
“Nick…”
Dengan tertatih Rahardi berjalan mendekati menantunya itu. Nick terus menatap ke arah Rahardi, semakin lama perasaan tadi terus menyerangnya. Kelebatan ingatan keluar masuk kepalanya. Ingatan yang tak jelas hanya rasa sakit yang terus menerjang hatinya.
“Aaaarrrgghhh,” Nick mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
“Nick!!”
Iza terkejut mendengar erang kesakitan Nick. Wanita itu turun dari ranjang dan berusaha menghampiri suaminya itu. Beberapa kali kakinya terantuk benda-benda yang ada di dekatnya. Mina yang melihat anaknya, segera membantu Iza.
“Mas..”
“Aarrgghh..”
“Mas..”
Iza terus berusaha menggapai Nick. Diah segera menyingkir ketika Iza mendekati anaknya. Dia membantu Iza menggapai Nick. Iza segera menarik Nick ke dalam pelukannya. Suaminya itu masih saja mengerang kesakitan.
“Mas.. tenang mas. Tarik nafas dalam-dalam.. tenang..”
“Zi..”
“Aku di sini mas.”
Nick mengeratkan pelukannya di punggung Iza, kepalanya dibenamkan ke bahu sang istri. Dia terus berusaha menenangkan diri seraya menghirup aroma tubuh Iza. Perlahan rasa sakit yang dirasakannya berangsur mereda. Ketegangan yang tadi sempat dirasakan semua orang, menguar sudah, seiring dengan kondisi Nick yang mulai tenang.
Mina segera menarik tangan suaminya keluar dari kamar. Dia tak ingin kehadiran Rahardi malah membuat keadaan Nick memburuk. Mereka berjalan sedikit menjauhi kamar dan duduk di kursi tunggu yang ada di dekat meja perawat.
“Nick.. dia masih hidup?” tanya Rahardi.
“Iya.. Nick memang masih hidup.”
“Tapi kenapa dulu Diah mengatakan Nick sudah meninggal? Kamu juga.”
“Apa mas mengharapkan Diah jujur setelah tahu kalau mas yang telah menyebabkan anaknya kecelakaan? Harusnya mas bersyukur anak kita juga Nick masih selamat, meski keadaan mereka pasca kecelakaan jauh dari kata baik. Iza kehilangan penglihatannya, kehilangan calon anaknya dan Nick kehilangan ingatannya. Apa kamu puas sekarang mas?”
Rahardi terdiam, pria itu tak mampu mengeluarkan kata-kata untuk membantah itu semua karena benar adanya. Karena keegoisannya, anak dan menantunya hidup menderita. Karena ulahnya mereka harus kehilangan calon anak, calon cucunya.
“Lebih baik mas tunggu di kamar saja. Aku sudah menyewa kamar di lantai atas. Kita akan tidur di sini sampai Iza dioperasi.”
“Kenapa kita tidak ke rumah Ridho saja?”
“Apa mas pikir Ridho mau menerimamu? Dia diam bukan berarti telah memaafkan dan melupakan semua perbuatanmu.”
“Aku menyesal Mina, sungguh aku menyesal. Aku ingin meminta maaf pada Iza juga Ridho.”
“Buktikan dulu kalau dirimu benar menyesal, baru mas meminta maaf pada mereka. Sekarang tunggulah di kamar.”
Mina menyerahkan keycard pada Rahardi. Pria itu menerima kunci tersebut. Dengan tertatih dia berdiri kemudian berjalan menuju lift. Sepeninggal Rahardi, Mina kembali ke dalam kamar. Wanita itu dapat bernafas dengan lega begitu melihat kondisi Nick sudah membaik.
“Are you okay, Nick?” tanya Edo.
“Iya, om. Maaf sudah membuat kalian cemas.”
Nick bangun sambil membantu Iza berdiri. Dia membawa sang istri kembali ke bed. Saat bersamaan, dokter Rega masuk bersama seorang suster. Dia segera mendekati bed Iza. Yang lain pun ikut mendekat, ingin mendengar apa yang dikatakan dokter tersebut.
“Bagaimana dok?” tanya Nick.
“Kondisi Noor baik. Besok dia akan bisa dioperasi.”
“Alhamdulillah,” seru yang lain.
“Nanti setelah jam enam sore, kamu sudah tidak makan dan minum lagi. Jadi, pastikan kamu makan dan minum yang cukup sebelumnya.”
“Baik dok.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Dokter tampan itu berpamitan. Sebelum pergi dia menoleh ke arah Iza. Hatinya senang melihat senyum gadis cantik itu. Namun kemudian senyumnya pudar saat mengingat wanita yang dicintainya masih bersuami. Di saat dirinya sudah siap membuka hati, ternyata hatinya berlabuh di tempat yang salah. Dengan langkah pelan, dokter Rega melangkah keluar kamar.
“Saya pamit. Besok saya akan ke sini lagi,” ujar Edo.
“Iya, om. Terima kasih sekali lagi.”
Edo hanya menganggukkan kepalanya. Dengan terburu, pria itu segera keluar dari ruangan. Rico baru saja mengabarkan kalau anak buah Joseph mulai mengendus keberadaannya. Tak ingin membahayakan sang anak dan semua orang yang ada di sekelilingnya, Edo memilih menyingkir.
“Nick.. Iza.. daddy juga harus pergi. Daddy harus segera ke perkebunan.”
“Iya dad. Mommy juga ikut?”
“Ikut dong. Nanti kalau di tengah jalan daddy kamu ada yang nyulik gimana?”
“Emang ada yang berani nyulik daddy?” tanya Iza.
“Ada. Janda yang tinggal di dekat perkebunan.”
Bryan hanya menggelengkan kepalanya saja. Diah selalu saja cemburu pada Imas, janda cantik yang tinggal di sekitar perkebunan. Wanita itu memang pernah menyatakan ketertarikan pada dirinya, namun cintanya pada Diah membuat pria itu tak bisa berpaling pada wanita lain.
“Mina, aku pergi dulu.”
Mina hanya menganggukkan kepalanya. Matanya terus melihat ke arah Diah dan Bryan yang berjalan keluar kamar. Wanita itu lalu mendekati bed Iza. Digenggamnya tangan putri bungsunya itu. Wajah Iza kini memancarkan kebahagian, tidak seperti dulu yang nampak tak bergairah. Sudah seperti mayat hidup saja.
“Ummi senang bisa melihatmu bahagia lagi. Terima kasih Nick sudah bertahan dan mengingat Iza.”
“Walau ingatanku belum kembali, tapi aku tahu kalau hanya Iza yang kuncintai. Orang yang selama ini kucari.”
“Ummi akan selalu mendoakan kalian.”
“Abi di mana, ummi?”
“Abi sedang beristirahat di kamar. Hmm.. kalian ngga keberatan kalau ummi kembali ke kamar.”
“Silahkan, ummi. Ummi pasti capek,” jawab Nick.
Mina mengusap puncak kepala Iza lalu mencium keningnya. Wanita itu memberi tanda pada Ridho untuk mengikutinya keluar. Setelah berpamitan dengan Iza dan Nick, Ridho beserta Meta keluar mengikuti langkah Mina.
“Dho.. apa kamu tidak mau bertemu dengan abi?”
“Nanti, ummi. Aku masih belum mau bertemu abi sekarang. Setelah Iza bisa melihat lagi dan dia benar-benar sudah bahagia, baru aku bisa bertemu dengan abi. Aku masih belum bisa memaafkan abi untuk sekarang ini.”
“Ummi mengerti. Ummi hanya mengingatkanmu saja, bagaimana pun juga dia tetap ayahmu.”
“Iya, ummi.”
“Ummi menginap di rumah kan?” tanya Meta.
“Ngga. Ummi sudah menyewa kamar di sini. Ummi ke kamar dulu.”
Mina mengusap lengan anak dan menantunya bergantian, lalu beranjak pergi. Meta melihat ke arah Ridho. Raut wajah suaminya itu sedikit berubah begitu ibunya membahas tentang Rahardi.
“Abang mau kemana sekarang?”
“Abang harus ke kampus. Ada satu mata kuliah jam satu nanti.”
Ridho melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Berarti masih tersisa waktu satu setengah jam lagi. Sambil merangkul sang istri, pria itu berjalan menuju lift.
“Bagaimana kalau kita makan siang dulu?”
“Boleh bang.”
“Nanti kamu ikut ke kampus aja ya. Abang ngga lama kok, cuma dua jam.”
“Terus aku ngapain?”
“Tunggu di kantor atau ikut ke kelas, jadi asisten abang.”
“Ngga mau, malu. Lagian aku ngga ngerti mata kuliah yang abang ajar.”
Pria itu tergelak. Tangannya yang berada di bahu Meta perlahan turun ke pinggang. Setelah lift yang ditunggu tiba, keduanya segera memasuki kotak besi tersebut. Tangan pria itu tak lepas dari pinggang sang istri.
Sementara itu di dalam kamar, Nick ikut naik ke atas bed dan merebahkan diri di samping Iza. Rasa sakit yang menderanya tadi cukup menguras tenaganya. Iza mengangkat kepalanya sedikit agar Nick bisa merentangkan lengannya.
“Zi..”
“Hmm..”
“Apa abimu tidak menyukaiku?”
“Tadi saat bertemu dengannya, perasaanku mengatakan demkian. Aku merasa sedih, kecewa dan juga marah. Apa aku melakukan kesalahan sampai membuatnya tak menyukaiku?”
“Ngga mas. Mas ngga salah apa-apa. Abi hanya salah menilaimu. Abi tidak bisa melihat kebaikan dan kelebihan dalam dirimu.”
“Apa kamu mau menceritakannya?”
“Apa mas benar mau mendengarnya? Aku takut…”
“Aku akan baik-baik aja. Bisakah kamu ceritakan?”
Iza terdiam sejenak. Dirinya ragu menceritakan tentang Rahardi. Baru mengingat apa yang telah dilakukan oleh abinya itu saja sudah membuatnya sesak. Namun Iza juga tak bisa membiarkan Nick bergelut dengan rasa penasarannya. Setelah menarik nafas panjang, cerita tentang Rahardi mengalir dari bibirnya.
Dengan seksama Nick mendengarkan semua yang dikatakan Iza. Sesekali jarinya mengusap airmata yang mengaliri pipi sang istri. Sebelah tangannya memeluk bahu Iza agar lebih merapat padanya. Pantas aja dia merasakan perasaan sedih yang hebat ketika bertemu dengan mertuanya itu.
“Jadi abi sudah tahu soal pernikahan kita?”
“Iya. Tapi abi menutupinya. Kecelakaan yang menimpa kita terjadi saat kita mencoba lari dari kejarannya. Maafkan aku mas, karena aku semua ini terjadi. Kalau aku tidak bertengkar dengan abi saat itu, mungkin semua tak akan terjadi.”
Airmata Iza semakin deras bercucuran, Nick memeluk erat tubuh sang istri. Dirinya pun tak bisa menahan airmata yang mengalir dari sudut matanya. Beberapa saat kemudian dia menguraikan pelukannya.
“Semua yang terjadi pada kita bukanlah salahmu. Ini memang takdir yang harus kita jalani. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk kebahagiaan kita dan aku juga akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk abimu. Aku akan meluluhkan hatinya lagi dan berusaha mendapatkan restunya.”
“Setelah apa yang abi lakukan, mas masih bisa berkata seperti itu. Terbuat dari apa hatimu itu?”
“Terbuat dari.. baling-baling bambu,” Nick menirukan suara Doraemon ketika menyebutkan kata baling-baling bambu, membuat Iza tak bisa menahan tawanya.
“Nah begitu sayang.. aku lebih suka melihatmu tertawa. Kamu terlihat lebih cantik saat tertawa. Miss Universe dan Miss World aja kalah cantiknya dari kamu.”
“Dasar tukang gombal.”
“Kalau yang digombali kamu, halal aja kan.”
Nick mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir Iza. Kemudian mengulangi lagi kecupannya di seluruh wajah sang istri. Tak ada yang terlewatkan sedikit pun yang diakhiri dengan ciuman panjangnya. Setelah berbagai cobaan dan masalah yang mendera, dia hanya ingin berbahagia. Tak akan dibiarkan penderitaan dan kesedihan mengambil alih kehidupan mereka lagi.
🍂🍂🍂
Menjelang sore hari, akhirnya Meta bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisinya sudah stabil. Tentu saja kabar ini disambut gembira oleh seluruh keluarga. Para sahabat Fahrul yang sedari tadi setia menemani, juga ikut senang mendengarnya. Ayura dan Denis yang baru dua jam lalu tiba juga ikut lega mengetahui keadaan Maira sudah membaik.
Orang tua Fahrul yang mendengar cucunya telah lahir langsung mengambil penerbangan pagi dan tiba di rumah sakit Ibnu Sina satu jam yang lalu. Walau Surya masih tidak menyetujui Fahrul kembali bersama Maira, namun pria itu masih menyambut kedatangan besannya itu dengan ramah.
Fahrul berjalan mondar-mandir di depan kamar rawat inap Maira. Dokter masih memeriksa keadaan istrinya. Kondisi Maira memang masih lemah tapi sudah melewati masa krisis. Kini hanya tinggal masa pemulihan saja. Tak lama kemudian dokter wanita itu keluar.
“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”
“Kondisi ibu Maira sudah membaik, hanya masih belum banyak bergerak. Keadaannya masih lemah. Ingat, jangan mengatakan apapun yang bisa membuatnya tertekan atau memicu stress. Bapak harus bisa menjaga kondisi mentalnya.”
“Iya dok, terima kasih. Saya akan mengingatnya. Boleh saya melihatnya sekarang, dok?”
“Silahkan pak. Tapi satu per satu ya, kalau mau menjenguk bu Maira.”
“Iya dok.”
Fahrul menoleh ke arah Denis, Abe dan Arnav. Perasaannya lega mendengar kondisi Maira yang sudah membaik. Dengan gerakan pelan, pria itu membuka pintu kamar lalu berjalan menuju bed. Dibalik wajah pucatnya, Maira berusaha menyunggingkan senyuman, menyambut kedatangan suaminya. Fahrul menarik kursi ke dekat bed lalu mendudukkan diri di sana. Diraihnya tangan sang istri, kemudian mengecup punggung tangannya dengan lembut.
“Aa.. bagaimana anak kita?”
“Alhamdulillah, anak kita selamat. Sekarang masih ada di ruang NICU. Dia masih berada dalam inkubator. Tapi keadaannya baik.”
“Maaf aa.. aku tidak bisa menahannya. Anak kita lahir lebih cepat sebelum waktunya.”
“Itu semua bukan salahmu. Terima kasih sudah melahirkan anak yang begitu cantik untukku. Terima kasih sudah bertahan hidup demi kami. Aku menyayangimu, Mai.”
“Aa jangan kemana-mana. Di sini saja temani aku.”
“Iya sayang. Tapi di luar banyak yang ingin menjengukmu. Kami hanya boleh melihatmu bergantian. Kalau semua sudah selesai menjenguk, aa akan menemanimu di sini.”
Kepala Maira mengangguk lemah. Mata sayunya menatap dalam pada netra Fahrul. Dia bisa merasakan kesedihan sang suami. Tangannya terangkat lalu mengusap rahang Fahrul yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Aa sekarang jauh lebih kurus.”
“Tenang saja, nanti setelah sembuh kamu bisa mengurus aa lagi. Kamu pasti bisa buat perut aa buncit karena masakanmu sangat lezat,” senyum Maira terbit mendengar gurauan suaminya.
“Yang penting sekarang, kamu harus sehat lagi. Kamu harus sehat demi anak kita dan juga dirimu sendiri. Aa akan selalu menjagamu walau tidak bisa selalu berada di sisimu dan anak kita.”
“Apa maksud aa? Apa aa mau pergi?”
“Ngga sayang. Aa ngga kemana-mana. Aa kan harus kerja, jadi ngga bisa menemanimu 24 jam,” Fahrul meralat kata-katanya.
“Aa harus janji, apapun yang terjadi, aa ngga boleh menyerah. Aa akan tetap memperjuangkanku kan?”
“Iya sayang, tentu saja.”
Fahrul berdiri kemudian mencium kening istrinya cukup lama. Kemudian ciumannya turun ke kedua mata Maira, pipi dan terakhir di bibir. Dengan gerakan lembut Fahrul memagut bibir sang istri. Buliran bening lolos dari kedua matanya, saat pria itu memejamkan matanya.
Surya dan Darmono yang baru saja kembali dari kantin dapat bernafas lega begitu mendengar Maira sudah sadar dan boleh dijenguk. Namun senyum pria itu memudar begitu mendengar Fahrul masih berada di dalam kamar. Dengan kesal, dia mendudukkan diri di samping istrinya.
“Kenapa anak itu seenaknya saja masuk ke ruangan Maira?” kesal Surya.
“Dia itu suaminya. Dia berhak melihat dan menemani istrinya,” sahut Reni yang mulai jengah melihat sikap suaminya.
Darmono dan Asti hanya terdiam saja. Sebenarnya dalam hari kecil mereka tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, namun begitu mengingat Fahrul telah melakukan kesalahan fatal, keduanya hanya mengatupkan mulut saja.
“Pokoknya, Fahrul harus tetap menceraikan Maira,” tegas Surya.
Ayura yang duduk tak jauh dari mereka, menolehkan wajahnya. Sejak kedatangannya tadi, telinganya sudah tak tahan mendengar makian Surya pada Fahrul. Pria itu terus saja menyudutkan sahabat suaminya itu. Dengan kesal Ayura bangun dari duduknya lalu menghampiri Surya. Mulutnya sudah gatal ingin membalas semua ucapan pria tua itu.
“Maaf om..”
“Siapa kamu?”
“Saya temannya Maira.”
“Oh, kamu Ayura, temannya Mai?” tanya Reni.
“Iya tante.”
“Kalau kamu temannya Mai, kamu pasti tahu apa yang terjadi pada Mai,” seru Surya.
“Sedikit banyak iya om.”
“Bagus. Kamu bisa jadi saksi di pengadilan nanti.”
Ayura mengepalkan tangannya erat. Dihirupnya okseigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga parunya yang tiba-tiba saja kosong begitu mendengar perkataan pria di hadapannya ini.
“Fahrul memang laki-laki brengsek. Dia sudah berselingkuh di belakang Mai dan membuat Mai menderita,” Surya tersenyum mendengarnya. Mengira Ayura akan mendukung keputusannya.
“Tapi dia sudah menyadari kesalahannya. Sejak Mai mengetahui peselingkuhannya, dia sudah tak berhubungan lagi dengan Reisa. Dan anak yang dikandung Reisa itu bukan anaknya. Saya memang sempat membencinya, om. Tapi melihat kesungguhannya memperbaiki diri, meminta maaf pada Mai, mencoba mempertahankan pernikahannya, saya sadar kalau dia benar-benar menyesal dan tulus mencintai Mai.”
“Apa maksudmu? Dia itu hanyalah laki-laki brengsek yang merusak hidup Mai. Lihat kondisi Mai saat ini, itu karena ulahnya!”
“Bukan.. apa yang terjadi pada Mai karena om yang terlalu egois. Saya tahu sebagai orang tua pasti om sakit hati melihat anaknya disia-siakan. Tapi saya mohon om juga bisa melihat kesungguhan Fahrul untuk berubah. Lihat perjuangannya mendapatkan maaf dari Mai, perjuangannya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan perjuangannya memantaskan diri menjadi menantu om. Selama ini om hanya terpaku pada keburukannya, tanpa mau membuka mata atas semua usahanya. Sebelum Mai dibawa kembali ke Bandung, kondisinya baik-baik saja. Tapi semenjak om membawanya pergi, memisahkannya dari Fahrul, kondisinya mulai menurun. Semua salah, om.”
“Tahu apa kamu! Dasar anak kurang ajar!”
Denis segera mendekati istrinya dan mencoba membawanya menjauh. Kalau tidak mengingat Surya adalah mertua dari Fahrul, mungkin dia sudah melayangkan bogeman pada pria itu.
“Ngga masalah om menyebutku anak kurang ajar asal saya bisa membuka mata om. Berhentilah bersikap keras kepala, om. Pada akhirnya sikap om yang seperti ini hanya akan membuat Mai menderita,” geram Ayura.
“Sudahlah sayang, jangan ikut campur. Percuma kamu berbicara dengan orang yang hatinya sudah membatu, tidak akan ada gunanya.”
Denis segera menarik tangan Ayura menjauh. Dia mengajak istrinya ke kantin. Kalau tidak, pasti Ayura akan terus berdebat dengan Surya. Darmono merasa tertohok melihat apa yang dilakukan Ayura. Wanita itu yang tak memiliki hubungan apapun dengan Fahrul, mau membelanya tapi dirinya hanya mampu terdiam.
Pintu ruangan Maira terbuka, Fahrul berjalan keluar. Dia terus menuju ke arah Surya. Darmono, Reni dan Asti terkejut ketika melihat Fahrul duduk bersimpuh di hadapan Surya. Abe, Sansan dan Arnav yang masih ada di sana juga tak kalah terkejutnya.
“Abah.. saya mohon, ijinkan saya menemani dan mengurus Mai sampai sembuh. Dan tolong jangan menunjukkan ketidaksukaan abah kepadaku di depannya. Dokter bilang, Mai tidak boleh tertekan. Kalau keadaan Mai sudah pulih dan keadaannya sehat seperti sedia kala, saya akan memenuhi permintaan abah. Tapi sebelumnya, ijinkan saya mendampingi Mai sampai kondisinya pulih.”
“Rul..”
Asti langsung menghambur ke arah anaknya. Diraihnya tubuh Fahrul ke dalam pelukannya. Airmata merembes membasahi wajah wanita itu. Begitu pula Fahrul, pria itu tak kuasa menahan tangisnya dalam pelukan sang ibu. Darmono mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya juga miris melihat keadaan anaknya. Namun dalam hatinya terselip juga kebahagiaan, melihat Fahrul sudah kembali ke jalan yang benar.
🍂🍂🍂
Mudah²an cepet reviewnya, aamiin🤲