The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 42



"Lumayan." Itulah komentar yang dikatakan Huang Long saat mereka akhirnya berhenti.


Lumayan katamu? Xie Hongyi hampir mati kehabisan nafas saat ini! Kenapa para pria di dunia ini tidak memilki simpati pada wanita?


Pada saat ini, seseorang datang menghampiri mereka. "Yang Mulia, utusan yang dikirim dari Timur telah kembali." Rupanya dia adalah seorang kasim.


"Kalau begitu aku akan pergi." Dia meminta izin pada Xie Hongyi. Kasim yang membawa berita memilki raut wajah yang penuh arti. Sejak kapan Yang Mulia Kaisar bersikap seperti itu pada seorang wanita?


Xie Hongyi tersenyum enggan dan menganggukkan kepalanya. Setelah Huang Long pergi, Xie Hongyi dengan cepat menurunkan senyumannya, lalu berbalik menghampiri Pangeran Jue yang masih duduk di kursi. "Ibu sangat hebat!" Mendengar pujian dengan nada kekanakan, Xie Hongyi tidak tahan untuk memeluk Pangeran Jue. Suasana hati yang sempat dirusak oleh Huang Long tadi seakan menghilang saat dia melihat Pangeran Jue.


"Ah Jue-ku sangat manis!"


Langit mulai gelap saat Xie Hongyi dan Pangeran Jue pergi dari sana.


***


"Seorang selir yang memliki penawar racun dan menemukan jasad Putra Mahkota?" Seorang pria yang memakai baju putih berkata dengan sarkastik. Wajahnya tidak terlihat karena ditutupi oleh sebuah kain sutra halus.


Dia berkata lagi. "Kita lihat apakah kau berhasil lolos atau tidak kali ini."


Pria berbaju hitam kemudian berbalik. "Kalian harus membunuhnya." Dia berkata pada beberapa orang yang sedang berlutut di depannya.


"Baik Tuan." Sedetik kemudian mereka pergi, hanya menyisakan pria berbaju putih di sana.


***


Keesokan harinya, salju turun untuk pertama kalinya di awal musim dingin. Langit terlihat mendung, dan udara menjadi semakin rendah.


Kebanyakan orang akan memilih berada di tempat tidur saat awal musim dingin, tapi untuk beberapa orang seperti Huang Long yang memilki kesibukan yang padat, hal itu tidak menjadi hambatannya untuk terus melakukan tugasnya.


Dia sedang membaca informasi yang dikirimkan oleh utusannya kemarin. Hari ini, dia ingin membahas informasi ini di pengadilan. Tapi, pikirannya sedari tadi tidak bisa fokus sama sekali. Perasaannya mengatakan sesuatu akan terjadi. Dia tidak tahu apakah itu adalah hal yang baik atau buruk.


Karena tidak bisa mengalihkan perhatiannya, Huang Long membanting kertas yang berisi informasi. Dia kemudian membuka mulutnya untuk memanggil seseorang. "Dugu An."


Sosok Dugu An muncul secara tiba-tiba dan langsung berlutut di hadapan Huang Long. "Aku ingin kau mengawasi perjalanan Selir Xie."


"Baik."


Xie Hongyi telah duduk di kereta dan siap untuk berangkat. Kali ini, dia membawa semua pelayannya. Xie Heiyang telah pergi terlebih dahulu kemarin, jadi Xie Hongyi tidak bersamanya pergi ke kediaman Xie.


Menjelang siang dia akhirnya pergi. Di sepanjang jalan, dia memerhatikan aktivitas masyarakat yang kini tidak sepadat waktu lalu. Dia juga kadang-kadang bersin saat butiran-butiran salju turun.


Jalan yang dilalui Xie Hongyi sekarang berbeda dengan jalan yang ia lewati waktu berkunjung ke kediaman keluarga Xie waktu itu. Dia tidak tahu ada berapa jumlah jalan utama di Ibukota.


Pada saat tatapan tertuju pada sebuah bangunan, sistem tiba-tiba berkata. "Perhatian, misi sampingan telah dipicu. Silahkan pergi ke Paviliun Tujuh dalam waktu lima belas menit." Xie Hongyi langsung menyuruh kusir untuk berhenti di Paviliun Tujuh sambil diam-diam mengusap bulu sistem. Mata rubah sistem menyipit saat tangan Xie Hongyi membelainya dan dia mendengkur senang.


Tindakannya membuat ketiga pelayannya penasaran, namun mereka tidak bertanya. Mereka yakin Nyonyanya memiliki tujuan sendiri.


"Nyonya, kita sudah sampai di Paviliun Tujuh." Kusir yang berada di depan kereta berkata.


Xie Hongyi turun dari kereta diikuti oleh ketiga pelayannya. Ketika ia hendak masuk ke dalam paviliun, Xie Hongyi mendengar keributan di depan bangunan itu. Seorang pria berkata dengan memohon. "Tabib tolong lah Tuanku. Aku akan membayarmu berapapun."


Tampak beberapa orang berkerumun di depan Paviliun Tujuh. Mereka berbisik-bisik sambil menatap sesuatu.


"Orang ini tidak bisa diselamatkan. Walaupun kau pergi ke paviliun medis manapun, aku yakin tidak ada yang bisa mengobatinya. "Xie Hongyi mendengar suara seorang pria menjawab dengan nada yang tidak puas. Mungkin dia kesal karena orang itu terus memaksanya.


Suara pemohon itu menjerit. "Tidak! Tuanku tidak boleh mati!"


Mendengar ada seseorang yang terluka, Xie Hongyi bergegas menghampiri. Di depannya, ada seorang pria berusia sekitar dua puluh tahun berbaring dipenuhi oleh darah. Wajah pria itu putih dan nafasnya berjalan dengan lambat. Jika dia tidak ditangani sekarang, mungkin dia akan segera mati. "Minggir, biar aku yang mengobatinya."


Seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah orang yang bekerja di paviliun memberi peringatan pada Xie Hongyi. "Nona, kamu jangan sembarangan. Dia tidak bisa diselamatkan. Jadi sebaiknya kau tidak melakukan hal yang sia-sia."


Mulut Xie Hongyi bergerak-gerak. "Bagaimana jika aku bisa menyelamatkannya?"


Petugas itu berkata dengan sombong. Dia yakin wanita muda ini tidak akan bisa menyelamatkan seseorang yang kehilangan banyak darah. "Maka aku akan memotong jariku sendiri."


"Ada banyak saksi di sini. Kau tidak bisa meludahi kata-kata mu." Pria pemohon tadi tidak peduli oleh siapa Tuan-nya diobati. Hal yang terpenting baginya adalah keselamatan pria itu. Jadi ketika Xie Hongyi berkata bisa menyelamatkan pria itu, dia sangat bahagia.


Petugas itu berkata dengan merendahkan. "Hmmphh, wanita lemah sepertimu percaya diri bisa menyelamatkannya? Nona sebaiknya kamu segera bangun dari mimpimu. Melihat penampilanmu, kau lebih pantas disebut pelacur daripada tabib." Ucapan petugas membuat semua orang terkesiap.


Xie Hongyi tidak peduli dengan kata-kata menyakitkan yang diucapkan, dia segera mulai mengobati pria itu. Pertama-tama, dia menjahit luka yang ternyata ada di seluruh bagian tubuhnya. Terlihat dahi pria itu mengernyit menahan sakit, tapi dia tidak membuka matanya. Xie Hongyi juga sedikit heran, dengan luka sebanyak ini pria itu masih bernafas. Jika itu orang biasa, dia mungkin sudah terbang ke surga. Setelah selesai, dia memakaikan perban lalu memberikan pria itu pil tambah darah. Sebenarnya, pil itu ia gunakan pada saat bibi besar datang. Tapi karena ia enggan menukarkan poin, dia terpaksa menggunakannya.


Semakin Xie Hongyi bergerak, wajah petugas itu semakin berubah. Kini dia yang memliki warna wajah pucat saat Xie Hongyi selesai. "Kau bisa memeriksa nya." Xie Hongyi berkata sambil mencuci tangannya.


Petugas dengan ragu-ragu memeriksa denyut nadi sang pria. Walau masih lemah, dia merasakan bahwa nyawa pria itu tidak terancam. Sudut mulut Xie Hongyi menyeringai dengan lebar saat menyaksikan petugas yang diam-diam panik. Kesombongan dan sifat arogannya tadi menguap entah kemana. "Bagaimana?" Xie Hongyi menaikkan salah satu alisnya. Tindakannya itu membuat seseorang yang diam-diam memerhatikan dari sudut yang tidak terlihat, terpesona.


Petugas itu tidak bicara. Tiba-tiba dia bersujud di depan kaki Xie Hongyi. "Nona ,aku mohon ampunilah aku."


Xie Hongyi berucap dengan santai, seperti seseorang yang mengucapkan selamat pagi. "Seorang pria tidak boleh ingkar dengan kata-katanya sendiri. Sini, biar aku yang memotong jarimu."


Petugas itu masih bersujud dan tidak bangkit. Dia lebih rela menahan malu di sebut pria pengecut daripada kehilangan satu anggota badannya. Melihatnya bertindak seperti siput dalam keong, Xie Hongyi berdecak. "Ck. Ling'er, Wan'er, buat dia bangkit."


Berkat latihan keras selama beberapa minggu yang membuat fisik mereka menjadi lebih kuat, kedua wanita itu dengan mudah mengangkat sang petugas dan membuatnya berlutut. Xie Hongyi memainkan belati tajam yang entah dia dapat darimana di tangannya. Petugas itu ketakutan saat melihat bilah belati yang berkilau, dia berontak namun berhasil di tahan oleh Ling'er dan Wan'er.


Xie Hongyi memotong jari kelingking petugas. "Ah! Nona aku adalah penjaga Paviliun Tujuh. Kau tidak boleh melukaiku atau keluarga Xie akan membalas perbuatanmu!"


Xie Hongyi membalas perkataannya dengan memotong jarinya yang lain. Dia berkata dengan acuh tak acuh. "Lalu?"


Dia paling tidak suka dengan orang yang memandangnya rendah.


Wajah petugas itu dipenuhi air mata. Ia berkata sambil memohon. "Nona, tolong berhentilah. Aku menyesal."


Diam-diam sistem bergetar saat melihat adegan ini.


Xie Hongyi akhirnya berhenti saat semua jarinya terpotong. Kemudian dia melemparkan potongan jari itu ke halaman. Segera setelah jari-jari itu terlempar, beberapa ekor anjing datang dan memakannya. Melihat anggota tubuhnya yang hilang ke perut hewan, petugas itu memekik lalu pingsan.


Petugas lain yang sedari tadi diam menyaksikan, segera mengangkat petugas itu ke dalam paviliun.


"Itulah akibatnya jika kau meremehkan seseorang." Xie Hongyi berkata sebelum dia pergi dari sana.


Dia mendengar beberapa orang yang tadi diam mulai berbicara. "Nona itu sangat kejam."


"Ssst, pelankan suaramu. Petugas itu memang pantas di beri pelajaran. Dia selalu pilih-pilih saat mengobati pasien dan meminta harga yang lebih."


"Benar juga."


Saat Xie Hongyi hendak masuk ke dalam kereta, seseorang tiba-tiba berteriak. "Nona tunggu!"


Orang yang berteriak adalah pria pemohon tadi."Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan Tuanku. Mohon terimalah benda ini sebagai rasa terimakasihku."


Pria pemohon itu memberikan Xie Hongyi sebuah token yang terbuat dari giok berwarna merah. Token itu sangat berkilau ketika terpapar oleh cahaya, menjadikannya terlihat sangat cantik. "Terimakasih kembali." Xie Hongyi mengulurkan tangan untuk mengambil token.


Sebenarnya tadi dia memang membantu dengan tulus, tapi tidak baik menolak kebaikan seseorang.


Setelah melihat pria pemohon masuk kembali ke dalam, Xie Hongyi kemudian kusir untuk pergi, tanpa menyadari hal yang aneh. Kusir itu tanpa suara memecut kuda untuk bergerak.


Sementara itu, seseorang yang sedari tadi menyimak dalam diam, berkata pada seseorang dibelakangnya saat menyaksikan Xie Hongyi pergi. "Aku ingin tahu siapa wanita itu. Cepat selidiki dia!"


Awalnya dia kebetulan melihat keributan di depan Paviliun Tujuh. Kemudian minatnya tergugah saat melihat seorang wanita cantik yang datang dan mengobati pria yang hampir mati.


Dia tertarik dengan wanita itu.


Mungkin, disukai oleh seseorang adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian wanita. Tapi jika disukai oleh Tuan Muda ini, lebih baik bunuh diri.


"Baik Tuan." Orang dibelakangnya menjawab.


Saat kereta berjalan, Yi'er tidak bisa menahan diri untuk bertanya ketika melihat Xie Hongyi memainkan token. "Nyonya, benda apa itu?"


Xie Hongyi menjawab dengan nada malas. "Entahlah. Mungkin hanya perhiasan."


Pada saat ini, Ling'er yang melihat keluar berkata dengan nada yang dalam. "Nyonya, ada yang salah dengan kereta ini."


Sebelumnya Xie Hongyi menyahut, sebuah bilah pedang yang terlihat sangat tajam menembus dari atas kereta dan hampir melukai pipi Yi'er. Yi'er segera berteriak. "Ahh!" Pedang itu sangat dekat dengan wajahnya. Jika sejengkal lagi pedang itu digerakkan, bilahnya akan dengan mudah merobek kulitnya.


Merasakan hal yang tidak benar, Xie Hongyi berteriak. "Keluar dari kereta sekarang!"


Tapi kereta sedang berjalan. Jika mereka melompat sekarang, mereka pasti akan terluka. Melihat pelayannya yang enggan bergerak, Xie Hongyi menggigit giginya sendiri lalu mendorong satu-persatu para pelayannya.


Xie Hongyi yang terakhir keluar dari kereta, berguling-guling di atas tanah. Kemudian saat dia berhenti, Xie Hongyi melihat kereta itu menabrak sebuah pohon dan orang yang berdiri di atas kereta segera melompat turun. Kuda yang menarik kereta telah pergi entah kemana. Yi'er yang berbaring tak jauh dari Xie Hongyi lantas berteriak. "Pembunuh!"


Kemudian beberapa orang yang berpakaian sama dengan pria itu muncul dari arah yang berbeda.