
Peristiwa ini bermula saat Selir Chen dan Ibu Suri dikurung selama beberapa hari oleh Chen Guang.
Pintu tempat mereka berada perlahan-lahan terbuka. Selir Chen dan Ibu Suri langsung waspada. Mereka sangat berhati-hati pada setiap orang yang datang karena semua orang tidak dapat dipercaya.
Bukan pelayan, penjaga atau orang kepercayaan Chen Guang yang datang. Di sisi pintu itu, terlihat seorang gadis berusia 16 tahun yang memakai pakaian pelayan. Namun Chen Xiang dan Ibu Suri tahu bahwa dia bukanlah pelayan yang asli.
"Chen Linxi?" Chen Xiang berseru.
Chen Linxi adalah salah satu adiknya yang lahir dari selir. Ibu Chen Linxi meninggal saat dia dilahirkan. Pada sat itu, Ibu Chen Linxi merupakan selir kesayangan dari Chen Guang. Chen Guang sangat marah dan menyalahkan Chen Linxi yang masih bayi karena dia menganggap Chen Linxi telah membunuh selirnya. Dia juga tidak mengakuinya sebagai anak dan tidak peduli dengan urusannya. Untung saja pada saat itu, ada seorang pelayan yang baik hati mau merawatnya.
Chen Xiang tidak banyak memiliki kesan dengan Chen Linxi karena mereka tinggal di tempat yang berbeda. Tapi, Chen Xiang tahu bagaimana kehidupan Chen Linxi. Sedari kecil, gadis itu selalu dirundung, bahkan pelayan tingkat rendah dapat menindasnya. Mereka tidak takut perbuatan mereka diketahui oleh orang di keluarga Chen karena tahu bahwa Chen Linxi adalah anak yang terbuang.
Mereka selalu menyebutnya tidak berguna, anak yang tidak diinginkan, pembawa sial dan sebutan lain yang membuat sakit hati.
Karena sepanjang hidup dia selalu direndahkan, kepribadian Chen Linxi sangat tertutup. Dia akan diam saja saat orang-orang berbuat jahat padanya.
Chen Xiang yang melihatnya merasa kasihan. Dia diam-diam memberikan makanan lebih dan pakaian layak pada Chen Linxi. Pada saat itu, Ibu Suri telah masuk ke Istana dan ketika ia mengunjungi Kediaman Chen, Ibu Suri selalu membela Chen Linxi.
Namun, kertas tidak bisa membungkus api. Walau Chen Xiang dan Ibu Suri bersikap baik padanya, hidup Chen Linxi masihlah buruk. Tapi tak apa, dia sudah terbiasa.
Kemudian pada saat mendengar Ibu Suri dan Chen Xiang dikurung, Chen Linxi sangat cemas. Dia ingin menyelamatkan mereka berdua. Chen Linxi pun melakukan hal yang sangat nekat. Dia berpura-pura menjadi pelayan dan memberikan makanan yang berisi obat tidur pada penjaga di sekitaran tempat Ibu Suri dan Chen Xiang dikurung. Obat tidur itu dia dapatkan secara diam-diam di pasar dengan menggunakan uang hasil dirinya mengemis. Ya, Kediaman Chen tidak mau repot-repot memberikan Chen Linxi biaya hidup.
"Yang Mulia Ibu Suri, kakak pertama mari kita pergi."
"Apa maksudmu?" Ibu Suri bertanya.
"Aku sudah melumpuhkan beberapa penjaga di sekitar sini."
Chen Xiang dan Ibu Suri saling berpandangan.
"Chen Linxi, apa kami bisa mempercayai mu?"
"Yang Mulia Ibu Suri dan Kakak sangat baik padaku. Aku hanya ingin membalas perbuatan kalian."
Kemudian dia menambahkan. "Ayah, maksudku Tuan Chen akan menyerang Istana beberapa hari lagi. Kita harus pergi sebelum penyerangan itu terjadi."
Chen Xiang dan Ibu Suri cukup mengenal karakter Chen Linxi. Dia tidak akan membalas perbuatan jahat yang orang lain lakukan padanya, tetapi dia akan sangat menghargai setiap kebaikan yang diberikan. Untuk itu tidak ada salahnya Chen Xiang dan Ibu Suri mengikuti Chen Linxi.
"Baiklah."
Chen Xiang dan Ibu Suri bukan kabur untuk menyelamatkan diri. Mereka sadar bahwa mereka telah dijadikan sandera dan takut Chen Guang akan menggunakan mereka untuk menukar sesuatu dengan Istana. Jadi, lebih baik mereka pergi daripada dijadikan alat tukar.
Tiga orang wanita itu kemudian menyelinap keluar kediaman secara diam-diam. Namun para penjaga yang berada di kediaman Chen tidak bisa diremehkan. Dengan cepat para penjaga itu mengetahui bahwa mereka telah kabur lalu mengejarnya.
Dan sekarang, mereka terpojok seperti tikus yang siap dimakan kucing.
Seseorang yang paling menyesal disini adalah Chen Linxi. Jika bukan dia yang mengajak Chen Xiang dan Ibu Suri pergi, kejadiannya pasti tidak akan seperti ini.
Chen Linxi merendahkan dirinya sendiri. Benar apa kata orang-orang, dia memang tidak berguna.
Di saat menunggu waktu, ada yang aneh. Para penjaga itu tidak bergerak dan malah berbalik ke segala arah sambil waspada.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!"
Ternyata, para penjaga itu telah diserang secara diam-diam oleh seseorang. Ketika kata-kata pemimpin penjaga itu selesai suara gemuruh terdengar.
"Tangkap mereka dan selamatkan Ibu Suri serta Selir Chen!"
Mereka adalah penjaga Istana yang dipimpin oleh Jiang Zhi.
Jiang Zhi dan pasukannya segera menyerang pasukan penjaga.
Kemudian, pertempuran di tengah hutan terjadi.
Di saat tidak ada yang memperhatikan, ada yang diam-diam mendekati Chen Linxi, Chen Xiang dan Ibu Suri yang masih terduduk di atas tanah. Dia adalah salah satu orang istana. "Yang Mulia, cepat ikut kami."
Orang itu kemudian membawa ketiganya ke tempat yang lebih aman, tak jauh dari tempat pertempuran terjadi. Mereka sedang menunggu pasukan Istana kembali.
Tidak lama kemudian, suara benturan pedang dan teriakan berhenti. Ibu Suri dan dua orang lainnya langsung waspada karena mereka tidak tahu pihak siapa yang menang. Jika itu pihak istana, maka hidup mereka selamat. Akan tetapi, jika yang menang adalah pihak lain, Ibu Suri, Chen Xiang dan Chen Linxi tidak punya pilihan lain selain menjadi tawanan lagi.
Suara langkah kaki yang bergegas terdengar di tengah hutan yang hening. Detik-detik menunggu pihak lain datang merupakan waktu yang tersulit bagi mereka.
Akhirnya, mereka bisa bernafas lega karena Jiang Zhi lah yang datang.
"Yang Mulia." Jiang Zhi menyapa.
Ibu Suri dan Chen Xiang mengangguk.
Chen Linxi memandang orang yang memimpin para penjaga Istana dengan seksama. Tidak tahu apa arti dari tatapannya.
Merasakan ada yang menatapnya, Jiang Zhi balik menatap Chen Linxi. Chen Linxi dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kalian melarikan diri?"
"Yah jadi...." Ibu Suri menceritakan apa yang terjadi pada ketiganya.
Setelah mendengarkan apa yang terjadi, Jiang Zhi memuji keberanian Chen Linxi. "Bagus."
Chen Linxi langsung tersipu. Agar tidak ada orang yang menyadarinya, dia menundukkan kepala sampai dagunya mencapai dada.
Jiang Zhi awalnya sedang mencari keberadaan kelompok pemberontak. Mereka mendapatkan kabar bahwa ada serangkaian gerakan yang mencurigakan terjadi di dekat hutan bagian barat. Lalu, ketika mereka sedang mencari, Jiang Zhi melihat cahaya yang bergerak dan langkah kaki yang berlari. Dia pergi menuju cahaya itu untuk memeriksa, dan dia tidak berharap bertemu dengan Ibu Suri, Chen Xiang dan seorang gadis lainnya sedang dikejar. Sontak ia berusaha menyelamatkan mereka.
"Kalau begitu, Yang Mulia, Selir Chen mari kita kembali ke Istana."
Mereka haru segera pergi dari sana untuk mengobati Ibu Suri yang terkena panah.
Selama perjalanan, diam-diam Chen Linxi selalu mencuri pandang pada Jiang Zhi.Ketika ia ketahuan, Chen Linxi langsung memalingkan muka seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Jiang Zhi pun tidak begitu terganggu. Sejak pemberontakan dimulai, kepribadiannya perlahan-lahan berubah. Merasakan langsung pengalaman menjadi pemimpin pasukan membuat matanya terbuka. Dia bukan lagi seorang Tuan Muda yang selalu bermain. Jadi, dia yang biasanya selalu membalas undangan dari wanita, kini menjadi acuh tak acuh. Perubahan ini membuat Jiang Wei sangat bersyukur. Akhirnya, anak nakal telah kembali pulang.
***
Hari ini adalah hari keberangkatan Huang Long dan Xie Hongyi. Pagi-pagi sekali mereka berangkat dengan menyamar sebagai pedagang yang hendak menyebrang ke negeri seberang untuk menghindari kecurigaan.
Ada beberapa penjaga dari yang diberikan Pangeran Yu ikut mengawal mereka pergi.
Tampak mereka seperti pedagang asli yang membawa barang-barang untuk ditukar. Namun, pada saat kereta itu menjauh, ada pasukan yang cukup besar mengikuti mereka. Namun, pasukan itu mengambil jalan yang berbeda tapi masih satu tujuan. Mereka adalah pasukan bantuan yang dikirim dari Utara.
Suasana di dalam kereta sangat hening, hanya ada suara roda kayu yang menyentuh tanah terdengar.
"Protagonis marah lagi." Xie Hongyi diam-diam berbisik.
Xie Hongyi memiliki pendapat seperti itu karena sedari tadi ia mencoba bicara pada Huang Long, lelaki itu mengabaikannya. Mungkin dia marah akibat perbuatan Xie Hongyi semalam. Tapi wanita itu tidak merasa menyesal, bahkan sedikit merasa lucu saat melihat wajah Huang Long yang gelap.
Seperti kucing garang yang dingin, semakin dia dingin, semakin ingin Xie Hongyi menggodanya.
Namun yang Xie Hongyi tidak tahu, Huang Long tidak marah, dia hanya kesal. Dia hanya berpura-pura mengacuhkan Xie Hongyi.
Tiba-tiba, kereta berhenti mendadak dan menyebabkan keduanya tersungkur. Huang Long refleks melindungi Xie Hongyi dengan cara memeluknya. Sadar apa yang ia lakukan Huang Long deng cepat menarik tangannya. Pria itu diam-diam menatap Xie Hongyi dan dibalas dengan seringai khas Xie Hongyi.
"Maaf Tuan, tiba-tiba di depan ada orang yang jatuh." Pengemudi kereta berbicara menjelaskan.
Mendengar hal itu, Xie Hongyi penasaran. Dia kemudian ingin memeriksa. "Yang Mulia, aku akan melihatnya."
Huang Long hanya mengangguk.
Xie Hongyi kemudian turun dari kereta. Seperti apa yang dibilang kusir, memang ada seseorang yang tergeletak berbaring di tengah jalan menghalangi mereka. Xie Hongyi lalu menghampirinya.
Xie Hongyi langsung terkejut saat ia mendekat, pria itu tiba-tiba berdiri. Pada saat ini, Xie Hongyi dengan jelas bisa melihat penampilannya.
Pria itu adalah seorang kakek-kakek yang membawa botol minuman ditanganya. Wajahnya yang keriput sedikit memerah akibat efek minuman keras. Dia terlihat sangat energik.
Pria tua itu sangat aneh. Dia terlihat seperti kakek-kakek yang sebentar lagi menjemput ajal, namun ketika tidak ada orang yang melihatnya, pria itu bisa melompat dari tempat tinggi tanpa terluka.
Seperti saat ini, setelah ia bangkit, pria itu langsung melompat-lompat. "Aku terjatuh lagi."
Tersadar ada yang memperhatikan, pria itu menoleh dan balas menatap Xie Hongyi. Pria itu menatap Xie Hongyi cukup lama, sebelum dia berkata, "Kau datang dari tempat yang jauh. Takdirmu telah ditentukan, dan kau tidak bisa menghindarinya meskipun kamu berusaha menjauh."
Xie Hongyi membeku. Apa maksud pria tua ini? Apakah dia tahu Xie Hongyi berasal dari dunia yang berbeda?
"Saranku, terima saja dengan apa yang telah di berikan padamu."
"Aku tahu. Terima kasih telah memperjelas nya ."
Xie Hongyi berujar dengan datar. Jika pria ini tahu Xie Hongyi berbeda, dia pasti bukan orang biasa. Xie Hongyi tidak ingin terkait dengan pria ini, untuk itulah dia pergi meninggalkannya.
Seperti anak kecil, pria tua itu menggerutu melihat Xie Hongyi yang menjauh. "Dasar anak muda! Aku yang telah hidup lama hanya ingin memberi tahu mu tapi kau tidak menerima kebaikan. Humph, menyebalkan."
Namun Xie Hongyi tidak mendengarnya karena ia sudah naik ke dalam kereta.