
Menyadari bahwa pasukannya belum kembali, Wu Zhantian sedikit mengernyitkan alisnya. Prajurit yang berdiri diam disampingnya angkat suara. "Kenapa mereka belum kembali? Apa mereka diserang pasukan selatan?"
"Tidak mungkin. Kekuatan mereka sedang melemah." Bantah Wu Zhantian.
Yang mengirim orang untuk membuat pasukan Utara memang dirinya. dia berencana untuk menyerang markas mereka ketika pasukan tambahan datang. Dia juga yang menyuruh para prajurit agar menyerang pihak medis lawan agar tidak ada yang menyembuhkan mereka.
Lama mereka menunggu, namun pasukan yang diperintahkan untuk memeriksa tak kunjung kembali. Wajah Wu Zhantian sedikit berubah, khawatir ini adalah jebakan.
Pada saat ini, seseorang datang. Pria itu memakai baju berwarna biru, dengan pelindung dada dan topi khas prajurit menghampiri tenda Wu Zhantian. Wajahnya sedikit hitam dan beberapa helai rambutnya mencuat keluar. Jenderal Utara itu mengenalnya sebagai salah satu prajurit yang dikirim untuk memeriksa tadi. "Apa yang terjadi? Dimana yang lainya?" Wu Zhantian bertanya saat melihat bahwa hanya prajurit itu yang kembali.
Prajurit itu menjelaskan secara langsung. "Jenderal, kembang api itu ternyata adalah sinyal untuk meminta bantuan dari pasukan Selatan."
Mata Jenderal Wu melebar. "Lalu?"
Prajurit itu berkata. "Tapi itu tenyata adalah usaha terakhir mereka, karena ketika kami sampai di sana, beberapa pasukan selatan yang tersisa menyerang kami. Semuanya mati, kecuali aku yang berhasil menyelinap pergi."
Wu Zhantian memegang dagunya sambil berpikir. "Sinyal telah diaktifkan, itu berarti kita harus menyerang mereka secepatnya sebelum bantuan datang. Persiapkan diri kalian, kita akan menyerang markas mereka sebelum matahari terbit."
Tidak ada yang menyadari bahwa mata prajurit yang membawa pesan itu memiliki tatapan kosong.
Beberapa saat yang lalu.
"Apa kami ingin hidup?" Xie Hongyi berjongkok sambil bertanya pada salah satu prajurit Utara yang masih sadar setelah tersengat listrik.
Prajurit itu mengerang rendah. Dia tidak pernah tahu bahwa pasukan selatan mempunyai senjata yang hebat seperti itu! Walau tidak membuat nyawa melayang, tapi itu ternyata cukup untuk melemahkan kekuatan para prajurit. Dia ingin sekali melaporkan hal ini kepada Jenderal nya, tapi setelah terjebak oleh jebakan itu, dia tidak bisa menggerakkan satu pun anggota badannya. "Aku lebih baik mati daripada mengkhianati Utara." Akhirnya setelah mengeluarkan seluruh tenaga sisa, prajurit itu berbicara.
Xie Hongyi berdecak. Dia kemudian mengeluarkan pil yang berwarna hitam dan merah, lalu meminumkannya kepada prajurit Utara. "Ck, kau sangat setia, tapi sepertinya kau tidak punya pilihan lain selain menurutiku."
Pil hitam dapat menyembuhkan seseorang yang tubuhnya tersengat listrik. Secara cepat pil itu akan memperbaiki bagian tubuh yang rusak dan membuat tubuh cepat pulih. Sedangkan untuk pil satunya, itu adalah pil kepatuhan. Setiap orang yang meminumnya, dia akan menuruti segala perintah orang yang memberi pil itu padanya.
Segera setelah kedua pil itu masuk ke tubuh, mata prajurit itu berubah menjadi tatapan kosong. "Beritahu pada Jenderal mu bahwa kembang api ini adalah tanda sinyal bantuan dari pasukan selatan sebagai upaya terakhir." Xie Hongyi berkata padanya.
Dengan itu, prajurit itu kembali ke markasnya dan melaporkan apa yang telah diperintahkan Xie Hongyi.
Ketika subuh tiba, pasukan Utara datang menyerang. Mereka membawa sekitar seribu prajurit yang langsung menyerang ke markas pasukan selatan. Namun ketika mereka hampir sampai, tiba-tiba hujan panah turun, dan menimpa sebagian prajurit. Karena serangan mendadak itu, Wu Zhantian kehilangan seperempat pasukannya.
Wu Zhantian mengerutkan keningnya. Bukankah para pasukan selatan semuanya mati? Lalu siapa yang meluncurkan anak panah ini? Wu Zhantian memiliki perasaan tidak enak. Benar saja, pada saat hujan panah itu berhenti, ratusan orang menyerang mereka dan akhirnya kedua pihak bertarung.
Ketika ia selesai menusuk tenggorokan musuh, seorang prajurit berteriak. "Jenderal! Markas kita telah diserang!"
Bagaimana mungkin? Dia kemudian menolehkan kepalanya ke arah tempat markasnya. Matahari yang hampir terbit menyinari sebagian langit, dan terlihat jelas bahwa dari arah timur ada sekumpulan asap yang membumbung tinggi. Wu Zhantian tidak punya waktu untuk berpikir lebih lanjut dan kemudian dia dengan lebih ganas menyerang musuhnya.
Ketika matahari setinggi bambu, perang akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda berhenti. Pasukan Utara semuanya terbunuh, hanya menyisakan Jenderal Wu dan 3 orang prajurit saja. Sementara itu, pasukan Selatan meraih kemenangan dengan dua puluh orang yang selamat.
Wu Zhantian dan prajurit sisa dikepung seperti ayam yang disambung. Mereka jelas-jelas sudah kalah, tapi tetap tidak mau menyerah. "Sebagai Jendral, kurasa kau tidak bijaksana dalam mengambil keputusan." Telinga Wu Zhantian mendengar suara wanita.
Xie Hongyi keluar dengan langkah malas. Pakaiannya berkibar ditiup angin. Dia memiliki wajah dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Di samping Xie Hongyi, ada Huang Long yang berjalan bersamanya. Ketika Wu Zhantian melihat sosoknya, dia menggigit giginya. "Siapa kau?"
Xie Hongyi menjawabnya dengan nada santai. "Apa kau percaya aku adalah ayahmu?
Melihat wajah marah Wu Zhantian, Xie Hongyi terkikik. "Apa kau bercanda?" Wu Zhantian bertanya dengan geram.
"Tentu saja."
Jenderal Wu hampir memuntahkan darah. Pada saat ini, Wu Zhantian tidak menyadarinya bahwa ada sebilah pedang dilehernya. "Kamu kalah." Ucap orang yang memegang pedang, Jenderal Jiang.
Mata Wu Zhantian bergulir, dia mendapati tiga orang pasukannya juga terdapat sebilah pedang di leher mereka. Di tahu bahwa saat dirinya benar-benar kalah dan tidak ada gunanya jika berjuang lagi. Kemudian dia menjatuhkan pedangnya. Kini dia hanya bisa menunggu orang-orang ini mengeksekusinya.
Strategi yang direncanakan Xie Hongyi berhasil. Setelah mengirim prajurit Utara itu pergi, Xie Hongyi memberikan pil penguat tubuh pada pasukan Selatan. Pil itu bisa memberikan kekuatan dua kali lipat setelah orang meminumnya. Jadi tidak heran kenapa pasukan Selatan bisa menang, karena tubuh dan kemampuan mereka telah ditingkatkan. Xie Hongyi juga yang merencanakan penyerangan pada markas Utara di gurun pasir. Penyerangan markas dilakukan oleh Jenderal Mo, dengan memerintahkan prajurit yang sudah diberi obat oleh Xie Hongyi menunjukkan jalan untuk masuk ke dalam markas dengan jalan yang tidak memiliki pasir hisap sehingga perjalanan mereka lebih lancar. Pasukan yang berjaga di markas pasir itu hanya sedikit, jadi dengan cepat Jenderal Mo membereskannya.
Sekarang, wilayah gurun pasir yang memiliki batu berharga itu adalah milik kerajaan selatan. Mengetahui fakta ini, mata Huang Long sedikit cerah. Melihat wajah Huang Long yang berseri-seri, Xie Hongyi mengucapkan beberapa kata. "Yang Mulia sepertinya memilki suasana hati yang baik."
"Tentu saja. Wilayah gurun itu sudah diperebutkan selama beberapa tahun. Jadi ketika akhirnya wilayah itu jatuh ke kerajaan Selatan, Yang Mulia pasti sangat senang." Jenderal Mo yang baru tiba menimpali kalimat Xie Hongyi.
Xie Hongyi kemudian berkata lagi. "Karena strategi yang ku usulkan berhasil, Yang Mulia harus memberiku imbalan."
Mulut Huang Long sedikit berkedut. Dia kira wanita ini membantu dengan hati yang tulus, tapi ternyata dia melakukan ini agar diberi imbalan.
Wajah Jenderal Jiang juga sedikit berubah. "Aku tidak tahu bahwa Selir Xie adalah orang yang perhitungan."
Setelah Xie Hongyi mendengar ucapan Jenderal Jiang, dia segera membantahnya. "Jenderal, aku bukan orang yang perhitungan, tapi mencari untung itu saja."
Bukankah itu sama saja? Diam-diam orang yang ada di sana berpikir demikian. Sementara itu, Jendral Wu yang berada satu inchi ke kematian, telah dilupakan.