
Beberapa saat yang lalu.
Setelah Xie Hongyi pergi di saat menjelang malam, tiga orang muncul dari kegelapan. Mereka memakai baju berwarna hitam sehingga tampak serupa dengan bayangan. Ketiga orang itu kemudian mengendap-endap ke dalam Kediaman Pangeran Yu. Tanpa ada orang yang menyadari, ketiganya kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan tanpa suara. Mereka menatap orang yang sedang tertidur dengan tatapan tajam.
Dua dari mereka kemudian mendekat ke arah tempat tidur, sementara yang satunya lagi berdiam diri untuk mengawasi. Salah satu orang yang mendekat ke arah tempat tidur mengeluarkan sebuah benda tajam. Pria yang satunya lagi mengangguk. Tangannya lalu membekap orang yang sedang terbaring di ranjang. Tidak ada respon yang seharusnya terjadi ketika pernafasan seseorang terhambat, namun keduanya tidak memperdulikan kelainan yang terjadi. Orang yang memegang benda tajam sejenis belati itu kemudian menghunuskan senjatanya ke dada orang di atas ranjang. Seketika darah mengalir deras ke kain pakaiannya dan ranjangnya pun ikut terkena darah.
Setelah berhasil menikam orang, orang yang sedang mengawasi mengambil lilin yang sedang menyala didekatnya. Dia kemudian mengarahkan lilin ke dekat meja yang dipenuhi dengan kertas berserakan. Api yang awalnya kecil itu kemudian membesar dengan sangat cepat. Melihat api yang mulai merembes ke arah yang lain, ketiga orang itu kemudian kabur melewati jendela.
Malang bagi nasib mereka karena setelah berhasil keluar, sudah ada beberapa penjaga yang mencegat mereka.
Dengan terbata-bata, salah satu pelaku yang menyebabkan kebakaran berbicara. “O-orang yang menyuruh kami memakai topeng. Kami tidak bisa melihat wajahnya. Dia hanya mengintruksikan untuk membunuh seseorang.”
Xie Hongyi masih bermain-main dengan pistol ditangannya. “Apa yang diberikan orang itu pada kalian?”
“Dia memberi kami uang.”
“Sesuai yang kuduga." Xie Hongyi mengambil jeda sejenak sebelum bertanya kembali. "Siapa orang yang akan kalian akan bunuh?"
"Orang bertopeng itu memerintahkan kami untuk membunuh seorang wanita yang berada di Kediaman Pangeran Yu. Dia menyebutkan bahwa wanita itu tinggal di salah satu bangunan mansion."
Hanya orang ketiga yang berbicara menjelaskan pada Xie Hongyi, sementara dua lainnya mencoba melepas ikatan tali. Mereka sangat ingin menutup mulut orang itu, tapi tidak bisa dilakukan dengan tangan mereka yang terikat. Sialan, bosnya terlalu banyak bicara!
Xie Hongyi menganggukkan kepalanya. Setelah mendengarkan cerita, dia menarik kesimpulan. Orang itu ingin membuat kejadian ini sebagai kecelakaan, jadi tidak akan nada yang tahu bahwa ada pembunuhan. Dan jika mereka ketahuan, An Ziming akan dijadikan sebagai kambing hitam.
Orang bertopeng itu pasti tahu bahwa Pangeran Yu dan An Ziming memilki konflik, sehingga dia bisa memanfaatkan situasi yang terjadi diantara keduanya. Orang bertopeng itu lumayan pintar untuk menabur perselisihan diantara Pangeran Yu dan An Ziming.
Xie Hongyi berpikir dengan keras, kira-kira siapa orang yang berencana membunuhnya? Apa dia telah menyinggung salah satu penjabat di Utara? Memikirkan hal ini, Xie Hongyi menjadi tercerahkan. Satu-satunya orang dalam Istana yang pernah terlibat dengannya hanya Yin Tianrui dan Selir Lan. Tidak mungkin Yin Tianrui berani menyuruh orang untuk membunuhnya di kediaman adiknya sendiri. Jadi, hanya ada satu jawaban yang tersisa. Semua ini adalah perbuatan Selir Lan.
Kebetulan dia memiliki urusan yang belum terselesaikan dengan orang ini, dan kali ini Xie Hongyi akan benar-benar bertindak.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Xie Hongyi memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dan sebelum dia menyentuh daun pintu, dia berbalik untuk menatap ketiga orang yang masih terikat. Dia lalu bicara dengan suara yang sedikit keras.
“Aku adalah orang yang kalian bunuh.”
Raut wajah ketiga orang yang terikat menampilkan reaksi keterkejutan. Mereka menatap Xie Hongyi seakan melihat hantu.
Senang dengan reaksi mereka, Xie Hongyi mengulum senyum diam-diam. Alis kirinya terangkat sedikit. “Terkejut karena melihat aku masih hidup? Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku masih bisa berdiri. Baiklah, aku akan memberitahu kalian.”
Tersenyum, Xie Hongyi memberitahu. “Orang yang kalian tikam sebenarnya hanya sebuah boneka.”
Sebelum Xie Hongyi pergi, dia meminta sebuah boneka yang mirip dengan dirinya pada sistem. Boneka itu kemudian dia tempatkan di ruangan miliknya. Tujuannya adalah untuk mengelabui orang dari Kediaman Yu yang mencarinya, sehingga dia tidak akan repot-repot menjelaskan kemana ia pergi. Tidak pernah Xie Hongyi sangka, hal yang hanya terlintas dalam pikiran itu ternyata berguna.
Sembari memikirkan hal itu, Xie Hongyi berjalan menjauhi gudang sambil melewati dua penjaga yang tergeletak tak sadarkan diri di dekat pintu luar gudang.
Tanpa Xie Hongyi sadari, setelah ia pergi dari tempat itu, sesosok bayangan melesat dengan cepat.
Dari sudut yang tidak jauh dari lokasi Xie Hongyi sebelumnya, ada dua orang yang melihat Xie Hongyi masuk gudang. Keduanya hanya diam memperhatikan sampai wanita itu keluar. Tidak lama setelah itu, seseorang yang lainnya datang. Tanpa berlama-lama, orang yang baru datang itu berbicara pada dua orang pria di kegelapan. “Yang Mulia benar, wanita itu sebenarnya adalah Selir Xie.”
Orang yang disebut Yang Mulia itu tidak bersuara, namun dari raut wajahnya dia tahu bahwa yang terjadi sesuai dengan dugaannya. Tapi satu hal yang membuatnya penasaran adalah, bagaimana bisa seseorang yang mengalami patah tulang dapat sembuh dalam waktu singkat? Bahkan jika seseorang itu tubuhnya memiliki reaksi penyembuhan yang cepat, waktu yang diperlukan untuk pulih dari cedera itu tidak akan sesingkat ini.
Huang Long dari awal memang sudah curiga, dan dengan kejadian yang terjadi hari ini, kecurigaannya semakin bertambah pada Xie Hongyi.
Sejak kejadian di pengadilan itu, sifat Xie Hongyi sudah mulai banyak berubah. Dia bukan lagi selir kesepian yang suka mengurung diri di kamarnya, tetapi berubah menjadi wanita yang memilki banyak tindakan.
Apa bisa seseorang merubah sifatnya dengan perubahan yang besar? Apa Xie Hongyi kerasukan? Huang Long tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau supranatural, jadi dia menyingkirkan dugaan itu.
Kecuali, apa itu benar-benar Selir Xie?
Malam ini, ada dua orang yang terikat dengan tali merah yang tak kasat mata memilki pikiran yang berbanding terbalik. Hingga sampai sepertiga malam, keduanya tidak dapat terlelap. Kemudian keduanya secara bersamaan membayangkan wajah satu sama lain dan perlahan, mereka akhirnya bisa pergi ke alam mimpi. Entah apa yang mereka pikirkan, namun satu hal yang pasti, keduanya tersenyum sebelum menutup mata.
Keesokan paginya, matahari bersinar dengan redup. Salju tipis turun dari malam tadi, sehingga di pagi hari orang-orang bisa melihat tumpukannya yang menutupi tempat-tempat.
Pangeran Yu pergi ke Istana setelah mendapat panggilan dari Kaisar. Tidak lupa dia membawa tiga pelaku yang telah menyebabkan kebakaran. Entah apa yang terjadi pada ketiganya tadi malam, ketika mereka akan dibawa pergi wajah mereka begitu pucat seperti semua darah mereka telah hilang. Penjaga Pangeran Yu berulang kali bertanya apa yang terjadi, namun ketiganya tidak mau membuka suara.
Setelah Pangeran Yu pergi, Xie Hongyi berniat menemui Huang Long. Jika Huang Long mengabaikannya lagi, dia akan menebalkan mukanya untuk terus 'menempel' pada pria itu.
Tujuan Xie Hongyi menemui Huang Long kali ini adalah untuk membahas kapan mereka pergi ke Selatan. Walaupun Xie Hongyi tidak begitu tahu keadaan disana, tapi berdasarkan apa yang dikatakan Huang Long tadi malam, keadaan disana pasti tidak begitu baik.
Mereka harus segera kembali. Jika Huang Long menanyakan perihal keadaannya yang pulih dengan cepat, Xie Hongyi sudah menyiapkan alasan.
Setelah lama berjalan, Xie Hongyi akhirnya sampai ke tempat Huang Long. Dia ingin mengetuk pintu kayu dihadapannya, tapi entah kenapa dia mendadak ragu.
Xie Hongyi lalu mengintip ke celah pintu. Dia hanya ingin memastikan apakah pria itu ada di dalam ruangan. Ketika dia mengintip, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Xie Hongyi tersentak dan langsung memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
Sosok yang muncul dari balik pintu itu tiada lain adalah Huang Long. Penampilannya masih luar biasa.
Saat kedua tubuh mereka berhadapan, mereka saling menatap satu sama lain. Entah kenapa situasi mendadak berubah menjadi canggung.