
Ketika istana mendengar kemenangan Kerajaan Selatandi perbatasan, mereka sibuk menyiapkan perayaan sambutan untuk Huang Long.
Disaat kelompok Huang Long tiba di wilayah ibukota, mereka disambut dengan ribuan orang yang berdiri dan bersorak di jalan. Jalanan ibukota penuh sesak dengan masyarakat yang antusias menyambut kedatangan pemimpin mereka. Ketika gerbang dibuka, muncul lah kelompok Huang Long. Huang Long menaiki kudanya dibarisan depan, diikuti oleh Jendral Mo dan Jenderal Jiang. Dibelakang mereka, sebuah kereta yang ditarik oleh kuda dan beberapa orang prajurit mengikuti.
Xie Hongyi benar-benar takjub dengan sambutan meriah ini, berpikir kalau dia adalah seorang aktor di sebuah parade. Xie Hongyi melihat orang-orang yang berkerumun di balik jendela kereta. Wajah mereka sangat bahagia, terutama seorang anak kecil yang kebetulan dilihat Xie Hongyi. Anak itu memiliki mata yang tersirat kebanggaan dan harapan.
Xie Hongyi teringat dengan anak-anak korban perang yang ia ditemui di dunianya. Ketika mereka melihat kedatangan bantuan relawan, mereka juga menampilkan wajah yang seperti itu. Bicara soal anak kecil, Xie Hongyi jadi teringat Pangeran Jue. Apa yang sedang dilakukan pangsit kecil itu saat ini?
"Hidup Yang Mulia!"
"Panjang umur Yang Mulia!"
Kalimat-kalimat itu terus bergema di sepanjang jalan menuju istana.
Rombongan itu akhirnya sampai di gerbang istana. Dipimpin oleh Penasihat Kerajaan, para pejabat dan keluarga kerajaan berkumpul di halaman istana. Ketika mereka melihat Huang Long, ucapan selamat dan sorak sorai berdengung di seluruh penjuru istana.
"Selamat Yang Mulia!"
"Selamat Yang Mulia!"
Xie Hongyi sedikit pusing mendengar semua orang mengucapkan selamat. Ia kemudian turun dari kereta dan melihat semua orang. Pertama kali ia melihat wajah penasihat kerajaan, Xie Hongyi tertegun. Wajah pria itu begitu cantik, dengan memakai baju berwarna putih yang menjuntai ke lantai, warna rambut sehitam tinta, wajah seputih salju dan rupa yang luar biasa. Alisnya melengkung dengan indah, matanya bersinar seperti cahaya bulan dan bibir merah seperti ceri. Xie Hongyi seperti melihat seorang bidadara turun ke bumi. Wajahnya yang luar biasa itu mungkin dapat setara dengan Huang Long. Jika Huang Long adalah orang tertampan nomor satu, maka penasihat kerajaannya adalah nomor dua.
"Selamat Yang Mulia atas kemenangan Anda. Surga dan bumi memberkati Anda. Kami semua turut berbahagia." Ketika Shi XuanRan berbicara, suaranya seperti air yang mengalir. Tenang dan lembut.
Huang Long dengan rendah hati menjawab. "Penasihat kerajaan, kemenangan itu tidak akan dicapai tanpa jasa mereka." Huang Long berbicara sambil melirik Jenderal Mo, Jenderal Jiang dan Xie Hongyi.
"Tentu saja. Dengan keahlian yang hebat kedua Jenderal ini, pasti telah banyak mengalahkan musuh."
"Kau benar. Tampaknya militer kita semakin baik."
Mereka kemudian berbincang-bincang, melupakan ketiga orang dibelakangnya. Diam-diam Xie Hongyi yang berada dibelakangnya merasa sedikit bosan. Aku tidak peduli dia Penasihat Kerajaan atau kekasihmu, tapi cepat beri perintah! Kami benar-benar pegal berdiri terlalu lama! Xie Hongyi menggerutu dalam hati.
Jelas disini yang mengeluh hanya Xie Hongyi. Sepertinya kedua Jenderal di depannya tidak terganggu sama sekali. Mereka mungkin sudah terbiasa dengan hal itu.
***
Ketika pembicaraan dua orang itu berakhir, Huang Long naik ke atas tangga istana bersama Shi XuanRan disisinya. Kaisar Selatan itu ternyata hendak memberikan anugerah pada orang-orang yang berjasa dalam perang di perbatasan.
"Dengan ini, Jiang Qingyuan dianugerahi sebagai Jenderal Tertinggi di Kekaisaran Selatan. Serta karena jasanya yang besar, seluruh keluarga Jiang akan dianugerahi gelar bangsawan tertinggi."
"Terima kasih Yang Mulia." Jenderal Jiang yang berlutut dihadapan Huang Long menjawab.
"Untuk Jenderal Mo Wuyue, dianugerahi gelar sebagai Jenderal Tertinggi. Juga, wilayah militer di Utara akan diserahkan padamu."
Jenderal Mo yang juga berlutut menjawab. "Terima kasih Yang Mulia."
Hah? Xie Hongyi dengan bodoh mengerjap. Dia juga mendapat anugerah? "Terimakasih Yang Mulia." Walaupun sedikit bingung, Xie Hongyi tidak lupa untuk berterima kasih.
Oh, aku tidak perlu gelar, yang aku inginkan adalah uang!
Para prajurit yang selamat juga diberi anugerah berupa kenaikan pangkat menjaga prajurit senior di kekaisaran.
Setelah pemberian anugerah itu selesai, di malam hari Istana akan mengadakan sebuah pesta untuk merayakannya. Semua orang diundang, bahkan rakyat kecil pun dapat hadir tetapi harus berada di luar Istana.
Xie Hongyi pergi ke kediamannya dan melihat empat orang berdiri di gerbang halaman kediaman itu. Satu anak kecil yang tidak lain adalah Pangeran Jue dan para pelayannya.
"Nyonya, syukurlah kau kembali dalam keadaan selamat." Wan'er berbicara pertama kali.
Xie Hongyi menjawabnya dengan anggukan dan senyum di wajah. Kasim yang disisinya yang mengantar Xie Hongyi membuka suara. "Kalau begitu, saya pamit Nyonya."
"Pergilah."
Setelah kasim itu pergi, Pangeran Jue tiba-tiba berlari dan menerjang Xie Hongyi. Tangannya yang kecil berusaha memeluk kedua lutut wanita itu. Dia dengan wajah manisnya berbicara. "Aku sangat bersyukur bahwa ibu selamat. Tapi, kenapa ibu tidak membawa daging?"
Sudut mulut Xie Hongyi berkedut. Apakah anak kecil ini menganggap dirinya pergi ke pasar, bukan ke medan perang? Ketiga pelayannya pun tidak bisa menahan tawa kecil mereka saat mendengar Pangeran Jue berbicara.
Sementara itu, Pangeran Jue tidak menyadari apa yang aneh dengan kalimatnya. Dia adalah seorang anak kecil, walaupun begitu selama ini dia tidak selalu bisa mengatakan apa yang ada dipikirannya. Pengasuhnya mengatakan bahwa dia harus berhati-hati dalam berbicara dan jangan mengatakan apapun yang ada dipikirannya jika ada sesuatu hal yang salah.
Tetapi saat dia mengenal Xie Hongyi, dia tidak mengingat nasihat yang dikatakan pengasuhnya. Dia merasa bahwa dia bisa dengan bebas berbagi apapun dengan Xie Hongyi.
Saat pertama kali dia mencicipi masakan Xie Hongyi, Pangeran Jue ketagihan. Makanan yang biasa disajikan untuknya di Istana rasanya tidak seenak buatan Xie Hongyi. Selama Xie Hongyi pergi ke perbatasan, dia sangat merindukan Xie Hongyi dan masakannya. Jadi ketika ia melihat ibunya, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Pangeran kecilku ternyata merindukan daging. Tenang saja nanti akan ibu buatkan makanan yang enak." Ucap Xie Hongyi sambil mencubit pangsit kecil itu.
Benar saja, ketika Xie Hongyi berbicara seperti itu, mata Pangeran Jue berbinar-binar. "Aku mau secepatnya. Ibu tidak boleh lupa."
Mereka yang ada di sana merasa terhibur dengan kalimat Pangeran kecil.
Disisi lain.
Setelah pemberian anugerah itu selesai, Huang Long tidak langsung pergi ke ruang kerja. Dia berjalan ke arah Istana Phoenix, tempat Permaisuri tinggal bersama seorang kasim disisinya.
Ketika mereka sampai di sana, seorang penjaga di kediaman mengumumkan kedatangan Huang Long. "Yang Mulia Kaisar tiba."
Permaisuri Shi memiliki nama asli Shi Mian. Ayahnya adalah seorang perdana menteri dan kakaknya adalah penasihat kerajaan. Dia masuk ke harem pada usia 16 tahun. Di tahun ini sekarang dia berusia sama dengan Huang Long.
Mereka duduk berhadapan di ruangan milik Shi Mian. Setelah menyuruh para pelayan pergi, Huang Long menanyakan hal yang sama sekali tidak disangka oleh Shi Mian.