
Pada malam hari bersalju, langit begitu gelap dan suhu udara berada di titik paling rendah. Jika kebanyakan orang memilih untuk menghangatkan diri di atas ranjang bara api, berbeda dengan seseorang yang memakai baju hitam yang kini sedang berjalan-jalan di bawah salju. Saat dia melangkah, kakinya meninggalkan jejak di atas salju, namun dengan secepat mungkin menghilang.
Pakaiannya yang tebal menyembunyikan sosoknya yang mungil. Jika diperhatikan lebih seksama, tidak ada yang menyangka jika dibalik mantel itu adalah seorang wanita.
Dia berjalan di bawah rimbunan pohon di tengah hutan. Dia membuka mulutnya untuk berbicara sendiri.
"Dia tidak akan menyadari jika aku meletakkan GPS di pakaian itu kan?"
Seekor rubah putih kecil tampak meringkuk dengan nyaman di pundaknya. Ketika mendengar sebuah suara, dia menggosokkan kepalanya ke leher sang wanita.
"Apa di zaman ini orang-orang itu tahu apa GPS?" Rubah putih yang ternyata adalah sistem itu bicara dengan nada retoris.
Sosok dibalik jubah, Xie Hongyi, menaikan sudut bibirnya. "Tentu saja tidak."
Yah, rasanya cukup menyenangkan menindas orang yang belum tahu teknologi. Xie Hongyi tersenyum dalam hati.
Sebelumnya Xie Hongyi memang meletakan alat pelacak pada pakaian yang dikenakan Xiao Zhang, jadi meskipun dia kabur, Xie Hongyi akan selalu tahu kemana dia akan pergi.
Xie Hongyi mengeluarkan tangannya yang disembunyikan dibalik jubah. Tangannya tidak kosong, dia memegang sebuah layar LCD yang memperlihatkan satu titik merah diam ditempatnya. Itu adalah lokasi Xiao Zhang berada dan Xie Hongyi sekarang sedang menuju ke tempat itu.
Xie Hongyi punya dugaan bahwa Xiao Zhang sedang berada di tempat persembunyian keluarga Xiao. Sebelum melakukan serangan pada keluarga itu besok, Xie Hongyi ingin melakukan sesuatu hal. Meskipun cara ini dianggap curang, tapi dalam pertempuran apapun, segala hal bisa dilakukan untuk mencapai kemenangan.
Tidak lama kemudian dia tiba di kaki gunung tempat persembunyian keluarga Xiao. Xie Hongyi mencoba melangkah lebih dalam kaki gunung, dan dia menemukan sebuah cahaya lentera berpendar di tiang kayu. Diantara tiang-tiang kayu itu, ada beberapa pria kekar dengan pedang ditangannya mondar-mandir.
Tanpa suara, Xie Hongyi membenarkan tudungnya dan berjalan ke arah samping. Dia memanfaatkan gelapnya malam menyamarkan sosoknya. Dia berjalan perlahan dititik buta para penjaga, sehingga tidak ada satupun yang menyadari kehadirannya.
Dewa memberkatinya. Bagian dalam persembunyian itu ternyata sepi. Xie Hongyi menghela nafas lega. Dia lalu berjalan perlahan, kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan dan mulai menjalankan rencananya dengan cepat.
Di dalam ruangan lainnya, Xiao Zhang yang sudah melepas pakaian wanitanya dan berganti dengan kain katun sederhana, berdiri di sebelah meja bundar. Dihadapannya ada Xiao Feng yang juga berdiri. Satu tangan pria paruh baya itu diletakan di atas meja, dan yang satunya lagi menunjuk sebuah kertas yang ada di atas meja. Kertas itu adalah peta sederhana wilayah Kerajaan Utara. Ada beberapa tanda silang berwarna hitam yang menunjukkan bahwa daerah itu telah berhasil di kuasai oleh Keluarga Xiao.
"Besok kita akan menyerang pertambangan yang ada di sebelah barat dari Istana. Beberapa pasukan sudah mulai berangkat ke sana. Saat fajar besok, kita akan menyusul mereka."
Xiao Zhang mengangguk saat mendengar perkataan ayahnya. Sudah ada beberapa pertambangan milik kerajaan yang berhasil mereka rebut, dan pertambangan yang akan mereka serang kali ini adalah pertambangan terbesar dan merupakan salah sumber daya utama Kerajaan Selatan.
Mendengar ayahnya yang akan menyerang pertambangan utama, Xiao Zhang yakin bahwa pria paruh baya itu sudah membuat rencana yang matang.
Tiba-tiba, indranya yang tajam menangkap sesuatu pergerakan yang lain di salah satu sisi bangunan. Lantas Xiao Zhang berteriak.
"Siapa disana?!"
Xie Hongyi tidak panik saat tahu dirinya ketahuan. Dia lalu melangkah pergi menjauh dari sana. Melihat kebelakang, sudah ada beberapa orang laki-laki mengerjarnya. Seketika malam yang sepi dan hening itu menjadi ribut dengan suara langkah kaki yang berlarian.
Mengetahui bahwa ada penyusup yang berhasil masuk, mereka ingin segera menangkap dan mengintrogasi untuk apa penyusup itu kemari. Tapi, mereka harus gigit jari karena penyusup itu berhasil kabur dengan lihai.
Xiao Zhang yang ikut mengejar penyusup itu berdiri dengan kesal di depan pintu gerbang sambil memikirkan siapa kemungkinan penyusup tadi dan siapa yang mengirimkannya. Kemungkinan besar itu pasti dari pihak kerajaan. Sepertinya dia harus cepat bertindak sebelum pihak kerajaan tahu apa yang akan mereka lakukan. "Ayah, lebih baik kita menyerang pertambangan malam ini."
Xiao Feng juga berpikir hal yang sama. "Baiklah, semua pasukan segera bersiap-siap, kita akan menyerang pertambangan malam ini." Dia berkata dengan nada khas pemimpinnya dihadapan semua orang yang ada dihadapannya.
Semua orang menjawab serentak. "Baik ketua!"
Setelah itu, para pria kekar yang sebagian besar adalah bandit itu sibuk menyiapkan senjata dan membawa perbekalan. Mereka hidup dan besar di bawah kaki gunung, jadi mereka sangat akrab dengan gunung ini dan tahu mana jalan yang harus dilewati walaupun sekarang adalah malam hari.
Tapi, apa yang tidak mereka ketahui adalah penyusup tadi telah melakukan sesuatu pada jalan yang akan mereka lewati.
Huang Long mengambil secangkir teh hijau di atas meja dan mulai menyesap perlahan. Rasa teh itu pahit, namun tidak ada perubahan sedikit pun pada wajahnya saat mulutnya dipenuhi dengan air teh.
Huang Long berbicara perlahan. "Jadi, jika benar yang aku kira, seharusnya dia ini memiliki hubungan dengan istri Pangeran Yu."
"Benarkah? Tapi apa hubungannya Nyonya dengan istri Pangeran Yu?" Dugu An yang berlutut di sampingnya bertanya.
Setelah beberapa waktu, Dugu An akhirnya memutuskan untuk memanggil Xie Hongyi dengan sebutan Nyonya, pasalnya Huang Long sepertinya sangat dekat dengan wanita itu.
Huang Long membuka bibirnya. "Itu hanya dugaan." Tapi dalam hati dia sangat yakin akan hal itu.
Dulu saat dirinya masih kecil mungkin sekitar satu atau dua tahun, Kerajaan masih diperintah oleh kakek buyutnya, Huang Bingshu. Pada saat itu, terjadi satu peristiwa yang membuat seluruh keadaan menjadi kacau.
Dia mendengar dari pengasuhnya bahwa suatu hari, kakek buyutnya pergi ke Utara untuk meminta perdamaian. Tapi sayangnya Kerajaan Utara menolak dan Huang Bingshu dibunuh pada saat perjalanan pulang. Kemudian tidak lama setelah itu, beredar kabar bahwa keluarga Xu yang merupakan salah satu keluarga besar di Selatan berkolusi dengan Kerajaan Utara melakukan pengkhianatan. Adik dari kakek buyutnya langsung bertindak untuk mencari bukti, dan hasilnya ditemukan beberapa hal yang menunjukan Keluarga Xu telah berhubungan dengan Kerajaan Utara.
Dalam satu malam, seluruh anggota Keluarga Xu berhasil terbunuh. Tapi ada yang mengatakan bahwa putri bungsu dari keluarga itu berhasil melarikan diri dan sampai sekarang tidak pernah ditemukan. Lambat laun kabar itu tenggelam dengan adanya peristiwa lain yakni pemberontakan yang dilakukan oleh adik kakek buyut Huang Long.
Melihat sosok istri Pangeran Yu hari ini, Huang Long mau tidak mau berpikir kembali tentang rumor itu.
Xie Hongyi kembali ke penginapan pada waktu sepertiga malam. Dia berhati-hati saat melangkahkan kakinya agar tidak ada orang yang terganggu. Xie Hongyi kemudian melirik pintu di sampingnya yang merupakan kamar Huang Long. Dia pasti sudah tidur, tebak Xie Hongyi.
Perlahan dia membuka pintu kamarnya yang gelap. Ketika ia menyalakan lilin, dia hampir berteriak saat menyadari ada sosok lain di kamarnya. "Yang Mulia?" Xie Hongyi berseru.
Huang Long dengan santai duduk di ranjang. Sedari tadi tatapannya selalu terpaku pada pintu kayu dihadapannya. Setelah sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang, matanya menampilkan sedikit riak.
Kamar yang hanya diterangi oleh satu cahaya lilin itu menjadi sunyi, bahkan mungkin suara jarum jatuh akan terdengar.
Huang Long akhirnya bersuara. "Darimana?" Huang Long tampaknya suka sekali melakukan monosyllables.
Xie Hongyi mencoba menghindari tatapan Huang Long. Dirinya tahu jika dia tidak bisa berbohong pada pria itu. Tapi sekarang dia tidak punya pilihan lain selain tidak mengatakan kemana ia pergi. Ia yakin Huang Long akan curiga jika dirinya berkata jujur. Dia pura-pura santai dengan melangkah ke arah meja yang ada di dekat ranjang. Xie Hongyi kemudian mengambil cangkir lalu menuangkan air dari teko teh. Tangannya lalu terulur menyerahkan cangkir pada Huang Long.
Mata pria itu awalnya menatap cangkir yang disodorkan Xie Hongyi, lalu beralih menatap wajahnya.
"Aku tahu jika Yang Mulia pasti tahu jika aku berbohong. Jadi, aku memilih untuk tidak mengatakan kemana aku pergi." Xie Hongyi memilih opsi untuk mengatakan secara langsung bahwa tidak akan memberitahu pria itu.
Dahi Huang Long mengernyit, wajahnya nampak tak senang. Pria itu lalu mengambil cangkir yang ada di tangan Xie Hongyi, namun dia tidak meminumnya, tapi sebaliknya dia meletakan kembali cangkir itu diatas meja. Huang Long kemudian bangkit berdiri. Tubuhnya yang tinggi menutupi seluruh badan Xie Hongyi sehingga nampak seperti hanya ada satu orang. Xie Hongyi merasa dia adalah seorang anak kecil dihadapannya.
Huang Long berkata dengan suara yang dalam. "Siapa kau sebenarnya?"
Jantung Xie Hongyi seakan jatuh saat Huang Long melontarkan pertanyaan itu. Ah, ternyata pria itu sudah mencurigainya. Jika dia mengatakan bahwa dia adalah Xie Hongyi putri dari keluarga Xie, Huang Long pasti tahu dia berbohong. Lalu sekarang dia harus bagaimana? Xie Hongyi benar-benar bingung.
Tidak ada perubahan dalam suara Huang Long saat ia berbicara lagi. "Karena kau tidak mau memberitahu Yang Mulia ini kemana kau pergi, setidaknya beritahu siapa kau sebenarnya. Mengapa putri dari keluarga medis bisa tahu strategi perang? Dan juga, ketika kau datang, berusaha mungkin untuk menyembunyikan kehadiranmu dalam Istana."
Itu karena aku telah melakukan OOC. Ingin sekali Xie Hongyi menjawab seperti itu. Tapi dia tahu Huang Long pasti tidak akan mengerti. Xie Hongyi menggaruk pipinya yang tidak gatal. Matanya melihat ke sembarang arah. "Apa Yang Mulia bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti."
Huang Long bertanya sekali lagi. "Jawablah dengan jujur. Siapa kau sebenarnya?"
Tidak ada pilihan lain. Xie Hongyi menghela nafas. "Tidak peduli siapa aku, satu hal yang pasti, aku tidak berniat jahat pada Yang Mulia. Semua yang kulakukan adalah untuk Kerajaan Selatan." Dia tidak berbohong. Memang benar kan ini semua adalah untuk Huang Long yang merupakan Kaisar dari kerajaan Selatan?
Monosyllables\= berbicara satu kata