
"Xiao Zhang, orang seperti apa Kaisar Utara?" Xie Hongyi tiba-tiba bertanya. Tatapannya masih terarah ke api yang sedang menyala.
Xie Hongyi menoleh untuk melihat Xiao Zhang yang tidak bersuara. "Aku tahu kalau kau memanfaatkan kami untuk pergi ke Utara agar orang yang mengejarmu tidak akan berani bertindak."
Xiao Zhang membenarkan dalam hati.
Pada saat itu dirinya tengah melakukan pertarungan dengan kelompok prajurit Utara, dan dia terluka. Xiao Zhang kemudian melarikan diri, tapi sayangnya dia tersesat. Dia kemudian ditemukan oleh perampok gunung. Karena dia bukan wanita, tapi wajahnya sangat indah walaupun sedang terluka, para perampok gunung itu memutuskan untuk menjualnya ke pasar gelap. Lalu kemudian dia bertemu Xie Hongyi.
"Dia selalu bertindak otoriter, berhati-hati dan terkenal dengan hatinya yang baik." Mengucapkan kata-kata selanjutnya, dia berkata sambil mencibir. "Orang seperti itu tidak tahu kebusukan yang ia lakukan dibelakang."
Xie Hongyi menanggapi. "Aku kira dia adalah pria tua yang hanya tahu bersenang-senang dan sebentar lagi masuk tanah."
"Jika seseorang dari Kerajaan Utara mendengar mu berkata seperti ini, aku yakin kepala mu sudah terpisah dari tubuhmu."
"Maka dia adalah orang yang berpikiran pendek. Seorang pemimpin yang baik harus mendengar keluhan rakyat jika dalam pemerintahannya tidak berjalan baik."
Xiao Zhang kembali mencibir. "Pikiranmu terlalu jauh. Kaisar adalah anak dari langit, siapa yang berani menentangnya?"
Hidup di zaman feodal memang sangat kejam. Jika saja kau tidak bisa menjaga lidahmu, maka nyawa tidak lagi berharga.
"Baiklah. Tapi, bukankah kau sama saja? Apa aku harus mengingatkan kata-kata mu yang menuduh Kaisar sebelumnya?"
"Aku sudah terbiasa mengucapkannya."
Hebat. Xiao Zhang sudah sering mengejek seorang Kaisar tapi sampai sekarang kepalanya masih utuh.
Huang Long yang sedari tadi memperhatikan mereka berbincang, tiba-tiba berkata dengan nada rendah. "Jangan bersuara."
Xie Hongyi dan Xiao Zhang lalu menutup mulutnya.
Di dengarkan dengan seksama, pada saat ini terdengar suara langkah kaki yang bergema di kejauhan. Sangat mudah untuk mengetahui siapa mereka.
Xie Hongyi berbisik. "Cepat padamkan api! Kita harus pergi dari sini!"
Kelompok musuh telah berhasil menyusul. Mereka tanpa suara bangkit dan pergi dari sana. Memanfaatkan malam yang gelap, mereka berjalan menyusuri tempat itu.
Tidak lama kemudian, beberapa orang berkuda sampai di tempat Xie Hongyi pernah singgah. Mereka melihat jejak kayu bakar dan sebuah kereta yang ditinggalkan.
Salah satu orang melaporkan. "Tuan, keretanya telah ditemukan tapi tidak ada siapapun di sana."
Seseorang yang duduk di atas kuda, terlihat seperti pemimpin kelompok itu berteriak. "Cepat cari! Aku yakin mereka belum jauh dari sini!"
"Baik!"
Beberapa orang kemudian pergi untuk mencari. Mereka sempat menemukan jejak kaki, tapi jejak itu hilang karena tertimbun salju.
***
Xie Hongyi merasa hidupnya seperti buronan saat pihak musuh dengan gigih mengejarnya. Tapi mereka beruntung karena berhasil menghindari kejaran musuh, dan akhirnya tiba di wilayah Kerajaan Utara.
Perjalanan ke Utara memakan waktu selama beberapa hari sebelum akhirnya mereka sampai.
Mereka tiba di depan gerbang ibukota yang sangat tinggi dan megah, dinding bagian atasnya berkilau di sinari matahari. Mata Xie Hongyi melebar, bukankah yang ada di atas gerbang itu adalah permata?
Dia menjadi semakin bersemangat untuk masuk ke Ibukota.
Huang Long, Dugu An, dan Xiao Zhang berjalan di depan Xie Hongyi menuju gerbang.
Xie Hongyi menatap mereka bertiga dengan tatapan datar. Apa kelompok pria ini bodoh? Bagaimana bisa mereka dengan santainya berjalan ke tempat musuh tanpa memikirkan rencana apapun?
Xie Hongyi buru-buru menghentikan mereka. "Tunggu, apa kalian akan masuk dengan penampilan seperti itu?"
Ketiganya menoleh secara bersamaan. "Apa maksudmu?" Xiao Zhang bertanya. Dua orang lainnya juga menatap penasaran Xie Hongyi.
"Kita harus menyamar."
Xie Hongyi sudah memikirkan apa penyamaran yang harus mereka lakukan. Dia menyerigai menatap mereka bertiga. Yang ditatap Xie Hongyi merasakan dingin di dalam hatinya. Sekilas mereka juga merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Beberapa saat kemudian.
Melihat ketiga laki-laki berpakaian wanita yang terlihat 'cantik', Xie Hongyi tidak bisa menahan tawanya.
"Yang Mulia, apakah kita tidak bisa melakukan penyamaran lainnya? Sangat gatal memakai perhiasan ini." Dugu An mengeluh sambil mencoba melepaskan gelang ditangannya. Dia memakai pakaian wanita berwana hijau dengan rambutnya digerai dan dihiasi dengan perhiasan rambut perak.
Wajah Huang Long sangat buruk. Citranya sebagai Kaisar kejam benar-benar hancur saat ini. Dia memakai pakaian berwarna merah, bubuk mutiara di pipinya dan gincu, menjadikannya paling cantik di antara mereka.
Bukan Huang Long yang menjawab Dugu An, tapi Xie Hongyi. "Tidak. Ini adalah satu-satunya cara agar kalian tidak bisa dikenali."
Mereka bertiga menatap Xie Hongyi yang menyamar menjadi seorang pria, memakai pakaian linen kasar dengan rambutnya yang digulung seperti pendeta Tao.
Orang yang menjaga gerbang, terheran-heran saat melihat tiga orang wanita yang ukuran badannya sangat tinggi untuk wanita normal dan seorang pria pendek berjalan ke arahnya. Jika pengungsi, mereka tidak akan memakai pakaian dan begitu bagus. Tapi, mereka juga sepertinya bukan keluarga kerajaan karena tidak ada pasukan yang mengawal.
Penjaga itu langsung berkata ketika mereka sampai di hadapannya. "Tunjukkan tokenmu."
Xie Hongyi mengerutkan kening. Dia baru sadar bahwa mereka tidak bisa masuk tanpa tanda pengenal.
Dia lalu memilih untuk berpura-pura. "Kakak penjaga, mohon kasihanilah mereka. Mereka bertiga mempunyai suami yang sama, tapi dia tidak peduli dengan mereka."
"Setelah melahirkan anak, mereka segera di usir dari kediaman tanpa tunjangan apapun. Sebelum pergi, mertua, istri baru dan mantan suami mereka mengucapkan kata-kata yang membuat hati mereka sakit. Nasib mereka sangat menyedihkan."
Penjaga itu menyipitkan matanya. "Lalu kau siapanya mereka?"
"Aku adalah tetangga yang merasa kasihan pada mereka. Aku lalu membawa mereka untuk pergi. Mungkin di sini mereka akan menjalani kehidupan yang lebih baik."
Setiap kata yang diucapkan bagaikan sebuah pisau yang menyayat harga diri tiga orang pria yang dijatuhkan martabatnya oleh Xie Hongyi.
Mata prajurit penjaga itu sedikit memerah berusaha menahan tangis saat mendengar cerita Xie Hongyi. "Aku sangat terharu mendengar ceritamu, tapi kalian tetap tidak tidak bisa masuk tanpa token."
Ah, sia-sia Xie Hongyi berimprovisasi.
Xiao Zhang mendekat lalu berbisik pada Xie Hongyi. "Gunakan benda yang diberikan Xiao Ling padamu."
Xie Hongyi mengerti. "Tunggu, sepertinya aku punya tokennya." Dia merogoh saku pinggangnya lalu mengeluarkan sebuah benda pipih.
Setelah melihatnya, penjaga itu berkata: "Kalian boleh masuk."
Sebelum mereka pergi jauh, penjaga itu berteriak. "Semoga kalian bisa mendapat kehidupan yang lebih baik disini dan tetanggamu bisa punya suami lagi!"
Xie Hongyi hampir tersandung. Tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak lagi. Tiga orang dibelakangnya terlihat tampak tenang, namun di dalam hatinya ada semacam api yang membara.
Xie Hongyi benar-benar terpana saat dia mulai melangkah di wilayah ibukota.
Semua orang berjalan di ibukota, memakai pakaian musim dingin, berpenampilan tampan dan cantik serta menarik. Hal yang membuat mereka menarik adalah karena mereka memakai perhiasan yang sangat indah.
Orang-orang itu sempat memperhatikan kelompok mereka sambil berbisik-bisik. Tapi mereka tidak melakukan tindakan lebih lanjut dan hanya bisa mengawasi.
Saat Xie Hongyi mengagumi lingkungan di sekitarnya, Xiao Zhang pergi secara diam-diam.
Dugu An bersuara saat dia menyadari seseorang hilang. "Yang Mulia, orang Utara itu telah pergi."
Huang Long menjawab. "Biarkan dia. Aku yakin kita akan bertemu lagi dengannya."
"Lalu kemana sekarang kita pergi? Apakah kita akan langsung pergi ke Istana?"
Huang Long berujar singkat. "Mencari penginapan."
Xie Hongyi setuju. Dia juga sedikit lelah. Rencananya dia akan beristirahat sebentar, kemudian mencari informasi.
Mereka masih punya waktu sebelum pihak Utara mengetahui keberadaan mereka.
Pada malam hari, Xie Hongyi keluar dari penginapan tanpa memberitahu Huang Long ataupun Dugu An. Dia berjalan-jalan melewati jalan ibukota yang masih ramai, mungkin lebih ramai dari siang hari.
Xie Hongyi melihat sebuah restoran yang terlihat banyak dikunjungi orang. Dia kemudian memutuskan untuk masuk.
Ketika dia menginjakkan kaki di pintu masuk restoran, dirinya disambut sapaan ramah dari pelayan. "Silahkan masuk tamu terhormat." Pelayan itu kemudian membawa dirinya ke sebuah meja. Dia menanyakan pesanan, dan Xie Hongyi dengan tegas memesan teh.
Pelayan itu pergi dan tak lama kemudian dia kembali sambil membawa teko teh.
Xie Hongyi menyentuh cangkir itu dan mengetahui bahwa lapisan luarnya terbuat dari emas. Orang-orang di sini benar-benar royal.
Xie Hongyi mengentikan pelayan yang hendak pergi lagi. "Tunggu, bisakah aku bertanya sesuatu?" Sambil bertanya, Xie Hongyi meletakkan beberapa tael di atas meja.
Mata pelayan itu seketika berbinar. Dia dengan segera patuh berdiri di samping Xie Hongyi. "Nona bisa bertanya apapun padaku. Pelayan ini jamin akan memberimu tahu segalanya."
"Benarkah?"
Pelayan itu mengangguk seperti boneka dashboard mobil. "Tentu saja!"