The Nick's Life

The Nick's Life
Miss So Badly



Setelah acara makan malam bersama kedua keluarga, pasangan pengantin langsung masuk ke dalam kamar. Satu per satu Abe memperhatikan benda yang ada di dalam kamar Sansan. Tangannya kemudian terulur mengambil sebuah bingkai foto yang terdapat foto Sansan mengenakan seragam SD. Tawanya meledak melihat Sansan yang tengah tersenyum memperlihat gigi bagian depannya yang ompong.


“Biasa aja ketawanya, ngga usah ngeledek gitu,” gerutu Sansan.


“Kamu ketawa lebar gini ngga masuk angin apa? Kan ngga ada penghalangnya hahaha..”


“Ish kak Abe nyebelin banget.”


Tak mempedulikan protesan Sansan, Abe meneruskan kegiatannya. Sansan mendudukkan dirinya di sisi ranjang sambil memperhatikan pria yang telah sah menjadi suaminya. Kemudian gadis itu berdiri lalu berjalan menuju lemari, mengambil handuk dari dalamnya.


“Masih belum puas kelilingnya? Udah kaya Satpol PP lagi inspeksi dadakan.”


Abe terkekeh mendengar kelutusan sang istri. Dia lalu mendudukkan diri di kursi yang ada di meja belajar Sansan. Diputar-putarnya kursi tersebut, sudah seperti anak SD yang menemukan mainan baru.


BLUK


Dengan sengaja Sansan menaruh handuk yang diambilnya dari dalam lemari lalu menjatuhkannya tepat di kepala Abe. Dengan kesal diambilnya handuk yang menutupi kepalanya.


“Dasar istri durhakim.”


“Mandi sana, badan kakak bau!”


“Mana ada, wangi gini,” Abe mengangkat kedua tangannya lalu mengendus ketiaknya bergantian.


“Dasar jorok. Buruan mandi. Kakak mau aku buatin minuman apa?”


“Apa aja.”


“Ngga ada apa aja. Adanya teh, kopi, air putih sama orson.”


“Hahahaha… orson… berasa lagi ngomong ama nenek-nenek. Aku mau susu aja.”


“Susu apa?”


“Susu kamu hahaha..”


BLUK


BLUK


Sansan mengambil bantal lalu dipukulkannya pada Abe. Pria itu masih saja terpingkal seraya menutupi wajah dengan kedua lengannya sebagai tameng. Dari sela-sela lengannya, dia bisa melihat wajah Sansan yang merona. Setelah puas memukuli suaminya, Sansan segera keluar dari kamar.


Abe bangun dari duduknya lalu beranjak menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti. Semua ucapan dan tingkah konyolnya tadi semata-mata untuk menutupi kegugupan yang melanda. Dia bukanlah Arnav, Denis atau Fahrul yang sudah terbiasa berduaan dengan wanita di dalam kamar sebelum menikah. Ini adalah pengalaman pertamanya, tentu saja pria itu gugup.


Sansan masuk ke dalam kamar lalu meletakkan segelas susu putih hangat di atas meja belajarnya. Mengetahui Abe masih di kamar mandi, gadis itu bergegas mengganti pakaiannya. Dibukanya dahulu hijab instan yang menutupi kepalanya baru kemudian berganti mengenakan pakaian tidur model baby doll.


Jantung Sansan berdegup kencang saat pintu kamar mandi terbuka. Abe keluar dengan mengenakan kaos dan jogger yang membalut tubuhnya. Wajahnya terlihat segar dengan tetesan air dari rambutnya, dan tentu saja bertambah tampan. Abe pun terdiam di tempatnya. Matanya terus memandangi Sansan dengan penampilan yang baru dilihatnya. Rambut gadis itu yang sedikit ikal tergerai begitu saja sampai menyentuh bahu.


“Engg.. itu susunya diminum ya kak. Aku mau tidur, ngantuk.”


Sansan buru-buru naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Abe. Tangannya menarik selimut sampai sebatas dada. Gadis itu mencoba memejamkan mata kendati rasa kantuk belum menyapa.


Abe berjalan menuju menuju meja belajar Sansan lalu mendudukkan diri di kursi. Tangannya meraih gelas berisi susu putih. Sebenarnya tadi dia iseng saja menyebutkan soal susu, namun tak ayal dihabiskannya juga minuman tersebut. Selesai menghabiskan susunya, Abe merangkak naik ke atas kasur kemudian membaringkan tubuhnya.


Pria itu memilih berbaring dengan posisi telentang. Matanya menatap lurus sebentar ke arah langit-langit kamar. Sejurus kemudian dia melirik ke arah Sansan yang sepertinya sudah tertidur. Tak kunjung dapat memejamkan mata, Abe mulai iseng. Dia menusuk-nusuk punggung Sansan dengan jarinya.


“San.. San..”


“Hmm…”


“Udah tidur?”


“Udah.”


“Udah kok masih bisa jawab.”


“Kan kakak nanya.”


“Kalau tidur emang kedengaran kalau ada yang nanya?”


“Ish.. kak Abe tidur sana, gangguin mulu.”


“Ngga bisa tidur. San.. ngobrol bentar yuk.”


Akhirnya Sansan membalikkan tubuhnya ke arah Abe. Kalau tidak, bisa dipastikan pria itu akan terus mengganggunya. Abe pun merubah posisi tidurnya. Kini keduanya dalam posisi saling berhadapan.


“San..”


“Apa kak?”


“Bisa ngga sih ganti pangilannya? Kakak.. kakak.. berasa jadi pembina pramuka.”


“Terus mau dipanggil apa? Abah? Apa engkong?”


PLETAK


Sansan mengaduh seraya mengusap keningnya yang terkena sentilan Abe. Bibirnya mengerucut, membuat Abe bertambah gemas. Ditariknya bibir sang istri dengan kedua jarinya. Sansan memukul lengan Abe dengan kesal dan suaminya itu hanya terkekeh saja.


“San.. besok aku harus balik ke Bandung,” suara Abe mulai terdengar serius.


“Kok cepet banget kak.. eh.. bang eh.. mas. Ish.. kakak mau dipanggil apa nih?”


“Mas aja ya biar lebih mesra,” Abe mengusap puncak kepala Sansan, membuat dada gadis itu berdesir. Refleks Sansan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang merona.


“Aku dan Fahrul sudah harus memulai usaha kami. Aku juga harus mempersiapkan tempat tinggal untuk kita. Aku mau begitu kamu menyusulku pindah, semuanya sudah siap.”


“Aku ngga mau tinggal di apartemen mas.”


“Aku akan cari rumah. Tapi mungkin ngga sebesar rumah kamu. Ngga apa-apa?”


“Ngga apa-apa mas. Apa yang mas Abe siapin, aku terima.”


“Makasih San. Nanti kalau Arnav pindah, kamu bisa ikut ke Bandung. Pulangnya aku yang antar, mau?”


“Iya.”


Abe meraih kepala Sansan lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Tangannya kemudian merengkuh pinggang istrinya itu lalu menarik ke arahnya, hingga tubuh mereka tak berjarak. Malu-malu Sansan menyurukkan kepalanya ke dada Abe. Terdengar detak jantung suaminya itu berdebar tak kalah kencang dari miliknya.


“Aku boleh minta sesuatu ngga mas?”


“Apa?” tanya Abe sambil terus mengusap punggung Sansan.


“Mas harus bersikap baik ya padaku walau mas ngga cinta sama aku.”


Gerakan tangan Abe terhenti. Dia mengurai pelukannya lalu memundurkan sedikit tubuhnya. Jarinya meraih dagu Sansan lalu didongakkan ke arahnya. Netra keduanya bertemu dan saling mengunci.


“Kata siapa aku ngga mencintaimu?”


“Mas mencintaiku?”


“Hmm.. aku ngga tahu sejak kapan. Tapi yang jelas aku mencintaimu.”


“Beneran? Mas ngga lagi PHP-in aku kan?”


Mata bulat Sansan melihat ke arah Abe. Pria itu masih mengatupkan bibirnya. Kemudian wajahnya bergerak mendekat dan mendaratkan ciuman di bibir Sansan yang belum pernah tersentuh siapa pun. Mata Sansan refleks menutup ketika merasakan ciuman lembut suaminya.


“Aku mencintaimu, Sandirna Oktavina, istriku yang bawel,” jelas Abe setelah mengakhiri ciumannya.


“Bawelnya ngga usah disebut kali.”


Sansan mengerucutkan bibirnya. Dengan cepat Abe menyambar kembali bibir itu, kemudian mel*matnya dengan sedikit tergesa. Walau ini bukanlah ciuman pertama Abe, namun bibir istrinya itu terasa lebih manis. Sansan yang belum pernah berciuman sebelumnya, hanya membalas sebisanya saja.


Nafas gadis itu terdengah terengah-engah setelah Abe mengakhiri ciuman panjangnya. Wajahnya memerah, persis seperti tomat yang siap panen. Ibu jari Abe bergerak mengusap sisa saliva yang menempel di bibir ranum itu.


“Selama kita LDR, kamu harus rajin-rajin nonton film ya.”


“Film apa kak?”


“Film yang banyak adegan kissingnya, biar nanti pas ketemu kamu sudah bisa balas ciumanku.”


“Ish..”


Sebuah pukulan pelan mendarat di lengan Abe. Sambil menahan malu, Sansan menyurukkan kepalanya ke dada Abe. Pria itu sebisa mungkin menahan hasratnya yang mulai menaik. Kalau saja sang istri tidak sedang berhalangan, sudah diterkamnya sedari tadi.


🍂🍂🍂


Pagi harinya semua sudah berkumpul di unit apartemen Denis, minus Nick. Sehabis shubuh Diah langsung mengajak anak dan suaminya serta Bila pulang ke Bandung. Dia tak ingin sang anak berlama-lama di kota besar ini. Bisa saja tanpa sengaja Nick bertemu dengan Iza nanti.


Keempat pria itu ditambah Ayura dan Sansan duduk bersama di ruang tengah. Azka anteng memainkan ponsel di kamar. Abe bermaksud berpamitan pada Denis, di antara yang lain hanya Denis yang tetap tinggal di Jakarta.


“Kalian serius pindah ke Bandung? Terus gue tinggal sendiri di sini?”


“Sorry, Den. Lo tahu kan gue sama Fahrul mau rintis usaha bersama. Ngga mungkin gue PP Bandung –Jakarta. Berat di ongkos sama cape juga.”


“Iya, Be, gue ngerti. Tapi kenapa nih si tuan Takur ikutan pindah sih? Lo di sini aja temenin gue, napa.”


“Gue mau move on dari Meta. Lo tahu sendiri, rumah Rivan deketan sama rumah Meta. Kemungkinan kita ketemu lebih besar. Jadi gue lebih baik pindah. Sekalian gue mau ngawasin si Bila.. Bila itu. Gue curiga dia naksir Nick.”


“Kalau demi Nick dan Iza, gue rela nikahin si Bila. Udah cukup gue nurutin kemauan mommy, menutupi keberadaan Nick dari Iza. Gue bakal cari cara supaya mereka bisa bersatu lagi.”


“Tapi lo tau kan alasan mommy melakukan itu,” sahut Denis.


“Gue setuju sama Arnav. Nick berhak tau soal Iza, gimana pun juga mereka masih terikat tali pernikahan. Gue tau, Den, lo sayang sama mommy, gue juga tapi apa yang dilakukan mommy itu ngga benar.”


“Mommy cuma takut kehilangan Nick.”


“Nick baik-baik aja. Lo lihat sendiri kemarin, keadaannya udah jauh lebih baik.”


“Ini kenapa jadi pada debat sih,” sela Abe.


Baik Denis maupun Fahrul langsung menutup mulutnya. Sansan dan Ayura yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia saja, saling melepaskan pandangan satu sama lain. Keduanya tak menyangka situasi akan sepelik ini. Arnav memperhatikan sahabatnya satu per satu. Sepertinya dia harus mengatakan hal yang selama ini hanya dirinya yang tahu, agar ketiga sahabatnya mau mendukungnya.


“Iza.. buta.”


Semua yang ada di sana terperangah mendengar ucapan singkat Arnav. Semua pandangan langsung tertuju pada pria yang kerap dipanggil dengan sebutan tuan Takur. Arnav mengambil nafas sejenak sebelum mulai bercerita.


“Saat kecelakaan, mata Iza terkena serpihan kaca dan merusak korneanya. Kedua matanya tak bisa melihat lagi. Dia sedang menunggu donor mata agar bisa melihat lagi. Bukan cuma Nick dan mommy yang menderita. Keadaan Iza sama buruknya. Dia sudah kehilangan calon anaknya, penglihatannya dan juga kehilangan suaminya. Iza ngelarang gue kasih tau mommy soal keadaannya tanpa dia tahu kalau mommy berusaha memisahkannya dari Nick.”


Tak ada yang berbicara setelah Arnav mengungkapkan kebenaran akan Iza. Ayura tak bisa menahan tangisnya, membayangkan jika dirinya yang ada di posisi Iza. Begitu juga Sansan, mata gadis itu nampak berkaca-kaca. Abe menarik sang istri ke dalam pelukannya.


“Gue dukung elo, Ar,” ujar Abe pelan.


“Gue juga,” sambung Fahrul.


“Ayo kita satukan lagi Nick dengan Iza,” jawab Denis mantap.


“Udah seharusnya mereka bersatu lagi. Gue akan lakukan apapun buat nebus kesalahan gue,” lanjut Arnav.


Suasana kembali hening. Keempat pria itu tahu betul bagaimana peran penting Iza dalam kehidupan Nick. Kehadiran Iza juga secara tidak langsung mempengaruhi mereka. Perubahan Nick perlahan menulari mereka satu per satu.


“Ok.. fix.. kita semua satu suara soal Nick dan Iza. Terus gimana kasus lo Den?” Fahrul mengalihkan topik demi menghalau suasana sedih yang tercipta tadi.


“Semua bukti dan saksi dari Reisa ternyata palsu. Tinggal nunggu aja pihak kepolisian keluarin SP3. Abis itu gue bebas.”


“Syukur deh. Tadi pagi gue lihat di medsos, video mesumnya si Reisa sama salah satu pengusaha udah kesebar. Habis dia jadi bulan-bulanan di medsos. Dia juga dipanggil kepolisian soal video porno yang beredar. Bukan cuma satu, tapi ada lima. Dan amazingnya beda laki semua,” tutur Arnav.


“Tuh pengusaha bukan elo kan Rul?” tanya Abe sambil tergelak.


“Bangk* lo!”


Suasana yang tadi sempat mengharu biru mulai berganti dengan keceriaan. Setengah jam kemudian semua pamit pulang. Arnav harus kembali ke kantor, sedang Fahrul dan Abe bersiap ke Bandung. Terlebih dulu Abe mengantarkan istrinya pulang.


Keadaan unit apartemen Denis langsung sepi sepeninggal para sahabatnya. Denis duduk terdiam di ruang tengah. Ayura yang baru selesai mencuci gelas kotor bekas para tamu, menghampiri suaminya yang tengah melamun.


“Mikirin apa?”


“Ngga ada. Aku lagi mikir mau ngelamar kerja kemana. Kamu tahu kan kontrak kerjaku yang kemarin diputus sepihak.”


“Bohong. Aku tahu kamu bukan lagi mikirin itu. Kamu pasti sedih karena ditinggal pindah sahabat kamu kan?”


Denis mengesah panjang. Pria itu menggeser duduknya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Apa yang dikatakan Ayura benar adanya. Kepergian para sahabatnya jelas membuatnya sedih. Apalagi hanya mereka keluarga yang dimilikinya.


“Aku ngga keberatan kalau kita pindah juga. Aku bisa bertemu Mai lagi.”


“Tapi sekolah Azka.”


“Ini baru awal semester, ngga masalah kalau dia pindah.”


“Bener Ay?”


“Iya. Aku tahu mereka bukan hanya sekedar sahabat buatmu. Mereka adalah keluargamu. Lagi pula mana bisa aku melihat suamiku bersedih.”


“Makasih Ay. Aku akan segera mempersiapkan kepindahan kita. Begitu penyelidikan dihentikan, kita akan pindah.”


“Iya.”


Denis sedikit menegakkan tubuhnya seraya menarik tengkuk Ayura. Bibirnya memagut pelan bibir sang istri. Kini Ayura sudah tidak malu lagi membalas ciuman Denis. Pagutan dan l*matan mereka semakin dalam. Namun semuanya harus berhenti ketika terdengar suara Azka memanggil sang mama.


🍂🍂🍂


Sekembalinya dari Bandung, Bryan dan Diah mengurung diri di kamar. Bryan perlu berbicara kembali dengan istrinya. Dia menolak mentah-mentah ide sang istru untuk membuat Nick dan Iza bercerai. Dan untuk kesekian kalinya, keduanya terlibat perdebatan panjang.


“Aku harap kamu mau memikirkan kembali soal perceraian Nick dan Iza. Kamu tidak boleh melakukannya. Berhentilah bersikap egois, Di. Itu hanya akan membuat Nick menderita.”


“Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk Nick. Dokter sudah memvonisnya amnesia permanen. Aku hanya ingin dia memulai hidup baru tanpa kehadiran masa lalunya.”


“Kalau begitu, bukan hanya Iza, tapi kita semua juga harus menghilang dari kehidupan Nick. Karena aku, kamu dan semua sahabat Nick adalah masa lalunya.”


“Don’t be ridiculous (jangan konyol), Bryan.”


“Kamu yang konyol, Di. Kamu memaksakan sesuatu berdasarkan asumsi dan keinginanmu saja, tanpa memikirkan keadaan Nick juga Iza.”


“Nick itu anakku! Aku yang tahu apa yang terbaik untuknya!”


“Don’t you ever said that again! Nick is also my son!! (jangan pernah mengatakan itu lagi! Nick juga anakku!). Kalau kamu masih bersikeras dengan keinginanmu, maka aku adalah orang pertama yang akan mencegahnya. Kita lihat, rencanamu atau rencanaku yang akan berhasill.”


Dengan kesal Bryan keluar dari kamar. Terdengar suara berdebam ketika pria itu menutup pintu dengan kencang. Diah menahan nafasnya, ini pertama kalinya dia melihat Bryan semarah ini. Sejak dulu, pria itu selau bersikap lembut dan juga begitu sabar menghadapinya.


Terdengar helaan berat nafas Nick. Pria itu tengah berada di selasar yang ada di lantai dua. Namun dia masih bisa mendengar suara keras di bawah sana. Sejak dari resepsi Abe, hubungan kedua orang tuanya menegang, entah apa yang diributkan oleh mereka.


“Nick..”


Tak ada niat sedikit pun dari Nick untuk menolehkan kepalanya saat terdengar suara Bila memanggilnya. Gadis itu lalu berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Nick. Walau kerap mendapatkan respon dingin dari Nick, namun semangat Bila tak pernah surut. Selain karena tanggung jawabnya, gadis itu juga penasaran akan sosok Nick. Dan kalau boleh jujur, dia berharap Nick mau memberikan sedikit atensi untuknya.


“Kenapa belum pulang?” akhirnya keluar juga ucapan dari bibir Nick.


“Sebentar lagi.”


“Apa kamu ngga punya kerjaan? Bukannya kamu harus ke rumah sakit?”


“Ini pekerjaanku, berbicara denganmu.”


“Pasienmu bukan cuma aku.”


Bila tersenyum samar, dinding pertahanan Nick benar-benar tak bisa ditembus olehnya. Suasana menjadi hening, Bila tak ingin mengganggu Nick yang entah tengah memikirkan apa. Berada di sisi Nick saja sudah membuat hatinya senang. Suasana hening di antara mereka terinterupsi dengan kehadiran Bryan.


“Bila.. pak Dwi sudah siap untuk mengantarmu pulang.”


“Oh iya om. Nick, aku pulang dulu ya.”


Tak ada jawaban dari Nick, pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bila segera beranjak pergi, malu juga rasanya pada Bryan mengingat Nick yang terus mengabaikannya. Bryan mendekati Nick yang masih termenung. Ditepuknya pundak sang anak hingga menolehkan kepala ke arahnya.


“Apa yang kamu pikirkan?”


“I miss someone dad. Miss her so badly (aku merindukan seseorang, dad. Sangat merindukannya). ”


“Siapa?”


“I don’t know, dad. Terkadang aku bisa mendengar suaranya, terkadang aku melihat kelebatan wajahnya yang samar. Aku ngga tahu siapa dia, dad. Yang pasti aku sangat merindukannya. Di sini.. dada ini seperti penuh dengan kerinduan untuknya,” Nick menepuk dadanya pelan.


“Kalau ada yang mau kamu tanyakan, tanyakanlah. Walau pun daddy tak tahu banyak soal kehidupanmu, tapi daddy akan berusaha membantumu mengingat hal yang ingin kamu ketahui.”


“No, dad. I’ll find out by my self (tidak, dad. Aku akan mencari tahu sendiri). Aku ngga mau membuat mom and dad bertengkar.”


“You knew about it (kamu tahu soal itu?).”


“Come on dad. Maybe I lost my memories, but I’m not a child. Your silent, slamming at the door, I knew it (ayolah dad. Mungkin aku kehilangan ingatan, tapi aku bukan anak kecil. Kediaman kalian, bantingan di pintu, aku tahu itu).”


Bryan mengulum senyum tipis. Tentu saja Nick bisa menyadari pertengkarannya dengan Diah, baru kali ini suasana di antara mereka memanas. Seandainya saja Diah tahu apa yang dirasakannya anaknya, mungkin wanita itu tidak akan bersikeras menutupi kebenaran yang ingin diketahui Nick.


“Dad.. soal kedai kopi, apa aku bisa membukanya dalam waktu dekat?”


“Tentu saja. Semuanya sudah siap, kapan saja kamu mau kamu bisa memulainya.”


“Daddy memang sengaja menyiapkan ini untukku kan?”


“Iya. Karena daddy berharap kamu bisa kembali ke kehidupanmu yang dulu. Ada seseorang yang menantimu, sudah waktunya kamu berjalan menghampirinya.”


“Apa dia wanita yang selalu muncul di pikiranku? Yang menimbulkan kerinduan di hatiku?”


“Hmm.. dia wanita itu.”


“Thank you dad. I’m gonna find her, as soon as possible (terima kasih, dad. Aku akan menemukannya secepat mungkin.”


“My prayers always for you (doaku selalu bersamamu)”


Nick memeluk Bryan dengan erat. Dirinya yang awalnya merasa frustrasi dengan semua yang menimpanya, kini mulai berganti dengan semangat yang berkobar. Diah yang baru saja tiba di sana, tercenung memandangi pemandangan di depannya. Hatinya mulai meragu, apakah pilihannya memisahkan Iza dengan Nick adalah keputusan yang tepat.


🍂🍂🍂


Perjuangan Nick mengingat Iza akan dimulai ya gaeess... kira² bakal penuh airmata apa keuwuan ya🤔