
Yin Si mengangkat kepalanya dan melihat Xie Hongyi berserta dua orang pria masuk. Bagian dalam kereta itu sangat besar, mampu menampung hingga 10 orang. Sepertinya harga kereta ini pasti mahal, pikir Xie Hongyi.
Yin Si meletakan buku ditangannya saat Xie Hongyi masuk. Dia tidak membalas sapaan Xie Hongyi, tapi malah berkata: "Kapan kau akan mencuci bajuku?"
Senyum Xie Hongyi membeku. "Maaf aku lupa. Nanti Tuan Muda bisa memberikan baju kotor itu padaku."
Telinga Huang Long seketika berdiri saat mendengar kata-kata 'baju kotor'. Dia menatap tajam Xie Hongyi yang masih berbincang dengan Tuan Muda yang belum ia ketahui namanya.
Xie Hongyi merasa bagian belakangnya dingin. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Huang Long menatapnya seakan ingin mengulitinya. Xie Hongyi bergidik. Ketika ia mengetahuinya, Xie Hongyi tidak tahu harus menangis atau tertawa.
Mungkin kata-katanya menimbulkan kesalahpahaman jadi Xie Hongyi buru-buru memberi penjelasan. "Aku tidak sengaja menumpahkan teh pada pakaiannya tadi malam."
Huang Long bertanya dengan suara rendah. "Tadi malam kau keluar?"
Xie Hongyi menjawab. "Ya, hanya berjalan-jalan sebentar."
Huang Long tidak berbicara lagi.
Yin Si yang melihat dua orang asing lainnnya bertanya, "Siapa mereka?" Yin Si ingin menunjuk kedua pria itu dengan telunjuk, tapi salah seorang dari mereka mengeluarkan aura yang tidak biasa. Yin Si tahu bahwa aura itu hanya dimiliki oleh seorang pemimpin seperti pamannya dan seorang Jenderal besar seperti ayahnya. Pria ini mengeluarkan aura keduanya, jadi dia tidak berani melakukan tindakan sembrono.
"Mereka adalah rekanku."
Yin Si mengangguk. Dia kemudian teringat sesuatu. "Bagaimana kau membalasku?"
Xie Hongyi mendekat dan berbisik di samping Yin Si. "Kita bisa membicarakannya nanti, setelah aku menemui Kaisar." Setelah itu, Xie Hongyi merasa kereta bergerak.
Huang Long menatap lama Xie Hongyi yang sedang berbisik-bisik.
Tidak lama kemudian, kereta kuda itu berhenti. Sepertinya mereka telah sampai ke Istana. Disaat Xie Hongyi keluar dari kereta, dia terkesiap.
Xie Hongyi menunjuk bangunan Istana dengan jarinya yang bergetar. "Ini..."
Yin Si dan tidak bisa menahan senyum.
"Ini adalah salah satu kebanggaan Kerajaan Utara."
Semua dinding Istana ternyata dilapisi dengan emas! Dan itu sangat berkilau ketika disinari matahari!
Jika saja dia bisa memilki bangunan seperti ini, hidupnya pasti akan sejahtera.
Xie Hongyi tersadar dari lamunannya saat seseorang menepuk bahunya. Dia menoleh dan melihat Huang Long dibelakangnya. "Kita harus masuk."
"Baiklah."
Karena identitas Yin Si, para pelayan dan penjaga tidak ada yang mencegahnya untuk masuk. Namun setelah rombongan itu pergi dari penglihatan, mereka bertanya-tanya dalam hati siapa orang-orang yang dibawa Yin Si.
Yin Si membawa mereka ke sebuah ruangan.
Yin Si berkata pada kasim yang berdiri di depan ruangan. "Aku mau bertemu dengan pamanku. Apakah pamanku ada di dalam?"
Terdengar gumaman rendah seorang pria dari dalam ruangan.
Xie Hongyi dan Huang Long mengikuti Yin Si masuk. Sedangkan Dugu An memutuskan untuk menunggu di luar.
Pada saat mereka masuk, Xie Hongyi kembali dikejutkan dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya, sungguh dia mengira bahwa ruang kerja Kaisar Utara adalah toko emas! Berbeda dengan ruang kerja Huang Long yang kayunya berwarna hitam dan merah menunjukkan kesan keagungan pemiliknya, akan tetapi berbeda dengan ruang kerja ini, pemiliknya seakan-akan mengibas-ngibaskan ekornya dengan bangga menunjukan pada dunia bahwa dia adalah yang terhebat.
Di dekat sebuah meja yang sepertinya adalah meja kerja, duduk seorang pria berusia sekitar tiga puluhan yang masih terlihat muda dengan mahkota sembilan manik-manik yang berada di atas kepalanya. Pada saat pertama kali melihatnya, orang pasti tahu bahwa dia adalah seorang raja.
Yin Si menyapa orang yang duduk di kursi. "Keponakan Yin Si memberi hormat pada Kaisar."
Orang yang duduk di kursi itu mengangkat kepalanya. Wajahnya melembut saat mengetahui bahwa keponakannya lah yang memangilnya. "Si'er?" Melihat dua orang dibelakang keponakannya, Kaisar Utara itu bertanya. "Siapa mereka? Apa mereka temanmu?"
Bukan Yin Si yang menjawab. Huang Long mengambil satu langkah maju dan memberi hormat. "Saya adalah utusan dari Selatan."
Mendengar bahwa mereka dari Selatan, seketika Kaisar itu bangkit dengan marah. Ekpresi wajahnya yang tadinya lembut seketika berubah menjadi garang. "Siapa yang mengizinkamu datang kemari!?"
Yin Si langsung menenangkan pamannya. "Paman tenanglah, dengarkan mereka dulu." Dia sebenarnya juga terkejut karena ternyata Xie Hongyi dari Selatan. Jika dia mengetahui dari awal, mungkin dia akan langsung menolak saat Xie Hongyi meminta bantuan.
Kaisar Utara tidak bisa menahan emosinya. "Bagaimana aku bisa tenang? Penjaga cepat usir mereka!"
"Paman!"
Kaisar Utara yang bernama Yin Tianrui menatap Yin Si dengan wajah gelap. Manik-manik diatas kepalanya bergoyang-goyang saat dia berbicara. "Si'er kenapa kau membawa mereka kemari? Kau tahu mereka adalah musuh kita kan?"
Yin Si tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan ini. "Aku tidak tahu..."
Saat dua orang penjaga berbadan kekar dan membawa masing-masing sebuah pedang, lalu mengeluarkan pedang itu dan meletakkannya di depan Xie Hongyi serta Huang Long, Huang Long dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Dia berkata dengan tenang walaupun ada pedang yang siap menghunus lehernya. "Ini adalah surat perjanjian yang dibuat oleh Kaisar Utara dan Selatan. Aku ke sini bertujuan agar Kaisar Utara dapat melihatnya." Huang Long menunjukkan surat perjanjian damai ditangannya.
Kaisar Utara itu berkata dengan penuh kebencian. Dia sama sekali tidak melirik kertas ditangan Huang Long. "Huh, itu sudah tidak berlaku lagi sejak kalian orang Selatan memfitnah kami membunuh Huang Bingshu!" Mengungkit masa lalu, hati Yin Tianrui merasa masam.
Beberapa tahun lalu, Kerajaan Selatan pernah menuduh bahwa Kerajaan Utara telah membunuh Kaisar mereka. Pihak Kerajaan Utara tidak rela di fitnah, mereka mengajukan agar kedua pihak menyelidikinya. Namun, pihak Kerajaan Selatan itu tidak mengindahkan permintaannya, dan malah menyerang Kerajaan Utara. Pada saat itu, perang pecah dan berkecamuk di berbagai wilayah menyebabkan ribuan korban berjatuhan. Di saat itulah puncak kebencian kedua kerajaan meletus.
Huang Long tahu bahwa sangat sulit bernegosiasi dengan orang keras kepala seperti Kaisar Utara. "Setidaknya perjanjian ini pernah dibuat oleh penatua kedua kerajaan di masa lalu. Jadi, bagaimanapun perjanjian ini telah ada."
Yin Tianrui mengerti maksud Huang Long. Tapi dia tetap keras kepala tidak akan mengakui perjanjian itu. "Tidak akan pernah! Penjaga cepat bawa mereka pergi!"
Kejadian pada tahun itu tidak akan pernah dilupakannya, karena pada saat perang terjadi, dia kehilangan orang yang paling disayanginya. Orang itu mati di tangan Kerajaan Selatan. Yin Tianrui menanam kebencian pada orang Selatan pada saat kejadian itu terjadi.
Melihat wajah Yin Tianrui yang masih merah, Huang Long tahu bahwa selamanya pria ini tidak akan setuju. Saat kedua penjaga itu bergerak, Huang Long sudah siap untuk melawannya, tapi gerakannya seketika terhenti saat mendengar seorang wanita berbicara.
Xie Hongyi yang tadi diam, tiba-tiba bersuara. "Bagaimana jika kita membantumu untuk mengurus keluarga Xiao?" Telinga Xie Hongyi sangat gatal saat mendengar orang yang berdebat dengan sangat panas. Dia merasa terganggu saat mengagumi dekorasi ruangan karena hal itu.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menatap Xie Hongyi, termasuk Yin Tianrui. Mata pria itu bahkan sempat berkilat terkejut.
Xie Hongyi tersenyum manis saat dia berbicara lagi. Dia menatap semua orang satu-persatu. "Mari kita lupakan masa lalu sejenak. Kita tidak bisa terus-terusan bertikai dengan masalah yang sudah lama." Siapapun yang mendengar nada persuasi yang penuh dengan bujukan itu pasti akan langsung setuju tanpa berpikir panjang lagi.
Namun, sepertinya kepala Yin Tianrui memang sangat keras. Dia tidak peduli dengan Xie Hongyi yang adalah seorang wanita dan malah berteriak memakinya. "Lancang! Siapa yang memberi keberanian wanita sepertimu berbicara?!"