
“Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Kediaman Pangeran Yu bisa terbakar?” Xie Hongyi bertanya dengan tergesa-gesa pada pelayan wanita yang terlihat panik melihat api.
Pelayan wanita itu tidak menjawab, mungkin terlalu shock atas apa yang terjadi. Dia hanya berdiri dengan bodoh dengan tubuh gemetaran. Xie Hongyi ingin mengulangi pertanyaan lagi, tapi tidak jadi karena seseorang mendadak berteriak.
“Cepat padamkan apinya! Jangan sampai apinya menyebar ke tempat lain!” Itu adalah suara Pangeran Yu.
Seseorang dengan panik menjawab perkataannya. “Airnya tidak cukup Tuan! Kita harus mengambilnya lagi!”
Pangeran Yu kembali berteriak. “Kalau begitu ambil lagi!”
Pelayan itu menjawab dengan suara yang masih panik.“Tapi Tuan, jika kita mengambil air lagi, mungkin bangunan ini sudah hangus terbakar.”
Saat Pangeran Yu berbicara, Xie Hongyi melihat sosok Huang Long datang. Dia hendak menyapa, Huang Long malah menjauh. Sepertinya pria itu tidak melihatnya sama sekali.
Huang Long mendadak melangkah ke arah bangunan yang di lalap api. Melihat tindakan Huang Long yang tidak biasa, Xie Hongyi segera menghampiri dan menariknya dengan cepat. Dia lalu berkata dengan marah. “Apa yang Yang Mulia lakukan? Apa Anda tidak melihat api yang besar?”
Mata Huang Long menjadi linglung sejenak. Di saat dirinya melihat Xie Hongyi, kesadarannya kembali. Dia tidak mengucapkan satu patah katapun. Huang Long hanya memegang tangan Xie Hongyi dengan erat.
Xie Hongyi mengerutkan alisnya. Dia merasa heran dengan tingkah aneh Huang Long. Belum sempat ia berpikir, terdengar teriakan panik dari sekitarnya.
Api dengan cepat menyebar ke seluruh bangunan. Situasinya menjadi buruk menyebabkan orang-orang itu panik.
Xie Hongyi mengerutkan keningnya, lalu ia berteriak kepada orang yang kalang-kabut panik ke sana-kemari. “Gali salju di sisi bangunan! Buat garis untuk memisahkan bangunan yang terbakar!”
Gerakan semua orang mendadak berhenti saat teriakan nyaring itu terdengar. Mereka lalu menoleh ke arah sumber suara, dan menatap Xie Hongyi lama.
Mata Xie Hongyi melotot saat melihat respon semua orang yang menjadi hening. “Apa yang kalian tunggu? Cepat lakukan!”
Pangeran Yu juga kesal melihat tindakan pelayannya yang dungu sesaat di situasi yang semakin buruk. “Lakukan apa yang dikatakannya!”
Kemudian, para pelayan itu menggali salju di sisi bangunan dengan cukup dalam. Pekerjaan mereka terkesan lambat karena mereka menggali salju dengan alat seadanya. Lalu ketika pelayan yang lain membawa alat untuk menggali dari gudang, dengan cepat pekerjaan itu terselesaikan.
Pangeran Yu menatap Xie Hongyi, menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Biarkan bangunan itu terbakar. Apinya tidak akan menyebar. Jadi jangan panik dan segera cari air untuk memadamkan sisa api.”
Beberapa saat kemudian, semua orang bisa menghela nafas lega.
Penyebaran api berhasil di cegah. Para pelayan yang bekerja keras memadamkan api terduduk di atas salju sambil mengusap kening mereka. Wajah mereka terlihat sangat lelah.
Kejadian ini bukan terjadi karena tidak disengaja, melainkan telah direncanakan.
Para pelaku yang telah menyebabkan kebakaran sudah ditangkap. Mereka di kurung di dalam gudang. Saat ini, anak buah Pengeran Yu sudah mendapatkan informasi dari mereka.
Pangeran Yu duduk di atas kursi kayu. Dia menatap pria yang berlutut dihadapannya, menunggu pria itu berbicara.
“Mereka mengatakan bahwa mereka dikirim oleh An Ziming.”
An Ziming adalah orang yang ssat ini menjabat sebagai menteri perang. Pangeran Yu teringat bahwa dia pernah berkonflik dengannya karena perbedaan pendapat. Apa karena alasan itulah An Ziming menyuruh orang untuk membakar kediamannya?
Pangeran Yu ragu sejenak. Banyak spekulasi yang hinggap dalam pikirannya. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak boleh gegabah langung mengatakan An Ziming adalah pelaku. Karena yang dia tahu, An Ziming bukanlah orang yang secara terang-terangan membalas ketidaksukaannya. Lagipula, konfiknya dengan An Ziming terjadi satu bulan yang lalu. Jika dia masih dendam dengan Pangeran Yu, kenapa baru sekarang dia melakukannya?
Tetapi, besok berita tentang kebakaran ini pasti di dengar oleh Kaisar. Pangeran Yu harus mengatakan keterangan padanya. Dia juga belum tahu siapa di balik insiden ini, maka dia harus mencari kambing hitam untuk sementara.
“Kalau begitu, beritahu Kediaman An bahwa orang-orangnya ada di sini. Aku ingin melihat apa yang ingin dia lakukan.’
“Baik.”
Di balik jendela luar, Xie Hongyi mendengarkan percakapan itu dari awal sampai akhir. Sistem tiba-tiba menyuruhnya melakukan misi sampingan yaitu menyelidiki pelaku sebenarnya kejadian kebakaran ini.
Ngomong-ngomong soal Huang Long, dia membuat Xie Hongyi kesal setengah mati karena setelah kebakaran berhasil diatasi, pria itu pergi tanpa melihat dan mengucapkan satu patah katapun padanya. Xie Hongyi henda menyusul, namun sistem tiba-tiba memberinya misi berbatas waktu.
“Sistem, kenapa aku merasa semua ini sedikit aneh?” Setelah melihat ruangan itu kosong, Xie Hongyi berkata dengan pelan.
Sistem yang hinggap di pundaknya menjawab. “Megapa kau berpikiran seperti itu?”
Xie Hongyi memegang dagu dengan tangannya. Dia berpikir. “Aku hanya heran mengapa seorang pelaku bisa mengungkapkan kebenaran dengan mudah. Pangeran Yu juga pasti ragu denga apa yang mereka katakan.”
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”
Xie Hongyi melangkah menjauh tanpa suara menuju ke gudang tempat para pelaku ditahan.
Setibanya di tempat yang dimaksud, Xie Hongyi membuka pintu kayu gudang yang rapuh di makan rayap. Dia sempat heran mengapa pintu itu masih kokoh.
Di dalam gudang, Xie Hongyi melihat tiga sosok pria dengan wajah babak belur di ikat pada sebuah tiang. Kepala mereka yang awalnya terkulai lalu mengadah saat mendengar suara langkah kaki. Wajah mereka yang tidak berbentuk nampak tenang, seakan sudah tahu bahwa Xie Hongyi akan datang.
Tanpa basa-basi, Xie Hongyi melontarkan pertanyaan secara langsung. “Katakan, siapa yang menyuruh kalian? Jika kalian berbohong, aku akan mematahkan satu jari. Dan jika kalian berbohong lagi, aku akan memotong tangan kalian.”
Salah satu orang yang diikat berkata dengan cepat. “I-itu adalah An Ziming! Dia menyuruh kami untuk membakar Kediaman Pangeran Yu.”
Mendengar jawabab yang tidak memuaskan, Xie Hongyi perlahan mendekati pria itu sambil berkata dengan nada rendah. “Sudah ku bilang, jika kau berbohong aku akan mematahkan jarimu."
Sedetik kemudian, teriakan kesakitan terdengar. Kedua pasang mata orang lainnya menatap ngeri tangan Xie Hongyi yang menekuk jari tengah rekan mereka ke atas. Dalam benak masing-masing, mereka bertanya-tanya siapa wanita kejam ini.
“Sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian?”
Mereka masih diam sama sekali tidak berniat menjawab perkataan Xie Hongyi. Dalam hati, Xie Hongyi memuji kepintaran mereka. Mereka memilih untuk diam daripada berbohong.
Xie Hongyi masih bertanya. “Apa yang dia janjikan pada kalian sehingga kalian menurut padanya?”
Bibir para pelaku masih terkatup rapat. Xie Hongyi tersenyum melihat mereka yang keras kepala. “Baiklah, jika kalian tidak mau menjawab, bagaimana kalau kita bermain?”
Sebuah benda berwarna hitam muncul di tangan Xie Hongyi. Tanpa kata-kata, dia menarik pelatuk benda itu dan menyebabkan sebuah peluru bersarang di lutut salah satu pelaku pembakaran.
Pria itu berteriak saat merasakan sakit yang menyengat dilututnya. Senjata apa yang digunakan wanita ini? Kenapa rasanya lebih saki daripada tertusuk panah?
Dengan murah hati, Xie Hongyi memberi mereka penjelasan. “Benda kecil yang dikeluarkan oleh benda ini akan membuat kalian langsung menemui Raja Neraka. Sekarang, tinggal satu benda kecil yang ada di dalamnya. Aku akan bertanya pada kalian. Satu pertanyaan dan satu tarikan. Kalian hanya perlu menjawa ya atau tidak.”
“Apakah An Ziming adalah orang yang menyuruh kalian?” Setelah menyelesaikan ucapannya, Xie Hongyi mengarahkan pistol itu ke kepala pelaku yang berada paling dekat dengan dirinya. Pelaku itu masih diam dengan wajah pucat. Ketika Xie Hongyi mulai menarik pelatuk, pria itu mendadak mengalami ketakutan yang sangat mengguncang pikirannya.
“Aih, aku lupa satu hal. Selain menjawab ya atau tidak, tidak menjawab juga aku akan menariknya.” Xie Hongyi berucap dengan polos. Lalu jarinya menekan pelatuk.
Tidak ada suara apapun yang terdengar.
Xie Hongyi tersenyum pada pria dihadapannya. Dia berkata dengan nada manis. “Kau beruntung.”
Sistem yang tidak terlihat, memilki pemikiran sendiri saat melihat perilaku Xie Hongyi. Bisa-bisanya dia mengeluh tentang Huang Long yang kejam, sementara dirinya sendiri tidak jauh berbeda dengan pria itu! Keduanya sama saja, akan menggunakan kekerasan untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Tidak tahu apa yang terjadi dalam otak sistem, Xie Hongyi melanjutkan tindakannya. Dia menggeser tubuhnya untuk mendekat pada pelaku kedua. Wanita itu mengarahkan pistol berjenis revolver pada pelipisnya yang berkeringat. “Sekarang giliranmu. Berdoa saja semoga saat ini Buddha memberkatimu.”
Xie Hongyi mengulang pertanyaannya. “Apakah An Ziming yang menyuruhmu?"
Pria kedua juga mengalami ketakutan yang sama dengan pria yang pertama. Tapi, kepalanya juga keras seperti rekannya. Dia hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil memalingkan pandangannya ke arah lain. Jelas pria itu sedang ketakutan, dia bahkan menahan nafasnya.
Tangan Xie Hongyi menekan pelatuk. Dia kemudian menghela nafas. “Kau juga beruntung.”
Setelah Xie Hongyi bergeser lagi, pria itu akhirnya bisa bernafas.
Bagian selanjutnya, Xie Honyi mengambil jeda dengan bermain-main dengan pistol ditangannya. “Apa bisa keberuntungan terjadi tiga kali? Mari kita lihat apakah kamu juga beruntung seperti mereka.”
Ketika Xie Hongyi mengambil jeda, pria ketiga yang kakinya tertembak berpikir dengan cepat. Orang itu berkata jika mereka tertangkap, dia akan membantu mereka melarikan diri. Tapi pria itu tidak mengatakan apa-apa jika mereka terbunuh di tempat! Apa nyawanya sebanding dengan uang? Wanita itu juga benar, pria pertama dan kedua bisa beruntung tidak terbunuh oleh benda hitam itu, tapi beda dengan dirinya yang telah merasakan benda kecil itu bersarang ditubuhnya! Jadi sebelum Xie Hongyi mengulang pertanyaan untuk ke sekian kali, pria itu buru-buru berkata.
“Tidak! Bukan dia yang menyuruh kami.”
Pernyataan pria itu sukses dihadiahi tatapan panik dari kedua orang lainnya.
Salah satu dari mereka berteriak dengn panik. "Sudah kukatakan bahwa kami di suruh oleh An Ziming! Jika kau ingin membalas dendam, maka bunuh saja dia!"
Xie Hongyi yang diinterupsi merasa tak senang, dia lalu membentak dengan suara keras. "Diam! Aku tidak bertanya padamu!"
Xie Hongyi masih tetap mengarahkan pistol itu pada pria ketiga. Dia memutar-mutar tempat peluru pistol sehingga menimbulkan suara besi beradu. Dalam pikiran pria ketiga, suara itu seakan menjadi suara pengantar kematiannya.
“Lalu, siapa itu?”