
To My Zi❤️❤️❤️ :
Zi.. temenin aku yuk
From My Zi❤️❤️❤️ :
Kemana?
To My Zi❤️❤️❤️ :
Shopping
From My Zi❤️❤️❤️ :
Ok. Tunggu di depan sekolah aja ya.
To My Zi❤️❤️❤️ :
Ok
Nick kembali melanjutkan pekerjaannya setelah berkirim pesan pada Iza. Dia tidak memprotes saat Iza memintanya menunggu di depan sekolah, bukan menjemputnya di rumah. Pria itu tahu kalau Iza mencoba menghindarkan dirinya bertemu dengan Rahardi kembali. Nick memilih mengikuti keinginan Iza, dia tak ingin melihat gadis itu kembali menangis.
Pukul setengah lima sore, Nick sampai di depan sekolah. Nampak Iza sudah menunggunya di depan kios yang mangkal di dekat sekolah. Warung Kuning, begitu sebutan yang diberikan anak sekolah menengah atas itu karena warna kiosnya berwarna kuning. Iza segera masuk ke dalam mobil ketika kendaraan itu berhenti di dekat warung. Tanpa menunggu lama, Nick kembali melajukan mobilnya.
Nick memilih berbelanja di mall terdekat karena waktu sudah sore. Selama perjalanan, Iza terus bertanya hendak berbelanja apa tapi Nick masih merahasiakannya dan itu sukses membuat gadis itu penasaran. Lima belas menit kemudian, mereka tiba di mall. Setelah memarkirkan kendaraan, keduanya masuk ke dalam mall.
Nick mengajak Iza naik ke lantai tiga, di mana departemen store berada. Gadis itu mengikuti langkah Nick tanpa bertanya lagi. Nick terus berjalan menyusuri deretan baju yang terpajang. Kemudian langkahnya terhenti di spot yang memajang pakaian muslim.
“Zi.. bisa tolong pilihin baju koko?”
“Kamu....”
“Iya.. aku mau belajar shalat lagi. Tapi berhubung aku ngga punya perlengkapannya, bantu aku belanja ya. Sekalian sama sajadah, sarung juga kopeahnya.”
Iza mengangguk seraya tersenyum. Hatinya sungguh bahagia mendengar Nick akan kembali menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Dengan penuh semangat, dia memilihkan beberapa potong baju koko untuk pria itu. Gadis itu juga mengambil sarung, sajadah serta kopeah.
Beberapa kali Nick harus bolak balik ke ruang ganti untuk mencoba baju koko. Sebenarnya apapun yang dipilihkan Iza akan disetujuinya, namun Iza meminta untuk mencobanya terlebih dulu.
“Kamu mau beli sesuatu Zi?”
“Hmm.. ngga ah.”
Nick tak mendengarkan penolakan Iza. Pria itu berjalan menuju spot yang memajang berbagai macam kerudung segi empat. Untuk beberapa saat dia mengamati kemudian mengambil enam buah kerudung sekaligus. Tiga polos dengan warna netral dan tiga lagi bercorak.
“Buat apa Nick?”
“Buat kamu. Kalau kamu sudah siap, aku juga mau lihat kamu berhijab.”
Iza tersenyum seraya menganggukkan kepala. Nick kemudian mengajak Iza ke kasir untuk membayar belanjaan. Sekeluarnya dari departemen store, Nick mengajak Iza menuju toko buku yang berada di lantai lima. Lagi-lagi Iza dibuat terkejut ketika Nick berhenti di depan rak yang memajang berbagai mushaf.
“Aku bagusnya beli yang mana ya Zi?”
“Kamu sudah bisa ngaji?”
“Bisa sih. Terakhir aku belajar sama kang Farid udah sampai khatam Qur’an tapi udah lama juga aku ngaji. Jadi aku sangsi apa masih lancar atau ngga.”
“Kalau sudah sampai khatam, berarti kamu bukan cuma sudah tahu huruf tapi juga sudah menguasai tajwid. Aku rasa ngga akan susah buat memulai lagi. Kamu tinggal mengulang terus saja supaya lancar. Butuh orang buat membantu?”
“Boleh. Siapa?”
“Rivan. Dia itu pinter ngajinya. Dia kan juara MTQ tingkat pelajar se-DKI Jakarta.”
“Oh ya? Ngga nyangka.”
“Dia bukan suka dangdutan aja tapi pinter ngaji juga. Om Anton itu orangnya demokratis banget. Dia membebaskan anaknya melakukan apapun asal bertanggung jawab dengan pilihannya dan ngga menyimpang dari ajaran agama.”
“Hmm.. bijak banget ya. Ok deh, aku mau. Tapi paling bisanya sehabis pulang kerja, ngga apa-apa?”
“Habis maghrib aja. Kalau kamu mau ke rumahnya aja. Dia suka ngajar maghrib mengaji di masjid dekat rumah bareng Meta.”
“Boleh deh.”
“Ambil yang ini aja yang ada terjemahannya. Jadi kamu ngga cuma ngaji tapi juga bisa memahami apa arti dari ayat yang kamu baca.”
“Ok.”
Nick mengambil mushaf yang terdapat terjemahan di dalamnya. Setelah membayar, keduanya keluar dari toko. Nick mengajak Iza mengisi perutnya terlebih dulu. Namun sebelumnya mereka menuju mushola yang terletak di lantai dasar untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.
Iza tertegun saat melihat Nick keluar dari mushola setelah menunaikan shalat maghrib. Wajah dan rambutnya masih sedikit basah karena air wudhu. Nick terlihat lebih tampan di matanya saat ini. Dia menundukkan pandangannya ketika beradu mata dengan Nick.
“Mau makan di mana?”
“Di mana ajalah, terserah kamu. Eh aku lagi pengen makan soto Betawi.”
“Ok, ayo.”
Keduanya langsung menuju basement, tempat Nick memarkirkan mobilnya. Nick akan membawa Iza menikmati soto Betawi di warung tenda langganannya. Walau dijajakan di warung tenda pinggir jalan namun kelezatannya tidak perlu diragukan lagi.
🍂🍂🍂
Abe melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit. Dia bergegas menuju lantai atas mall, tempat di mana bioskop berada. Malam ini, Denis meminta menemaninya menonton film yang menjadi box office di hari ketiga penayangannya. Pria itu butuh referensi untuk proyek film terbarunya. Berhubung ada hal yang harus dilakukannya, Denis meminta Abe membeli tiket lebih dulu. Abe menghela nafas saat melihat antrian di loket. Dia segera mengantri di pengunjung paling belakang.
Sementara itu beberapa antrian di depannya, nampak seorang gadis bertubuh mungil mengenakan pakaian casual dan kepala terbalut hijab. Sebuah tas gendong kecil menempel di punggungnya. Gadis itu mengantri sambil bermain dengan ponselnya. Tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah tepukan di bahunya. Gadis tersebut menoleh dan melihat seorang petugas security tengah berdiri di dekatnya.
“Ada apa pak?”
“Kamu tahu kan kalau film yang kamu antri ini film untuk 18 tahun ke atas?”
“Tahu pak. Emangnya kenapa?”
“Kamu belum cukup umur. Silahkan keluar dari antrian.”
“Eh enak aja bapak main asal tuduh. Saya udah 18 tahun pak. Emang muka saya aja yang imut.”
“Mana KTP kamu?”
“Belum jadi pak. Bapak kan tahu sendiri kalau bikin e-KTP tuh lama banget. Saya juga kesel pak, udah mau setahun KTP saya ngga jadi-jadi.”
“Ck.. alasan. Ayo keluar.”
Security itu menarik tangan gadis itu keluar dari antrian. Karena tak cukup tenaga, akhirnya gadis tersebut keluar juga dari antrian. Dia mendengus kesal karena hanya tersisa dua orang lagi, dia bisa sampai di depan loket. Matanya berkeliling mencari seseorang yang bisa membantunya. Lalu pandangannya tertuju pada Abe yang tengah mengantri. Dia pun mendekati pria itu.
“Om..” tak ada jawaban dari Abe.
“Om..” gadis itu menarik ujung lengan kemeja Abe, membuat pria itu menoleh padanya.
“Om.. om.. kapan gue nikah ama tante lo?”
“Iya deh kak. Tolongin aku kak.”
“Apa?”
“Aku mau nonton film kak. Tapi sama security ngga boleh kak.”
“Terus?”
“Aku titip tolong beliin tiket dong. Please ya kak.”
“Emang kamu kenapa ngga boleh beli tiket? Mau ngutang ya.”
“Ngga iih. Katanya aku belum 18 tahun jadi ngga boleh, padahal aku udah 18 tahun. Tapi sayang KTP ku belum selesai, jadi aku ngga punya bukti. Tolong ya om beliin aku tiketnya.”
“Om.. please om..”
Gadis itu menatap Abe penuh pengharapan, kedua tangannya menangkup seperti orang yang tengah memohon. Abe memutar bola matanya, mimpi apa dia semalam harus bertemu gadis yang menyusahkan seperti ini. Karena tak tega akhirnya dia mengangguk.
“Makasih om.”
Gadis itu terlonjak girang. Dia menuju bangku yang ada di salah satu sudut kemudian mendudukkan dirinya di sana. Setelah beberapa saat Abe berhasil mendapatkan tiket. Dia mencari keberadaan gadis yang tadi memesan tiket.
“Ssstt.. sssttt..”
Panggil Abe pada gadis itu yang tengah bermain dengan ponselnya. Sang gadis mendongakkan kepalanya. Ternyata Abe sudah ada di depannya, dia pun berdiri.
“Sat sut sat sut.. namaku Sansan, kak.”
“Bodo amat. Nih..”
Abe menyerahkan tiket pada gadis yang bernama Sansan. Dengan senang Sansan mengambilnya. Dia lalu mengambil dompet dari dalam tasnya. Saat akan mengeluarkan uang, Abe menahannya.
“Ganti uang tiketnya, kamu beli aja popcorn sama minuman. Minumannya dua buat temanku satu.”
“Siap kak.”
Sansan melangkah menuju stand makanan. Dia memesan tiga minuman soda dan satu bucket ukuran besar popcorn. Sementara itu Abe berusaha menghubungi Denis yang tak kunjung datang. Sebuah tepukan mendarat di punggungnya, ternyata Denis sudah ada di dekatnya. Mereka langsung menuju studio tempat film diputar.
Abe dan Denis memasuki studio lalu menaiki tangga. Mereka berhenti di deretan kursi berlabel D. Nampak Sansan sudah duduk di kursi nomor dua. Denis mengernyitkan keningnya. Seharusnya dia yang duduk di kursi tersebut.
“Kenapa duduk di situ?” tegur Abe.
“Biar gampang makan popcornnya kak. Aku beli yang gede soalnya,” Sansan mengangkat buket popcorn yang ada di pangkuannya.
“Siapa Be? Cewek lo?”
“Sembarangan. Kenal juga ngga. Nih anak tadi minta dibeliin tiket, tadi diusir dari antrian ama security. Belum 18 tahun.”
“Wah parah lo, belum cukup umur udah mau nonton film yang ada adegan dewasanya. Sana pulang aja, gue gantiin uang tiket lo,” ujar Denis.
“Ngga mau!! Aku udah 18 tahun cuma KTP belum jadi aja.”
“Ngeles aja lo kaya bemo. Sana pindah.”
“Aku di sini aja. Biar kalian gampang makan popcornnya.”
“Lo pikir kita Jerman Barat ama Jerman Timur, dipisahin sama tembok berlin,” sembur Denis.
Abe hanya menggeleng saja, dia kemudian duduk di bagian paling pinggir. Begitu pula dengan Denis, dia duduk di sebelah Sansan. Keduanya kompak menyeruput minuman yang sudah diletakkan gadis itu di kursi mereka. Kemudian tangannya meraup popcorn yang ada di pangkuan Sansan.
Film belum sampai setengah jalan, popcorn telah habis. Sejak duduk, baik Abe maupun Denis tak berhenti meraup popcorn. Sansan mendengus kesal karena dirinya hanya menikmati sedikit saja.
Rugi bandar gue nitip tiket sama nih om-om. Harga tiket ngga sebanding dengan cemilan yang gue beli. Mana cuma kebagian dikit, nasib-nasib.
Menjelang pertengahan film, adegan romantis dimulai. Pemeran utama wanita dan pria tengah berada di suasana romantis. Perlahan mereka mulai menyatukan bibir dan berciuman. Abe mengambil buket popcorn yang telah kosong lalu menaruh ke kepala Sansan hingga tertutup sempurna.
Gadis itu terkejut saat pandangannya menjadi gelap. Dia berusaha melepaskan buket popcorn dari kepalanya tapi ternyata Abe menahan dengan tangannya. Denis pun melakukan hal yang sama. Dia ikutan meletakkan tangannya di atas kepala Sansan. Setelah adegan tersebut selesai barulah keduanya mengangkat tangan. Sansan melepaskan buket dari kepalanya. Dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya lalu melihat ke arah Abe juga Denis dengan kesal.
“Kalian mau bunuh aku ya?”
“Kita mencegah otak kamu terkontaminasi,” jawab Abe.
“Tul.. anak SMP belum boleh lihat adegan kaya tadi,” timpal Denis.
“Aaaarrrggghhh.. aku udah kuliah tahu!!!”
“Woii!! Berisik!!” tegur penonton di belakang mereka.
“Tuh diem katanya, bacot mulu.”
Abe menaruh jari telunjuk di mulutnya memberi tanda pada Sansan untuk diam. Sansan mendengus kesal, dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah layar sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Sembilan puluh lima menit berlalu, film pun usai sudah. Abe dan Denis segera berdiri. Sansan yang hendak berdiri ditahan oleh Denis. Pria itu meletakkan tangan di bahu Sansan kemudian menekannya hingga gadis itu kembali duduk.
“Sebelum keluar, bawa dulu tuh tempat bekas popcorn sama minuman terus buang ke tempatnya,” ujar Denis.
“Tul.. jangan buang sampah sembarangan. Ayo cabut Den.”
Dengan santai Abe dan Denis segera pergi meninggalkan Sansan yang tengah diliputi kedongkolan. Diambilnya tempat bekas makanan dan minuman lalu membawanya keluar bioskop. Ini kejadian tersial selama dirinya menonton di bioskop.
🍂🍂🍂
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam. Sansan.. duduk!!”
Sansan yang baru pulang dikejutkan oleh ucapan papanya. Wajah sang papa nampak tak bersahabat sama sekali. Akhirnya gadis itu duduk di hadapan papa dan mamanya. Kakaknya, Bagas yang baru menikah setahun lalu juga ada di sana.
“Dari mana kamu?”
“Abis nonton pa.”
“Sama siapa?”
“Sendirian pa.”
“Kamu ngga tau sekarang sudah jam berapa hah? Anak gadis jam segini baru pulang ke rumah.”
Sansan hanya menundukkan kepalanya. Ini bukan hal aneh jika dirinya kerap terkena semprotan sang papa saat pulang melewati jam malam yang telah ditentukan.
“Kamu tuh makin lama makin susah diatur.”
“Mau kamu apa sih San?” tanya mama dengan suara lembut.
“Udah deh ma, pa. Ikutin saran aku tadi,” timpal Bagas.
“Ya sudah papa setuju. Sansan.. kamu harus menikah!”
“Apa???? Ngga mau pa, Sansan masih 18 tahun, ngga mau nikah muda.”
“Kamu harus nikah. Papa ngga mau kamu kebablasan bergaul seperti teman kamu yang hamil duluan.”
“Sansan janji pa, ngga akan macem-macem. Tapi tolong jangan nikahin Sansan.”
“Nikah apa papa kirim kamu tinggal sama nenek di desa?”
Sansan terdiam, dua-duanya bukan pilihan yang mengenakkan. Kepalanya terus tertunduk. Bagas mengeluarkan sebuah foto dari saku kemejanya lalu meletakkannya di atas meja.
“Itu calon suami kamu. Orangnya baik, udah kerja, ganteng juga. Ngga akan malu-maluin kalau dibawa ke kondangan.”
“Iya ganteng loh San.”
Mama mengambil foto yang diberikan Bagas. Setelah melihat sebentar lalu memberikannya pada Sansan. Dengan malas gadis itu mengambil foto tersebut. Matanya membelalak saat melihat wajah orang yang di foto adalah orang yang tadi menonton bersamanya.
“Tidaaaaaakkkkkk!!!”
🍂🍂🍂
**Kira² siapa yang dijodohin sama Sansan? Abe atau Denis?
Maafkan sudah beberapa hari ngga up karena ada kesibukan di RL. Mudah²an besok dan seterusnya bisa up dengan normal🙏**