
Iza dan Nick sampai di rumah sakit Mitra Medika. Nick menanyakan perihal pasien bernama Dita Renilda. Petugas informasi memberitahu kalau Dita tengah ditangani di ruang persalinan. Dengan cepat keduanya langsung menuju lantai tiga. Tempat ruang persalinan berada.
Syehan baru saja keluar dari ruang persalinan sambil menggendong bayinya saat Nick dan Iza tiba. Keduanya langsung menghampiri Syehan yang masih menunggu sang istri keluar.
“Udah lahir Han?” tanya Nick.
“Alhamdulillah udah Nick.”
Syehan memperlihatkan pada Nick juga Iza bayi dalam gendongannya. Mata Iza berbinar melihat bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu. Begitu pula dengan Nick, dia membayangkan anaknya secantik ini jika Iza hamil dan melahirkan nanti.
“Dita gimana?”
“Alhamdulillah dia baik-baik aja. Sebentar lagi dia dipindahkan ke ruang perawatan.”
Pintu ruang bersalin terbuka. Seorang suster mendorong kursi roda yang dinaiki Dita. Dia mendorong kursi menuju kamar perawatan. Syehan dan yang lain mengikuti dari belakang.
Setelah membantu Dita berbaring di ranjang, perawat wanita itu keluar dari ruangan. Syehan meletakkan anaknya ke dalam boks. Untuk sesaat pria itu memandangi buah hatinya yang tengah tertidur.
Perhatiannya teralihkan ketika pintu ruangan terbuka. Sang mama datang bersama dengan papanya. Senyum bahagia yang tadi tercetak di wajahnya langsung menghilang begitu melihat Faisal. Wajah Dita pun menegang melihat mertuanya datang. Faisal pun cukup terkejut melihat Iza dan Nick juga ada di sana. Mama Syehan langsung menghampiri boks bayi untuk melihat cucunya.
“Oh cucu mama, cantiknya. Selamat ya, Han, kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah.”
“Iya ma, alhamdulillah makasih.”
Mama Syehan kemudian menghampiri Dita. Wanita itu memegang erat tangan menantunya itu.
“Terima kasih sudah memberi mama cucu yang cantik.”
“Sama-sama ma. Terima kasih sudah menerimaku.”
“Alasan apa mama tidak menerimamu? Kamu adalah wanita baik-baik, mama yakin pilihan Syehan ngga pernah salah.”
Faisal melihat ke arah sang istri, dia merasa tertohok mendengar kata-kata yang diucapkannya. Kemudian pria itu mendekati boks bayi. Cukup lama dia memandangi wajah sang cucu yang tengah tertidur dengan damainya.
“Dia anakku pa, cucu papa. Besok aku akan melegalkan pernikahanku dengan Dita, suka atau tidak, papa harus menerima, wanita yang kupilih dan telah memberiku anak adalah Dita, bukan wanita lain. Papa tenang aja, aku sudah mengajukan mutasi, aku, Dita dan anak kami akan pergi jauh dari papa. Mulai malam ini aku juga keluar dari rumah papa. Terima kasih sudah merawatku selama ini. Tapi maaf aku tidak bisa mengikuti permintaanmu.”
Pria paruh baya itu tak menggubris ucapan anaknya. Matanya terus tertuju pada sang cucu. Keharuan menyeruak dari dalam hatinya melihat bayi mungil nan cantik. Kemudian pandangannya tertuju pada Dita. Perlahan dia menghampiri wanita itu. Syehan bergegas mendekati sang istri.
“Dita... maafkan papa kalau selama ini bersikap egois. Hanya karena alasan sepele papa menolak kehadiranmu. Sekarang papa sadar kalau kebahagiaan Syehan ada padamu. Maukah kamu memaafkan papa?”
Dita tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tenggorokannya tercekat, penantian panjangnya akhirnya membuahkan hasil. Pria yang selalu bersikap sinis dan menolak kehadirannya kini meminta maaf darinya. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya seiring dengan buliran bening yang mengalir dari kedua matanya.
“Pa..”
“Maafkan papa, Han. Maaf kalau sikap papa selama ini membuatmu menderita. Papa merestui pernikahan kalian. Papa mohon jangan pergi, jangan pisahkan papa dari cucu papa.”
“Terima kasih pa, terima kasih.”
Faisal memeluk sang anak dengan erat. Hatinya luluh begitu saja melihat bayi mungil yang langsung mencuri perhatiannya. Iza menggenggam tangan Nick erat, matanya nampak berkaca-kaca. Dia ikut terharu menyaksikan kebahagiaan Syehan dan Dita. Hatinya pun berharap Rahardi akan memberikan restu padanya juga Nick suatu saat nanti. Faisal mengurai pelukannya, tangannya menghapus air di sudut matanya.
“Kamu sudah memberi nama anakmu?”
“Belum pa.”
“Boleh papa yang menamainya?”
“Silahkan pa.”
“Hanya nama depannya saja. Freesia, anakmu cantik seperti bunga Freesia. Semoga kehadirannya semakin mempererat ikatan kalian.”
“Aamiin.. terima kasih pa.”
Segurat senyum menghiasi wajah Faisal, kemudian pandangannya teralihkan pada dua orang yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Dia melangkah mendekati Iza juga Nick. Pria itu berhenti di depan pasangan muda itu. Rahardi sudah menceritakan tentang Nick saat dirinya bercerita tentang Dita. Keduanya sepakat untuk memisahkan pasangan anak mereka dan menjodohkan anak-anak mereka. Namun kini keputusannya berubah.
“Maafkan om, kalau om berusaha memisahkan kalian. Terima kasih mau membantu Syehan sampai sejauh ini.”
“Sama-sama om. Kami turut bahagia untuk mereka,” jawab Nick.
“Kamu lelaki baik, Nick. Om berharap Rahardi bisa melihat ketulusanmu dan menerimamu. Om doakan yang terbaik untuk kalian.”
“Terima kasih om. Semoga saja abi bisa bersikap bijak seperti om,” sahut Iza.
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, tangannya menepuk bahu Iza dan Nick bergantian. Kemudian dia kembali mendekati boks bayi, rasanya belum puas memandangi wajah cantik cucunya.
🍂🍂🍂
Usai menjenguk Dita, Nick dan Iza memutuskan untuk pulang. Nick mengajak Iza pulang ke apartemennya. Mulai malam ini, tidak akan ada drama perjodohan lagi, yang artinya mereka kembali akan berhadapan langsung dengan Rahardi. Nick sudah bertekad mempertahankan Iza, apapun caranya. Dia tidak akan membiarkan mertuanya itu memisahkan mereka lagi.
Kepulangan Nick dan Iza disambut oleh Diah. Keduanya terkejut melihat Mina juga ada di sana. Iza menghambur ke dalam pelukan umminya. Beruntung, di saat Rahardi menentangnya, masih ada ummi yang selalu mendukungnya. Mina mengurai pelukan putrinya lalu membawanya ke meja makan. Dia dan Diah baru saja membuatkan makan malam untuk pasangan itu.
“Ayo kita makan dulu. Ummi dan mommy sudah membuatkan makanan spesial untuk kalian.”
Iza memandangi aneka makanan yang tersaji di atas meja. Semua adalah makanan kesukaan dirinya juga sang suami. Nick menarik kursi kemudian mendudukkan Iza di sana. Dia pun menyusul duduk di samping istrinya itu.
“Kalian habis dari mana?” tanya Diah.
“Kita abis dari rumah sakit mom. Dita sudah melahirkan.”
“Alhamdulillah,” sahut Mina.
“Kalau kalian kapan kasih kita cucu?” goda Diah.
“On the way mom.”
Iza mencubit pinggang Nick, wajahnya memerah karena ucapan suaminya itu. Diah dan Mina hanya meng*lum senyum saja melihat tingkah keduanya. Mina begitu bahagia melihat kebahagiaan anaknya.
“Malam ini kamu menginap di sini aja, ya,” ucap Diah.
“Iya, biar Iza menginap di sini. Kalau bisa seterusnya. Tinggal satu atap dengan abimu hanya membuatmu stress dan itu bisa menghambatmu memiliki anak.”
“Betul itu. Iza tinggal di sini saja. Suamimu itu menyebalkan sekali,” timpal Diah.
“Mom..”
“Ngga apa-apa Nick. Mommy-mu benar, abinya Iza memang menyebalkan. Kamu yang sabar ya punya bapak mertua seperti dia.”
Diah tergelak mendengar ucapan besannya. Nick dan Iza pun tak bisa menahan senyumnya. Sikap menyebalkan Rahardi sepertinya sudah mendapat pengakuan dari banyak orang. Mina mengambilkan makanan untuk anak dan menantunya. Mereka memulai makan malam diiringi perbincangan hangat.
🍂🍂🍂
Iza menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Tangan Nick memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Waktu sudah hampir tengah malam, namun sepasang suami istri itu masih belum tertidur. Setelah pergulatan panasnya, Nick masih duduk menyandar di headboard ranjang dengan Iza dalam pelukannya.
“Anaknya Syehan cantik ya mas.”
“Hmm..”
“Aku jadi pengen cepet punya anak.”
“Kan tadi kita abis usaha. Mudah-mudahan cepat hadir ya di sini,” Nick mengusap perut Iza.
“Kalau anak kita perempuan, pasti cantik kaya mamanya,” lanjut Nick.
“Kalau laki-laki pasti ganteng kaya papanya yang mirip aktor Hollywood.”
Nick tertawa mendengar pujian sang istri. Iza mendongakkan kepalanya melihat ke arah Nick, kemudian mencium bibir suaminya itu. Nick tersenyum, akhir-akhir ini Iza senang sekali menciumnya. Dia lalu membalas ciuman sang istri. Beberapa kali Nick memagut bibir ranum Iza.
“Kata Rasyid, mas punya penggemar ya.”
“Ternyata Rasyid mata-mata kamu ya.”
“Bukan mata-mata, dia itu cctv hidup,” Iza terkikik geli.
“Kamu ngga percaya suamimu, hmm..”
“Aku percaya sama mas. Tapi aku ngga percaya sama pengunjung kedaimu. Apalagi kebanyakan pengunjung kedai kaum hawa. Aku yakin mereka senang datang ke kedai kopimu bukan karena kopi buatanmu yang enak. Tapi mereka mau melihat pemilik kedai yang ganteng. Sambil minum kopi bisa menikmati wajah ganteng pembuat kopinya, jadi rasa kopi yang mereka minum tambah enak.”
“Tapi sayangnya, pemilik kedai yang katanya ganteng kaya aktor Hollywood itu sudah punya istri yang cantik banget. Dia juga cinta mati sama istrinya itu. Di matanya ngga ada perempuan lain yang lebih cantik dan baik dari istrinya. Mau tahu nama istrinya?”
“Siapa?”
“Noor Azizah Rukhansa,” bisik Nick di telinga Iza, membuat senyum wanita itu terbit.
Nick mengeratkan pelukannya seraya mendaratkan ciuman di puncak kepala sang istri. Iza mendongakkan kepalanya, memberikan akses pada Nick untuk menciumi lehernya. Terdengar de**han pelan Iza ketika Nick mendaratkan ciuman bertubi di lehernya. Pria itu memberikan sesapan di leher putih itu hingga meninggalkan bercak kemerahan. Nick memang hobi sekali memberikan tanda kepemilikan di tubuh istrinya.
Iza melepaskan tangan Nick dari tubuhnya, kemudian dia naik ke pangkuan sang suami. Selimut yang menutupi bagian atas tubuhnya terurai begitu saja. Dia memeluk leher Nick kemudian me**mat bibirnya.
“Jangan memancingku, Zi. Aku bisa membuatmu terjaga semalaman,” bisik Nick.
“Siapa takut.”
Iza berbisik di telinga Nick dengan suara s*nsualnya. Dia lalu meniup telinga Nick pelan kemudian memberikan gigitan kecil di sana. Tubuh Nick langsung merespon. Pria itu kembali menciumi tubuh Iza, kemudian dengan cepat dia membaringkan Iza di bawahnya. Nick memulai kembali cumbuannya. Dia akan memberikan nafkah batin yang kedua untuk malam ini.
🍂🍂🍂
“Zi kenapa mom?” tanya Nick begitu sampai di apartemen.
“Dari tadi dia tidur terus. Mommy sudah bangunin buat makan siang, tapi dia bilang belum laper terus tidur lagi. Coba kamu yang bangunin.”
“Iya mom.”
Nick segera masuk ke dalam kamar. Nampak Iza masih asik bergelung dengan selimutnya. Pria itu berjalan mendekat kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Tangannya meraba kening sang istri, tapi suhu tubuhnya normal. Perlahan dia mengguncang tubuh Iza untuk membangunkannya.
“Zi.. bangun sayang. Ayo makan dulu. Zi..”
Iza bergeming, wanita itu masih setia menutup matanya. Kembali Nick mencoba membangunkannya. Terdengar lenguhan pelan dari Iza namun dia kembali tertidur. Gemas karena sang istri tak kunjung bangun, Nick pun mencium bibir Iza. Dia menyesap bibir atas dan bawah istrinya bergantian. Usahanya membuahkan hasil, Iza membuka matanya.
“Mas..” suara Iza terdengar serak.
“Bangun sleeping beauty. Ayo makan dulu.”
“Sekarang jam berapa?”
“Setengah satu.”
“Aku masih ngantuk mas.”
“Ayo bangun, mending kamu mandi dulu biar seger.”
Nick menarik tangan Iza hingga tubuh wanita itu tegak. Matanya masih setengah terpejam. Nick menggelengkan kepalanya melihat sang istri seperti habis diberi obat tidur saking susahnya bangun.
“Ayo mandi dulu.”
“Mandiin..”
“Kalau aku mandiin kamu, bisa lama urusannya.”
“Mandiin..”
“Mandi sendiri aja. Aku gendong sampe kamar mandi ya.”
“Ngga mau. Mandiin..”
Terdengar kekehan Nick melihat istrinya yang bersikeras meminta dimandikan. Diangkatnya tubuh Iza lalu membawanya ke kamar mandi. Dia menurunkan Iza di bawah shower lalu menyalakannya. Mata Iza langsung terbuka ketika air dingin menerpa wajahnya.
“Jangan lama-lama mandinya. Aku tunggu di luar.”
Baru saja Nick akan pergi, tangan Iza menarik lengannya hingga tubuh pria itu berbalik. Seketika kaos yang dikenakan Nick basah terkena pancuran air. Senyum Iza mengembang melihat tubuh sang suami yang basah karena ulahnya. Dia menarik kaos Nick, kemudian berjinjit. Diciumnya bibir Nick. Wanita itu tak membiarkan Nick melepaskan diri, hingga akhirnya suaminya itu membalas ciumannya.
🍂🍂🍂
Diah tersenyum melihat rambut anak dan menantunya basah saat tiba di meja makan. Dia segera menyiapkan makanan di meja. Air liur Iza hampir saja menetes melihat ayam mercon telah tersedia di meja. Tadi dia memang minta dimasakkan ayam mercon dan tumis kangkung oleh Diah. Dengan senang hati mertuanya itu memasakkan untuknya.
“Mom.. ngga salah nih ayamnya banyak banget cabenya,” protes Nick.
“Istrimu yang mau.”
“Kenapaa diturutin, nanti sakit perut.”
“Udah jangan banyak protes. Cepat makan.”
Nick terbengong melihat Iza yang makan dengan lahap. Sudah dua kali wanita itu menambahkan nasi ke dalam piringnya. Ayam mercon dan tumis kangkung buatan sang mommy juga hampir tandas dimakannya.
“Zi.. kamu baik-baik aja kan?”
“Kenapa mas?”
“Kamu makan banyak banget sayang.”
“Aku laper mas. Aku kaya beruang yang abis berhibernasi.”
Nick terkekeh mendengarnya. Melihat sang istri yang makan dengan lahapnya membuat dirinya kenyang seketika. Iza meneguk habis segelas air putih setelah selesai dengan makannya. Dia lalu melihat ke arah Nick.
“Mas..”
"Hmm.."
“Aku mau es krim.”
“Hah? Kamu abis makan Zi.. masa langsung makan es krim. Nanti perut kamu sakit.”
“Aku mau es krim.”
Nick semakin dibuat bingung dengan tingkah Iza. Hanya karena dia melarang makan es krim, kini istrinya itu tengah menangis sesenggukan. Diah yang mendengar tangis Iza langsung menghampiri.
“Iza kenapa Nick?”
“Ini mom. Dia pengen es krim, aku larang karena abis makan banyak. Eh dianya malah nangis,” Nick menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Udah Zi, jangan nangis lagi. Nick.. kamu beliin es krim buat istri kamu.”
“Iya mom.”
Baru saja Nick akan membuka pintu, Diah memanggilnya lalu bergegas menghampiri sang anak lalu berbicara pelan padanya.
“Sekalian beli test pack. Mommy curiga, sepertinya istrimu hamil.”
Dengan cepat Nick menganggukkan kepalanya. Dia bergegas pergi membelikan pesanan sang istri juga test pack. Hatinya bersorak mendengar ucapan sang mommy. Sepanjang jalan menuju mini market yang ada di lobi apartemen, dia terus berdoa semoga saja ucapan Diah benar adanya.
Lima belas menit kemudian dia kembali. Bergegas dia menghampiri Iza yang menunggunya di ruang tengah. Kepalanya menggeleng saat melihat sang istri yang kembali tertidur.
“Sayang.. ayo bangun.”
“Ehmmm... es krimnya mana mas?”
“Ini.. tapi sebelumnya kamu pake ini dulu ya.”
Nick memberikan test pack di tangannya. Iza terdiam sebentar kemudian bangun sambil membawa test pack di tangannya. Dia masuk ke kamar mandi yang berada di luar. Nick mondar-mandir di depan kamar mandi. Jantungnya berdebar menanti hasil tes. Sepuluh menit kemudian Iza keluar dengan test pack di tangannya. Matanya nampak berkaca-kaca.
“Gimana sayang?”
“Hiks.. hiks..”
“Loh kok nangis? Negatif ya? Ya udah ngga apa-apa kita kan bisa usaha lagi.”
Nick menarik Iza dalam pelukannya. Walau kecewa, dia harus bisa menerimanya. Mungkin memang belum saatnya mereka mempunyai anak. Nick mengurai pelukannya lalu menghapus airmata di wajah sang istri. Iza mengangkat tangannya lalu memberikan hasil test pack pada sang suami.
Untuk sesaat Nick terdiam memandangi garis dua di alat tes kehamilan yang tadi digunakan oleh istrinya. kesadarannya kembali ketika Diah mendekat lalu mengambil test pack dari tangan anaknya.
“Zi.. kamu beneran hamil?”
“Iya mas.”
“Ya Allah, alhamdulillah.”
Nick menangkup wajah sang istri lalu menciuminya. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. Dia baru berhenti ketika mendengar deheman keras Diah. Nick melepaskan Iza dan membiarkan sang mommy memeluknya.
“Selamat ya Zi.. kamu akan menjadi seorang ibu.”
“Makasih mommy.”
“Kamu mau makan apa? Biar mommy masakkan.”
“Pengen kepiting saos padang mom. Tadi aku lihat di tv kaya yang enak.”
“Ya udah. Mommy beli kepitingnya dulu. Nick, kamu ngga usah ke kedai. Jagain aja istrimu.”
“Siap mom.”
Diah masuk ke dalam kamarnya, tak lama dia kembali dengan tas di tangannya. Wanita itu bergegas keluar unit apartemen.
“Kamu mau makan es krim, sayang?”
“Ngga. Es krimnya nanti aja.”
“Terus kamu mau apa?”
Iza berjinjit kemudian membisikkan sesuatu di telinga Nick. Dengan cepat Nick menggendong sang istri lalu membawanya ke kamar. Dengan senang hati dia akan mengabulkan permintaan istri tercintanya.
🍂🍂🍂
**Itu Iza minta apa ya? Pengen ngosek WC bareng Nick kayanya🤣
Kira² respon profesor nyebelin apa ya kalau tahu Iza hamil?🤔**