
Tujuan Xie Hongyi mengajak Huang Long jalan-jalan adalah untuk menebus waktu itu, dimana mereka gagal melakukannya karena ada gangguan.
Xie Hongyi benar-benar ingin menebus nya, jadi dia dengan semangat menarik Huang Long untuk melihat segala hal yang menarik matanya.
Mulai dari jajanan makanan, toko baju, toko emas, restoran dan tempat hiburan lainnya.
Pada saat hari menjelang malam, Xie Hongyi mengajak Huang Long untuk pergi ke rumah bunga. Tetapi saat sampai disana, Huang Long memasang wajah buruk yang membuat Xie Hongyi ketakutan. Wanita itu ketakutan karena dia merasa Huang Long hendak membunuh orang.
Ayolah, disini bukan wilayah kita. Jika mereka berdua menyebabkan masalah yang tidak perlu, mungkin waktu keberangkatan mereka akan tertunda.
Dan tentu saja Xie Hongyi yang sangat ingin menyelesaikan misinya tidak mau hal itu terjadi.
Melihat Huang Long yang masih muram, Xie Hongyi pura-pura polos. "Yang Mulia, jangan marah. Aku tidak tahu bahwa rumah bunga itu ternyata adalah rumah bordil."
Tidak ada alasan khusus mengapa Xie Hongyi ingin mengunjungi rumah bunga. Dia hanya penasaran, apakah rumah bordil dari Utara dan Selatan itu sama, itu saja.
Ketika hari gelap, masyarakat Utara masih ramai berlalu lalang di jalanan. Mereka berkumpul untuk sekedar menggosip perihal peristiwa yang akan terjadi esok hari.
"Katanya, hukuman penggal akan di langsungkan di alun-alun kota. Jika istriku mengijinkan, aku akan pergi melihatnya."
"Untung aku belum punya istri, jadi aku tidak perlu bilang pada siapapun apa yang ingin kulakukan."
Percakapan itu terdengar dari salah satu kedai minuman yang berdiri di sebelah jalan. Di salah satu meja pelanggan, ada tiga orang pemuda yang berwajah pas-pasan sedang mengobrol sambil meminum minuman keras.
Salah satu dari orang itu tertawa saat rekannya selesai berbicara. "Hahaha, bukan belum tapi tidak laku?"
Rekannya yang dimaksud langsung bersuara dengan nada tinggi. Namun tidak ada yang memperhatikan karena didalam kedai itu sangat ramai, sehingga suaranya tenggelam. "Diam! Seleraku sangat tinggi. Aku hanya bisa dipuaskan dengan seorang wanita bangsawan atau kaya."
Suara tawa terdengar lagi.
Rekan lainnya berkata, "Kau saja hanya pedagang sayur beraninya mempunyai mimpi sebesar itu?"
"Humph, jika istriku nanti adalah seorang bangsawan, kalian akan menyesal. Kau dan kau, akan ku ingat wajah kalian."
Orang yang pertama kali mengejek berkata dengan acuh tak acuh. "Ya, ya. Terserah kau saja."
Dia kemudian bersuara lagi. "Aku tidak menyangka bahwa Lan Xu akan berbuat semenjijikan itu."
"Hei kau tidak boleh keras-keras bicara!"
"Memangnya kenapa? Bukankah dia akan mati besok? Merupakan suatu kehormatan jika sebelum mati banyak orang yang membicarakan tentangnya."
"Yah, kau benar juga. Aku sudah tidak sabar untuk melihat dia mati."
Sepertinya mereka kembali ke topik yang diperbincangkan.
Saat Huang Long dan Xie Hongyi masih berjalan-jalan, mereka mendengar serangkaian kata-kata seperti ini.
Xie Hongyi berhenti sejenak untuk mendengarkan orang-orang itu bicara. Dia kemudian bergumam dengan nada rendah. "Apakah menyaksikan kematian seseorang itu begitu menyenangkan? Mengapa mereka begitu bersemangat?"
Mereka bahkan belum merasakan sakit ketika kematian datang. Dan mereka berbicara seolah-olah tahu bagaimana rasanya.
Tentu saja dia mengetahui apa yang terjadi pada Selir Lan dan Lan Xu. Pada saat dia mendengar berita itu, yang Xie Hongyi rasakan hanyalah kekosongan.
Gumaman yang sangat pelan itu terdengar jelas oleh Huang Long yang memiliki telinga tajam.
"Ada apa?"
Xie Hongyi tersentak. Dia mengucapkan kata-kata itu secara tak sadar dan lupa bahwa ada ahli bela diri di sebelahnya. Dengan senyum canggung, Xie Hongyi menjawab, "Bukan apa-apa."
Mereka berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana jalan kota ini akan berakhir.
Semakin mereka berjalan menjauh, semakin sedikit orang yang terlihat. Rupanya mereka berjalan ke arah wilayah paling utara sehingga jarang orang yang tinggal disana karena di daerah itu adalah pegunungan yang rawan longsor dan binatang buas.
Langkah Xie Hongyi berhenti saat ia tiba di tepi lapangannya yang ditumbuhi rumput hijau. Ternyata dia secara tak sadar telah berjala ke arah salah satu bukit yang dekat dengan pegunungan.
Xie Hongyi tertegun saat menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya.
Xie Hongyi menjerit. "Aurora Borealis!"
"Host, dunia ini sudah sedikit di modifikasi oleh sistem, jadi akan ada sedikit perbedaan dengan dunia yang host tinggali."
Walaupun tidak bisa tahu apa yang dipikirkan Xie Hongyi, namun wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi dengan Aurora Borealis, jadi sistem bisa mengetahui apa yang ada di otaknya.
Oh ya, sedari tadi sistem memang bersama mereka berdua seperti roda ketiga. Dia tidak bisa menggunakan kemampuan kamuflase untuk menyamarkan dirinya di depan Huang Long. Hal ini sangat aneh dan sistem pun menjadi bingung. Untung saja, Huang Long tidak bisa mendengar telepati antara Xie Hongyi dan sistem.
Xie Hongyi dan Huang Long duduk dialasi rumput sambil memandangi cantiknya Aurora Borealis. Hasil dari pembiasaan cahaya dari suhu yang dingin itu memiliki beragam warna yang indah.
Xie Hongyi membuka mulutnya sambil menatap cahaya warna-warni yang terlukis di langit. "Betapa beruntungnya aku melihat pemandangan ini."
Diantara jarinya yang terlipat, ada sebuah benda kecil yang terselip di sana.
Huang Long yang hendak menjawab, secara otomatis mulutnya akan terbuka. Di saat bibir Huang Long berpisah, disaat itulah Xie Hongyi memasukkan pil penawar racun Lingtian dengan cepat. Tidak boleh gagal, Xie Hongyi menekan hidung Huang Long dengan tangannya yang lain agar pil itu mulus terjatuh ke dalam perutnya.
Huang Long meronta-ronta, namun Xie Hongyi menahannya dengan keras.
Penawar racun Lingtian harus diberikan saat penderitanya mengalami gejala. Jadi Xie Hongyi sengaja agar Huang Long tidak memakai pakaian tebal karena udara dingin dapat menyebabkan racun Lingtian bereaksi. Ini adalah alasan lainnya kenapa Xie Hongyi mengajak Huang Long jalan-jalan.
Huang Long dicekoki paksa, seperti seseorang remaja yang dipaksa teman-temannya meminum alkohol.
Dua bayangan di belakang Huang Long dan Xie Hongyi hendak mendekat saat melihat apa yang terjadi. Namun dengan gerakan tangan yang tidak terlihat oleh Xie Hongyi, Huang Long menghentikan mereka berdua.
Huang Long kemudian terbatuk dengan hebat.
Xie Hongyi dengan santainya menyodorkan gelas berisi air yang diberikan sistem. "Yang Mulia, minum."
Huang Long segera mengambil gelas itu dan meminum isinya. Akhirnya, pil bulat itu berhasil melewati tenggorokannya dan berhasil mendarat di lambung.
Setelah dia selesai, Huang Long menatap Xie Hongyi dengan tatapan rumit.
Apa wanita ini tidak bisa melakukannya dengan cara yang lebih baik? Kenapa dia harus memaksa memasukkan pil itu ke dalam mulutnya? Huang Long tahu bahwa pil yang Xie Hongyi masukkan bukanlah racun karena dia langsung merasakan hangat di seluruh tubuhnya.
Melihat tatapan Huang Long, Xie Hongyi langsung membela diri, tidak ingin disalahkan karena telah melakukan hal tidak hormat pada Kaisar. "Yang Mulia, jangan salahkan aku. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan racun dari tubuhmu."
Sementara itu ditempat lain, lebih tepatnya disebuah hutan yang ada di Selatan ada tiga sosok yang sedang dikejar oleh puluhan orang dibelakangnya.
Seketika hutan yang gelap itu menjadi terang karena cahaya lentera yang dibawa oleh kelompok pengejar.
"Ah!"
Salah satu dari orang yang dikejar itu tersandung oleh akar pohon sehingga menyebabkan ia terjatuh.
Dua orang lainnya langsung berhenti dan menolong orang yang terjatuh. "Ayo berdiri! Jangan sampai kita tertangkap!"
Sosok yang terjatuh itu mencoba berdiri, namun kakinya terkilir sehingga ia tidak bisa bangkit.
Dengan air mata bercucuran, sosok itu berkata pada dua orang yang tengah menyeretnya untuk berlari. "Tinggalkan saja aku sendirian. Kalian lari lah, nyawa kalian lebih berharga daripada milikku."
"Chen Linxi! Apa kau gila? Mana mungkin kami meninggalkanmu?"
Suara seorangpun wanita yang memohon terdengar. "Kakak pertama, Ibu Suri, aku mohon. Cepat pergi. Tinggalkan saja aku."
"Jangan bicara omong kosong. Ayo pergi."
Karena mereka bergerak lambat, kelompok pengejar itu semakin dekat. "Berhenti!"
"Cepat pergi!"
Orang bernama Chen Linxi itu menggigit bibirnya dengan erat hingga berdarah. Dia ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi karena tiba-tiba mereka tiba-tiba bertiga terjatuh. Rupanya, ibu suri terkena panah yang menancap di paha kanannya sehingga menyebabkan langkah mereka tidak seimbang.
Kelompok pengejar itu mengelilingi mereka bertiga dengan lentera, panah dan pedang di tangan.
Salah satu orang yang merupakan ketua dari kelompok itu berteriak. "Cepat tangkap mereka!"
Segera beberapa orang mulai mendekati Chen Xiang, Ibu Suri dan Chen Linxi.
Wajah ketiga wanita itu sangat pucat dan mereka panik. Apa mereka harus kembali ke kediaman Chen lagi?