The System Make Me Near With The Emperor

The System Make Me Near With The Emperor
Bab 22



Saat ini Xie Hongyi mempunyai 200 poin di akunnya. Xie Hongyi menghitung jika poin itu dijadikan uang, maka ia memilki sekitar 50 dolar. Jika dia ingin menukarkan beberapa item lagi, Xie Hongyi harus berpikir dua kali. Dia harus menahan diri untuk kalap, kalau tidak poinnya akan habis dan tidak bisa ditukarkan pada saat darurat.


Ini seperti kau bekerja, dan setelah menyelesaikannya, kau akan diberi upah. Setelah kau mendapat upah di awal bulan, maka kau akan membelanjakan uang itu dengan apa saja sehingga hanya tersisa sedikit ketika waktu mendekati akhir bulan, membuat seolah-olah dirimu sengsara. Dalam situasi yang Xie Hongyi alami, secara jelas bahwa sistem adalah bosnya. Bos yang sedikit menyebalkan. Setelah selesai dengan pemikirannya, Xie Hongyi menatap ke arah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, duduk seorang laki-laki yang sedang menulis sesuatu. Wajahnya terlihat serius.


Setelah keduanya terdiam selama beberapa saat, Huang Long kemudian memecah keheningan dengan bertanya pada Xie Hongyi. "Benda yang kau pakai untuk menulis, kenapa berbeda dengan tinta?


Xie Hongyi meringis dalam hati. Ternyata rasa penasaran lah yang membuat Huang Long mondar-mandir di depan tenda Xie Hongyi dan membuat wanita itu tidak bisa tidur. Xie Hongyi tidak tahu harus bereaksi apa, dia akhirnya mempersilakan Huang Long masuk. "Yang Mulia, masuklah. Aku akan menjelaskannya di dalam."


Huang Long merasa sedikit takjub setelah Xie Hongyi selesai menjelaskan. Ternyata ada benda yang bisa dipakai untuk menulis tanpa menggiling tinta seperti kuas? Huang Long pun mencoba benda itu. Seperti anak yang telah diberi mainan baru, Huang Long asyik dengan benda ditangannya.


Huang Long pura-pura tidak mengetahui Xie Hongyi sedang menatapnya. Dia dengan semangat menulis menggunakan bolpoin diatas kertas. Benda ini ternyata lebih mudah digunakan daripada kuas, dan hasil tulisannya juga cukup bagus. Jika dia menggunakan benda ini untuk menggantikan kuas mengurus dokumen, hasilnya pasti lebih cepat.


Pertama kali ia melihat Xie Hongyi menggunakan alat tulis, dia merasa aneh. Akan tetapi ketika ia melihat benda itu tidak perlu digiling, dia penasaran. Karena rasa penasaran itulah, dia secara tak sadar melangkahkan kakinya ke tenda Xie Hongyi. Sesampainya ia di sana, Huang Long bingung dengan kata-kata yang akan disampaikan dan ia malah mondar-mandir di depan tenda Xie Hongyi.


Xie Hongyi yang duduk di ranjang masih menatap Huang Long. Lama-lama ia merasa mengantuk dan tidak tahan untuk menguap. "Yang Mulia, aku akan tidur. Yang Mulia tidak boleh membawa benda itu karena aku akan menggunakannya lagi. Jika Yang Mulia masih ingin memainkannya, silahkan tapi Yang Mulia harus memainkannya disini." Setelah dirinya mengatakan hal itu, Xie Hongyi membaringkan dirinya di atas ranjang dan segera tertidur.


Huang Long menjawabnya dengan gumaman, lalu melirik ke arah Xie Hongyi. Wajah Xie Hongyi dalam tidurnya tampak lelah, dan dia tidak mau mengganggunya. Pria itu pun kembali menulis sesuatu.


***


Orang-orang di dalam barak dibangunkan dengan aroma harum masukan yang menggugah selera. Beberapa orang bahkan meneteskan air liurnya. Mereka pun penasaran dan segera mencari tahu asal sumber aroma yang harum ini. Di tenda dapur, Xie Hongyi akhirnya selesai memasak. Dia menatap makanan-makanan yang tersaji dihadapannya dengan puas. Mendengar suara-suara di bagian luar tendanya, Xie Hongyi menoleh dan mendapati beberapa orang prajurit yang berekspresi seperti anak anjing kelaparan. "Makanlah. Ini adalah hadiah untuk kesembuhan kalian. Tenang saja, aku tidak meracuni makanan ini." kata Xie Hongyi sambil membagikan masakannya.


Para prajurit itu saling menatap. Setelah membuat keputusan dengan saling bertatapan, mereka kemudian meraih sumpit dan mulai mencicipi. Mata semua prajurit melebar. Mereka tidak pernah memakan makanan seenak ini. Dengan cepat sarapan itu habis, dan mereka meminta lagi. Xie Hongyi hanya bisa menurut dengan kembali membagikannya.


Pada saat ini, Huang Long datang bersama Jenderal Jiang. Mereka juga penasaran akan bau harum yang tercium, membuat perut mereka lapar. Ketika Xie Hongyi melihat mereka berdua, dia mempersilahkan keduanya juga untuk mencicipi.


Merasakan ada seseorang yang sedang menatapnya, Xie Hongyi menoleh untuk mencarinya. Namun semua orang sibuk dengan makanan mereka. Xie Hongyi tidak berhasil menemukan apapun. Dia mengangkat bahunya dan tidak peduli lagi.


***


Pada siang hari, Jendral Mo yang bertugas mengawasi pasukan utara dari garis depan, telah kembali. Dia kemudian pergi ke arah tenda Huang Long untuk melaporkan situasi di garis depan. "Saat ini tidak ada pergerakan apapun dari pasukan mereka." lapor Jenderal Mo saat ia bertatap muka dengan Huang Long.


Huang Long yang duduk disebuah kursi menjawab. "Tetap awasi mereka, dan lebih perketat penjagaan baik di dalam barak ataupun markas yang ada diluar. Kita tidak tahu kapan mereka akan mulai menyerang."


Jendral Mo patuh dan berkata. "Hamba ini mengerti Yang Mulia."


Jenderal Jiang yang sedari tadi berdiri di sana dengan diam, tiba-tiba bersuara. "Yang Mulia, Jendral Mo, sudah saatnya kita untuk membahas strategi untuk melawannya pasukan utara. Seperti kata Yang Mulia, kita tidak tahu kapan mereka akan mulai menyerang. Setidaknya kita harus bersiap sebelum hal itu terjadi." usulnya.


Huang Long dan Jenderal Mo setuju, kemudian Jenderal Jiang mengeluarkan selembar kulit binatang kering yang bergambar sebuah peta. "Pasukan utama kerajaan utama berada di sini." ucap Jenderal Jiang sambil menunjuk salah satu simbol di peta. "Dan kita pasukan kita disini, tepat dibawah wilayah markas mereka. Sebagian wilayah markas pasukan Utara adalah gurun pasir. Jika kita menyerang duluan, maka kita yang akan berada dalam kerugian karena aku mendengar bahwa gurun itu penuh dengan pasir hisap. Pasukan kita pasti akan terjebak dan pasukan Utara akan dengan mudah mengalahkan kita."


"Jadi maksud Jenderal Jiang, kita harus memancing agar pasukan utara bergerak terlebih dahulu sehingga kita bisa melawan tanpa harus terjebak di dalam pasir?" tebak Jenderal Mo.


Jenderal Jiang membetulkan tebakan Jenderal Mo. Jenderal Mo kemudian berkata kembali. "Benar, kita juga harus melakukan pergerakan secepatnya, karena aku dengar bahwa kerajaan Utara akan menambah jumlah pasukan mereka dalam dua hari."


Kemudian Huang Long teringat sesuatu. "Tapi sekarang para prajurit sedang dalam masa pemulihan mereka. Apakah kita harus tetap menyerang?"


Ketiganya kemudian berada dalam kebimbangan. Tiba-tiba terdengarlah suara tenda terbuka dan masuklah Xie Hongyi dengan wajah yang sedikit gelap, seakan-akan ada awan mendung yang menyelimuti seluruh wajahnya.