
“Maksudmu, ibumu sekarang adalah wanita simpanan dari ketiga laki-laki ini?”
Baik Nick maupun Iza terkejut mendengar penuturan Rahardi. Hal yang sama juga dialami Mina. Wanita itu mengambil foto yang ada di atas meja lalu memperhatikannya satu per satu.
“Kenapa diam? Tidak bisa menjawab karena semua benar adanya, begitu?” lanjut Rahardi.
“Mommy memang pernah punya hubungan dengan mereka, tapi sekarang semua sudah berakhir.”
“Nick benar bi, sekarang mommy Nick sudah tidak ada hubungan lagi dengan semua laki-laki itu,” Iza membenarkan kata-kata Nick.
“Kamu tahu tapi diam saja? Kamu tahu apa yang dilakukan mamanya itu salah, perbuatan zina namanya! Bisa-bisanya kamu menutupi ini semua, di mana akal sehatmu?”
Emosi Rahardi terpancing begitu tahu kalau Iza sudah mengetahui tentang sepak terjang Diah. Ketidaksukaan Rahardi pada Nick bertambah dalam ketika tahu Diah adalah seorang wanita simpanan.
“Tapi semua sudah berakhir bi. Mommy Diah sudah bertobat.”
“Tobat? Paling juga tobat sambal.”
“Astaghfirullahaladziim.. abi..”
Mina segera menegur suaminya. Wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikiran pendamping hidupnya ini. Sejak suaminya itu meraih gelar profesor, cara berpikir Rahardi semakin arogan saja. Berulang kali dia mencoba mengingatkan tapi sang suami selalu bergeming.
“Maaf om. Saya akui kalau keluarga saya bukanlah termasuk keluarga idaman semua orang. Tapi sebagai anak, saya bangga dengan mommy saya. Dia berjuang sendirian membesarkan saya tanpa dukungan keluarga.”
“Dan membesarkanmu dengan uang haram? Saya ngga kebayang, sudah berapa banyak barang haram masuk ke dalam tubuhmu.”
Tangan Nick mengepal erat, sebisa mungkin dia menahan emosi yang membuncah di dalam dada. Iza melirik ke arah tangan Nick yang buku-buku tangannya tampak memutih, saking kencangnya dia mengepalkan tangannya.
“Sebagai orang tua, saya tidak sudi melepaskan anak saya pada orang yang latar belakang keluarganya tidak jelas. Ibumu banyak melakukan hal memalukan, membesarkan anak dengan menjadi simpanan pria beristri, apa kamu sadar itu? Dan kamu masih punya muka mendekati anak saya dan ingin menikahinya? Iza terlalu baik untuk menjadi menantu anak simpanan.”
“Om...” Nick berdiri dari duduknya, mengejutkan Iza juga Mina. Rahangnya nampak mengeras, wajahnya sudah memerah menahan amarah yang hendak meledak.
“Baik buruknya mommy, dia tetap ibu saya. Om tidak berhak menghina mommy. Saya menerima kalau om menghina atau membenci saya, tapi saya tidak terima kalau om menghina mommy saya.”
“Kalau begitu tinggalkan Iza! Kamu tidak pantas untuknya!”
Rahardi ikut berdiri, kini kedua pria berbeda generasi itu berdiri behadapan. Mata mereka saling menatap penuh amarah. Nick sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi sikap arogan Rahardi. Iza ikut berdiri untuk menenangkan kekasihnya.
“Nick..”
“Aku pulang Zi, assalamu’alaikum.”
Dengan hati berbalut amarah, Nick keluar dari rumah. Iza segera menyusul pria itu dan menghentikannya saat akan memasuki mobil.
“Nick.. tolong maafin Abi.”
“Maaf Zi.. aku ngga peduli kalau abi menghinaku tapi abi sudah menghina mommy, mommy-ku Zi!”
Nada suara Nick meninggi, menandakan kemarahan mendalam yang dirasakan pria itu. Mata Iza berembun melihat Nick yang tengah terbakar amarah.
“Aku pergi Zi. Mungkin kamu dan aku memang tidak berjodoh.”
Tanpa menunggu jawaban dari Iza, Nick masuk ke dalam mobil. Iza hanya mampu terpaku di tempatnya, memandangi mobil Nick yang meninggalkan dirinya. Tubuh Iza terasa lemas seiring kepergian pria itu. Dia jatuh berjongkok dengan airmata yang jatuh berderai.
Nick memacu kendaraannya dengan kencang. Dadanya masih bergemuruh kencang, menahan amarah yang belum sepenuhnya keluar. Kalau tak ingat Rahardi adalah ayah dari perempuan yang dicintainya, mungkin pria itu sudah habis dibuat babak belur olehnya.
Sementara itu, Mina keluar dari dalam rumah untuk mencari Iza yang tak kunjung masuk. Wanita itu mendapati sang anak tengah berjongkok sambil menangis. Dengan penuh kasih sayang, Mina meraih bahu Iza kemudian membantunya berdiri. Dengan perlahan, dia membimbing Iza masuk ke dalam rumah.
“Mulai besok, abi tidak mau melihatmu berhubungan dengan anak itu lagi.”
“Mana punya muka aku bertemu dengan Nick setelah apa yang abi katakan padanya. Abi puas?”
Iza segera berlari naik ke lantai atas lalu masuk ke kamarnya. Dihempaskan tubuhnya ke kasur. Dia membenamkan wajahnya ke bantal, tangisnya kembali pecah. Perjuangannya dengan Nick harus terhenti begitu saja karena keegoisan dan sikap arogan Rahardi. Melihat amarah di wajah Nick, gadis itu merasa impiannya membina rumah tangga bersama perlahan mulai menjauh.
Mina mendekati suaminya yang masih terduduk di tempatnya. Perasaan Rahardi sudah lega sekarang, bisa menyingkirkan Nick dari kehidupan anaknya. Siapa pun pengirim foto tersebut, dia sangat berterima kasih. Kini hanya tinggal bagaimana caranya membuat Iza mau menerima perjodohan dengan Syehan.
“Abi..”
Panggilan Mina menarik kesadaran Rahardi. Pria itu menoleh pada sang istri yang sudah duduk di dekatnya. Dilihat dari wajahnya, sudah jelas Mina menunjukkan kekecewaan padanya. Namun dia tak boleh luluh, ini demi kebaikan dan kebahagiaan Iza.
“Apa abi tidak keterlaluan?”
“Keterlaluan bagaimana? Abi pikir apa yang abi lakukan itu wajar saja. Apa ummi mau mempunyai besan seorang wanita simpanan? Mau taruh di mana muka kita?”
“Anak kita akan menikah dengan Nick, bukan ibunya. Lagi pula kata Iza dan Nick, ibunya sudah berubah. Harusnya abi bangga, Iza bisa merubah Nick menjadi laki-laki baik dan Nick bisa menyadarkan ibunya dari kesalahan. Bukan menghinanya seperti tadi.”
“Apa ummi yakin kalau mereka benar-benar berubah? Siapa yang tahu kalau tobat mereka itu hanya tobat sambal.”
“Lalu bagaimana abi bisa menyimpulkan kalau tobat mereka itu hanya tobat sambal? Ingat bi, abi itu bukan Tuhan yang bisa mengetahui bagaimana masa depan seseorang. Setidaknya abi harus lihat bagaimana proses Nick mencoba menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua sebenarnya masih berproses sampai sekarang, hasil akhirnya nanti di yaumul akhir. Selama manusia hidup, selama itu pula mereka berproses.
Abi lihat bagaimana Iza bahagia akhir-akhir ini? Senyum yang sempat hilang akhirnya muncul lagi. Tapi sekarang dengan teganya abi menghancurkannya lagi. Ummi ngga punya impian muluk, hanya ingin melihat kedua anakku bahagia, itu sudah cukup.”
Mina duduk dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar. melihat sikap keras kepala Rahardi, membuatnya geram sendiri. Demi menghilangkan kekesalan, wanita itu memilih pergi. Tinggal Rahardi yang masih merenungi ucapan sang istri. Memang benar kalau belakangan ini putrinya lebih banyak tersenyum dan terlihat bahagia. Namun di samping itu, Iza juga sering kali mendebatnya, membantah ucapannya dan itu semua karena Nick. Rahardi menarik nafas panjang, apapun yang terjadi, dia merasa keputusan yang diambilnya sudah tepat.
🍂🍂🍂
Nick memacu kendaraannya menuju sebuah cafe yang ada di bilangan Kuningan. Arnav baru saja mengirimkan pesan, kalau mereka tengah berkumpul di sana. Untuk menghilangkan kesuntukkan, pria itu memilih bertemu dengan para sahabatnya.
Tak butuh waktu lama bagi Nick sampai ke tempat tersebut. Suasana cafe sudah mulai ramai. Cafe ini memang tidak pernah sepi pengunjung, selain rasa makanannya yang nikmat di lidah, fasilitas di cafe ini juga cukup lengkap. Selain wifi, cafe ini juga menyediakan bilyar table, football table dan virtual game. Ditambah lagi, cafe ini juga menyediakan aneka minuman keras merk ternama.
Nick menghampiri Arnav dan Abe yang tengah bermain bilyar. Dia menghempaskan tubuh di sofa yang terdapat di dekat sana. Denis juga sudah berada di sana, pria itu hanya memperhatikan Arnav dan Abe yang tengah bermain. Tak lama keduanya ikut duduk di sofa setelah Arnav memenangkan pertandingan. Seorang pelayan datang menyajikan minuman yang dipesan Arnav. Tiga botol b*r dan tiga kaleng minuman bersoda tersusun di atas meja.
Arnav membuka botol b*r kemudian menuangkannya ke dalam tiga gelas. Diambilnya satu gelas b*r kemudian meneguknya sampai habis. Denis dan Abe pun melakukan hal yang sama. Hanya Nick yang memilih minuman bersoda.
“Lo mau minum? Tar gue pesenin lagi,” ujar Arnav.
“Ngga.. gue udah berhenti minum.”
“Alhamdulillah,” Arnav mengangkat kedua tangannya.
“Kenapa lo? Tuh muka kusut banget. Abis berantem ama Iza?” tanya Abe.
“Bukan Iza, palingan abinya Iza. Beuuhh kalo lo ketemu sama camernya si Nick, bisa kencing berdiri lo,” sambar Arnav.
Abe terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. Berbeda dengan Nick yang masih setia menutup mulutnya. Pria itu terus menghabiskan minuman di tangannya.
“Fahrul mana?” tanya Nick.
“Palingan lagi nongkrongin Mai,” celetuk Denis.
“Belumlah. Kata bu Sarni, tiap hari tuh orang dateng mulu ke rumah gue. Ngga pagi, siang, malem, udah kaya minum obat. Tapi kayanya Mai masih belum mau pulang.”
“Ya baguslah. Si Fahrul juga belum mutusin si Reisa. Kemarin gue ketemu dia lagi jalan bareng sama Reisa,” sahut Abe.
“Bentar lagi juga udahan mereka,” sambung Denis.
“Yakin lo? Emang si Fahrul bilang mau udahan ama Reisa?”
Denis hanya mengangkat bahunya saja mendengar pertanyaan Abe. Panjang umur, orang yang dibicarakan datang juga. Namun wajah Fahrul jauh dari kata ramah. Ekspresi pria itu sudah seperti hendak memakan orang saja. Dia mendekat ke arah para sahabatnya kemudian langsung menarik kaos Denis hingga pria itu berdiri dari duduknya.
“Brengsek lo! Apa maksud lo deketin Reisa hah??!!”
Semua yang di sana terkejut melihat reaksi Fahrul. Dengan cepat, Arnav dan Abe segera melerai keduanya. Fahrul melepaskan cengkeram dari kaos Denis kemudian membanting amplop coklat yang sedari tadi dibawanya.
“Kalian lihat kelakuan si brengsek itu!!”
Abe yang penasaran mengambil amplop tersebut kemudian membukanya. Dia terkejut melihat foto-foto berisi gambar Denis bersama dengan Reisa. Foto Denis dan Reisa berciuman, foto saat keduanya keluar dari bar dan saat mereka masuk ke dalam kamar hotel.
Arnav merebut foto-foto dari tangan Abe. Dia juga terkejut melihat gambar tersebut. Pria itu sontak melihat ke arah Denis yang nampak santai duduk di sofa. Tak ada perasaan bersalah sama sekali. Hal ini sukses menyulut kembali kemarahan Fahrul. Namun dengan sigap Abe menahannya.
“Lo suka sama Reisa hah? Makanya lo terus minta gue putusin dia. Jawab anj*ng!!”
“Suka sih ngga tapi kalau penasaran iya. Gue penasaran gimana rasanya si Reisa sampe lo ngga mau lepasin dia. Ternyata... biasa aja, udah longgar.”
Jawaban Denis jelas memicu kembali kemarahan Fahrul. Dia melepaskan pegangan Abe lalu merangsek maju mendekati Denis. Ditariknya kembali kaos yang dikenakan Denis, memaksa pria itu untuk berdiri.
BUGH
Sebuah pukulan mendarat di wajah Denis. Fahrul hendak kembali melayangkan pukulannya, namun tangannya ditahan oleh Denis, kemudian tangannya yang lain meninju perut Fahrul hingga pria itu mundur ke belakang beberapa langkah.
“Woi!! Bisa ngga sih kalau diomongin baik-baik!!” teriak Abe yang sukses menarik perhatian beberapa pengunjung.
“Orang kaya dia udah ngga perlu diajak ngomong lagi!!”
Fahrul kembali maju, begitu pula dengan Denis. Keduanya berhadapan dengan posisi saling mencengkeram pakaian masing-masing. Arnav dan Abe sekuat tenaga berusaha memisahkan mereka. Namun keduanya kompak mendorong sahabatnya itu kemudian saling melayangkan pukulan lagi.
Teriakan pengunjung langsung terdengar ketika baku hantam terjadi. Nick yang sedari tadi diam mulai bereaksi. Pikirannya yang sedang kacau bertambah tak karuan melihat perkelahian sahabatnya. Dia berdiri kemudian menghampiri Fahrul juga Denis.
BUGH
BUGH
Dua pukulan beruntun diberikan pada Fahrul juga Denis. Sontak saja Arnav dan Abe terkejut melihat Nick justru ikut baku hantam.
“Lo berdua punya otak ngga?!! Cuma karena cewek ngga penting kalian ribut kaya gini!! Rul.. tentuin sikap lo, ceraikan Mai atau tinggalin Reisa! Dan elo, Den.. berhenti ikut campur urusan Fahrul! Brengsek lo berdua!!”
Nick segera berlalu meninggalkan keempat sahabatnya yang masih bingung melihat sikapnya barusan. Maksud hati ingin menenangkan hati dan pikiran, justru malah memperburuk suasana hatinya. Namun setidaknya dia bisa melampiaskan amarah yang sedari tadi ditahannya.
Denis mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Dia merogoh sesuatu dari saku celananya. Kemudian melemparkan usb yang tadi diambilnya pada Fahrul. Refleks Fahrul menangkap benda kecil pemberian sahabatnya.
“Kalau bukan demi elo dan Mai, najis gue harus tidur sama si Reisa. Tuh bonus dari gue buat elo. Gue cabut.”
Denis menenggak setengah botol bir kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. Fahrul terdiam memandangi flashdisk di tangannya. Arnav mengambil usb tersebut kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia segera menyambungkan usb yang bisa langsung terhubung pada ponsel.
Arnav meminta Fahrul dan Abe duduk bersamanya. Dia lalu membuka file yang terdapat dalam usb. Hanya ada satu file berisi rekaman audio. Arnav pun memutar rekaman tersebut.
Rahang Fahrul mengeras, tangannya mengepal erat mendengar rekaman berisi pembicaraan Denis dengan Reisa tempo hari. Arnav juga Abe sempat terkejut, namun mereka sebenarnya sudah bisa menebak perangai kekasih gelap sahabatnya itu.
Fahrul meremat kaleng soda hingga tak berbentuk lagi. Rasa kesal, marah dan kecewa menghantamnya bersamaan. Ternyata perempuan yang begitu dicintai dan dipujanya tak lebih menganggapnya sebagai atm berjalan saja.
“Well.. sekarang lo tahu kan, mana yang berlian mana yang batu koral,” celetuk Abe.
Fahrul meremat rambutnya kasar. Berjuta penyesalan menghantam dirinya. Hanya karena perempuan seperti Reisa, dia sudah menyia-nyiakan istri yang baik dan setia seperti Maira. Terdengar teriakan kesal pria itu berkali-kali. Arnav hanya bisa menepuk pundak sahabatnya itu tanpa mampu berkata-kata.
🍂🍂🍂
Selesai shalat shubuh, Nick mengambil tas carrier yang sudah disiapkannya tadi malam. Dia mengecek kembali barang-barang yang akan dibawanya. Tenda, sleeping bag, senter, kompor portable, gas hi cook, panci kecil, pisau lipat serbaguna, power bank, pakaian ganti, sarung, sajadah, obat-obatan dan bahan makanan sudah masuk ke dalam tasnya.
Nick bergegas mengganti pakaiannya. Kaos tanpa kerah, celana jeans dan jaket sudah melekat di tubuhnya. Sambil membawa tas carrier-nya Nick keluar dari kamarnya. Saat dirinya tengah memakai sepatu, Diah keluar dari kamar. Keningnya berkerut melihat Nick yang telah siap untuk pergi. Matanya melirik tas carrier yang ada di samping sofa.
“Kamu mau kemana Nick?”
“Aku mau camping mom. Udah lama aku ngga naik gunung.”
“Sama siapa?”
“Sendiri.”
“Sendiri? Yang lain ngga ada yang ikut?”
Nick tertawa pelan mendengar pertanyaan sang mommy. Dia menyelesaikan kegiatan memakai sepatu kemudian berdiri. Dipegangnya kedua bahu Diah yang masih menunggu jawaban darinya.
“Mom.. mereka itu harus kerja, jadi ngga bisa ikut. Anakmu ini sekarang statusnya pengangguran, jadi bebas mau ngapain aja.”
“Kamu mau ke gunung mana?” tanya Diah cemas.
“Yang deket-deket aja mom. Ke gunung Salak.”
Nick mengambil tasnya kemudian menggendongnya dibalik punggung kekarnya. Dia lalu meraih tangan Diah, mencium punggung tangannya.
“Aku pergi ya mom.”
“Berapa lama kamu pergi?”
“Paling lama seminggu mom.”
“Hati-hati ya.”
“Iya mom. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nick menyempatkan mencium pipi Diah sebelum pergi. Kemudian segera keluar dari unit apartemen. Diah hanya terpaku melihat punggung anaknya yang menghilang dibalik pintu. Hatinya merasa kalau ada yang tak beres dengan Nick.
🍂🍂🍂
Gue tunggu di pengkolan, Nick. Gue nebeng ya, nanti turunin aja di Simpang Gadog, gue mau jualan gemblong di sana wakakak🤣🤣🤣