
"Hahaha! Kau memang anak kebanggaan ku!"
Pada saat ini Keluarga Jiang tengah berbahagia dengan prestasi Jiang Qingyuan. Yang melontarkan kata-kata penghargaan tadi adalah ayah dari Jiang Qingyuan, Jenderal Besar Jiang Wei. Mungkin sekarang dia bisa disebut dengan mantan Jenderal, karena setahun lalu Jiang Wei memutuskan untuk keluar dari militer dan menyerahkannya pada Jiang Qingyuan.
Jiang Qingyuan adalah anak pertama dari istri resmi Jiang Wei. Jiang Wei memiliki satu istri resmi dan 4 selir. Tapi dia hanya memiliki putra dari istrinya saja. Untuk itu, meskipun para selirnya sudah melahirkan anak, posisi ibu Jiang Qingyuan tetaplah kokoh dan anak-anak dari istri pertama itu adalah orang yang paling dihormati.
Jenderal tua itu sangat membanggakan dan menaruh harapan besar pada putra tertuanya. Jiang Wei yakin bahwa dimasa depan Jiang Qingyuan akan menjadi Jenderal besar sepertinya.
"Terima kasih Ayah," Jiang Qingyuan tidak tahu harus berkata apa lagi.
Pandangan Jiang Wei kemudian beralih ke sebelah Jiang Qingyuan, dimana putra keduanya duduk dan diam dari tadi. "Lihatlah kakakmu! Kau seharusnya bisa mencontohnya. Bukan nya membuat masalah terus setiap hari. Apakah kau akan menjadi anak yang tidak berbakti selamanya? "
Jiang Zhi hanya terdiam mendengar omelan ayahnya yang masuk telinga kiri lalu keluar dari telinga kanan. Dirinya mungkin sudah terbiasa dengan sikap ayahnya yang lebih perhatian pada Jiang Qingyuan.
Jiang Qingyuan yang melihat adiknya dimarahi, merasa tidak tega. "Ayah, tolong jangan marahi adik Zhi. Mungkin dia punya pilihannya sendiri. Sekarang dia juga terluka. Mohon ayah tidak membuatnya lebih tertekan."
Mendengar bahwa Jiang Qingyuan membela adiknya, Jiang Wei lebih marah. "Pilihan apa? Pilihan untuk membuat masalah? Jika saja tadi keluarga Mo tidak memaafkannya, mungkin hubungan kita dengan keluarga itu bisa rusak gara-gara anak ini!"
Jiang Qingyuan tidak menyerah. "Ayah, dia adalah keturunan keluarga kita. Keluarga kita memiliki sifat tidak akan menyerang jika tidak ada yang memprovokasi. Adik Zhi mungkin punya alasan mengapa dia memukul Tuan Muda Mo."
Tuan Muda Mo yang dimaksud adalah Mo Heixue, Tuan Muda Kedua dari keluarga Mo, adik dari Mo Wuyue. Siang tadi ketika penyambutan, Jiang Zhi memukul Mo Heixue sampai babak belur disebuah rumah judi. Kedua Tuan Muda itu memilki reputasi yang buruk di ibukota, jadi ketika perkelahian itu terjadi, orang-orang segera melaporkannya segera ke kediaman keluarga Jiang dan Mo.
Disaat Jiang Wei mendengar putranya membuat masalah lagi, dia dengan terburu-buru pergi ke tempat kejadian dan mendapati Jiang Zhi duduk diatas perut Mo Heixue yang tak sadarkan diri.
Keduanya lantas dipisahkan dan dipulangkan ke kediaman masing-masing setelah kedua keluarga itu sepakat akan membahas kejadian ini ketika Mo Heixue sadar.
Ketika Tuan Muda Kedua itu sadar, dia menjelaskan bahwa Jiang Zhi telah memukulinya tanpa alasan. Jiang Zhi sebenarnya juga ditanya kenapa dia memukul Mo Heixue, tapi dia tidak menjawab dan malah menatap Mo Heixue dengan ganas. Jiang Wei lantas menamparnya dan memarahi Jiang Zhi di depan keluarga Mo, tidak peduli bahwa keadaan anaknya sendiri tak jauh lebih baik dari Mo Heixue. "Anak tidak tahu di untung! Tatapan apa itu, hah?"
Ini adalah pertama kalinya Jiang Wei menamparnya. Di masa lalu saat dia membuat masalah dan merepotkan Jiang Wei, ayahnya itu hanya akan menghukumnya dengan dikurung selama beberapa hari. Dia berpikir bahwa ayahnya telah menahan segala kekesalannya dengan tidak menghukum dengan berat karena ibunya. Tapi hari ini berbeda. Jiang Wei berada di titik puncak kekesalan pada Jiang Zhi, jadi dia tidak peduli dengan apa-apa lagi.
"Kakak, jangan berbicara untuk membelaku lagi. Jika ayah berpikir aku salah, maka aku salah. Ini tidak ada hubungannya dengan kakak." Setelah berkata seperti itu, Jiang Zhi pergi dari sana.
Melihat ini, Jiang Wei benar-benar kesal pada Jiang Zhi. Dia merasa bahwa wibawa dan ketegasan yang ia punya sebagai mantan Jenderal tidak berguna saat menghadapi anak itu. "Lihatlah adikmu yang selalu kau bela itu. Masa depan apa yang dimilikinya nanti?"
Jiang Zhi belum pergi jauh, jadi dia dengan jelas dapat mendengar ucapan ayahnya. Bibirnya dia gigit sendiri sampai berdarah dan dia juga mengepalkan tangannya dengan sehingga kuku-kuku jarinya memutih. Wajahnya menampilkan sebuah ekspresi yang rumit.
Dia berjalan ke arah timur tempat Putri Tertua tinggal. Dihalaman kediaman putri, tumbuh banyak bunga berwarna putih yang masih mekar di musim gugur, membuat orang seperti melihat padang salju. Pintu kayu berwarna putih dan dindingnya pun berwarna putih. Setiap kali ia datang, Jiang Zhi merasa dirinya berada di ruang hampa dan pikiran itu membuat hatinya sakit.
Tanpa mengetuk, Jiang Zhi langsung masuk dan mendapati adiknya sedang menyulam. Saat mendengar suara pintu terbuka, gadis di dalam ruangan itu menoleh dan mendapati kakaknya datang. Dia menyambut Jiang Zhi dengan senyumannya yang riang. "Kakak, aku mendengar bahwa Kakak Pertama telah di berikan anugerah oleh Kaisar. Apakah itu benar?"
Topik ini adalah topik sensitif bagi Jiang Zhi. Mungkin jika orang lain yang mengatakan itu, dia akan memukulinya sampai ayahnya tidak mengenalinya. Tapi, yang bertanya adalah Putri Tertua Kediaman Jiang, adiknya yang paling disayanginya, Jiang Baixi.
Dengan pura-pura sedih, Jiang Zhi menatap Jiang Baixi. "Aku yang datang tapi kau menanyakan orang lain. Hatiku benar-benar sakit."
Merasa terhibur dengan tingkah Jiang Zhi, Jiang Baixi tidak bisa menahan tawanya. "Hahaha. Baiklah kakak, kemarilah. Aku akan mengobati mu."
"Ayah pasti memarahimu. Tapi jangan masukkan ke dalam hati. Kakak tahu kan bahwa dia tidak serius?" Jiang Baixi berbicara sambil mengobati luka kakaknya.
"Aku sudah terbiasa dengan ayah. Kau tidak perlu khawatir."
Mendengar jawaban Jiang Zhi, Jiang Baixi berbicara sambil bercanda. "Siapa yang mengkhawatirkamu? Aku hanya cemas jika tahun depan kau tidak menepati janjimu."
Berbicara soal janji, wajah Jiang Zhi tiba-tiba berubah menjadi serius. Dia dengan lembut menggenggam tangan Jiang Baixi dan menatapnya dengan mata penuh kepastian. "Aku pasti akan membawamu keluar jalan-jalan tahun depan."
"Kakak, aku hanya bercanda. Kau tahu bahwa itu tidak mungkin kan?" Melihat Jiang Zhi yang berubah menjadi serius, Jiang Baixi tidak bisa lagi bercanda.
"Aku pasti akan membawa mu keluar tahun depan pada saat musim semi nanti. Kita akan melihat bunga-bunga yang bermekaran aneka warna dan melihat cahaya bulan dengan naik kapal di tepi danau. Adik Bai, kakak pasti akan menepatinya."
Melihat Jiang Zhi berkata dengan penuh keyakinan, Jiang Baixi tidak tega untuk menghancurkan harapan itu. "Baiklah. Akan kutunggu tahun depan." Atau sepanjang hidupku.
***
Hari mulai gelap. Matahari kemudian benar-benar tenggelam. Lampu-lampu minyak dinyalakan dan membuat semua rumah menjadi terang. Namun pada malam ini, cahaya lebih terang karena banyak yang menyalakan obor di jalan menuju Istana.
Pada saat ini, beberapa orang dengan jumlah besar mendatangi area Istana. Mereka dengan pakaian sederhana duduk di kursi yang disediakan pihak Istana. Kemudian beberapa pelayan Istana datang dan menyajikan makanan untuk para rakyat.
Kereta-kereta mewah melintasi kerumunan, dan membuat orang-orang yang sedang makan itu mengalihkan perhatiannya. Didalam kereta itu berisi para bangsawan yang hadir di Perjamuan Istana.
"Ibu, dimasa depan aku akan membeli kereta untukmu." Pada saat ini, seorang anak kecil berpakaian lusuh dan compang-camping berkata pada ibunya. Dia bertubuh kurus dan sepertinya mengalami kekurangan gizi. Tapi wajahnya yang kekanakan begitu riang. Sang ibu tersenyum lalu berkata. "Kalau begitu, kamu harus rajin belajar sehingga bisa ikut ujian Kekaisaran. Pada saat nanti kau lulus dan menjadi pejabat di Istana, kau dapat membeli apapun yang kau inginkan."
Anak itu sepertinya tahu maksud ibunya. "Tenang saja ibu, aku pasti akan menjadi seorang pejabat." Takdir tidak bisa dirubah, seperti dirinya yang terlahir di keluarga miskin, tapi nasib tidak! Dimasa depan nanti ia percaya hidupnya akan berubah jika dia berusaha dengan keras.
Disisi lain, disebuah ruangan di Istana.
"Sistem, kau belum menghitung poinku. Aku tidak akan pergi sebelum kau menghitungnya."
Xie Hongyi saat ini sudah selesai berdandan dengan mengenakan pakaian berwarna merah dan hiasan rambut serta beberapa hal yang berfungsi mempercantik wajahnya. Dia hanya tinggal berangkat ke dalam aula tempat perjamuan, namun dia tidak pergi karena sistem belum menghitung poinnya.
Saat ini mungkin sistem berkata, "Aku tidak peduli jika kau pergi atau tidak. Itu bukanlah urusanku."
[Selamat karena telah menyelesaikan misi. 100 poin telah ditambahkan ke akun kamu. Bonus misi tambahan: 50 poin. Saat ini kamu memiliki 380 poin di akun kamu.]
Peduli atau tidak, sistem tetap memenuhi keinginan Xie Hongyi.
"Bagaimana dengan exp ku?"
[Sekarang kamu telah mencapai level 3 junior. 200 exp diperlukan untuk mencapai level berikutnya.]
Setelah puas dengan jawaban sistem, Xie Hongyi akhirnya pergi ke tempat perjamuan bersama ketiga pelayannya.