
Pick up yang membawa tubuh Nick membelokkan kendaraannya ke sebuah pondok pesantren. Kendaraan roda empat itu terus berjalan kemudian berhenti di depan sebuah rumah yang ada di bagian dalam area pesantren. Dua orang pria turun dari mobil kemudian segera menuju masjid yang letaknya beberapa meter dari tempatnya memarkir mobil. Adzan shubuh berkumandang bertepatan dengan kedatangan mereka.
Usai shalat shubuh berjamaah, kedua pria yang bernama Apep dan Jaya segera kembali ke mobil bersama dengan beberapa pengurus pesantren. Mereka hendak menurunkan barang-barang yang diberikan oleh salah satu donatur tetap pesantren yang berdomisili di Jakarta.
Apep yang lebih dulu sampai, terkejut saat melihat seorang pria tergeletak di antara barang bawaannya. Sontak dia berteriak memanggil teman-temannya. Mendengar teriakannya, Jaya beserta yang lain bergegas menghampiri. Mereka juga terkejut melihat pria tak dikenal tergeletak di atas bak mobil.
“Saha ieu (ini siapa)?”
“Duka (Ngga tahu).”
“Kang.. kang..”
Apep mencoba membangunkan Nick, tapi pria itu bergeming. Mereka meraba tubuh Nick yang terasa dingin. Takut-takut Jaya mendekatkan telunjuknya ke depan hidung Nick kemudian melihat ke yang lainnya.
“Hirup keneh (masih hidup).”
“Turunkeun.. turunkeun eta pak Kyaina wartosan (kasih tahu pak kyai),” perintah salah satu pengurus.
Apep dan Jaya membuka pintu bak belakang kemudian naik ke atasnya. Dibantu yang lain mereka menggotong tubuh Nick dan membawanya turun. Dengan tergopoh-gopoh Kyai Ahmad Salam datang menghampiri. Dia langsung memerintahkan membawa Nick masuk ke dalam rumahnya.
Pelan-pelan tubuh Nick dibaringkan di atas kasur. Kyai Ahmad meminta diambilkan minyak kayu putih. Dia akan mencoba menyadarkan Nick. Pelan-pelan pria itu membuka hoodie Nick. Dia cukup terkejut meihat ada bekas darah di dekat hidung Nick.
“Euleuh geningan bule, pak Kyai,” celetuk Apep.
Kyai Ahmad mendekatkan kain yang sudah diberi minyak kayu putih ke dekat hidung Nick. Jaya membalur telapak kaki Nick dengan minyak kayu putih untuk menghangatkan badannya. Lalu pria itu juga membalurkannya ke perut Nick. Kyai Ahmad terus berusaha menyadarkan Nick. Beberapa saat kemudian pria itu tersadar.
Kelopak mata Nick nampak bergerak-gerak. Tak berapa lama kedua matanya mulai membuka. Pandangan yang semula kabur, perlahan mulai terlihat jelas. Nick memandang sekeliling, nampak wajah-wajah asing tengah mengelilinginya. Dengan susah payah pria itu mengangkat tubuhnya.
“Di mana aku?”
“Eh tiasa nyarios Indonesia,” kembali Apep berkomentar.
“Kamu ada di pesantren Miftahul Ulum,” jawab kyai Ahmad.
“Kenapa aku ada di sini? Aku harus ke tanah kusir.”
“Tanah kusir? Jauh atuh kang, eta mah di Jakarta.”
“Ini di mana?”
“Bandung.”
“Bandung?”
Jaya menganggukkan kepalanya. Nick terdiam sebentar. Mendengar kata Bandung tiba-tiba saja dia mengingat sesuatu. Kelebatan ingatan seorang perempuan mengatakan tentang kota tersebut.
Aku mau tinggal di Bandung.
Aku suka kota ini.
“Siapa dia aargghh..”
“Saha kang?”
“Aku harus pergi aarrgghh..”
Nick berusaha bangun, namun baru saja akan mengangkat tubuhnya dari kasur, dia kembali terduduk seraya memegangi kepalanya. Rasa nyeri kembali menghujamnya. Pria itu mengerang, saat rasa sakit terus menusuknya.
“Lebih baik kamu istirahat saja. Bagian mana yang sakit?”
“Kepalaku.. aargghh.. sakiiittt.. aarrgghh..”
Kedua tangan Nick memegangi kepalanya. Darah segar kembali keluar dari hidungnya. Tentu saja hal tersebut mengejutkan semua yang ada di sana. Mereka kembali dibuat kaget ketika telinga Nick juga mengeluarkan darah. Karuan semua menjadi panik. Ditambah Nick yang tak berhenti berteriak kesakitan. Tak berapa lama tubuh Nick ambruk.
“Astaghfirullah.. kumaha ieu pak kyai?”
“Ayo kita bawa ke rumah sakit.”
Jaya mengangguk. Secepat kilat dia berlari menuju kantor pesantren. Dia meminta Dodi mengeluarkan ambulans untuk membawa pria asing yang terbawa olehnya ke rumah sakit. Dibantu beberapa orang lainnya, Apep memindahkan tubuh Nick ke blankar kemudian membawanya masuk ke dalam ambulans.
Dodi segera menjalankan ambulans. Kyai Ahmad memutuskan ikut ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Nick. Suara sirine dari ambulans mengejutkan beberapa santri yang baru saja pulang dari masjid. Kendaraan itu melaju cepat keluar dari gerbang pesantren.
🍂🍂🍂
Sudah hampir satu jam menunggu, namun dokter masih belum selesai memeriksa kondisi Nick. Dia langsung dibawa ke ruang tindakan begitu sampai tadi. Dokter langsung melakukan berbagai tes melihat kondisi Nick yang nampak kritis. Kyai Ahmad masih sabar menunggu di dekat ruang IGD. Seorang wanita muda menghampirinya sambil berlari kecil.
“Abah..”
“Bila..”
“Siapa yang sakit?”
“Abah juga ngga tahu. Tadi Apep dan Jaya baru pulang dari rumah pak Winata, begitu sampai di pesantren, mereka baru tahu kalau ada orang yang ikut naik ke mobil dan terbawa sampai ke sini.”
Percakapan kyai Ahmad dan putrinya terhenti ketika dokter yang tadi memeriksa Nick mendekat. Pria bersahaja itu segera berdiri dari duduknya kemudian menghampiri dokter yang juga temannya.
“Bagaimana Man?”
“Sepertinya pasien pernah mengalami benturan di kepalanya. Bisa jadi karena kecelakaan. Ada sarafnya yang terjepit dan saraf ini meradang, bahkan ada satu pembuluh darahnya yang pecah. Itu yang menyebabkan terjadinya pendarahan eksternal. Darah di kepalanya harus disedot keluar sebelum menggumpal dan membahayakan nyawanya.”
“Lakukan saja. Lakukan apapun untuk menyelamatkannya.”
“Apa kamu mengenalnya?”
“Apa harus mengenal dulu baru kita boleh menolongnya?”
“Baiklah. Kamu harus segera mengurus administrasi. Dan jangan lupa tanda tangani surat persetujuan operasi.”
“Iya. Bila.. kamu saja yang mengurus administrasinya. Ajak Apep dan Jaya bersamamu.”
Salsabila atau yang biasa dipanggil Bila, anak bungsu kyai Ahmad Salam, pemilik pesantren Miftahul Ulum bergegas menuju kantor administrasi bersama dengan Apep dan Jaya. Kedua pria itu berdiri di samping kursi yang diduduki oleh Bila. Gadis itu terdiam sejenak saat harus mengisi data pribadi pasien.
“Namanya siapa?” Bila melihat ke arah Apep dan Jaya.
“Ngga tau neng. Kan belum sempet kenalan tadi. Dia bule tapi bisa ngomong Indonesia.”
“Blasteran kali,” celetuk Apep.
“Udah, kasih aja nama Ronaldo, neng,” usul Jaya.
“Jangan atuh. Maradona we,” timpal Apep.
“Maenya Maradona, keren saeutik atuh. Beckham we lah.”
“Messi atuh.”
“Husshh.. berisik kang.”
Bila menggelengkan kepalanya. Bertanya pada Apep dan Jaya ternyata malah membuat kepalanya pusing. Setelah berpikir sejenak, dia menuliskan nama David di formulir pendaftaran.
“Umur?”
“Paling oge 24 atau 25 lah neng.”
Kali ini Bila menuruti jawaban Jaya. Dia terus mengisi formulir pendaftaran dan menandatangi formulir kemudian membayarkan sejumlah uang sebagai deposito agar Nick dapat segera masuk ruang operasi.
🍂🍂🍂
Kepanikan terjadi ruang inap Nick. Semua sahabatnya seudah berkumpul. Mereka terkejut saat Denis mengabarkan Nick menghilang. Bryan meminta pihak rumah sakit mengecek rekaman cctv. Tapi mereka kehilangan jejak saat Nick keluar dari area rumah sakit.
Diah terduduk lemas di atas sofa. Berbagai pikiran buruk mulai berseliweran di kepalanya. Bryan mendudukkan diri di samping istrinya lalu memeluknya. Denis yang paling merasa bersalah atas kejadian ini. Sedari tadi dia tak henti meminta maaf pada Diah dan Bryan. Dia lalu berinisiatif menghubungi Topan. Pria itu memiliki banyak anak buah yang bisa dikerahkan.
Fahrul memberi kode pada yang lainnya untuk keluar. Denis, Abe dan Arnav keluar mengikuti Fahrul. Mereka memilih berkumpul agak jauh dari kamar. Fahrul melihat ke arah Arnav sejenak.
“Ar.. lo coba ke rumah Iza. Siapa tahu aja Nick ke sana.”
“Kalau Nick ke sana, pasti Iza kasih kabar kita-kita,” jawab Abe.
“Ya ngga ada salahnya kan kita coba. Gue periksa ke kedai, lo ke apartemen, Be, coba cek ke hotel. Ar.. sorry nih cuma elo yang bisa ke rumah Iza. Elo kan yang kenal sama umminya Iza. Kalau kita-kita tar mereka curiga.”
Arnav menganggukkan kepalanya. Kalau boleh memilih dia lebih baik mengitari kota Jakarta dari pada harus bertemu dengan Iza. Tapi dugaan Fahrul tidak bisa diabaikan. Bisa jadi Nick menemui Iza. Karena tak ada yang tahu ingatan apa yang muncul hingga pria itu pergi dari rumah sakit.
Tanpa membuang waktu, Arnav bergegas menuju rumah Iza. Sepanjang perjalanan, otaknya terus menyusun kata-kata, seandainya Iza mengajukan banyak pertanyaan tentang Nick.
Setelah hampir satu jam berkendara, akhirnya pria itu sampai di depan rumah Iza. Sejenak Arnav memperhatikan suasana rumah yang nampak sepi. Setelah mengambil nafas panjang beberapa kali, Arnav turun dari mobilnya. Langkah terasa berat ketika memasuki pekarangan rumah istri dari sahabatnya itu.
TOK
TOK
TOK
“Assalamu’alaikum.”
TOK
TOK
TOK
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Arnav terkejut saat melihat Meta yang membukakan pintu. Sejenak pria itu terdiam memandangi wajah wanita yang begitu dirindukannya akhir-akhir ini.
“Ar..” suara Meta membuyarkan lamunan Arnav.
“Izanya ada?”
“Ada. Ayo masuk.”
Hati Arnav semakin kacau ketika memasuki rumah tersebut. Dia mendudukkan bokongnya di atas sofa. Tak berapa lama Iza datang dituntun oleh Meta. Iza meraba-raba sofa di dekatnya kemudian mendudukkan diri. Arnav terkejut saat mata Iza hanya menatap lurus ke depan. Dia melambaikan tangan di depan wanita itu namun tak ada reaksi apa pun.
“Zi.. kamu...”
Arnav terhenyak mendengarnya. Seketika perasaan bersalah menghujam batinnya. Wanita di hadapannya ini harus menghadapi banyak kemalangan dalam hidupnya. Kehilangan bayi dalam kandungannya, kehilangan penglihatan bahkan dia juga dipisahkan dari suaminya.
“Zi.. aku minta maaf..” suara Arnav terdengar tercekat.
“Untuk apa?”
“Maaf karena baru bisa menengokmu.”
“Ngga apa-apa. Kamu pasti sibuk mengurus pemakaman Nick.”
Iza menghentikan ucapannya sejenak. Mengingat Nick kembali membuat hatinya bersedih. Meta mengusap pelan punggung sahabatnya ini kemudian memeluknya. Perasaan Arnav semakin tercabik-cabik. Ingin rasanya dia meneriakkan kalau Nick masih hidup. Namun keberadaan Nick yang entah di mana juga malah akan membuat Iza bertambah sedih.
“Nick.. di mana mommy memakamkannya?”
“Di Bandung,” jawab Arnav pelan.
“Bagaimana ketika dia pergi? Apa wajahnya tersenyum? Dia pasti sudah tidak merasakan sakit lagi. Iya kan Ar?”
Buliran bening keluar membasahi pipi Iza. Arnav menengadahkan kepalanya, mencoba menahan airmata yang juga hendak turun. Tangannya bergerak mengusap sudut matanya.
“Bagaimana keadaan mommy?”
“Sedih.. tapi keadaannya sudah sedikit membaik.”
“Ar.. aku mohon jangan katakan keadaanku pada mommy. Dia sudah bersedih karena kehilangan anak satu-satunya. Jangan tambah beban pikirannya dengan keadaanku. Aku mohon.”
“Iya Zi. Soal donor mata, apa sulit untuk mendapatkannya?”
“Entahlah, Ar. Aku tidak terlalu peduli. Orang yang paling ingin kulihat dan kutemui sudah tidak ada. Tidak masalah aku bisa melihat lagi atau tidak. Kalau boleh memilih, aku lebih baik pergi menyusulnya.”
“Zi..”
“Kamu tenang aja, Ar. Aku tidak akan berbuat bodoh. Nick pasti tidak akan suka kalau aku sampai bunuh diri. Aku akan tetap menjalani hidup, sampai maut menjemputku.”
Terdengar isak tangis Meta. Gadis itu tahu betul apa yang dirasakan Iza. Karena dulu dia juga pernah merasakan hal tersebut, kehilangan orang yang dicintai hingga sempat berpikir untuk bunuh diri. Kalau bukan dukungan kedua orang tua dan Iza, mungkin dia sudah memilih jalan sesat itu.
“Arnav..”
Arnav menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Mina. Lelaki itu berdiri kemudian menghampirinya. Dia mencium punggung tangan Mina. Melihat wajah Arnav yang nampak gelisah, hati wanita itu mulai was-was, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Nick.
“Zi.. Meta, ummi, aku pulang dulu ya. Aku cuma ijin sebentar ke kantor,” bohong Arnav.
“Iya,” jawab Iza.
Arnav keluar dari rumah Iza. Mina mengikuti langkah Arnav. Dia mengantarkan pria itu sampai ke dekat mobil. Mina ingin menanyakan keadaan Nick.
“Bagaimana Nick?” tanyanya dengan suara pelan.
“Nick hilang, ummi.”
“Hilang? Hilang gimana?”
“Dia kabur dari rumah sakit.”
“Ya Allah, kenapa bisa?”
“Aku juga ngga tau , ummi. Dari rekaman cctv, dia keluar tengah malam. Aku sama yang lain masih cari-cari dia. Aku pikir dia inget soal Iza, makanya aku ke sini. Aku pulang dulu ya, ummi.”
“Iya. Tolong kabari terus ummi ya.”
“Iya ummi. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Arnav masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kendaraan roda empat tersebut mulai melaju. Kesedihan kembali menggelayuti hati wanita itu. Mengapa keadaan menjadi semakin rumit saja.
🍂🍂🍂
Kyai Ahmad menutup mushafnya. Kemudian pria itu mengangkat kedua tangannya seraya membacakan doa-doa. Dia meniup tangannya kemudian mengusapkan ke kepala Nick.
“Segala penyakit datangnya dari-Mu ya Allah. Maka hanya kepada-Mu lah kami memohon kesembuhan.”
Pria itu memandangi sejenak wajah Nick kemudian melangkah keluar dari ruang perawatan ICU. Dia melepaskan pakaian steril yang menutupi tubuhnya kemudian menghampiri Bila yang duduk di ruang tunggu.
Setelah menjalani operasi, Nick belum sadarkan diri. Sudah tiga hari berlalu namun belum ada tanda-tanda kalau pria itu akan tersadar dari komanya. Kyai Ahmad duduk di samping putrinya. Baru hari ini dia sempat melihat keadaan Nick. Sebelumnya dia hanya mendapat laporan dari Bila. Kebetulan sang putri adalah dokter residen di rumah sakit ini.
“Masih belum ada perkembangan ya, abah.”
“Iya. Apa sudah ada kemajuan soal keluarganya?”
“Belum. Tadi kang Jaya telepon, mereka masih belum dapat info apapun.”
“Kalau begitu, kita tunggu saja sampai dia sadar. Pasti ada alasan kenapa Allah mengirimkannya kepada kita.”
“Iya. Sekarang abah pulang aja. Nanti aku cek keadaannya kalau senggang.”
“Iya. Abah pulang dulu. assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Bila mencium punggung tangan ayahnya. Dia mengantar pria itu sampai ke lobi rumah sakit. Kemudian Bila kembali ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu adalah dokter residen yang tengah menempuh pendidikan spesialis kejiwaan, dan ini adalah tahun keduanya.
🍂🍂🍂
Fahrul, Denis, Abe dan Arnav tengah berkumpul di cafe. Mereka membicarakan tentang Nick yang masih belum juga ditemukan. Bryan sudah meminta bantuan beberapa temannya untuk melacak keberadaan anaknya itu. Begitu juga Topan, dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari temannya.
Setiap hari Fahrul dan Abe berkeliling Jakarta bahkan sampai mendatangi tiap rumah sakit. Denis selalu menyempatkan diri mencari Nick begitu pekerjaannya selesai. Pria itu masih harus melakukan sesi pemotretan sebuah majalah yang telah mengontraknya jauh hari. Begitu pula dengan Arnav, dia bahkan menyebarkan foto Nick pada rekan kerjanya yang bertugas di luar Jakarta. Siapa tahu ada yang pernah melihatnya.
Namun hingga hari kelima, pencarian mereka belum membuahkan hasil. Nick seperti hilang tertelan bumi. Kali ini mereka memutuskan berkumpul untuk menyusun kembali rencana pencarian. Mereka sudah mendata daerah mana saja yang sudah didatangi.
“Mungkin ngga sih kalau Nick keluar kota?” celetuk Arnav.
“Mungkin aja. Tapi pertanyaannya kemana? Banyak kemungkinan kemana dia pergi. Bandung, Bogor, Cianjur, Puncak, gue ngga tau lagi,” Denis menggelengkan kepalanya.
“Be.. sorry nih. Tapi kayanya kita perlu bantuan bokap lo deh,” ujar Fahrul.
“Betul Be. Bokap lo punya banyak koneksi, kita bakalan cepet nemuin Nick kalau minta bantuannya. Tapi terserah elo sih, pasti bokap lo ngga akan kasih bantuan secara cuma-cuma juga.”
Abe terdiam merenungi ucapan Fahrul dan Arnav. Memang benar, dengan kekuasaan dan koneksi yang dimilikinya, pasti akan lebih mudah menemukan Nick lewat bantuan ayahnya. Tapi pertengkarannya dahulu membuat pria itu sedikit enggan meminta bantuan darinya.
Lamunan Abe buyar ketika mendengar bunyi ponsel Fahrul. Melihat panggilan dari Maira, pria itu menjauh sedikit dari meja baru kemudian menjawab panggilannya. Tak lama dia kembali ke meja.
“Kenapa Rul?”
“Mai.. dia masuk rumah sakit. Gue kayanya harus ke Bandung.”
“Ya udah lo urus Mai aja. Biar Nick kita-kita yang urus,” jawab Arnav.
“Bener kata Arnav. Mai lebih butuh elo sekarang. Tenang aja, gue bakalan minta bantuan bokap,” putus Abe.
“Yakin lo?”
“Iya.”
“Tapi kalau bokap lo minta macem-macem buat imbalannya gimana?”
“Palingan gue disuruh nikah sama cewek pilihannya. Nick lebih penting guys. Apapun syarat bokap, gue bakal penuhi asal dia bisa ketemu.”
Dddrrttt Dddrrrttt
Denis merogoh saku celananya ketika ponselnya bergetar. Terlihat nama Ayura yang menghubunginya. Dengan cepat dia menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Den...” terdengar isak Ayura dari seberang.
“Kenapa Ay?”
“Azka.. Azka dibawa pergi Arif..”
“Kamu di mana sekarang?”
“Di rumah orang tuaku.”
“Tunggu aku. Aku ke sana sekarang.”
“Kenapa Den?” tanya Abe.
“Azka, anaknya Ayura. Dia dibawa pergi mantan suami brengseknya.”
“Astaghfirullah ada-ada aja. Ya udah lo urus aja Ayura. Biar gue yang urus Nick.”
“Thanks, Be. Gue cabut dulu.”
Denis menyambar jaket yang tersampir di kursi kemudian bergegas pergi. Begitu juga dengan Fahrul, pria itu harus segera berangkat ke Bandung. Dia khawatir akan keadaan Maira juga anaknya.
“Gue duluan.”
“Lo mau ketemu bokap sekarang?”
“Iya. Lebih cepat lebih baik.”
“Gue temenin.”
“Ngga usah. Mending lo temenin mommy aja. Daddy masih belum pulang, kan?”
Arnav mengangguk. Kedua pria itu kemudian keluar dari cafe. Mereka berpisah di pelataran parkir. Masing-masing kembali ke mobilnya dan mengambil arah yang berbeda ketika keluar dari area cafe.
🍂🍂🍂
Kira² Fahrul bakalan ketemu Nick ngga ya🤔