
Arnav bergegas keluar dari unit apartemennya ketika Topan mengabari sudah menemukan bukti dan saksi yang bisa membebaskan Denis. Pria itu menuju lift yang ada di lantainya. Sampai menunggu lift tiba, dia menghubungi Denis untuk memberikan kabar baik ini. Usai berbicara dengan Denis, Arnav menghubungi Abe. Pria itu berjalan sedikit menjauh dari lift.
“Jadi Topan udah nemuin buktinya?” tanya Abe.
“Iya. Kayanya gue ngga jadi ke Bandung besok. Gue mau ngurus masalah Denis dulu sampai beres. Gimana Nick?”
“Keadaannya udah membaik, tapi ya seperti gue bilang, Nick kaya kertas kosong. Ngga ada yang diinget soal masa lalunya, blank.”
“Yang penting keadaannya baik-baik aja. Gue cabut dulu ya, salam buat Nick. Begitu urusan Denis beres, gue langsung ke Bandung. Gue udah kangen sama tuh anak. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Arnav mengakhiri panggilannya. Dimasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Pria itu berbalik untuk menuju lift, dia terkesiap saat melihat Meta sudah berdiri di hadapannya. Meta sengaja mendatangi Arnav untuk menanyakan keadaan Diah, karena Iza mengkhawatirkan mertuanya itu. Tadi gadis itu mendatangi unit apartemen Diah dan ternyata kosong. Meta berinisiatif menemui Arnav karena pria itu mengganti nomor ponsel tanpa memberitahunya. Namun dia terkejut mendengar pembicaraan pria itu.
“Meta...”
“Nick.. dia masih hidup?”
“Meta.. dengarkan aku dulu..”
“Nick.. apa benar dia masih hidup?” ulang Meta.
“Met..”
“Jawab!!”
“Iya.. Nick masih hidup.”
Tubuh Meta limbung mendengar jawaban Arnav. Gadis itu berpegangan pada tembok di sampingnya. Arnav tak bisa berkata apa-apa, hal yang ditakutkannya terjadi. Meta mengetahui kebohongannya.
“Kenapa kamu bohong Ar? Kenapa kamu bilang kalau Nick sudah meninggal?”
“Met.. dengarkan aku dulu.”
“Karena itu kamu mengganti nomor? Kamu mau menghilang, iya? Kalian menyembunyikan Nick dari Iza, iya?”
“Meta.. ayo kita bicara, please..”
Arnav menatap Meta penuh permohonan. Akhirnya gadis itu memenuhi ajakan Arnav. Pria itu mengajaknya duduk di kursi yang ada di dekat lift. Arnav menarik nafas panjang beberapa kali sebelum memulai ceritanya.
Airmata Meta terus mengalir ketika Arnav menceritakan semua tentang Nick. Keadaan Nick yang mengalami amnesia, kondisinya yang rawan jika terus mengingat masa lalunya, keputusan Diah menyembunyikan keberadaan Nick dari Iza sampai hilangnya Nick dan kini sudah ditemukan.
“Maaf Meta, aku ngga bermaksud membohongimu atau Iza. Aku terpaksa, ini demi kebaikan Nick. Begitu juga mommy, dia melakukan ini agar Nick bisa bertahan hidup. Aku harap kamu mau mengerti.”
“Lalu bagaimana dengan Iza? Apa kalian pikir Iza ngga menderita? Dia harus kehilangan calon anaknya, kehilangan penglihatannya dan kalian memperburuknya dengan membuatnya kehilangan suaminya juga. Apa kalian tidak mencemaskan keadaannya?”
“Nick hilang ingatan. Tidak ada satu pun yang dia ingat soal masa lalunya, termasuk Iza.”
“Tapi bukan berarti kalian harus menyebunyikan keberadaannya.”
“Apa kamu ngga menyimak ceritaku tadi? Kondisi Nick juga riskan. Kalau dia terus memaksa mengingat masa lalunya dia bisa meninggal. Kamu tahu bagaimana ikatan Nick dan Iza. Apa yang akan terjadi kalau Nick bertemu dengannya? Dia pasti tidak akan berhenti untuk mengingat siapa itu Iza. Kalau terjadi sesuatu dengan Nick, Iza akan kehilangan Nick selamanya.”
“Lalu bagaimana sekarang? Iza sudah kehilangan suaminya. Apa kamu tahu betapa sulitnya dia bertahan hidup sampai saat ini? Apa kamu tahu bagaimana sulitnya dia menelan makanan sehari-harinya? Iza.. dia masih hidup sampai saat ini tapi jiwanya mati. Apa tidak bisa kalian berbaik hati mengatakan padanya kalau suaminya masih hidup hingga dia punya alasan untuk bertahan dan semangat lagi menjalani hidupnya. Kalau kalian memberi tahu keadaan Nick, dia juga tidak akan memaksa, dia akan menahan diri demi kebaikan Nick.”
“Apa menurutmu Iza akan baik-baik saja kalau tahu suaminya tak mengingatnya sama sekali?”
“Tapi setidaknya dia punya alasan untuk hidup!”
Arnav menarik nafas dalam-dalam. Ini pertama kalinya dia melihat Meta begitu emosional. Biasanya gadis itu selalu terlihat tenang. Yang membuatnya sedih, kali ini sorot mata Meta penuh dengan kekecewaan saat menatapnya.
“Aku akan memberitahu Iza.”
“Kalau kamu melakukannya, mommy akan membawa Nick pergi lebih jauh lagi.”
“Aku tidak mengerti dengan sikap mommy, kenapa mommy tega memisahkan Iza denagn Nick.”
“Mommy hanya seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya.”
“Lalu di mana kamu akan berdiri?”
“Met.. tolong beri sedikit waktu lagi. Sampai keadaan Nick stabil, aku akan membantu Nick bertemu dengan Iza.”
“Kapan? Sampai kapan Iza harus menunggu?”
“Meta.. tolonglah kamu juga harus bersikap rasional. Kalau Nick bertemu Iza dengan kondisi Iza sekarang, apa menurutmu itu tidak akan menjadi beban untuknya?”
“Apa maksudmu? Maksudmu Iza hanya akan menjadi beban hidupnya?”
“Bukan begitu. Maksudku, ini akan menjadi beban untuk Nick adalah dia akan dilanda rasa bersalah kalau tahu istrinya buta karena kecelakaan yang menimpa mereka berdua.”
Meta menggelengkan kepalanya. Seribu alasan yang diberikan Arnav padanya tetap tak bisa diterima hati dan pikirannya. Baginya kebohongan tetaplah kebohongan. Dan itu menyebabkan hidup sahabatnya menderita. Meta mengusap airmatanya dengan kasar. Beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
“Jalan kita sudah tak searah. Aku tahu kamu menyayangi Nick dan menginginkan yang terbaik untuknya. Begitu juga aku, ingin yang terbaik untuk Iza. Jadi.. kita akhiri saja hubungan ini.”
“Met...” Arnav menoleh ke arah Meta.
“Kita akan berada di sisi yang berbeda. Aku tidak mau membuatmu berada dalam dilema, mendukung mommy atau aku. Mommy berusaha memisahkan Iza dari Nick, dan aku akan berusaha menyatukan mereka.”
“Aku akan membantumu, Met..”
“Ngga Ar.. kalau kamu benar ingin berada di sisiku, membantu Iza, kamu akan melakukannya sejak dulu, kamu tidak akan ikut dalam kebohongan ini.”
“Met.. tolong mengerti posisiku.”
“Aku mengerti Ar.. makanya aku mengambil keputusan ini.”
“Ummi juga tahu soal Nick. Tidak bisakah kamu menutup mata sebentar saja sampai keadaan Nick stabil.”
Meta terkejut ummi telah mengetahui soal Nick. Namun gadis itu bergeming, dia sudah tidak sanggup melihat sahabatnya terlalu lama berduka. Walau tak mengatakannya secara langsung, Meta tahu betapa menderita dan terpuruknya Iza.
“Aku tetap pada keputusanku. Soal ummi, aku yang akan bicara padanya. Ummi setuju atau tidak, aku akan tetap melakukannya. Jadi Ar.. lupakan soal masa depan kita. Mungkin kamu dan aku tidak berjodoh.”
“Meta tolong jangan seperti ini.”
“Aku menolak lamaranmu. Mulai saat ini kita tak ada hubungan lagi. Aku bebas menerima lamaran lelaki lain dan kamu bebas melamar perempuan lain. Kita masih berteman tapi aku tidak bisa bersamamu lagi. Terima kasih sudah menjadikan diriku alasan untukmu berubah. Aku harap kamu tetap istiqomah dengan perubahanmu. Dan aku mendoakanmu mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku. Aku pergi, assalamu’alaikum.”
“Meta.....”
Meta tak mempedulikan panggilan Arnav. Dia langsung masuk ke dalam lift ketika pintu kotak besi itu terbuka. Arnav mencoba menyusul, namun dengan cepat jari Meta menekan tombol menutup. Arnav hanya diam terpaku saat pintu mulai menutup.
“Waalaikumsalam,” jawabnya lirih.
Meta menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Tangisnya kembali pecah. Gadis itu menutup mulut dengan punggung tangannya untuk meredam suara tangisnya. Bukan hal mudah untuknya mengambil keputusan ini. Tak dapat dipungkiri, sebuah perasaan sudah tumbuh untuk Arnav di hatinya. Tapi kebohongan Arnav, Diah bahkan Mina semakin membuat hidup Iza menderita. Dan dirinya tak mau menjadi bagian dari kebohongan ini. Bagaimana pun caranya, dia akan membawa Iza ke hadapan Nick.
🍂🍂🍂
Setelah urusannya dengan Arnav selesai, Meta memilih pulang ke kediaman Iza. Gadis itu telah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Meta turun dari taksi online kemudian masuk ke rumah Iza seraya mengucapkan salam. Dia sedikit bebas keluar masuk rumah Iza karena Rahardi tidak tinggal di sana. Saat Mina memutuskan untuk bercerai, Rahardi memilih tinggal di tempat berbeda. Pria itu menyewa unit apartemen di dekat kampusnya mengajar.
Suasana rumah nampak sepi. Hanya ada asisten rumah tangga yang tengah menyetrika di ruangan belakang. Akhir-akhir ini ummi sibuk di butiknya karena ada temannya yang memesan seragam untuk acara pernikahan. Ridho sendiri lebih sering bolak-balik Bandung-Jakarta. Pria itu serius mengurus kepindahannya ke kota kembang sesuai permintaan sang adik.
Meta menaiki anak tangga satu per satu, kemudian memasuki kamar Iza. Sahabatnya itu enggan pindah ke kamar tamu yang ada di bawah. Dia memilih bertahan di kamar lamanya supaya bisa terus mengenang keberadaan Nick di sana. Iza juga jarang keluar dari kamarnya jika tidak bersama Meta.
“Zi..”
“Met.. kamu kemana aja? Aku nungguin dari tadi.”
“Maaf Zi.. aku ada urusan tadi. Kenapa? Ada yang penting?”
“Kamu kenapa Met? Kok suara kamu bindeng gitu. Kamu habis nangis?”
“Ngga.. aku kayanya mau flu.”
“Oh.. banyak minum air anget.”
“Iya.”
Meta menyusut sudut matanya yang kembali berair. Sebisa mungkin dia menetralkan perasaannya agar Iza tak menyadari kesedihannya. Gadis itu duduk berdampingan dengan Iza di sisi ranjang.
“Met.. aku mau minta tolong boleh?”
“Minta tolong apa?”
“Aku mau berhijab. Kamu mau bantu aku kan?”
“Masya Allah.. iya Zi.. aku mau bantu. Untuk sekarang ini, lebih baik kamu pakai hijab instan aja dulu ya.”
“Iya. Nick sudah banyak membelikanku baju muslim juga hijab. Semuanya ada di lemari. Bisa minta tolong kamu yang pilihkan yang harus kupakai?”
“Pasti Zi.. aku pasti bantu kamu. Aku akan jadi tim wardrobe buat kamu.”
“Makasih ya Met. Kamu udah jadi cahaya untukku.”
“Karena aku sayang kamu, Zi.”
Meta memeluk Iza. Dirinya tak bisa menahan airmatanya lebih lama lagi. Dengan punggung tangannya dia mengusap airmata yang membasahi pipi. Iza memeluk punggung sahabatnya itu.
“Met.. kenapa kamu nangis?”
“Aku ngga apa-apa, Zi. Terharu aja kamu akhirnya mau berhijab.”
“Nick.. dia menginginkanku berhijab. Di hari kami mengalami kecelakaan, aku berencana memberikannya kejutan. Tapi belum sempat aku mewujudkan keinginannya, Allah sudah memanggilnya lebih dulu. Aku tak ingin dia menanggung dosa karena diriku yang masih mengumbar aurat. Karena itu aku akan berhijab mulai sekarang. Dia pasti bahagia kan Met, kalau tahu.”
“Pasti.. dia pasti bahagia.”
“Kamu baik-baik aja, Met? Kenapa suaramu kedengaran sedih sekali.”
Tak ada jawaban dari Meta. Gadis itu masih berusaha meredam kesedihan yang menggelayuti hatinya. Mendengar Iza mengungkit soal Nick, membuat tangisnya kembali pecah.
“Met..”
“Aku cuma sedih. Hubunganku dengan Arnav sudah berakhir. Aku sudah menolak lamarannya.”
“Kenapa Met? Bukannya kamu suka sama Arnav?”
“Kita.. cuma ngga jodoh aja, Zi.”
“Apa ada hubungannya sama aku?”
“Ngga Zi.. ini ngga ada hubungannya sama kamu. Ini murni keputusanku sendiri.”
“Tapi kenapa Met?”
“Kemana?”
“Make over.”
Meta berdiri kemudian membuka lemari pakaian Iza. Dia membuka pintu tempat untuk baju yang tergantung. Kurang lebih ada sepuluh gamis yang tergantung di sana. Meta memilih satu gamis berwarna peach. Lalu tangannya mencari-cari hijab instan dengan warna yang pas dengan gamis. Setelah menemukan yang cocok, Meta membantu Iza berganti pakaian. Gadis itu tersenyum puas melihat Iza yang sudah terbungkus rapih dari atas sampai bawah.
“Masya Allah kamu cantik banget, Zi.”
“Makasih, Met.”
“Aku foto ya.”
Meta mengambil ponselnya kemudian membidikkan kamera ponsel beberapa kali. Terdengar tawa kecil Iza saat Meta mengarahkannya bergaya, sudah seperti fotografer profesional saja. Meta mendengar suara Mina yang baru saja tiba, dia pun mengakhiri sesi fotona.
“Zi.. kamu mau ke bawah ngga? Aku mau ketemu ummi sebentar.”
“Tumben, ada apa?”
“Biasa.. bisnis..”
“Ok deh. Aku di sini aja.”
“Kalau ada perlu panggil aja. Oh iya, aku nginep di sini malam ini.”
“Bener?” wajah Iza nampak gembira.
“Iya. Aku ke bawah dulu ya.”
Iza menganggukkan kepalanya. Meta bergegas keluar kamar lalu turun ke bawah. Dia harus segera bertemu dengan Mina dan membicarakan perihal Nick. Dilihatnya Mina tengah duduk di ruang makan. Gadis itu menghampiri lalu menarik kursi di sampingnya.
“Meta.. tumben jam segini belum pulang,” Mina melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
“Aku dikasih ijin nginep di sini, ummi.”
“Makasih ya, Iza pasti seneng banget.”
“Hmm.. ummi ada yang mau aku tanyakan.”
“Soal apa?”
“Nick.. dia masih hidup kan ummi?”
Nampak perubahan di wajah wanita paruh baya itu. Mina tentu saja terkejut, Meta mengetahui soal Nick. Seketika dia dilanda kecemasan, takut kalau Meta sudah mengatakannya pada Nick. Mina tahu betul hubungan mereka yang begitu dekat.
“Ummi tenang aja, aku belum kasih tahu Iza.”
“Syukurlah.”
“Kenapa ummi? Kenapa ummi ikut membohongi Iza? Apa ummi ngga kasihan sama Iza? Dia anak ummi, apa ummi ngga lihat bagaimana menderitanya Iza?”
“Ummi ngga punya pilihan, Met. Ummi ngga bisa menolak permintaan Diah. Kamu tahu kalau kecelakaan Iza dan Nick, secara tidak langsung disebabkan oleh abinya Iza. Bagaimana mungkin ummi menolak permintaan Diah. Ummi juga sudah melihat sendiri bagaimana kondisi Nick. Saat dia meihat ummi, dia seperti mengenali ummi dan memaksakan diri untuk mengingat. Keadaannya benar-benar sulit. Ummi takut kalau dia melihat Iza, kondisinya akan semakin parah.”
Buliran bening mulai membasahi pipi Mina yang mulai dihiasi keriput. Meta memegang tangan Mina, gadis itu juga menangis. Mina menggenggam tangan Meta, matanya menatap dalam ke arah gadis itu.
“Apa kamu sudah memberitahu Iza?”
“Belum, ummi. Tapi aku akan membawa Iza ke hadapan Nick.”
“Itu berbahaya, Met. Bagaimana kalau keadaan Nick kembali buruk.”
“Nick ada di Bandung, ummi. Iza juga mau pindah ke Bandung. Apa ummi ngga berpikir kalau ini adalah rencana Allah supaya mereka bisa bertemu lagi? Ummi tenang aja, aku akan mencari cara supaya pertemuan mereka tidak membahayakan untuk Nick. Aku sudah pernah sekali mengecewakan Iza, aku ikut menutupi pernikahan kang Anang dulu. Aku ngga mau melakukan hal yang sama lagi. Bagaimana pun caranya, aku akan membantu Iza. Aku harap ummi mendukungku.”
“Ummi mendukungmu. Terima kasih, Met. Terima kasih.”
Mina memeluk Meta erat. Airmatanya semakin deras bercucuran. Hatinya sungguh berharap putrinya bisa menemukan kebahagiaan kembali. Dia percaya, tidak selamanya mendung akan menyelimuti kehidupan anaknya. Pelangi itu pasti akan muncul, entah kapan dan di mana.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Mina mengurai pelukannya ketika mendengar suara Ridho. Buru-buru dia menghapus airmatanya, begitu pula dengan Meta. Ridho masuk kemudian menghampiri Mina di ruang makan. Pria itu mencium punggung tangan ibunya. Keningnya mengernyit melihat mata Mina dan Meta yang nampak memerah.
“Kalian kenapa? Ummi sakit?”
“Ngga.. biasalah woman talking,” kilah Mina.
Ridho berpindah ke sisi meja yang lain kemudian menarik kursi di sana. Wajah Ridho menunjukkan kelelahan. Hampir dua minggu ini, dia mondar-mandir Jakarta – Bandung. Selain mengurus kelengkapan untuk mulai bekerja di salah satu kampus yang ada di kota kembang itu, Ridho juga sibuk mencari tempat tinggal. Dia ingin semuanya siap begitu mengajak Iza pindah ke sana.
“Ummi.. masalah pekerjaan di Bandung sudah beres. In Syaa Allah minggu depan aku sudah mulai mengajar di sana. Aku juga sudah menemukan rumah untuk kita. Tapi maaf ummi, aku cuma bisa beli rumah kecil untuk kita. Hanya ada dua kamar dan sekarang lagi proses renovasi. Mungkin dua hari lagi selesai. Setelah itu kita pindah ke Bandung.”
“Makasih Dho, kamu pasti lelah mengurus semua sendirian. Ummi bisa tidur bersama dengan Iza. Kamu ngga usah khawatir soal itu.”
“Tapi.. butik ummi gimana?”
“Untuk sementara Asyifa bisa mengurusnya. Nanti juga ummi bisa datang mengontrol sebulan sekali. Kamu ngga usah khawatir. Ummi mau lihat Iza dulu ya.”
Mina bangun dari duduknya lalu menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua. Meta berdiri kemudian membuat dua gelas es teh manis. Diletakkannya satu gelas di depan Ridho. Pria itu langsung meneguknya hingga habis setengah.
“Kamu belum pulang?”
“Abang ngusir?”
“Ck.. ngga. Cuma aneh aja jam segini belum pulang. Ngga takut nanti pas lewat kuburan?”
“Lebih serem lihat muka abang dari pada lihat setan.”
“Hahaha..”
Meta menatap Ridho yang tengah tertawa. Rasanya sebuah keajaiban melihat pria yang biasanya berwajah kaku itu bisa tertawa juga. Dulu jangankan tertawa, duduk berhadapan dengan Meta untuk bicara pun tak pernah. Tapi sekarang Ridho selalu menyempatkan berbicara sepatah dua patah kata pada gadis itu. Dan kini sudah ada serangkain kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Mau kuantar pulang?”
“Abang beneran ngusir?”
Ridho menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya. Matanya melihat tajam ke arah Meta, membuat gadis itu bergidik. Baru saja pria itu tertawa tapi sekarang sudah menunjukkan wajah kakunya lagi.
“Aku serius. Kamu mau pulang apa nginep?”
“Nginep bang.”
“Dari tadi tinggal jawab, apa susahnya.”
Ridho menyambar kembali gelas miliknya lalu meneguk isinya sampai habis. Dibawanya gelas tersebut ke wastafel lalu mencucinya. Setelah menaruh gelas ke rak, pria itu beranjak meninggalkan ruang makan. Baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara Meta memanggilnya.
“Bang..”
Ridho menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Meta. Gadis itu berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Ridho. Untuk sesaat Meta nampak ragu, tapi akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya.
“Bang.. di kampus tempat abang ngajar nanti ada lowongan ngga?”
“Kenapa?” pria itu kembali melipat kedua tangannya.
“Aku lagi cari kerja juga bang. Hmm.. aku pengen kerja di Bandung.”
“Kenapa?”
“Kenapa apa bang?”
“Kenapa mau kerja di Bandung?”
“Hmm.. biar aku bisa deket sama Iza. Nanti pas pindah, bisa ngga abang tanyain soal lowongan kerja sama tolong cariin kost-an yang deket sama rumah abang nanti. Jadi, aku bisa sering-sering nengok Iza.”
“Ck.. nyusahin.”
Kalau tidak ingat pria di depannya adalah kakak dari sahabatnya, ingin rasanya Meta melempar pria itu dengan panci dan kawan-kawannya atau mengoleskan oli ke wajahnya agar tidak terlihat kaku.
“Bang.. tolong ya..”
“Males..”
Ridho membalikkan tubuhnya namun lagi-lagi Meta menahannya. Terdengar helaan nafas beratnya. Sepertinya dia sudah melakukan kesalahan sudah berbasa-basi dengan Meta tadi. Kini gadis itu bertingkah menjengkelkan.
“Bang..”
“Apa lagi?” Ridho membalikkan tubuhnya dengan malas.
“Aku mau ikut pindah ke Bandung juga.”
“Terserah tapi jangan nyusahin aku.”
“Bang aku serius.”
“Kamu pikir aku ngga serius?”
“Ya kalau gitu tolong bantu aku cari kerjaan sama tempat kost. Selama Iza di Bandung aku juga mau tinggal di Bandung.”
“Kamu kenapa sih ngintilin Iza terus? Kamu ngga ada kerjaan apa?” kesal Ridho.
“Yaa aku kan mau bantu Iza aja.”
“Ok.. makasih karena kamu selalu ada di samping Iza. Tapi begitu kami pindah, tugasmu selesai. Ada aku dan ummi yang akan menjaga Iza. Silahkan jalani hidupmu seperti biasanya. Iza bukan tanggung jawabmu.”
Ridho membalikkan tubuhnya kemudian dengan langkah panjang berjalan menuju tangga. Tak menyerah, Meta kembali mengejar pria itu. Dia harus bisa membujuk Ridho mencarikan pekerjaan juga tempat tinggal di Bandung supaya dia bisa mempertemukan Nick dengan Iza.
“Bang..” Ridho mengabaikannya dan terus menapaki anak tangga.
“Bang..”
Kesal karena tak dipedulikan, Meta bergegas menyusul. Dia berlari menaiki tangga kemudian menghadang langkah Ridho. Pria itu menatap kesal ke arah Meta. tubuhnya sudah terasa letih, hal yang diinginkannya adalah mandi kemudian membaringkan tubuh di kasur.
“Nick masih hidup. Dia ada di Bandung sekarang.”
🍂🍂🍂
**Waduh Arnav kira² bundir ngga?🤭
Bang Ridho jutek banget, yang ramah napa bang, kaya gue😎
Besok ngga up dulu ya gaesss, mau ada acara keluarga. Harus siapin fisik buat foto bareng wakakakak**...