
Amelia melemparkan semua berkas yang ada di atas meja kerjanya. Wanita berusia 28 tahun itu sedang meradang setelah mendapat kabar tak mengenakkan saat briefing tadi pagi. Tiga klien yang sedianya akan menandatangani kontrak dengan hotelnya mendadak mengubah keputusannya. Jika sampai klien tersebut benar-benar tak jadi menandatangani kontrak, maka keuntungan besar di depan mata akan hangus begitu saja.
Dia mengangkat telepon di atas mejanya untuk menghubungi sekretarisnya, meminta untuk memanggilkan Hilman ke ruangannya. Dia perlu meminta kejelasan perihal pembatalan kontrak dari calon kliennya. Dia tak rela di awal masa kepemimpinannya justru mendapat penilaian negatif dari para pemegang saham.
Sepuluh menit kemudian terdengar pintu ruangannya terketuk yang disusul dengan masuknya seorang pria paruh baya. Hilman menarik kursi di depan meja kerja Amelia. Wajah pria itu nampak tenang tanpa beban.
“Ada apa ibu memanggil saya?”
“Soal klien yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan kita. Apa kamu tahu apa alasannya?”
“Mereka membatalkan kerjasama karena ketiadaan Nick di hotel ini.”
“Apa hubungannya?”
“Karena ketiga klien itu setuju menggunakan jasa hotel ini untuk semua kegiatan yang berkaitan dengan perusahaannya selama setahun ke depan adalah atas lobi dari Nick. Mereka mempercayai Nick karena pernah bekerja sama beberapa kali dengannya. Mendengar alasan pemecatan Nick tentu saja mereka tidak percaya. Apalagi Nick pernah membantu salah satu klien merancang promo produknya tanpa dibayar. Bagaimana mereka bisa percaya kalau Nick melakukan tindakan korupsi?”
Amelia langsung terdiam. Hatinya benar-benar kesal karena penyebab gagalnya kontrak adalah Nick. Lagi-lagi anak dari selingkuhan papanya mengganggu hidupnya. Dulu ibunya datang sebagai duri di pernikahan orang tuanya, kini Nick menjadi duri di karirnya yang baru seumur jagung.
“Ternyata licik juga dia, membalasku dengan menarik semua klien hasil lobinya.”
“Nick tidak ada kaitannya dengan ini. Mereka tahu perihal pemecatan Nick dari pegawai kita sendiri. Saat mereka menanyakan keberadaan Nick, mereka mendengar kabar pemecatannya. Dan menganggap perusahaan kita tidak profesional dalam bekerja.”
“Siapa karyawan yang mengatakannya? Pecat dia!!”
“Kenapa ibu mau memecatnya? Dia hanya mengatakan kebenaran yang terjadi di sini. memang benar kan kalau Nick dipecat atas tindakan korupsi yang saya yakin tidak dilakukannya. Nick sudah pernah memberikan laporan keuangan terkait promosi hotel yang dikerjakannya. Dan entah mengapa laporan tersebut bisa berubah.”
Amelia kembali terdiam. Kata-kata Hilman seperti sebuah sindiran untuknya. Memang benar kalau dia yang telah meminta Ranti mengubah laporan keuangan dan menghilangkan data aslinya. Beruntung asisten Nick itu mau melakukan perintahnya karena sakit hati cintanya tak berbalas.
“Dari pada ibu memecat pegawai yang tak bersalah, lebih baik ibu mencari solusi bagaimana caranya mendapatkan kembali mereka.”
Hilman kembali melanjutkan ucapannya dan itu berhasil menarik kesadaran Amelia dari lamunannya. Wanita itu mulai menanggapi ucapan Hilman. Apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Dia memandang Hilman dengan penuh antusias.
“Apa bapak punya usul?”
“Minta bantuan Nick.”
“Maksud bapak, saya harus menariknya kembali bekerja di hotel ini? Saya tidak akan menjilat ludah saya sendiri.”
“Saya tidak meminta ibu menerimanya bekerja kembali di hotel ini. Saya paham betul pemuda itu. Dia tidak akan mau kembali bekerja kembali di sini walau ibu bersujud memintanya.”
“Saya tidak akan mengemis pada anak pelakor itu!!”
“Sayang sekali, sepertinya ibu harus melakukannya. Hanya Nick yang bisa membawa mereka kembali.”
Amelia bergeming, bagaimana pun juga dia tak ingin kehilangan muka dan harga dirinya jika harus meminta bantuan Nick. Melihat Amelia yang tak menggubris saran darinya, Hilman memilih untuk undur diri. Pria itu bangun dari duduknya, namun sebelum dirinya keluar dari ruangan, dia kembali berkata,
“Terkadang kita harus menjilat ludah sendiri demi menyalamatkan diri kita, betul begitu bu? Satu yang harus ibu tahu, para pemegang saham itu bukan orang yang sabaran. Walaupun pak Sakurta dan bu Widya pemegang saham terbesar hotel ini, tapi jika sampai ada kegaduhan di antara pemegang saham, maka akan memberikan dampak buruk bagi hotel.”
Hilman segera keluar dari ruangan setelah mengeluarkan kalimat yang sukses membuat Amelia berpikir keras. Wanita itu berdiri dari duduknya, dia berjalan mondar-mandir. Pikirannya begitu buntu untuk mencari solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.
🍂🍂🍂
Dengan langkah tenang Nick memasuki gedung hotel tempat dirinya bekerja dulu. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung memberikan pandangan yang sulit diartikan. Bahkan terdengar bisik-bisik mereka yang mempertanyakan kedatangan pria tampan itu.
Bukan tanpa alasan Nick mendatangi lagi hotel tempatnya mengais rejeki dulu. Amelia melalui perantara Hilman meminta pria itu datang untuk membantu mendapatkan klien yang akan bekerja sama dengan mereka. Selama dua hari berturut-turut para pemegang saham menuntut Amelia untuk segera menarik kembali klien demi keuntungan mereka. Akhirnya wanita itu tak punya pilihan selain menerima usulan Hilman, meminta bantuan Nick.
TING
Pintu lift yang dinaiki Nick terbuka begitu telah sampai di lantai teratas gedung hotel ini. Dia melangkah keluar kemudian langsung menuju ruangan direktur yang terletak di bagian paling ujung. Sang sekretaris yang tengah menunggu kehadiran pria itu langsung membukakan pintu untuknya.
Nick melangkah masuk ke dalam ruangan. Di sana, selain Amelia ada juga Hilman juga Ranti. Nick langsung menghampiri Hilman kemudian menyalami pria itu. Namun dia mengabaikan Ranti. Nick mendudukkan dirinya di sofa tunggal.
Melihat kedatangan Nick, Amelia bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju sofa. Sejenak dia tertegun saat melihat Nick. Selama ini dia hanya mendengar cerita Nick tapi tak benar-benar tahu sosok pria itu. Amelia cukup terkejut karena Nick yang begitu dibencinya memiliki wajah yang tampan plus postur tubuh yang bisa membuat kaum hawa tergila-gila padanya.
Amelia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Nick memergokinya tengah memandang intens ke arah pria itu. Sambil berdehem dia duduk di samping Ranti. Nick memang menyetujui untuk membantu Amelia menarik klien yang hendak membatalkan kerjasama namun ada harga yang harus dibayar oleh wanita itu.
“Terima kasih Nick, kamu sudah bersedia datang,” ucap Hilman.
“Ngga usah basa-basi. Apa kamu benar bisa menarik klienmu kembali?” sembur Amelia.
“Saya tidak akan ke sini kalau tidak bisa melakukannya. Hanya dengan satu panggilan, saya bisa membuat mereka menandatangani kontrak.”
“Cih.. sombong.”
“Perlu bukti?”
Nick mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu klien yang membatalkan kerjasama dengan Ambrossia Hills. Dia mengubah suara panggilan ke mode loud spekaer sehingga pembicaraannya bisa terdengar semua orang di dalam ruangan. Setelah berbicara sebentar, Nick mengakhiri panggilannya. Siang ini juga klien tersebut akan menandatangi kerjasama.
Hilman tersenyum puas melihat kinerja Nick. Amelia hanya mencibir saja, namun dalam hati mengakui kemampuan pria itu. Nick melihat ke arahnya di saat yang sama dirinya menatap Nick. Tanpa dikomando, jantung Amelia langsung berdegup kencang saat bersitatap dengan netra coklat Nick.
“Klien pertama aku anggap DP. Kamu harus melakukan apa yang kuminta baru aku akan membawa dua klien lainnya. Bagaimana?”
“Apa yang kamu minta? Kembali bekerja di sini?”
“Aku tidak sudi kembali bekerja kembali di sini. Apalagi bekerja bersama seorang pengkhianat,” Nick melihat ke arah Ranti.
“Dan pemimpin ngga kompeten. Yang tidak bisa membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan. Hanya mengandalkan ikatan darah untuk sampai di pucuk pimpinan,” kali ini Nick melihat ke arah Amelia.
“Kamu menyindirku?” berang Amelia.
“Apa kamu merasa tersindir?” balas Nick.
“Katakan saja apa maumu. Cepat!!”
“Bersihkan nama baikku. Kamu harus mengklarifikasi tuduhan padaku. Dan karena kamu sudah memecatku sebelum kontrak kerjaku berakhir ditambah tuduhan palsu, maka kamu harus memberikan uang kompensasi padaku.”
“Cih.. ternyata ujung-ujungnya duit juga.”
“Itu hakku dan tertera jelas dalam kontrak kerjaku. Soal ganti rugi pencemaran nama baik yang kamu lakukan, it’s ok kalau kamu ngga mau memberikan kompensasi. Aku bisa mengajukan gugatan pada kalian. Aku memiliki bukti kongret yang membuktikan ketidakbersalahanku.”
Amelia berpikir sejenak. Bukan soal jumlah uang yang harus dikeluarkannya, namun harga dirinya dipertaruhkan di sini. Memulihkan nama baik Nick, secara tidak langsung mengakui kalau dia telah mengambil keputusan yang salah. Tentu saja ini akan menurunkan kredibilitas dirinya di mata para karyawan dan pemegang saham. Tapi jika sampai Nick mengajukan tuntutan, maka kerugian yang dideritanya akan lebih banyak.
“Pikirkan baik-baik penawaranku. Aku kasih waktu 1x24 jam untuk memikirkannya. Jika masih belum ada jawaban. Maka bersiaplah menerima surat panggilan dari kepolisian.”
Nick beranjak dari duduknya. Ranti terlihat panik, serta merta dia melihat ke arah Amelia yang masih berpikir. Jika sampai Nick mengajukan tuntutan, sudah pasti dirinya akan menjadi tersangka. Hanya Hilman yang bersikap tenang. Apapun keputusan yang diambil Amelia, dia sudah siap dengan konseksuensinya.
“Ok.. aku akan memulihkan nama baikmu,” seru Amelia.
“Besok. Aku akan melakukannya besok. Sekarang kamu hubungi dua klien lagi.”
“Kamu pikir aku bodoh? Lakukan sekarang atau tidak sama sekali.”
“Baik.. aku akan melakukan sekarang.”
Nick mengambil kunci mobilnya dari dalam saku celananya lalu melemparkan ke atas meja, tepat di depan Amelia.
“Aku menunggu hasilnya di ruangan pak Hilman. Dan itu, berikan kunci mobil itu pada ayahmu.”
Setelah mengatakan itu, Nick keluar dari ruangan disusul oleh Hilman. Amelia terlihat begitu kesal. Diambilnya kunci mobil lalu melemparkannya ke tembok.
“Bu..” tegur Ranti.
“Kumpulkan semua karyawan. Lalu akui perbuatanmu yang telah memfitnah Nick. Jangan lupa berikan laporan keuangan yang asli lalu ajukan pengunduran dirimu.”
“Kenapa saya bu?”
“Lalu kamu mau saya yang mengakui semuanya? Bukankah kamu yang sudah memanipulasi laporan keuangan itu? Kamu yang telah memfitnah Nick.”
“Tapi itu semua ibu yang menyuruhnya.”
“Apa ada bukti aku yang menyuruhmu? Kamu melakukannya dengan sukarela karena sakit hati Nick tak membalas perasaanmu. Lakukan seperti yang aku katakan atau kamu mendekam di penjara.”
Amelia bangun dari duduknya lalu kembali ke belakang mejanya. Ranti memandang kesal ke arah wanita itu. Namun dirinya tak punya pilihan selain melakukan semua yang diperintahkannya. Gadis itu tak ingin mendekam di dalam penjara. Dengan perasaan dongkol, Ranti keluar dari ruangan Amelia.
🍂🍂🍂
Sebuah senyum puas tercetak di wajah Nick saat Amelia melakukan apa yang dimintanya. Klarifikasi tentang dirinya yang dipecat karena melakukan korupsi telah dilakukan. Tentu saja wanita itu cuci tangan dan melimpahkan semua kesalahan pada Ranti. Dan sebagai gantinya, Ranti yang harus menanggung malu dan tudingan semua orang.
Nick pun menepati janjinya untuk membawa kembali dua klien yang membatalkan kerjasama. Mendapat jaminan dari Nick, kedua klien itu akhirnya bersedia menandatangani perjanjian dengan Ambrossia Hills. Amelia dapat tersenyum lega, posisinya yang didudukinya aman.
“Apa rencanamu sekarang?” tanya Hilman.
“Apa kamu ada keinginan bekerja di hotel lain? Saya bisa merekomendasikanmu,” lanjut Hilman.
“Terima kasih pak. Tapi saya ngga berminat bekerja di perhotelan lagi. Sepertinya saya akan membuka usaha sendiri.”
“Hmm.. baguslah. Menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain lebih baik dari pada bekerja di bawah tekanan orang,” Hilman tertawa sumbang seakan tengah menertawakan dirinya sendiri.
“Saya pulang dulu pak. Terima kasih atas bantuan bapak, saya bisa memulihkan nama baik saya.”
“Harusnya saya yang berterima kasih karena kamu berhasil membawa kembali klien kami.”
Nick berdiri kemudian menjabat tangan Hilman. Setelah itu dia keluar dari ruangan. Di depan lift, Nick bertemu dengan Ranti. Perempuan itu baru selesai membereskan barang-barangnya. Di tangannya terdapat kotak coklat berisi barang pribadinya. Nick melirik ke arah Ranti.
“Puas kamu?” seru Ranti.
“Aku hanya ingin memulihkan nama baikku. Soal pemecatanmu, itu adalah resiko yang harus kamu tanggung. Seandainya kamu tahu di mana harus berpijak, maka kamu tidak akan mengalami hal ini.”
TING
Pintu lift terbuka, Nick mendahului Ranti masuk ke dalam lift. Lalu berdiri di tengah pintu seraya menekan tombol tutup. Ranti yang hendak masuk terhalang tubuh Nick. Dia menatap tajam pada pria itu.
“Lebih baik kamu tunggu lift berikutnya.”
Nick memundurkan tubuhnya membuat pintu lift tertutup sempurna. Ranti mendengus kesal mendapatkan perlakuan seperti itu. Ternyata gosip yang mengatakan Nick akan bersikap kejam pada musuhnya benar adanya. Menyesal rasanya dirinya harus berkhianat pada pria itu.
🍂🍂🍂
Nick merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bertepatan dengan itu, Diah masuk ke dalam kamar sang anak lalu duduk di sisi ranjang. Melihat Diah, Nick kembali menegakkan tubuhnya.
“Bagaimana pertemuanmu tadi dengan Amelia?”
“Lancar mom.”
“Apa dia mau memberikan kompensasi atas pemecatan dan juga tuduhan padamu?"
“Iya mom. Besok uangnya akan masuk ke rekeningku.”
“Bagus. Harusnya kamu sekalian lapor ke polisi, biar dia tahu rasa.”
“Percuma mom. Orang tuanya punya banyak koneksi, pasti bisa cepat bebas dengan mudah.”
Diah manggut-manggut membenarkan apa yang dikatakan sang anak. Setahun menjadi wanita simpanan Sakurta, wanita itu tahu betul jaringan yang dimiliki pria itu. Namun dia cukup puas sang anak bisa memberikan pelajaran pada Amelia.
“Kamu sekarang ngga punya kendaraan lagi Nick.”
“Gampang mom, aku tinggal ke dealer Fahrul. Nanti aku bisa beli mobil second di sana.”
“Mommy masih ada tabungan, kamu bisa pakai buat nambah beli kendaraan.”
“Ngga usah mom, uangku masih cukup. Lagi pula kiriman daddy selama ini juga masih utuh, ditambah tabungan dari gaji dan uang kompensasi cukup untuk membeli mobil dan buka usaha.”
“Kamu mau usaha apa?”
“Mau bikin kedai kopi mom. Kecil-kecilan aja. Tapi aku mau kursus barista dulu.”
“Kamu tinggal cari barista aja.”
“Aku juga pengen bisa mom. Rasanya asik kalau bisa meracik kopi buat pelanggan.”
“Terserah kamu aja sayang.”
Diah mengusap puncak kepala Nick. Dia percaya apapun yang direncanakan anaknya adalah yang terbaik dan Nick pasti bisa melakukannya dengan baik. Diah bangun dari duduknya lalu keluar dari kamar untuk menyiapkan makan siang.
Nick kembali merebahkan tubuhnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Senyumnya mengembang membayangkan reaksi Iza saat tahu kalau dirinya sudah berhasil membersihkan nama baiknya. Nick juga sudah merencanakan apa saja yang akan dilakukan ke depannya nanti, termasuk meluluhkan hati Rahardi yang hanya memberinya waktu sebulan untuk membuktikan dirinya layak mendampingi Iza.
🍂🍂🍂
Ranti.... sokooooorrrrr
Seneng banget ya🤣
Gue dukung lo buka kedai kopi, tapi inget diskon 90% buat gue ya😎