
Berbeda dengan situasi yang terjadi diluar, dalam Istana begitu tenang. Seolah-olah seperti malam-yang sebelumnya. Namun, ternyata yang tenang juga bukan berarti tidak ada riak.
Memanfaatkan situasi yang terjadi, beberapa orang menyusup masuk ke dalam Istana. Mereka berpakaian gelap, menyatu dalam bayangan dan mengendap-endap melalui sudut.
Penyusup itu dipimpin oleh seorang wanita yang tiada lain adalah mantan permaisuri, Shi Mian.
Dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa beberapa orang yang berada di Istana. Semua ini adalah perintah dari Shi XuanRan yang harus Shi Mian lakukan.
Mereka melakukannya dengan meniupkan pipa asap yang berisi obat tidur. Pekerjaan mereka berjalan mulus dan semua targetnya ditangkap.
Semua sandera itu Shi Mian kumpulkan di tengah bangunan Istana, yang tiada lain adalah Aula Awan tempat dimana takhta berada.
Shi Mian menangkap beberapa orang penting bagi Istana, seperti Ibu Suri dan beberapa anggota keluarga kerajaan.
Shi Mian mengerutkan keningnya. Ternyata ada ikan yang lepas dari jaring.
Shi XuanRan memerintahkannya bahwa orang yang paling harus diperhatikan adalah Xie Hongyi. Tapi anak buahnya tidak dapat menemukan keberadaan Xie Hongyi, bahkan jejaknya pun tidak terlihat.
"Cepat cari wanita itu. Jangan sampai dia lolos." Shi Mian memberi perintah pada anak buahnya yang telah menangkap target.
"Baik."
Shi Mian membawa beberapa anak buah yang pandai beladiri. Mereka juga merupakan anak buahnya yang paling setia karena sejak kecil telah dibesarkan oleh Keluarga Shi.
Satu-persatu, sandera yang ditahan Shi Mian sadar. Reaksi mereka beragam, ada yang menjerit minta dilepaskan yang segera ditangani oleh anak buah Shi Mian yang tersisa dan ada juga yang tetap tenang mengawasi situasi.
Ibu Suri mengalami reaksi yang kedua. Dirinya sempat terkejut karena tangannya diikat. Ingatan terakhir yang Ibu Suri rasa adalah bahwa dirinya sedang berada dikamar sambil menunggu dengan cemas. Ibu Suri tahu bahwa perang internal telah dimulai, karena itu dia tidak bisa tidur sama sekali. Kemudian entah kenapa, Ibu Suri merasa mengantuk. Lalu ia tertidur dan ketika ia sadar, pemandangan Aula Awan lah yang pertama kali ia lihat.
"Seharusnya aku tidak mempercayai mu." Ibu Suri tiba-tiba berbicara pada Shi Mian yang berada tak jauh darinya.
Shi Mian masih tetap tenang sambil memutar pisau ditangannya. Gerakannya begitu terampil, dan sepertinya dia sudah berlatih selama bertahun-tahun.
"Bagaimana bisa kau menyembunyikan diri begitu baik?"
Shi Mian masih tetap tenang.
"Permaisuri Shi, aku tahu kamu adalah orang yang baik. Aku juga tahu bahwa kamu terpaksa."
Setelah Ibu Suri selesai mengucapkan kata-kata itu, Shi Mian mendongakkan kepalanya.
"Aku tidak terpaksa, aku melakukannya dengan sukarela." Shi Mian menjawab acuh tak acuh. Namun, wajahnya yang cantik tiba-tiba melembut.
"Tidak, kamu dipaksa oleh Shi XuanRan untuk melakukan ini kan?"
Sepertinya, kata-kata itu telah menyentuh titik sensitif Shi Mian karena wanita itu langsung beraksi ketika Ibu Suri selesai berbicara.
"Yang Mulia Ibu Suri, sepertinya Anda banyak bicara."
Shi Mian mendekati Ibu Suri. Dia menatap dingin pada wanita paruh baya yang terikat didepannya. Dia sudah cukup bersabar berpura-pura patuh dan hormat padanya selama bertahun-tahun. Sekarang, waktunya tepat untuk menunjukkan jati diri, Shi Mian tidak perlu berpura-pura lagi.
Shi XuanRan tidak memerintahkan sandera harus hidup, jadi Shi Mian pikir bebas melakukan apapun pada mereka. Lagipula, mungkin juga mereka akan mati malam ini, Shi Mian hanya mempercepat waktunya saja.
Tangan Shi Mian yang memegang belati terangkat, siap menusuk Ibu Suri.
Sebuah pedang memblokir belati milik Shi Mian yang hendak menusuk ibu suri. Lalu, pedang itu kemudian bergerak dan menjauhkan belati itu dari Ibu Suri.
Shi Mian mundur beberapa langkah, dan kemudian dia tercengang melihat sosok yang mencegahnya membunuh Ibu Suri.
Rambut panjangnya diikat menjadi ekor kuda dengan pita berwarna merah yang panjang. Xie Hongyi memakai pakaian yang ketat, berupa rompi berwarna merah, jika dia merenggang kan perutnya, pusarnya akan kelihatan dan pahanya ditutupi celana pendek berwarna serupa. Kakinya yang panjang ditutupi oleh stoking hitam yang tampak transparan menutupi kulit pinggang dan betisnya, sementara itu, dikakinya dia memakai high heels yang tinggi dengan tali berbelit-belit.
Jika Shi Mian hidup di dunia modern dan sering membaca novel, mungkin dia akan menyamakan penampilan Xie Hongyi seperti pembunuh wanita misterius dalam kisah aksi.
Sistem telah meningkatkan nilai fisik, keterampilan dan daya tahan tubuh sehingga Xie Hongyi bisa bertarung selama beberapa jam. Kali ini sistem memberikan bonus yang banyak sebagai bekal misi terakhirnya yang dia lakukan.
Sistem belum menjawab apakah ia akan dikembalikan ke dunia nyata, atau jiwanya hancur dan tetap tinggal disini ketika misi telah selesai. Jadi Xie Hongyi hanya bisa menunggu apa yang terjadi ketika ia menyelesaikan misinya.
Pasukan pemberontak yang dibawa Shi Mian yang kebanyakan laki-laki itu melongo. Wajar karena mereka hidup di zaman konservatif dimana tubuh wanita hanya dapat dilihat oleh suaminya, juga sedari kecil mereka tidak pernah mengunjungi Rumah Bunga, jadi penampilan Xie Hongyi yang terbuka membuat mereka tak berkutik. Pikiran mereka kosong, hanya ada dua kata terlintas: Tidak senonoh!
Shi Mian langsung memulihkan pikirannya. Dia menyerang Xie Hongyi yang berdiri diam.
"Tidak kusangka, Yang Mulia Permaisuri juga sangat ahli bela diri." Komentar Xie Hongyi setelah dia dan Shi Mian bertarung selama setengah dupa.
Shi Mian tersenyum, tidak menggubris kata-kata Xie Hongyi dan terus menyerangnya.
Xie Hongyi sedikit kewalahan dengan gerakan Shi Mian yang lincah. Mantan Permaisuri Huang Long itu sangat pandai menggunakan senjata, sehingga Xie Hongyi yang mempunyai kemampuan menengah dibuat sedikit tak diuntungkan. Tapi, nasib baik karena sistem telah meningkatkan tubuhnya, jika tidak mungkin dari beberapa gerakan pertama ia akan tumbang.
Melihat Tuannya yang sedang bertarung, anak buah Shi Mian memutuskan untuk membantunya. Mereka bergerak bersama-sama untuk menyerang Xie Hongyi.
Xie Hongyi menyipitkan matanya saat ia diserang oleh beberapa orang. Dalam hati ia tak bisa menahan seruan, beraninya mereka mengeroyokku!
Xie Hongyi terdorong kebelakang saat ia menahan serangan senjata dari salah satu anak buah Shi Mian. Disaat itulah Xie Hongyi berteriak menyebutkan pelayannya satu-persatu. " Ling'er, Wan'er, Yin'er sekarang!"
Tiga orang lainnya muncul dalam kegelapan. Mereka kemudian melawan anak buah Shi Mian.
Pelayan Xie Hongyi melawan anak buah Shi Mian yang berjumlah sekitar sepuluh orang.
Kekuatan ketiga pelayan itu tidak bisa diremehkan. Mereka telah dilatih keras oleh Xie Hongyi agar bisa bela diri. Ketika Xie Hongyi pergi ke Utara pun mereka selalu berlatih setiap hari. Jadi sekarang, kekuatan mereka cukup untuk melawan beberapa orang.
Di satu waktu, Xie Hongyi lengah.
Shi Lian menusuk Xie Hongyi dengan belati. Darah seketika mengucur dari tempat Xie Hongyi terluka.
Ketiga pelayan Xie Hongyi yang melihat Tuan mereka terluka memanggil dengan panik. "Nyonya!"
"Fokus pada pertarungan!" Xie Hongyi berteriak.
Rasa sakit tidak membuat Xie Hongyi tidak sadar, dia tetap terjaga dan langsung memanggil sistem dalam hati.
"Sistem, cepat pulihkan aku!"
Sistem yang tidak terlihat, mulai melakukan tindakan. "Memperbaiki tubuh host dimulai..."
Lengan Xie Hongyi yang robek perlahan menutup dengan sendirinya dan berhenti mengeluarkan darah. Kecepatan pemulihannya dapat dilihat oleh mata telanjang. Shi Mian yang berada tak jauh, menyaksikan semua keanehan Xie Hongyi. Dia ingin bertanya, namun Xie Hongyi lebih dulu berkata, "Mengapa kau melakukan ini?"
Shi Mian menatap lurus Xie Hongyi saat ia menjawab. "Semuanya demi orang yang kucintai. Kau tidak akan pernah mengerti."
Hilang semua kelembutan dan keanggunan Permaisuri Shi yang Xie Hongyi kenal. Sekarang, hanya ada wanita yang pandangan matanya dipenuhi tatapan cinta dan obsesi.
"Ya, aku sama sekali tidak akan mengerti." Jawab Xie Hongyi acuh tak acuh, walau dalam hati ia menentangnya.
Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri bahwa Xie Hongyi melakukan ini bukan hanya untuk misi. Ada orang yang ingin dibantunya untuk naik ke posisi tertinggi. Xie Hongyi juga tak sadar bahwa dirinya akan melakukan apapun demi orang itu.
Keduanya kembali bertarung. Aula Awan yang biasanya digunakan mendiskusikan permasalahan dengan Kaisar, berubah menjadi arena tarung hidup dan mati. Pihak Xie Hongyi dan Shi Mian sama-sama keras kepala. Mereka menolak untuk menyerah sampai salah satu dari mereka tumbang.