The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 84



Setelah berkeliling cukup lama, Xie Hongyi akhirnya menemukan keberadaan Huang Long. Huang Long tidak sendirian, pria itu sedang berbicara dengan Pangeran Yu di sebuah taman yang ada di kediaman.


Mereka tampak berada dalam pembicaraan yang serius. Xie Hongyi ingin menguping jadi dia meminta sistem untuk menukarkan poinnya dengan alat yang bisa membuat dirinya mendengar apa yang dibicarakan Huang Long dan Pangeran Yu.


"Jadi, kamu sudah naik takhta selama lima tahun? Aku kagum karena belum lama kamu menjabat, aku dengar Kerajaan Selatan mengalami kemajuan dalam beberapa bidang." Pangeran Yu berkata memuji.


Huang Long dengan suara kakunya menjawab. "Terima kasih."


"Apakah kamu punya selir?"


Ada jeda beberapa saat sebelum Huang Long menjawab. "Ada."


Ternyata hanya pembicaraan santai, tapi kenapa suasana diantara mereka berdua terasa tegang?


Mungkin inilah yang disebut menantu dan mertua adalah musuh alami. Xie Hongyi bergidik saat pikiran itu melintas di otaknya.


Tapi secara tidak langsung, memang benar bahwa Huang Long adalah menantu Pangeran Yu. Ya, walaupun Xie Hongyi dan Huang Long tidak menikah secara resmi. Tapi, saat ini adalah era feodal, dimana hanya ada tingkatan manusia di masyarakat yaitu raja, kaum bangsawan dan para hamba.


Kaisar adalah putra langit, jadi wajar jika dia memiliki banyak wanita tanpa ada ikatan pernikahan.


Tidak menikah tapi serumah, mungkin itu adalah hal biasa di kalangan raja dan bangsawan. Jadi, Xie Hongyi yang hidup di dunia ini tidak bisa mengajukan protes. Di dunia ini, hukum surga dan prinsip bumi dimana itu adalah pria bisa memiliki tiga istri dan empat selir berlaku, bukan hukum monogami seperti yang ada di dunianya. Mungkin memang ada beberapa orang kaya yang juga memilki lebih dari satu istri.


Xie Hongyi begitu larut dengan pikirannya sampai tak menyadari dua orang pria yang ia mata-matai berhenti bicara dan sekarang tengah menatapnya.


"Hong'er, apa yang kau lakukan di sana?"


Xie Hongyi begitu kaget sehingga hampir terjatuh.


Dalam keadaan yang masih linglung, Xie Hongyi menjawab. "Aku sedang melihat ikan koi." Dengan itu dia menunjuk kolam teratai. Mungkin karena pikirannya sangat dalam, posisinya yang tadi berdiri kini menjadi jongkok. Dia seperti anak kecil yang ingin mengetahui sesuatu hal baru.


Pangeran Yu melihat ke arah yang ditunjuk Xie Hongyi. Dia mengoreksi. "Sekarang musim dingin sehingga menyebabkan kolam membeku. Kebanyakan ikan koi di sana sedang hibernasi."


Seluruh permukaan kolam memang ditutupi dengan es tebal yang bisa dipakai untuk ski, sangat mustahil untuk melihat seekor ikan yang hidup di dalamnya. Kecuali jika ada orang yang membelah kolam itu.


Xie Hongyi menutupi kecanggungannya dengan tersenyum dan menggaruk kepala. "Oh benarkah?"


Dia kemudian berdiri.


Pangeran Yu adalah mantan Jenderal yang ke semua inderanya sangat tajam. Dia mengetahui bahwa Xie Hongyi menguping dari awal wanita itu datang. Tapi dia berpura-pura seolah hal itu terjadi karena tidak ingin putrinya kehilangan muka.


Suasana menjadi hening.


Xie Hongyi akhirnya bersuara memecah keheningan. "Emm, Tuan, aku ingin bicara sebentar dengan Yang Mulia."


Xie Hongyi masih ragu untuk memanggil orangtuanya dengan sebutan ayah dan ibu, jadi dia memanggil mereka berdua Tuan dan Nyonya.


"Baiklah. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Nikmati waktu kalian."


Pangeran Yu kemudian melangkah. Xie tidak begitu memperhatikannya karena sekarang ia sedang menatap lekat Huang Long, bersiap-siap akan sesuatu.


Benar saja, saat Pangeran Yu pergi Huang Long juga ikutan pergi. Xie Hongyi sudah mengantisipasi hal ini, jadi dia buru-buru menarik lengan Huang Long.


Xie Hongyi langsung berkata pada intinya. "Yang Mulia, apa aku pernah melakukan kesalahan padamu? Mengapa akhir-akhir ini Anda menjauhiku?"


Huang Long tidak menjawab. Keterdiaman Huang Long membuat Xie Hongyi cemas. "Kalau memang aku pernah membuat kesalahan, aku harap Yang Mulia berbaik hati memaafkan ku."


Xie Hongyi sangat gemas dengan Huang Long yang diam saja. Tapi, dia tidak menyerah walaupun tidak ada tanda-tanda pria itu akan menjawab


Melihat Xie Hongyi berwajah cemas, Huang Long akhirnya mau bicara. "Kau tidak salah." Xie Hongyi tidak salah, itu salah dirinya yang bereaksi berlebihan akhir-akhir. Tapi, Huang Long tidak berani mengungkapkannya pada Xie Hongyi.


Xie Hongyi menghela nafas lega. "Syukurlah. Tapi aku masih penasaran kenapa Yang Mulia menjauhiku."


"Tidak apa-apa."


"Apa?"


Huang Long menatap Xie Hongyi. Wanita itu kemudian tidak berani mengulang kembali perkataannya.


Sebenarnya, dari reaksi Huang Long Xie Hongyi sudah tahu mengapa pria itu bertingkah aneh. Tapi dia ingin mendapat konfirmasi dari Huang Long.


"Jadi sekarang, Yang Mulia tidak akan menjauhi ku?"


Dalam pikirannya, Huang Long merasa tindakannya yang menjauhi Xie Hongyi itu sangatlah bodoh. Dia seharusnya tidak bereaksi berlebihan seperti itu. Mereka berdua pernah melakukannya, jadi kenapa dia harus malu?


Xie Hongyi tersenyum. Akhirnya rasa penasarannya terjawab.


Di sudut yang tidak jauh dari lokasi Huang Long dan Xie Hongyi, ada dua orang mengintip saling berbisik-bisik.


Mereka adalah Tuan dan Nyonya kediaman ini.


"Lihatlah, mereka adalah pasangan yang ditakdirkan! Mereka sangat cocok!"


"Istri, jangan lupa pria itu adalah seorang Kaisar. Dia mungkin punya puluhan wanita di bawah atap rumahnya. Putri kita bukanlah satu-satunya wanita yang dia miliki."


Jadi, urusan yang harus diselesaikan oleh Pangeran Yu adalah menguping dua orang yang sedang mengobrol.


Istri Pangeran Yu, Xu Xianping menyangkal pernyataan suaminya. "Tapi yang aku lihat, dia bukan tipe pria yang memiliki banyak istri."


Dengan nada yang tidak senang karena istrinya membela orang lain, Pangeran Yu menjawab. "Itu hanya perasaan mu. Aku adalah seorang pria, jadi aku tahu apa yang ada di pikiran pria lainnya."


Xu Xianping melirik Pangeran Yu dengan ujung matanya. "Oh, benarkah? Lalu apa kau tahu apa yang ada dipikiran Si'er sehingga dia menolak untuk menikah? Padahal semua calon yang aku perlihatkan adalah gadis bangsawan cantik."


Mendengar pertanyaan istrinya, Pangeran Yu tidak menjawab. Dia juga heran kenapa putranya menolak menikah dengan para gadis itu.


Melihat Pangeran Yu yang terdiam, Xu Xianping mencibir. "Kau tidak tahu apa yang ada di pikiran semua pria, jadi berhenti mengatakan bahwa kau tahu!" Karena melihat kedua objek intip telah pergi, Xu Xianping juga ikut pergi.


Pangeran Yu yang melihat istrinya menghilang, segera menyusulnya.


Keesokan harinya, utusan dari Istana datang ke kediaman Pangeran Yu. Utusan yang dikirim adalah seorang kasim yang tampak rendah hati.


"Yang terhormat, silahkan ikuti budak ini." Kasim itu berkata pada Xie Hongyi dan Huang Long.


"Apa aku boleh ikut?" Pangeran Yu tiba-tiba bersuara.


Walaupun heran dengan kenapa Pangeran Yu ingin ikut, kasim itu cukup tahu diri dengan tidak bertanya. Dengan suara penuh penghormatan, dia mempersilakan Pangeran Yu ikut pergi. "Tentu saja Pangeran."


Pertemuan itu diadakan untuk membahas perjanjian yang akan mereka buat.


Dibawah tatapan Pangeran Yu, Yin Tianrui mengajukan syarat agar kedua negara berdamai. "Aku mendengar bahwa sutra Selatan adalah sutra dengan kualitas paling baik. Aku akan meminta itu sebagai salah satu syarat."


"Aku setuju."


Syarat yang diminta Yin Tianrui kebanyakan adalah beberapa komoditas yang membuat Kerajaan Selatan maju, seperti sutra dan beberapa benda lainnya. Yin Tianrui juga meminta ratusan ribu tael perak. Katanya, uang itu akan ia gunakan untuk memberi bantuan beberapa kabupaten di Utara yang rusak akibat serangan kelompok bangsa Hun.


Semua syarat yang diajukan disetujui Huang Long. Menurutnya, syarat-syarat itu tidak begitu merugikannya. Huang Long bersyukur tidak ada pertumpahan darah yang menyertai perjanjian perdamaian ini. Dia tidak tahu apa yang dilakukan Yin Tianrui terhadap para pejabatnya, tapi Huang tidak terlalu memikirkan hal itu. Karena yang paling penting sekarang adalah perjanjian perdamaian.


Dia mempunyai firasat yang tidak mengenakkan. Sesuatu yang besar akan terjadi di Selatan, dan dia harus cepat mengurusnya.


"Aku ingin permata yang paling bagus."


Ketika Huang Long mengajukan syaratnya pada Yin Tianrui, Xie Hongyi sontak mengalihkan pandangan ke arahnya. Dia merasa heran dengan syarat itu, karena yang dia tahu Huang Long tidak kekurangan uang.


"Hanya itu?"


Tentu saja tidak.


"Aku ingin Utara menarik pasukannya dari perbatasan. Dan, aku ingin meminjam pasukan terkuat Utara untuk membantu pemberontakan di Selatan."


Kening Yin Tianrui berkerut. Syarat terakhir yang diajukan Huang Long membuatnya bingung. Tanpa sadar, dia menoleh ke arah Pangeran Yu yang berada di sisi kanannya.


"Untuk syarat terakhir, mungkin kau harus menanyakannya pada Pangeran Yu. Dia adalah orang yang memegang sebagian besar pasukan kerajaan."


Pasukan Utara ada ditangan Pangeran Yu walaupun dia sudah pensiun. Alasannya karena tidak ada yang bisa menangani jumlah pasukan sebesar itu selain dirinya.


"Baiklah. Aku akan mengirim beberapa kavaleri pergi membantumu." Yin Tianrui tidak bisa mengatakan tidak karena Xie Hongyi menatapnya seperti anak anjing yang minta diberikan tulang.


Yin Tianrui kemudian menulis surat dimana didalamnya ada darah Yin Tianrui dan Huang Long.


Karena tidak ada stempel resmi dari Selatan, Xie Hongyi mengusulkan untuk meneteskan darah dari dua orang pemimpin di atas perjanjian. Xie Hongyi juga menyarankan untuk membuat dua perjanjian yang isinya sama, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Nantinya surat perjanjian itu akan dikirimkan ke Selatan. Butuh beberapa hari untuk surat itu sampai di tangan Huang Ruifeng.


Dengan dua orang saksi, Pangeran Yu dan kasim kepercayaan Yin Tianrui, dua pihak yang berdamai, Huang Long yang mewakili Selatan dan Yin Yu mewakili Utara, serta saksi dari Selatan, Xie Hongyi, perjanjian perdamaian telah dibuat.