
Sebuah kendaraan roda empat berhenti di depan pintu masuk kampus. Seorang gadis sambil berlari kecil mendekat lalu masuk ke dalamnya. Sansan melemparkan senyumnya ke arah Abe, menampilkan sederetan gigi putihnya. Dengan cepat dia memakai seat beltnya, tak lama kemudian kendaraan tersebut bergerak.
Sekilas Abe melirik pada gadis di sampingnya. Sedari tadi Sansan tak berhenti tersenyum. Sepertinya gadis itu tengah bahagia. Namun Abe tak mau ambil pusing, dia tetap mengemudikan mobilnya tanpa ada niat mengajak Sansan berbicara. Sudah hampir empat bulan dirinya menjalankan perjanjian dengan sang ayah, melakukan pendekatan dengan Sansan dengan cara mengantar jemput gadis itu di luar waktu kerjanya.
“Kak..” akhirnya suara Sansan terdengar juga. Namun tak ada respon dari Abe.
“Kakaaaaak...” panggil Sansan lagi.
“Apa?”
“Aku lagi seneng nih.”
“Ngga nanya.”
Sansan mencibirkan bibirnya ke arah Abe. Laki-laki itu selalu sukses menghancurkan moodnya. Namun tidak kali ini, gadis tersebut benar-benar tengah bahagia. Akhirnya setelah sekian lama, keinginannya terkabul juga. Dia melihat ke arah Abe yang tetap memandang ke depan.
“Aku udah jadian sama Vicky.”
CIIITTT
Kalimat yang Sansan ucapkan sukses menarik perhatian Abe. Pria itu mengerem mobilnya mendadak, membuat mobil di belakangnya terpaksa membunyikan klakson. Dia kembali menjalankan kendaraannya kemudian berhenti di bahu jalan. Kini Abe fokus pada gadis di sebelahnya.
“Kamu bilang apa tadi?”
“Ish.. makanya disimak dong kalau orang ngomong. Aku... udah jadian sama kak Vicky. Laki-laki yang aku bilang waktu itu.”
“Bagus dong. Berarti perjodohan kita bisa batal kan?”
Sansan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Baik Abe maupun Sansan memang masih melanjutkan niatnya membatalkan pernikahan. Kini gadis itu memiliki alasan kuat untuk menolak pilihan sang ayah untuknya.
“Eh bentar, mana gue mau lihat foto si Vicky. Dia harus lebih ganteng dan keren dari gue biar orang tua lo setuju.”
Sansan berdecih mendengar ucapan narsis Abe. Dia membuka tasnya kemudian mengambil ponsel dari dalamnya. Dibukanya folder galeri lalu jarinya menscroll layar, mencari foto kekasihnya. Sansan memberikan ponsel pada Abe. Kening Abe berkerut saat melihat foto Vicky. Dia merasa familiar dengan wajah pemuda itu, namun entah di mana pernah melihatnya.
“Gimana? Ganteng kan? Dia kapten tim basket di fakultasnya,” bangga Sansan.
“Heleh cuma kapten basket doang bangga. Percuma kalau kapten tapi ngga punya pedang panjang yang jalannya ngga prok.. prok.. prok..”
Sansan memukul lengan Abe dengan kesal, hingga terdengar suara pria itu mengaduh. Dengan sebal Sansan membuang pandangannya ke jendela sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Abe tak ambil pusing dengan reaksi Sansan, dia kembali menjalankan kendaraannya.
Sepuluh menit kemudian mobil yang dikendarainya sampai di depan rumah Sansan. Tanpa mengatakan apapun, Sansan segera turun dari mobil. Dia masih kesal pada Abe, harusnya pria itu memberi ucapan selamat karena dia telah menemukan cara untuk membatalkan perjodohan. Abe yang memang tidak peka, langsung melajukan kendaraannya begitu saja.
“Dasar cowok nyebelin!” Sansan menghentak kakinya dengan keras. Setelah itu segera masuk ke dalam rumah.
🍂🍂🍂
Abe merebahkan tubuhnya di atas kasur sesampainya di unit apartemen miliknya. Semenjak memutuskan hidup mandiri, Abe memang memilih keluar dari rumah orang tuanya karena tak ingin hidupnya terus menerus diatur oleh sang ayah. Dia menyewa sebuah apartemen tipe studio yang letaknya tak terlalu jauh dari kantor tempatnya bekerja.
Pria itu mengambil jurusan kuliah yang tidak sesuai dengan keinginan sang ayah yang menginginkan dirinya mengikuti jejaknya sebagai seorang politikus. Usai kuliah, Abe meneruskan kuliahnya untuk meraih gelar master dengan uangnya sendiri yang didapat dari pekerjaan sampingan. Mengerjakan skripsi teman-teman seangkatannya yang malas mengerjakan tugas akhir.
Setelah meraih gelar master, Abe mencoba peruntungan mengikuti perekrutan pegawai sebuah bank swasta terbesar di Indonesia dan berhasil. Sampai sekarang Abe masih bekerja di sana dan menempati posisi yang cukup bagus. Kariernya terus menanjak, sebentar lagi dia juga akan mendapat promo jabatan. Semua itu berkat otak encer dan kerja kerasnya. Namun sayang, ayahnya tak pernah menghargai pencapaiannya selama ini.
Abe terbangun dari tidurnya ketika dia berhasil mengingat siapa Vicky. Dia memang tak mengenalnya namun sering melihatnya di klub tempat dirinya berkumpul dengan para sahabatnya. Pria itu sedikit khawatir karena setahunya Vicky bukan laki-laki yang baik. Dia akrab dengan dunia malam dan juga minum-minuman keras. Bukan tak mungkin kalau lelaki itu juga penganut **** bebas.
Dengan langkah pelan Abe masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Guyuran air dingin di kepalanya mampu menyegarkan kembali saraf-sarafnya yang menegang akibat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan tadi. Belum lagi dia terus saja memikirkan tentang Vicky. Hatinya bimbang antara memperingatkan Sansan atau membiarkannya saja. Yang terpenting tujuannya membatalkan perjodohan sebentar lagi akan terwujud.
Bodo amat lah, dia mau sama Vicky atau sama siapa, yang penting urusan perjodohan kelar. Tapi kasihan juga sih tuh anak. Walau ngeselin tapi dia baik, sayang aja kalau sampe dapet si Vicky yang brengsek. Haaahh.. kenapa gue jadi puyeng sendiri.
🍂🍂🍂
Fahrul meremat kertas di tangannya dengan kesal. Tadi dia baru saja kedatangan seseorang yang mengaku sebagai pengacara yang diutus Maira untuk mengurus proses perceraian mereka. Pria itu berteriak kencang melepaskan semua kekesalannya, membuat para pegawai yang ada di dekat ruangannya terkejut. Sia-sia saja perjuangannya mendapatkan maaf dan meluluhkan hati sang istri. Namun Maira bergeming dan tetap dengan keputusannya untuk bercerai.
Fahrul berjalan mondar-mandir di ruangannya. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya menggagalkan rencana perceraian ini. Tekadnya sudah bulat untuk mempertahan pernikahan dan memulai hidup baru bersama sang istri. Dia segera menyambar kunci dan ponsel dari atas meja kemudian bergegas keluar dari ruangannya.
Mobil yang dikendarai Fahrul tiba di kediaman Denis bertepatan dengan sahabatnya itu tengah bersiap-siap untuk pergi. Fahrul turun dari mobil kemudian menghampiri Denis yang tengah memanaskan motornya.
“Lo mau kemana?”
“Gue ada jadwal pemotretan di puncak.”
“Lo belum pulih bener.”
“Udah ngga apa-apa. Udah kenyang gue istirahat dua minggu di rumah sakit.”
“Lo ke sana naik motor?”
“Iyalah, masa naik odong-odong.”
“Pake mobil gue aja,” Fahrul melemparkan kunci mobilnya pada Denis.
“Tar lo ke kantor gimana?”
“Gampang, nanti biar pegawai gue yang jemput.”
“Ok, deh. Thanks.”
Denis mematikan mesin motor, kemudian memasukkan tas ranselnya ke dalam mobil. Dia kembali masuk ke dalam untuk berpamitan dengan Maira. Setelah itu Denis segera pergi dengan mobil sahabatnya. Fahrul segera masuk ke dalam rumah begitu Denis pergi. Keadaan rumah nampak sepi. Pria itu segera menuju kamar yang ditempati Maira.
TOK
TOK
TOK
“Mai..”
TOK
TOK
TOK
“Mai.. bisa kita bicara?”
Tak lama pintu terbuka, Maira keluar dari dalam kamar. keduanya kemudian menuju ruang makan untuk berbicara. Fahrul mengambil sebotol air dingin dari kulkas kemudian menuangkannya ke dalam gelas. Dalam sekali teguk, air telah masuk ke kerongkongannya. Dia perlu menenangkan diri sebelum berbicara dengan Maira.
“Tadi ada yang datang menemuiku.”
“Apa itu Fajar?”
“Dia yang akan mewakiliku mengurus perceraian kita.”
“Mai...”
Fahrul menjeda ucapannya, ditatapnya wajah Maira yang tak bisa dilukiskan ekspresinya seperti apa. Wanita di hadapannya ini benar-benar keras kepala. Segala macam cara sudah Fahrul lakukan untuk membujuk sang istri membatalkan perceraian, namun tekad Maira sudah bulat untuk berpisah.
“Apa yang membuatmu selalu menolak perceraian? Bukankah itu lebih baik? Kamu bisa bersama Reisa. Dan aku tidak akan mengatakan apapun perihal kalian, kamu akan tetap baik-baik saja.”
“Aku ngga peduli soal ancaman orang tuaku lagi. aku ingin bertahan denganmu bukan sebagai jaminan atas hidupku tapi karena aku ingin memulai hidup baru denganmu.”
“Lalu Reisa?”
“Aku sudah putus dengannya. Aku sadar kalau dia bukan wanita baik-baik.”
Maira berdecih mendengarnya. Dia memang sudah mengetahui perihal kandasnya hubungan Fahrul dengan Reisa dari Denis. Pria itu sudah menceritakan semua kebusukan Reisa dan memperdengarkan rekaman percakapan dirinya dengan Reisa.
“Lalu setelah kamu memutuskan Reisa, kamu merasa berhak kembali padaku?”
“Bukan begitu Mai.”
“Lalu apa? Kamu meninggalkannya begitu tahu kalau dia hanya mencintai uangmu. Kamu meninggalkannya saat tahu kalau perempuan itu hanya memanfaatkan dirimu lalu kembali padaku. Apa kamu pikir aku adalah pemain pengganti? Pemain cadangan yang bisa kamu pakai setelah pemain utamamu keluar dari arena permainan?”
“Ngga seperti itu Mai.. aku benar-benar ingin memulai kehidupan baru denganmu.”
“Tapi sikapmu menunjukkan seperti itu! Kalau kamu meninggalkannya saat aku memintamu, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk meneruskan pernikahan kita. Tapi kamu melakukannya setelah tahu kebusukannya. Kamu melakukannya untuk kepentingan dirimu sendiri, bukan kita!!”
“Mai.. aku harus apa supaya kamu percaya kalau aku benar-benar memilihmu dan ingin meneruskan pernikahan kita.”
Fahrul memegang kedua bahu Maira. Kedua matanya menatap dalam ke arah netra sang istri. Berharap Maira bisa menangkap ketulusan dari sinar matanya.
“Ceraikan aku. Itu yang harus kamu lakukan sekarang.”
Maira melepaskan pegangan tangan Fahrul di bahunya, kemudian berjalan menuju kamarnya. Tekadnya sudah bulat, tidak akan luluh dengan semua janji manis Fahrul dan meneruskan proses perceraian. Maira masuk ke dalam kamar, namun saat akan menutup pintu, tangan Fahrul menahannya. Dia merangsek masuk ke dalam kemudian mengunci pintu kamar. Diambilnya anak kunci lalu memasukkan ke dalam saku celananya.
“Mau apa kamu?”
“Pembicaraan kita belum selesai Mai.”
“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
“Ada Mai. Banyak yang harus kita bicarakan. Katakan apa yang harus kulakukan agar kamu mau membatalkan perceraian ini. Katakan Mai, aku akan melakukannya.”
“Ada apa denganmu? Aku menawarkanmu kebebasan, tapi kenapa kamu malah bersikap seperti ini?”
“Aku tidak ingin bercerai. Aku mau kita meneruskan kembali pernikahan kita. Aku mencintaimu Mai.”
“Cinta??”
Terdengar tawa sumbang Maira ketika Fahrul mengatakan cinta padanya. Ucapan cinta yang keluar dari bibir pria itu terdengar seperti lelucon di telinganya. Maira menatap tajam ke arah Fahrul.
“Tidak ada cinta di antara kita. Berhentilah membual, aku bukan anak kemarin sore yang bisa luluh dengan pernyataan cinta palsumu.”
“Mai.. kenapa kamu begitu keras kepala?”
“Kamu yang sudah membuatku seperti ini.”
“Baik.. kalau kamu bersikeras untuk bercerai, maka aku juga akan terus mempertahankan pernikahan ini bagaimana pun caranya,” Fahrul maju mendekati Maira.
“A.. apa yang mau kamu lakukan?”
“Sesuatu yang harus aku lakukan sejak dulu.”
Fahrul terus merangsek maju, refleks Maira pun berjalan mundur. Perasaannya mulai tak enak melihat tatapan Fahrul yang berbeda.
“Berhenti di sana! Berhenti!”
Fahrul menulikan telinganya, dia terus maju mendekati sang istri. Maira terus melangkah mundur, ketakutan mulai menyergapnya. Jarak Fahrul semakin dekat dan dirinya sudah tidak bisa kemana-mana lagi saat punggungnya menyentuh dinding di belakangnya.
“Fahrul.. kumohon sadarlah. Ayo kita bicara baik-baik.”
“Sudah terlambat Mai.”
Fahrul menarik paksa tubuh Maira hingga membentur tubuhnya. Dengan cepat kedua tangannya mengunci pergerakan istrinya itu. Dia menarik tengkuk Maira lalu menciumnya dengan paksa. Maira meronta, berusaha melepaskan diri dari Fahrul. Namun tenaga pria itu terlalu besar. Fahrul terus mencium Maira sambil membawanya mendekati ranjang. Kemudian dia menghempaskan tubuh Maira ke atas kasur.
Maira beringsut mundur, matanya mulai berembun begitu melihat wajah Fahrul yang berbeda. Pria itu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu kemudian melepaskan dari tubuhnya. Maira berusaha untuk kabur, namun Fahrul berhasil menangkap kakinya. Kemudian pria itu naik ke atas kasur dan mengungkung Maira di bawahnya.
🍂🍂🍂
Airmata Maira terus mengalir mengingat apa yang baru saja terjadi padanya. Fahrul dengan paksa melampiaskan hasrat padanya. Walau secara hukum dan agama, pria itu tetap suaminya, namun hatinya tak rela saat Fahrul menyentuhnya. Berulang kali wanita itu meyakinkan dirinya bahwa apa yang terjadi adalah sebuah hubungan halal. Tapi tetap tak mengurangi rasa sakit di hatinya.
Perlahan Maira bangun dari tidurnya. Sejenak dia melihat ke arah Fahrul yang tengah tertidur pulas. Sambil menahan perih di bagian bawahnya, wanita itu berdiri kemudian memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Dikenakan kembali pakaian untuk menutupi tubuh polosnya, kemudian mengambil kunci dari saku celana Fahrul. Dengan langkah terseok dia keluar dari kamar lalu masuk ke kamar mandi.
Tangis Maira kembali pecah saat melihat pantulan dirinya di cermin. Beberapa bercak merah nampak menghiasi leher dan dadanya. Begitu banyak jejak yang Fahrul tinggalkan di sana. Sungguh bukan seperti ini percintaan yang diinginkannya. Seandainya saja dulu Fahrul bersikap baik padanya, maka dia akan melakukannya dengan sukarela. Bukan dengan cara paksa seperti ini.
Sementara di dalam kamar, perlahan Fahrul membuka matanya. Saat mendapati Maira sudah tak ada di sisinya, pria itu langsung terlonjak. Dia bergegas mengenakan pakaian lalu keluar dari kamar. Fahrul dapat bernafas dengan lega begitu mendengar gemericik air di kamar mandi. Dia kemudian menuju meja makan lalu menarik kursi dan mendudukkan diri di sana.
Pria itu nampak terdiam. Tadi dia terpaksa melakukan semua itu pada Maira. Pikirannya buntu, hanya satu cara yang terlintas di pikirannya agar Maira tak jadi menceraikannya. Dia harus membuat Maira hamil. Lamunan Fahrul buyar ketika pintu kamar mandi terbuka. Maira keluar telah mengenakan pakaian lengkap namun dengan rambut basahnya yang tergerai.
Maira melihat sekilas ke arah Fahrul lalu terus masuk ke dalam kamar. Fahrul beranjak dari duduknya kemudian mengikuti langkah sang istri. Dibukanya pintu yang tak terkunci kemudian masuk ke dalamnya. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang. Netranya terus memperhatikan Maira yang tengah duduk di depan meja rias.
“Mai..”
“Apa kamu puas sekarang? Kamu sudah mendapatkan hakmu.”
“Mai.. maaf, aku..”
“Apa kamu pikir dengan melakukan ini maka aku akan berubah pikiran? Aku tetap dengan pendirianku, kita bercerai.”
“Satu bulan.. aku mohon tunggulah satu bulan lagi. Kalau kamu tidak hamil, maka aku akan mengabulkan permintaanmu.”
Fahrul bangun dari duduknya kemudian keluar dari kamar. Maira menghela nafas panjang, ternyata ini rencana Fahrul menggaulinya. Isak Maira kembali terdengar, ketakutannya jika rencana Fahrul berhasil mulai membayanginya. Terlebih dia melakukannya di saat masa suburnya. Maira menepuk-nepuk pelan dadanya, berharap sesak yang dirasakannya bisa sedikit berkurang.
🍂🍂🍂
No comment ah..
Met berbuka aja buat yang sedang berpuasa.