The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 59



Huang Long melalui hari dengan buruk. Setelah mengetahui bahwa Xie Hongyi tidak ada, dia merasa marah.


Setelah menghadiri pengadilan rutin yang diwarnai dengan suasana mencekam darinya, Huang Long kembali ke ruang kerjanya kemudian mengurung diri seharian. Pada siang hari, seseorang datang mengunjungi ruang kerjanya.


Seseorang yang datang itu adalah seorang pria yang nampak seperti berusia tiga puluhan. Melihat Huang Long yang berdiri menyambutnya dengan wajah khasnya, dia langsung berkata: "Sepertinya hari ini kau dalam suasana hati yang buruk."


Huang Long menjawab. "Paman."


Pria yang dipanggil paman oleh Huang Long tersenyum. Sosoknya terlihat begitu muda dan anggun dengan pakaian mewah yang menjuntai sampai mata kaki. Dipingangnya ada sebuah giok yang menggantung berwarna hijau dengan rumbai senada. Dia adalah Huang Ruifeng, paman dari Huang Long dan adik dari Ayahnya.


"Apa ada yang mengganggumu? Katakan siapa yang berani melakukan hal itu?"


Huang Long terdiam sejenak sebelum ia menjawab. "Aku bukan anak kecil."


Huang Ruifeng menatapnya. "Aku tidak berkata kau anak kecil."


Huang Long menatap pamannya tak berdaya.


Huang Ruifeng dulunya adalah seorang Jenderal yang hebat. Selama bertahun-tahun, dia menjaga perbatasan dan kembali ke ibukota setahun sekali hanya untuk melapor.


Dia diangkat menjadi Jenderal pada saat masa pemerintahan ayahnya, Huang Qingcang. Pada saat pemerintahan berganti, dia menunjukkan ketidakpuasan terhadap kinerja kakaknya yang menjadi Kaisar. Dia tidak kembali ke ibukota seperti kebiasaannya. Dia juga tidak tertarik dengan masalah yang ada di dalam Istana, oleh karena itu dia tidak tahu apa yang terjadi kemudian.


Baru setelah Huang Long berhasil merebut takhta, dia akhirnya pergi ke Ibukota, dan dia sangat puas melihat kecakapan keponakannya dalam mengatur pemerintah.


Huang Ruifeng berkata dengan jenaka. "Apa ini karena wanita?"


Melihat Huang Long yang terdiam, Huang Ruifeng semakin gencar menggodanya. "Siapa? Permaisuri atau Selir?"


Telinga Huang Long sedikit memerah, dan dia kemudian mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Bagaimana dengan Kerajaan Utara?"


Tiba-tiba Huang Ruifeng menjadi serius. Dia seolah berada dalam sebuah medan perang. "Mereka menarik pasukannya mundur. Tapi aku yakin dalam waktu dekat mereka akan kembali menyerang. Sekarang, beberapa perbatasan telah dikuasai oleh Kerajaan Utara. Aku telah mengerahkan pasukan untuk mengambilnya kembali. Tapi hingga sekarang, tidak ada berita dari mereka."


Terdiam sebentar, Huang Ruifeng melanjutkan. "Kemungkinan ini karena kematian Wu Zhantian. Jika kita menyerahkan pelakunya, mungkin saja mereka akan sedikit mereda. Yang Mulia, sampai sekarang apakah begitu sulit untuk menemukan pelakunya?"


Huang Long menggerakkan mulutnya. Tatapan matanya menerawang. "Sulit."


Pagi ini, Xie Hongyi melakukan ritual dengan para biksu lagi, tapi ada yang sedikit berbeda dengan kali ini. Para biksu itu tidak menahannya lebih lama dari biasanya.


Xie Hongyi menghela nafas. "Sistem, sampai kapan aku di sini?"


Sistem sedang berguling-guling di kasur dengan senang. Ekornya sudah kembali. "Sampai hari ini."


Setelah sistem berbicara, pintu diketuk. Xie Hongyi membukanya dan melihat seorang biksu junior berdiri di hadapan pintu. Biksu itu berkata bahwa biksu kepala meminta Xie Hongyi untuk berbicara dengannya.


Xie Hongyi mengikuti biksu junior itu ke sebuah ruangan. Setelah pintu ruangan itu terbuka, terlihat Biksu Han yang sedang duduk sambil berdoa pada patung Buddha.


Biksu Han langsung berbicara. "Amitabha, ini sangat aneh. Di dalam mimpiku, jelas ada sebuah roh jahat yang datang dan akan menghancurkan Kerajaan."


Xie Hongyi berkata dengan sedikit datar. "Mungkin kamu salah. Tidak semua ramalan menjadi kenyataan."


Biksu Han mengakui kesalahannya. "Amitabha, aku keliru."


Xie Hongyi menanyakan hal yang sangat ia inginkan. "Jadi apakah aku boleh pulang?"


"Ya." Biksu Han tiba-tiba berbicara. "Dulu, aku pernah bertemu dengan seorang gadis seperti mu. Aku memimpikan gadis itu dirasuki roh jahat, tetapi setelah melakukan upaya pengusiran, tidak ada yang terjadi."


Xie Hongyi menjadi tertarik. "Benarkah? Siapa itu?"


"Aku hanya ingat dia memiliki nama belakang Shen."


Pada saat Xie Hongyi membaca bab bagian yang menceritakan bagaimana Shen Wushuang meninggal, dia berdecak dan tidak bisa menahan gerutunya pada para selir dan Kaisar yang bodoh. Dia juga merasa kasihan pada protagonis utama yang kehilangan satu-satunya orang yang menyayanginya.


Bagaikan layang-layang putus, Huang Long pada saat itu menjadi linglung. Dia kehilangan arah. Untung saja, ada Permaisuri ayahnya yang menghibur dia. Xie Hongyi tidak tahu apakah Permaisuri itu tulus atau mempunyai motif lain.


Pada sore hari, Xie Hongyi akhirnya pergi dari kuil. Dia naik dalam kereta yang disewa.


Perjalanan awalnya berjalan mulus dengan tidak ada hambatan apapun, tapi pada saat makan hari, tiba-tiba salju turun begitu deras. Pengemudi terpaksa menghentikan keretanya disebuah jalan yang sudah dipenuhi oleh timbunan salju. Keretanya tidak bisa bergerak sama sekali.


Pengemudi kereta berkata: "Nyonya, kita harus berhenti karena kereta ini tidak bisa begerak. Di depan sana juga sepertinya ada badai salju. Sangat berbahaya jika kita melanjutkan perjalanan sekarang."


Xie Hongyi menjawab di dalam kereta. "Ya, tidak apa-apa."


Tiba-tiba ada sebuah panah yang melayang ke arah kereta Xie Hongyi. Pengemudi itu terkejut dan tidak sempat menghindar sehingga panah itu berhasil menembusnya dadanya. Dia seketika terjatuh ke atas salju dengan darah yang keluar dari tubuhnya.


Xie Hongyi yang menyadari ada yang salah, melangkah keluar. Dia melihat jasad pengemudi kereta dalam keadaan mata terbelalak. Xie Hongyi menatap sekelilingnya dengan waspada.


Dari kejauhan terdengar suara seseorang berteriak. "Tangkap dia!"


Seseorang tiba-tiba datang dari arah kanan Xie Hongyi. Orang itu dalam keadaan yang tidak baik, tubuhnya berlumuran darah. Ketika pria itu melihat Xie Hongyi, dia berhenti dan dengan mata melotot kaget melihatnya.


Xie Hongyi juga kaget. Dia bergumam. "Jiang Zhi?"


Beberapa orang berpakaian tiba-tiba muncul dari belakang Jiang Zhi. Mereka kemudian mengepungnya. Pria yang memegang sebuah pedang tajam berkata: "Kali ini kau tidak akan lolos."


Jiang Zhi mendengus. Saat mereka menyerangnya, dia pun dengan terpaksa melawan mereka.


Xie Hongyi yang tidak diperhatikan, menyaksikan pertarungan dalam diam. Dia menyadari juga bahwa sepertinya Jiang Zhi berada dalam keadaan yang terdesak. Dia hanya bisa bertahan saat mereka menyerangnya.


Xie Hongyi berkata dalam benaknya. "Sistem, jika aku menolongnya, apakah aku akan mendapat poin?"


Xie Hongyi tidak tahu kenapa sejak ia datang ke dunia ini, dia berubah menjadi orang yang perhitungan. Segala sesuatu yang ia lakukan, ia akan penuhi jika ada imbalan. Xie Hongyi tahu itu adalah perilaku yang buruk. Tapi, ia tidak bisa menahannya.


Sistem menjawab dengan ragu. "Emm, mungkin saja."


Sebuah pedang panjang hampir menebas bahu Jiang Zhi. Dia mengelak, dan barulah pada saat itu Jiang Zhi melirik Xie Hongyi. Dia meraung. "Kenapa kau tidak pergi?!"


Ini semua dimulai pada saat ia berada di gedung hijau pada biasanya. Namun dia tidak sengaja mendengar beberapa orang berbicara sesuatu tentang pembunuhan. Mereka menemukannya menguping, lalu berusaha membunuhnya.


Jiang Zhi tidak tahu berapa lama ia berlari. Dia tentu saja tidak bisa melawan mereka yang mempunyai seni bela diri yang lebih tinggi darinya.


Xie Hongyi menatap Jiang Zhi sambil mengangkat sebelah alisnya. Dia sepertinya harus membantu Jiang Zhi melawan para pria berbaju hitam. Dia kemudian bergerak cepat melawan mereka menggunakan sebuah belati. Xie Hongyi berhasil menghindari salah satu pria yang hampir menusuknya, memanfaatkan sedikit jeda, dia dengan tegas mengayunkan belatinya untuk menusuk titik vital pria itu dan berhasil.


Satu lawan berhasil ditumbangkan. Jiang Zhi menatap adegan didepannya dengan takjub, namun dia langsung tersadar saat seseorang ingin menebasnya lagi.


Dengan adanya bantuan Xie Hongyi, para pria berbaju hitam itu akhirnya berhasil dikalahkan. Mereka semua adalah ahli bela diri, tapi Xie Hongyi lihai memainkan beberapa trik dan membuat para pria itu kewalahan. Melihat orang-orang yang berbaring tak bergerak, Xie Hongyi bertanya pada Jiang Zhi. "Kenapa mereka mengejarmu?"


Jiang Zhi menatap Xie Hongyi sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Xie Hongyi sangat ahli dalam beladiri. Dia juga menjadi sedikit segan padanya. "Aku tidak sengaja mendengar mereka membicarakan tentang kematian beberapa selir waktu lalu. Kemudian mereka berucap bahwa merekalah yang membunuh selir itu." Jawabnya.


Sistem tiba-tiba berkata: "Selamat karena telah menyelesaikan misi menyelidiki kematian para selir. 300 poin telah ditambahkan ke akun kamu."


Ah, keberuntungan berada didekatnya. Tidak perlu mencari, malah itu datang dengan sendirinya. Xie Hongyi tersenyum puas dan menahan diri untuk tidak berteriak dengan girang.


Xie Hongyi kemudian berjongkok memperhatikan tubuh yang sudah kaku itu. "Kau tahu siapa mereka?"


Jiang Zhi yang sedang melihat lukanya sendiri menjawab. "Melihat gerakan bela dirinya, aku kira mereka berasal dari Kerajaan Utara."