
Kepala Keluarga Xie saat ini bernama Xie Junping, dimana dia adalah ayah dari Xie Hongyi.
Penulis hanya menceritakan sedikit tentang keluarga Xie. Selain ayahnya dan keluarga Xie adalah keluarga medis, Xie Hongyi tidak tahu apa-apa lagi tentang keluarga itu.
Jalan ibukota kuno yang dilalui oleh Xie Hongyi sangat ramai. Ketika ia melihat ke luar kereta, dia banyak melihat pedagang dan pembeli saling berinteraksi. Suasana seperti ini tidak ada bedanya dengan sebuah pasar tradisional yang sering Xie Hongyi kunjungi di masa lalu.
Nama ibukota itu adalah distrik Tenggara.
Masyarakat Kerajaan Selatan rata-rata bekerja sebagai pedagang dan petani. Para petani itu biasanya menanam bahan pokok seperti jagung, padi, singkong dan gandum.
Bahan pokok hanya dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selatan.
Ada juga orang-orang yang menanam bahan untuk membuat barang, seperti di distrik timur. Mereka menanam bahan untuk membuat pakaian, seperti menanam kapas dan membudidayakan ulat sutra.
Biasanya, bahan-bahan itu akan dijual kembali oleh saudagar yang memilki tanah ke negara lain.
Kain dari ulat sutra sangat disukai oleh bangsawan dari negara lain. Harganya juga sangat mahal. Jadi sumber daya itulah salah satu alasan kenapa Kerajaan Selatan maju.
Kereta mendadak berhenti. Xie Hongyi mengerutkan kening, lalu bertanya pada kusir didepannya. "Kenapa berhenti?"
"Maaf Nyonya, di depan sana ada kereta lain yang berhenti di tengah jalan." Kusir itu menjawab.
"Kalian benar-benar tidak becus! Membawa kereta saja kalian tidak bisa." Suara seseorang yang berteriak menarik perhatian Xie Hongyi.
"Maaf kan kami tuan. Kami bersalah." Kemudian mendengar ada suara lain menjawab.
"Tidak semudah itu aku memaafkan kalian. Jika kalian bersujud padaku sekarang, mungkin aku akan mempertimbangkannya."
Xie Hongyi mendengar nada arogan yang memerintah dan merasa sedikit kesal.
Orang yang ada di depan mereka pasti adalah generasi kedua bangsawan yang sombong. Sepanjang hidupnya, dia mungkin telah dimanjakan oleh keluarganya Memikirkan hal ini, Xie Hongyi pun memutuskan untuk keluar.
Seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun dengan wajah tampan yang angkuh, dengan mata yang sipit yang terlihat licik, berdiri dengan arogan dihadapan dua orang yang sedang bersujud. Xie Hongyi menebak bahwa yang berteriak tadi adalah pemuda itu, dan dua orang yang sedang bersujud adalah pelayannya.
Sekarang, banyak orang yang berkerumun disekitar. Mereka menyaksikan kejadian itu sambil berbisik-bisik.
"Tuan muda keluarga Jiang berulah lagi." Salah satu orang berbicara.
Suara orang itu terdengar jelas ditelinga Xie Hongyi.
"Kasihan mereka. Padahal mereka tidak sengaja melepas ikatan kuda karena kuda itu tiba-tiba mengamuk. Tapi kereta malah oleng dan hampir menabrak para pejalan kaki." dan yang lainya menyahut.
Kemudian Xie Hongyi mendengar rentetan kata-kata yang berisi tentang semua kejelekan tentang Tuan Muda ini. Orang-orang juga menyebutnya cabul, pemarah, penindas, sombong dan tidak bermoral.
Pemuda itu tidak merasa malu sekali saat dia menjadi sebuah tontonan.
Acuh tak acuh, dia tidak peduli bahwa kedua pelayannya terlihat bergetar karena sujud terlalu lama.
"Permisi, apa kamu bisa memindahkan kereta milikmu? Keretaku tidak bisa lewat."
Mendengar suaranya, pemuda itu pun menoleh dan melihat seorang wanita yang memakai cadar, dengan baju berwarna biru yang menjuntai ke bawah. Rambut wanita itu dihiasi dengan tusuk konde berbentuk bunga teratai yang menjadikannya terlihat anggun. Mata wanita itu bersinar cerah, membuat si pemuda itu sedikit tertarik.
Tapi ia juga sedikit kesal karena kesenangannya diganggu.
"Siapa kau berani memberi perintah padaku?" Pemuda itu memelototi Xie Hongyi.
"Aku hanya seseorang yang ingin lewat. Keretamu menghalangi jalanku. Jika kau tidak keberatan, tolong segera pindahkan keretamu."Xie Hongyi berkata dengan nada yang tenang.
Wanita itu berkata benar. Kereta yang tadi dia naiki menghalangi jalan yang hanya memilki lebar 5 meter. Pemuda itu melihat ada sebuah kereta dibelakang sang wanita, juga satu orang pelayan dan seorang kusir didekatnya. Dia pun menoleh ke arah samping dan memberi isyarat kepada pengawalnya.
Pengawalnya pun segera memindahkan kereta ke sisi yang lain.
Kedua pelayan itu bangkit saat kereta dipindahkan. Wajah mereka memerah, mungkin karena terlalu lama kepalanya menghadap ke tanah.
Xie Hongyi puas, lalu dia hendak naik ke keretanya ketika mendengar pemuda itu berkata.
"Tunggu. Aku belum mengizinkan mu pergi."
Xie Hongyi pun kembali berbalik dan dia bertanya. "Kenapa?"
Pemuda itu tidak menjawab, kemudian menghampiri Xie Hongyi dengan mulutnya yang menyeringai.
Mengerutkan kening, Xie Hongyi pun bertanya pada sistem siapa pemuda yang menampilkan senyum aneh itu.
Keluarga Jiang? Bukankah itu adalah keluarga Jenderal tertinggi di Selatan? Dia tahu karena di awal novel, keluarga Jiang diceritakan memiliki seorang anggota keluarga yang diangkat menjadi Jenderal dengan pangkat paling tinggi di kekaisaran.
Namanya adalah Jiang Wei, prestasinya di medan perang memang tidak diragukan lagi. Dengan kekuatan dan bakatnya di bidang militer, dia telah berjasa merebut pantai timur yang dulu sempat diduduki oleh Kerajaan Utara.
Pantai itu sangat penting karena merupakan pelabuhan terbesar yang menghubungkan jalur laut antara negara lain.
Kalau tidak salah, Jiang Zhi ini merupakan salah satu putra Jiang Wei dari istri pertamanya.
"Aku ingin melihat wajahmu, kalau kau tidak mau, maka aku tidak akan mengizinkanmu pergi." Setelah berkata seperti itu, tangan Jiang Zhi terulur mencoba melepas cadar Xie Hongyi.
Dengan refleks, Xie Hongyi menepisnya, membuat pemuda itu menunjukkan wajah marah.
Akan menjadi sebuah bencana jika wajahnya terlihat, apalagi dengan banyak orang yang akan melihatnya.
"Beraninya kau memukulku!" Pemuda itu meraung.
"Tidak peduli, jika aku tidak bisa melepaskannya, maka aku bukan Jiang Zhi."
Kemudian Jiang Zhi mencoba membuka cadarnya lagi. Merasa lebih kesal, Xie Hongyi pun menamparnya.
Suara tamparan itu sangat jelas, membuat orang-orang yang ada disekitar tertegun lalu menahan tawa. Pertama kali melihat Tuan muda pembuat masalah itu dipermalukan, hati mereka senang.
Jiang Zhi berada di puncak kemarahan nya. Pasalnya, ini adalah pertama kalinya ia ditampar dan dipermalukan didepan banyak orang.
Kepalanya menoleh ke ke kanan, bekas merah berbentuk telapak tangan tercetak jelas di pipinya.
"Anda harus sopan terhadap wanita. Jangan memaksanya. Jika kau bersikeras, maka hasil itulah yang kau dapatkan." Xie Hongyi berkata dengan datar.
"Beraninya kau menampar Tuan Muda ini, bahkan ayahku tidak pernah melakukan itu padaku!"
"Oh." Xie Hongyi menjawab dengan tidak peduli, lalu dia menampar pipi Jiang Zhi lagi.
"Kamu!"
"Aku adalah ayahmu. Jadi sekarang kau pernah ditampar oleh ayahmu."
Keberanian wanita ini sangat besar, selain bisa mempermalukan Jiang Zhi, dia bahkan tidak tahu malu mengaku sebagai ayahnya!
Para penonton semakin antusias. Mereka menantikan kejadian yang akan terjadi selanjutnya.
Sayangnya, hal yang terjadi tidak sesuai dengan harapan mereka.
Wanita pemberani itu malah naik ke kereta dan pergi dari sana. Para penonton kecewa, lalu segera membubarkan diri.
Xie Hongyi tidak ingin berurusan lama-lama dengan anak remaja cabul itu. Pergi ke kediaman keluarga Xie secepatnya lebih penting daripada meladeninya.
Melihat Xie Hongyi yang mengabaikannya lalu pergi begitu saja, Jiang Zhi hampir pingsan karena marah.
Lihat saja, ketika nanti ia bertemu dengan wanita itu lagi, Jiang Zhi akan memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan olehnya.
***
"Nyonya, sepetinya orang tadi adalah putra bangsawan kerajaan. Kita telah menyinggungnya, pelayan ini takut di masa depan dia akan membuat masalah." ucap pelayan yang Xie Hongyi bawa bersamanya, Yi'er.
Sementara itu, sang pembuat masalah, Xie Hongyi dengan tenang menjawab. "Tenang saja. Aku tidak takut dengannya. Lagipula dia yang memulai masalah dengan menghalangi jalan keretaku."
Kemudian Xie Hongyi teringat sesuatu. "Apa kamu tahu siapa Tuan Muda tadi?"
Yi'er menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak tahu. Selama dia menjadi budak, dia pernah tidak diizinkan keluar dari rumah majikannya. Oleh karena itu dia tidak mengenal bangsawan yang lainnya.
Melihat ketidaktahuannya, Xie Hongyi berkata. "Dia adalah Jiang Zhi, putra dari keluarga Jiang."
Ucapan Xie Hongyi membuat wanita itu terkejut. Walaupun dia tidak mengenal Tuan Muda itu, tapi dia tahu dari gosip temannya yang sesama budak bahwa Jiang Zhi terkenal dengan reputasi yang buruk. Temannya juga mengatakan bahwa seseorang pernah memprovokasi Jiang Zhi, dan sehari setelahnya orang itu mengalami kesialan sepanjang waktu karena Jiang Zhi membayar beberapa orang untuk mencelakainya. Jiang Zhi tidak membunuhnya karena dia senang memainkan hidup orang itu.
Dia khawatir Nyonya nya akan mengalami nasib yang sama, karena dia telah menyinggung Jiang Zhi, bahkan mempermalukannya di depan orang banyak.
Ketika dia hendak berbicara lagi, kereta berhenti.
Akhirnya setelah beberapa saat kemudian, mereka tiba di gerbang kediaman Keluarga Xie.