The Nick's Life

The Nick's Life
Encounter



"Mommy...”


Iza keluar dari dapur dan langsung menyambut kedatangan mertuanya. Diah sengaja datang mengunjungi anak dan menantunya di kediaman Rahardi, mumpung pria itu belum kembali dari Makassar. Iza mencium punggung tangan Diah lalu memeluknya. Mina tersenyum melihat sang anak yang begitu manja pada ibu mertuanya.


“Mommy datang kok ngga bilang-bilang.”


“Sengaja mommy mau kasih surprise buat kalian.”


“Ayo mom, kita sarapan. Cicipin masakan buatan Zi,” Iza menarik tangan Diah ke meja makan.


“Ini beneran kamu yang masak?”


Diah memandangi makanan yang tertata di meja. Nasi uduk, ayam goreng, kering tempe, tumis bihun, sambal kacang dan irisan mentimun. Tidak lupa sebagai pelengkap emping yang ada di dalam toples.


“Aku bantuin ngiris tempe sama goreng ayam aja mom, hihihi..”


“Hmm.. sudah kuduga,” Diah terkekeh.


“Iza ngidam pengen makan nasi uduk katanya,” sahut Mina.


“Nick mana?”


“Masih di kamar mom. Aku panggilin dulu.”


Bergegas Iza menuju lantai dua lalu masuk ke dalam kamar. Kepalanya menggeleng melihat sang suami masih asik berpelukan dengan guling. Iza duduk di sisi ranjang lalu menepuk-nepuk rahang suaminya.


“Mas.. bangun mas..”


“Ennggghhh..”


Nick hanya menggumam pelan lalu kembali tertidur. Iza menarik guling yang dipeluk Nick lalu melemparnya ke belakang punggung pria itu. Namun Nick malah menarik tangan Iza hingga terbaring di kasur. Kini Nick menjadikan tubuh sang istri sebagai guling. Iza menepuk-nepuk lengan sang suami, tapi pria itu bergeming. Tangannya lalu memencet hidung mancung Nick, membuat pria itu terpaksa membuka mata dan mulutnya.


“Bangun mas..”


“Masih ngantuk, Yang.”


“Bangun ih, udah setengah delapan. Mandi terus sarapan. Mas kan harus ke kedai.”


“Aku ngga ke kedai hari ini.”


“Ya tetep bangun dong. Ada mommy tuh di bawah.”


“Mommy ke sini?”


“Iya, makanya cepetan bangun.”


“Olahraga pagi dulu yuk,” ajak Nick.


“Jangan macem-macem ya mas.”


“Cuma satu macem aja, Yang. Mau ya, bentar deh, kan semalam gagal.”


Iza terkikik mengingat kejadian semalam. Nick yang terpaksa kerja lembur di kedai buru-buru pulang ketika mendapat kiriman foto Iza mengenakan lingerie dan bergaya seksi. Tetapi sesampainya di rumah ternyata Iza sudah tertidur. Tak tega membangunkan sang istri, Nick pun mengalah tak mengambil jatah malamnya.


“Nanti aku ganti dobel deh. Sekarang bangun terus mandi.”


Susah payah Iza melepaskan diri dari pelukan Nick lalu beranjak menjauh. Ditariknya tangan sang suami hingga pria itu terduduk di atas kasur. Iza lalu mengambil handuk dan memberikannya pada Nick.


“Mandi dulu sana.”


“Mandi bareng, Yang.”


“Ngga mau, aku udah mandi. Yang ada tambah lama mandinya kalau mandi bareng. Cepetan mandi ngga pake lama, aku tunggu di bawah.”


CUP


Iza mendaratkan kecupan di bibir Nick kemudian bergegas keluar dari kamar. Bahaya kalau sampai Nick menangkapnya dan mengajaknya mandi bersama. Bisa-bisa kedua wanita yang tengah menunggu di bawah terkena salatri karena terlalu lama menanti untuk sarapan bersama.


“Nicknya lagi mandi dulu mom.”


“Iya, ngga apa-apa. Sini Zi, mommy kangen sama kamu.”


Iza menarik kursi di samping Diah. Ibu mertuanya itu mengusap perut sang menantu yang masih terlihat rata. Beberapa hari tinggal bersama Iza, membuat wanita itu kangen juga saat ditinggal olehnya.


Sepuluh menit kemudian, Nick keluar dari kamar. Wajahnya sudah lebih segar. Rambutnya juga masih terlihat basah. Dihampirinya Diah kemudian mencium punggung tangan ibu yang telah melahirkannya.


“Wah ummi masak banyak.”


“Istrimu ngidam mau makan nasi uduk paket komplit.”


“Maaf ya ummi, kalau istriku menyusahkan.”


“Kamu tuh.. istri kamu itu anak ummi yang manja.”


Mina menjepit hidung Iza dengan kedua jarinya. Iza hanya mencebikkan bibirnya ke arah Nick. Kemudian dia mengambilkan nasi dan lauknya ke piring Nick. Dia juga mengambilkan untuk Diah.


“Nick.. mommy mau ke Bandung hari ini.”


“Mau ke rumah aki?”


“Iya, sama mau ketemu temen juga.”


“Lama mom?” tanya Iza.


“Sekitar dua hari mungkin.”


“Mommy sama siapa perginya?”


“Sama Topan.”


“Topan?” Nick mengernyitkan keningnya.


“Iya.. kebetulan Topan mau ke Bandung juga, jadi ya mommy nebeng aja.”


Nick hanya manggut-manggut saja tanpa merasa curiga sama sekali. Dia terus menghabiskan sarapannya. Nasi uduk buatan mertuanya sungguh lezat sekali. Mina memang pandai memasak, sayang kemampuannya memasak belum menurun pada istrinya.


Iza dan Nick mengantar Diah sampai ke depan rumah. Sebuah Daihatsu Xenia berwarna hitam yang dikemudikan Topan sudah terparkir di depan rumah. Sebelum pergi, Nick menitipkan ibunya pada Topan. Temannya itu hanya mengiyakan saja setiap perkataan Nick.


Setelah mobil yang dikendarai Topan meluncur pergi. Iza dan Nick kembali masuk ke dalam rumah. Terlihat Mina tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Setelah mengakhiri panggilan, Mina menghampiri anak dan menantunya.


“Zi, Nick.. ummi sepertinya harus berangkat ke Yogya hari ini.”


“Kenapa ummi?”


“Tadi budemu telepon, mbah Nani masuk rumah sakit. Katanya semalam asmanya kambuh dan langsung dibawa ke rumah sakit. Ummi mau ke sana, takutnya ada apa-apa. Kamu tahu kan mbah Nani udah sepuh.”


“Iya ummi. Ummi ke Yogya sama siapa? Sama om Anton bukan?”


“Iya. Sekarang lagi di jalan mau jemput ummi. Ummi siap-siap dulu ya.”


“Aku bantu, ummi.”


Iza mengikuti langkah Mina masuk ke dalam kamar. Melihat ibunya yang tak fokus, Iza mengambil alih pekerjaan mengepak pakaian ke dalam travel bag, sedangkan Mina duduk termenung di sisi ranjang. Dia mengkhawatirkan adik dari ibunya itu. Semenjak orang tua Mina meninggal, Nanilah yang mengurusnya sampai akhirnya bertemu dengan Rahardi dan menikah.


“Ummi.. ini udah siap pakaiannya.”


“Makasih Zi.”


Mina bangun dari duduknya lalu mengambil tas. Dimasukkan dompet, ponsel juga alat charger dan beberapa kosmetik ke dalamnya. Setelah itu dia mengajak Iza keluar kamar. Saat yang bersamaan, Anton juga tiba di rumah.


“Sudah siap?” tanya Anton.


“Sudah mas. Ummi pergi dulu ya. Nick, ummi titip Iza.”


“Iya ummi.”


“Ummi ngga tahu berapa lama di sana. Tapi seandainya ummi belum pulang saat jadwal kepulangan abimu, kalian pergi saja ya. Jangan sampai abi mendapati kalian bersama kalau tidak ada ummi.”


“Iya, ummi tenang aja. Salam buat bude Siti.”


“Iya. Ummi pergi dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Nick mengambil travel bag dari tangan Mina kemudian membawanya ke mobil Anton. Dia lalu membukakan pintu untuk Mina. Anton menepuk bahu suami dari keponakannya ini lalu masuk ke dalam mobil. Mina memang telah menceritakan perihal pernikahan Iza dan Nick pada kakaknya itu.


Tak lama kendaraan roda empat itu mulai bergulir. Iza terus menatap kendaraan yang membawa umminya pergi sampai menghilang di ujung jalan. Nick menghela pinggang Iza masuk ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu rumah, Nick mengajak sang istri ke kamar. Dia ingin menagih janji yang diberikan sang istri tadi.


Tubuh Iza terbaring di atas kasur tanpa sehelai benang pun. Di atasnya, Nick terus mencumbui dirinya. Tangannya meremat rambut sang suami ketika Nick terus saja menjelajahi seluruh tubuhnya dengan bibir dan lidahnya. Setelah berhasil membuat istrinya on fire, Nick melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya lalu memulai penyatuan mereka.


Deru nafas mengiringi pergulatan panas suami istri itu di atas ranjang. Seprai yang menutupi kasur berukuran queen size itu sudah tak berbentuk lagi bahkan di bagian ujungnya sudah terlepas. De**han dan lenguhan bergantian keluar dari mulut Iza saat merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya.


Nick terus menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tangan Iza memeluk erat punggungnya yang lembab. Baru saja wanita itu mencapai pelepasannya. Dan Nick pun kini tengah berpacu menggapai kepuasannya. Dia memang tak ingin bermain terlalu lama karena tak ingin membuat istrinya lelah di trimester pertama kehamilannya.


Tak lama terdengar erangan Nick saat dirinya berhasil sampai di puncaknya. Untuk beberapa saat pria itu masih bertahan di posisinya. Bibirnya menciumi wajah Iza yang bersimbah keringat. Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Tangannya menarik pinggang Iza hingga tubuh mereka tak berjarak.


“Makasih sayang..”


“Hmm.. lunas ya.”


“Belum.. kan janjinya dua kali.”


“Mas iihh..”


Nick terkekeh, tangannya bergerak mengusap punggung Iza yang juga lembab oleh keringat. Sekarang sang istri boleh menolaknya, tapi menjelang malam, Iza pasti merengek minta diberi jatah olehnya.


“Zi.. kamu ingat ngga, pertama kali kita ketemu di mana?”


“Hmm.. di cafe bukan?”


“Iya. Tapi sebenarnya aku pernah lihat kamu sebelumnya.”


“Di mana?”


“Di lampu merah. Kamu inget ngga dulu pernah hampir ketabrak mobil pas di lampu merah?”


Iza terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat peristiwa yang dikatakan Nick barusan. Dia lalu menganggukkan kepalanya. Saat pulang kuliah, dia memang hampir tertabrak mobil Nick ketika sedang menyebrang.


“Oh iya aku inget. Mobil yang terus jalan padahal udah lampu merah kan?”


“Iya. Waktu itu aku lagi telponan sama Fahrul jadi sempet ngga fokus dan hampir nabrak kamu.”


“Jadi itu mas ternyata. Aku hampir jantungan tau.”


“Maaf.. maaf.. lihat kamu gebrak kap mobil sambil melotot ke arah kaca mobil langsung bikin aku ngga fokus.”


“Ngga fokus kenapa?”


“Aku kaget, kok ada bidadari di lampu merah.”


“Gombal.”


Nick tergelak, dia menarik selimut lalu menutupi tubuh mereka yang masih polos. Iza menelusupkan kepalanya ke dada Nick. Tangannya melingkari pinggang sang suami. Beberapa kecupan diberikan di dada bidang suaminya itu.


“Percaya atau ngga, tapi saat itu aku sudah jatuh cinta padamu. Cinta pada pandangan pertama. Terus kita ketemu di cafe, di kantor Arnav lalu di hotel. Pertemuan ngga sengaja kita tiga kali berturut-turut meyakinkanku kalau mungkin kamu adalah jodohku. Makanya aku mulai mencari tahu tentangmu dan mendekatimu.”


“Empat kali mas sama yang di toko buku.”


“Kalau di toko buku bukan kebetulan. Tapi aku sengaja nyuruh Topan mata- matai kamu.”


“Iihh.. mas, ternyata. Jangan-jangan soal Meta kecopetan juga ide kamu.”


“Aku emang minta Topan cegah Meta ketemu kamu biar aku bisa bebas pendekatan sama kamu. Tapi pencopetan itu idenya Topan sendiri.”


“Kasihan Meta tahu, uangnya hilang.”


“Kan Topan udah ganti uang yang hilang.”


“Iya Meta cerita katanya ada yang ngasih amplop ke dia isinya uang. Jumlahnya pas sama uang yang hilang dicopet waktu itu.”


“Dulu hidupku hampa, Zi. Sehari-hari aku hanya menjalani hidup tanpa tahu apa tujuanku sebenarnya. Tapi sejak bertemu kamu, aku seperti menemukan arah hidupku. Kamu memberiku semangat untuk menjalani hidup untuk berubah ke arah yang lebih baik. Terima kasih sudah datang ke hidupku dan memberi cahaya terang untukku,” Nick mencium kening Iza.


“Aku mencintaimu mas.”


“Aku mencintaimu, Zi. Sangat..”


Nick menangkup wajah Iza kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Sebelah tangannya memeluk erat pinggang sang istri. Mendengar kisah yang menimpa Fahrul, jujur saja Nick takut kalau dirinya juga terpisah dari Iza. Sebisa mungkin dia akan mempertahankan wanita itu di sisinya.


🍂🍂🍂


Menjelang tengah hari, mobil yang dikendarai Topan memasuki daerah Lembang. Pria itu mematikan AC lalu membuka kaca jendela, membiarkan udara khas pegunungan masuk ke dalam mobilnya.


Setelah mencari-cari keberadaan Bryan, akhirnya Topan menemukan titik terang. Dia berhasil melacak keberadaan Bryan. Ternyata beberapa teman tongkrongannya di Bandung mengenal Bryan. Pria berdarah Amerika itu kerap membagi-bagikan sembako atau makanan gratis setiap hari Jumat. Dan temannya itu biasa mengantri makanan darinya.


“Rumahnya Bryan di sini?”


“Bukan mom. Kita mau ke perkebunannya. Uncle Bryan itu punya kebun sayur juga bunga. Kebun sayurnya itu biasa jadi pemasok horeca (hotel, resto dan cafe) di kota Bandung. Kalau hasil kebun bunganya biasa disebar di kios-kios di daerah Padjajaran, Palasari sama Cihideung.”


“Apalagi yang kamu tahu tentang dia?”


“Uncle Bryan juga udah jadi WNI karena sudah sepuluh tahun lebih menetap di sini. Dan dia juga seorang mualaf, mom. Bahkan sering diundang mengisi ceramah di beberapa majlis taklim di dekat perkebunannya.”


Diah terharu mendengar berita tentang Bryan. Pria yang pernah menjadi suaminya itu ternyata telah berubah menjadi seorang yang lebih baik. Berbeda dengan dirinya yang selama bertahun-tahun berkubang dalam kemaksiatan. Mendadak nyalinya ciut untuk bertemu dengan Bryan.


Seketika Diah menjadi insecure. Dirinya merasa tak pantas bertemu dengan pria itu lagi. Tapi wanita itu berusaha menguatkan diri. Dia akan tetap menemui Bryan demi Nick. Diah akan membawa Bryan ke hadapan Nick. Agar sang anak berbahagia bisa bertemu kembali dengan ayah sambung yang begitu menyayanginya.


“Kamu bilang apa waktu ketemu sama dia?”


“Aku bilang lagi bantu seseorang cari pemasok sayuran untuk cafe. Uncle Bryan percaya, makanya aku langsung dibawa keliling kebunnya. Untungnya mom, uncle Bryan udah fasih ngomong bahasa Indonesia. Coba kalau ngga, bisa berabe kan mom. Mommy tahu sendiri aku tuh jago banget speaking english,” Topan terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


Diah ikut tertawa mendengarnya. Kemampuan Topan berbahasa Inggris memang sangat mengenaskan. Sepertinya pelajaran bahasa yang sering digunakan di banyak negara saat sekolah dulu tak satu pun yang menempel di otaknya.


“Apa dia pindah dengan keluarganya? Atau menikah dengan orang pribumi mungkin.”


“Ngga mom. Setahuku uncle Bryan tinggal sendiri.”


Kendaraan Topan berbelok memasuki jalan berbatu lalu terus masuk melewati pagar besi yang di atasnya terdapat plang nama Perkebunan Littrell. Dada Diah berdebar kencang menunggu detik-detik pertemuannya dengan pria yang masih bersemanyam di dalam hatinya. Topan menghentikan kendaraannya di depan bangunan rumah yang dijadikan Bryan sebagai kantor administrasi perkebunan.


“Mommy tunggu sini aja. Biar aku yang ketemu uncle Bryan dulu.”


“Ok..”


Topan turun dari mobil kemudian masuk ke dalam kantor. Salah seorang pegawai Bryan mengatakan kalau pria itu sedang berada di kebun untuk mengawasi jalannya panen. Pegawai pria itu lalu mengantar Topan ke tempat Bryan berada. Kedatangan Topan disambut hangat oleh Bryan.


“Selamat datang Topan,” Bryan menyalami Topan.


“Uncle.. aku dateng sama orang yang mau kerjasama nih.”


“Mana orangnya?”


“Masih nunggu di mobil. Cewek uncle, cantik lagi,” bisik Topan di telinga Bryan, membuat pria itu terkekeh.


“Ayo kita ke kantor saja.”


Bryan bersama dengan Topan berjalan bersama menuju kantor. Pria bule itu masuk ke dalam kantor lalu menuju ruangannya. Sedangkan Topan kembali ke mobil untuk menjemput Diah. Dengan cepat Topan membukakan pintu untuk Diah.


“Ayo mom.”


Diah turun dari kendaraan roda empat tersebut. Sejenak dia masih terdiam di tempatnya berdiri. Wanita itu merapihkan pakaian dan rambutnya kemudian menarik nafas panjang. Setelah merasa siap, dia mengikuti langkah Topan masuk ke dalam kantor.


Beberapa pegawai yang ada di dalam langsung mengalihkan pandangannya ke arah Diah. Walau sudah berumur, namun Diah masih terlihat cantik dan tubuhnya pun masih terlihat sintal. Dia melemparkan senyum pada semua orang seraya melangkahkan kaki menuju kantor Bryan.


Kembali dirinya menarik nafas panjang saat tangan Topan terangkat untuk mengetuk daun pintu. Setiap ketukan yang terdengar dari buku tangan Topan, seperti sebuah genderang perang di telinganya.


“Masuk!”


Dada Diah semakin berdegup kencang mendengar suara yang masih jelas dalam ingatannya. Tangan Topan terulur menggerakkan gagang pintu kemudian pintu kayu tersebut terbuka lebar. Mata Diah langsung menangkap sosok Bryan tengah duduk di balik meja kerja.


Topan masuk ke dalam. Diah sengaja berjalan di belakang pria itu. Tubuh tegap Topan cukup menutupi dirinya dari pandangan Bryan. Melihat kedatangan Topan, Bryan segera berdiri kemudian menghampirinya.


“Uncle.. kenalkan ini calon klien yang saya ceritakan.”


Topan menggeser tubuhnya, seketika sosok Diah terpampang di depan wajah Bryan. Pria itu nampak terkejut melihat wanita yang selama ini selalu dilihatnya secara diam-diam sekarang berdiri di hadapannya. Untuk sesaat keduanya hanya diam membisu dengan mata menatap satu sama lain.


“Aku tinggal dulu, uncle.”


🍂🍂🍂


**Kuy ngopi bareng, Pan😎


Yang nungguin kisah Fahrul- Mai, Denis- Ayura, Abe-Sansan atau Arnav-Meta, sabar ya, masih dalam antrian😆**