berhasil menyusul dan mengepungnya. Mereka mulai menyerang Xie Hongyi dan Xiao Zhang secara membabi buta.


Terjadi perkelahian sengit yang tidak seimbang.


Xie Hongyi tahu bahwa ia tidak bisa kabur kali ini, jadi dia mengerahkan semua tenaganya untuk melawan mereka. Dia menggunakan pistol tanpa peluru sebagai senjata sementara Xiao Zhang menggunakan sebuah belati yang dia ambil dari balik lengan bajunya.


Pada awalnya, Xie Hongyi begitu terfokus pada orang menyerangnya, tapi suara Xiao Zhang yang berteriak mengalihkan perhatiannya.


Dia melihat Xiao Zhang didorong dan terjatuh dari atas tebing, pada saat itulah seseorang tiba-tiba menendangnya hingga terjatuh. Dia tidak punya kesempatan untuk bangkit karena kakinya di pukul oleh benda tumpul.


Xie Hongyi berbaring telungkup diatas salju yang dingin sambil merintih.


Pada saat ini, terdengar suara langkah kaki dia atas salju. Langkah kaki itu terdengar begitu berat, pasti milik seorang laki-laki.


Xie Hongyi mengangkat kepalanya untuk melihat siapa itu. Dia berpikir itu adalah salah satu pengejar, tapi tidak disangka dia adalah seorang pria berbaju putih yang berdiri dengan tegap di hadapannya. Warna kulit pria itu begitu pucat dan hampir menyatu dengan salju. Pria itu memilki wajah yang tampan namun matanya penuh dengan kilat kejahatan.


Xie Hongyi tentu tahu siapa pria dihadapannya.


Xie Hongyi menatap Shi XuanRan dengan penuh permusuhan. Shi XuanRan pura-pura takut. "Gadis cantik, jangan menatapku dengan tatapan itu."


Xie Hongyi tersenyum mengejek. Dia berkata dengan nada provokatif. "Kau pengecut. Apa kau tidak memiliki keberanian sedikitpun sampai kau bersembunyi?"


Shi XuanRan menyipitkan matanya yang indah. Tapi dia tidak marah dengan perkataan Xie Hongyi. Pria itu kemudian berjongkok dan memegang dagu wanita itu. "Kau sudah akan mati dan masih berani menggonggong?"


Xie Hongyi tertawa. "Hahahaha, memangnya kenapa jika aku akan mati? Bukannya aku sudah mati?"


Shi XuanRan mengerutkan kening saat mendengar perkataan Xie Hongyi. "Apa maksudmu?"


Xie Hongyi tidak menjawab dan terus tertawa. Ini adalah pertama kalinya Shi XuanRan merasa terprovokasi oleh seseorang. Dia marah dan menusuk tangan Xie Hongyi dengan sebuah belati sambil memutarnya, membuat tawa Xie Hongyi berganti dengan teriakan kesakitan. "Aaaaa!" Darah seketika mengucur ke atas salju yang putih, seperti kain bersih yang ternoda.


Shi XuanRan tahu bahwa wanita didepannya pasti memiliki hubungan yang istimewa dengan Huang Long berdasarkan apa yabg dikatakan Shi Mian. Jadi, jika Huang Long melihat wanita ini mati, dia pasti akan terpuruk. Di saat itulah dia akan memanfaatkan situasi untuk menyerang Huang Long.


Xie Hongyi benar-benar merasa tangannya begitu sakit, namun dia menolak untuk meneteskan air mata.


Tindakan sadis itu Shi XuanRan lakukan pada tangan Xie Hongyi yang satunya lagi. Xie Hongyi berteriak dengan suara yang hampir habis. "Kau menyerah?"


Dengan darah dimulutnya, Xie Hongyi tersenyum. "Tentu saja tidak."


Shi XuanRan mengangkat Xie Hongyi dengan mencekiknya. Xie Hongyi memegang tangan Shi XuanRan dilehernya dengan erat. "Wanita keras kepala. Aku ingin tahu apakah kau akan terus tetap dalam pendirianmu."


Shi XuanRan menggerakkan tangannya untuk melempar Xie Hongyi dari atas tebing. Dengan hukum gravitasi, dia seakan-akan merasa tubuhnya begitu ringan saat terjun dari sana. Ia mendarat dia atas sungai yang membeku membuat seluruh tubuhnya terasa remuk.


Pemandangan itulah yang Huang Long lihat saat ia tiba. Setelah mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada pamannya, dia memerintahkan Dugu An untuk mencari tahu sesuatu keadaan yang aneh. Hasilnya, dia diberitahu tahu bahwa Xie Hongyi tidak ada di kediamannya.


Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya sendiri, Huang Long bangkit dan hendak mencari wanita itu. Dia mencari tidak tentu arah sampai akhirnya menemukan apa yang dia cari.


Tubuhnya menjadi kaku saat menyaksikan wanita itu dilemparkan. Nafasnya seakan berhenti dan jantungnya seakan terjatuh. Pada saat inilah, dia menyadari bahwa wanita itu begitu berharga. Dia ingin mengulang waktu agar dia tiba lebih cepat dibanding sekarang. Namun, tentu hal itu tidak mungkin bisa ia lakukan.


Melihat Huang Long, Shi XuanRan berujar dengan santai. "Kau terlambat."


Huang Long menatap teman masa kecilnya dan menanyakan pertanyaan bodoh. "Mengapa kau seperti ini?"


Shi XuanRan menaikkan salah satu sudut mulutnya. "Dari dulu seperti inilah sebenarnya aku. Hanya kau yang terlalu bodoh tidak menyadarinya."


Dia menunjuk tebing dengan jari telunjuknya. "Kau lihat? Wanita yang itu telah jatuh. Aku yakin dia sudah tewas sekarang."


Shi XuanRan terus berbicara. "Kau gagal melindungi orang yang berharga bagimu, lagi." Setelah itu dia tertawa dengan puas.


Huang Long menolak perkataan Shi XuanRan, dan dia tidak bisa menahan emosinya. Dia menarik pedangnya dan bergegas maju untuk menyerang Shi XuanRan. Mereka berdua saat ini tidak seperti dua orang yang telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.


Shi XuanRan tersenyum mengejek. Dia tetap berdiri dengan kokoh. Serangan Huang Long ditahan oleh salah satu anak buah Shi XuanRan.


Sekali lagi, terjadi perkelahian di tepi tebing.


Huang Long menangkis serangan pedang yang diarahkan padanya, tapi tiba-tiba semua bagian tubuhnya terasa sakit. Dia berlutut sambil memegang dadanya.


Racun itu bereaksi pada saat yang tidak tepat. Huang Long merasa kesal dengan keadaannya yang lemah.


Melihat keadaan Huang Long, Shi XuanRan bahagia. "Ternyata tidak sia-sia aku memberi mu racun setiap hari." Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.


Huang Long menjawab dengan batuk darah. Seseorang dari pihak Shi XuanRan hendak menebasnya, tapi berhasil dihalangi oleh Dugu An. Penjaga rahasia itu berteriak. "Lindungi Yang Mulia!"


Tidak peduli dengan rasa sakit ditubuhnya, Huang Long bangkit dan kembali melawan anak buah Shi XuanRan. Dia menggerakkan pedangnya untuk menebas musuhnya. Bilah pedang yang tipis itu berkilau dan bergerak seakan-akan menari. Gagangnya berwarna merah di ukir bunga teratai yang indah, dengan rumbai pedang giok yang menggantung di ujungnya. Ditangan Huang Long, pedang yang indah dan anggun itu menjadi sebuah senjata yang mematikan. Dalam sekejap, bilah perak pedang itu dipenuhi dengan darah.


Memang patut menjadi seorang Kaisar yang disanjung banyak orang.


Shi XuanRan sama sekali tidak terganggu dengan keadaan pihaknya yang terdesak. Dia dengan santainya pergi dari sana, membiarkan anak buahnya yang mengurus mereka.


Pihak Huang Long akhirnya memenangkan perkelahian. Tapi tubuh Huang Long sudah mencapai batasnya. Dia tiba-tiba limbung. Dugu An yang berdiri disampingnya segera menahan tubuh Huang Long agar tidak menyentuh salju sambil berteriak dengan panik. "Yang Mulia!"