
Ddrrtt
Ddrrtt
Perhatian Fahrul teralihkan ketika ponselnya yang ada di atas meja kerjanya bergetar. Diraihnya benda pipih tersebut, terlihat sebuah panggilan masuk dari nomor ibunya. Dengan cepat dia menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Rul.. kamu lagi di mana?”
“Di kantor bu.”
“Ini ibu sama mertuamu lagi di jalan. Kita mau nengok kamu sama Mai. Gimana kabar Mai?”
“Alhamdulillah baik bu. Sekarang ibu udah sampai mana?”
“Baru masuk tol Pasteur, tadi jemput mertuamu dulu. Sudah dulu ya, Rul. Sinyalnya jelek. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah panggilan berakhir, Fahrul segera beranjak dari duduknya. Disambarnya kunci mobil lalu dengan tergesa keluar dari ruangan. Dia meminta sang sekretaris untuk menyelesaikan pekerjaannya kemudian keluar dari kantor dengan terburu-buru.
Fahrul memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia harus bertemu dengan Maira dan mengatakan perihal kedatangan orang tua mereka. Bisa gawat kalau para orang tua mengetahui selama ini pasangan suami istri tersebut tinggal terpisah.
Beberapa kali Fahrul membunyikan klakson untuk menghalau kendaraan yang menghalangi jalannya. Kakinya semakin kuat menekan pedal gas. Menjelang siang, kemacetan kota Jakarta sudah mulai mengurai, namun bukan berarti tak ada kepadatan. Akhirnya setelah berjibaku dua puluh menit lamanya, dia tiba di depan rumah orang tua Denis.
TOK
TOK
TOK
Pintu rumah terbuka, dari dalam muncul Maira masih mengenakan pakaian rapih. Sepertinya wanita itu baru saja pulang dari sekolah tempatnya mengajar. Keningnya berkerut melihat Fahrul ada di depannya, waktu masih pukul sepuluh pagi. Biasanya suaminya itu datang saat jam makan siang membawakan makanan untuknya.
“Mai.. bapak, ibu, abah sama ummi lagi di jalan. Mereka mau nengok kita katanya. Ayo pulang Mai. Masa mereka datang, kamunya ngga ada.”
“Ngga mau. Suruh aja mereka ke sini.”
“Jangan Mai, nanti mereka curiga kenapa kamu tinggal di sini.”
“Sekalian aja ceritain yang sebenarnya.”
“Mai.. aku mau cerita semua ke mereka soal perselingkuhanku dulu dan aku juga bersedia terima konsekuensinya. Tapi aku mohon kamu pulang dulu ya sekarang. Aku akan mengakui itu semua di depan kamu langsung.”
“Aku cape, ngantuk, mau tidur.”
“Kamu istirahat aja nanti. Biar aku yang beresin apartemen. Ayo Mai, aku mohon.”
“Ngga mau.”
Maira meninggalkan Fahrul lalu masuk ke dalam kamarnya. Fahrul bergegas menyusul, namun pria itu tak bisa masuk karena Maira menguncinya dari dalam. Beberapa kali Fahrul mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari sang istri. Akhirnya Fahrul memutuskan untuk pergi. Dia harus membenahi apartemen untuk menyambut kedatangan orang tua dan mertuanya.
🍂🍂🍂
Fahrul memandang frustrasi unit apartemennya yang sudah seperti kapal pecah. Semenjak Maira hamil, dia memang jarang kembali ke apartemen. Pria itu lebih sering menginap di tempat Maira sekarang, hingga apartemennya terbengkalai. Debu nampak memenuhi beberapa tempat.
Tak sanggup membersihkan seorang diri, Fahrul memutuskan menghubungi jasa kebersihan online. Dia juga memesan beberapa macam makanan untuk para tamu yang kemungkinan akan datang sekitar tiga jam lagi. Pria itu masuk ke dalam kamar lalu berganti pakaian.
Fahrul baru saja mengganti seprai kamarnya ketika terdengar bel. Dengan cepat dia membukakan pintu. Seorang wanita paruh baya mengenakan seragam salah satu jasa kebersihan online datang dengan membawa beberapa peralatan kebersihan. Fahrul langsung menunjukkan tempat-tempat yang harus dbersihkan.
Sementara wanita itu membersihkan semua ruangan, Fahrul berkutat mencuci pakaian kotor dan juga seprai. Kesibukannya semakin bertambah ketika kurir datang mengantarkan makanan pesanannya. Beberapa plastik berisi makanan pesanan dibiarkan di atas meja makan begitu saja. Fahrul masih harus mengeringkan dan menjemur cuciannya dahulu.
Sembilan puluh menit berlalu, petugas kebersihan akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Fahrul menatap puas ruangan apartemennya sudah bersih dan rapih. Dia mengambil dompet lalu memberikan upah sesuai dengan tarif yang ditentukan. Tak lupa dia memberikan bonus pada wanita tersebut. Merasa tak ada yang harus dikerjakan lagi, wanita itu berpamitan.
Fahrul memutar-mutar pinggangnya yang terasa kaku. Cuciannya telah selesai dijemur, dan dia baru saja selesai menyetrika beberapa kemeja kerjanya. Pria itu kemudian masuk ke dalam kamar untuk menunaikan shalat dzuhur.
Usai shalat, Fahrul menuju meja makan. Dia membuka satu per satu bungkus makanan yang dipesannya tadi. Satu ekor ayam kremes ditaruh ke atas piring ceper, sambalnya dimasukkan ke dalam mangkok kecil. Lalu dia memindahkan cah kangkung ke dalam piring berbentuk oval. Beberapa potong tempe dan tahu bacem diletakkan di atas piring juga. Untuk sop buntut, sengaja dia masukkan ke dalam panci kecil agar mudah saat dihangatkan nanti.
TING TONG
Jantung Fahrul berdegup kencang saat mendengar suara bel. Sepertinya orang tua dan mertuanya sudah tiba. Dengan langkah pelan, dia berjalan menuju pintu. Dirinya sudah pasrah jika nanti mereka menanyakan keberadaan Maira. Tangan Fahrul bergerak membukakan pintu. Pria itu terkejut sekaligus senang melihat Maira yang datang.
“Mai..”
“Tolong bawakan koperku.”
Dengan semangat empat lima, Fahrul mengambil koper Maira lalu membawanya ke kamar. Maira melihat ke arah meja makan, nampak beberapa piring sudah ada di atasnya. Wanita itu melangkahkan kakinya ke sana.
“Ada yang kurang ngga Mai?”
“Abah suka ayam bakar.”
“Oh ya udah, biar aku pesan lagi. Kamu mau apa?”
“Aku mau jajanan pasar aja. Risoles, kroket kentang, kue lumpur, lemper sama kue sus.”
Fahrul mengambil ponselnya lalu memesan ayam bakar untuk ayah mertuanya. Dia lalu mencari toko yang menjual jajanan pasar pesanan sang istri. Pria itu menemukan sebuah toko kue yang menjual aneka jajanan pasar dan menyediakan pelayanan delivery service. Dengan cepat, dia memesan semua keinginan sang istri.
Maira berjalan menuju dapur lalu membuka tutup magic com. Dia terkejut karena tak ada nasi di dalamnya. Maira menggelengkan kepalanya, lalu dengan cepat wanita itu mengambil beras dan mencucinya. Fahrul menghampiri sang istri ke dapur.
“Lagi apa Mai?”
“Aa inget beli makanan tapi lupa masak nasi.”
“Oh iya aku lupa,” Fahrul menepuk keningnya.
“Aku mau masak nasi. Aa tolong rapihkan bajuku.”
“Siap sayang.”
Fahrul bergegas menuju kamarnya. Hatinya berbunga-bunga mendengar panggilan baru Maira untuknya. Sambil bersiul dia memindahkan pakaian Maira dari koper ke lemari. Sementara itu di dapur, usai membersihkan beras dan memasukkannya ke dalam magic com, Maira nampak termenung di dekat wastafel.
Wanita itu terjengit saat Fahrul menghampiri dan memeluk tubuhnya dari belakang. Fahrul mendekap perut Maira, lalu mengusap-ngusapnya sebentar. Pria itu meletakkan kepalanya di bahu sang istri.
“Mai.. aku benar-benar minta maaf atas apa yang kulakukan dulu. Terima kasih kamu sudah memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sesuai janjiku, aku akan mengakui semua perbuatanku pada orang tua kita. Apapun hukuman mereka, akan aku terima asalkan aku bisa tetap bersamamu dan calon anak kita.”
“Tidak usah katakan apapun pada mereka. Cukup hanya aku yang tahu perselingkuhanmu. Aku harap aa menepati kata-kata aa untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Perlu aa tahu, aku bersedia kembali padamu karena anak kita. Tapi soal perasaan, maaf.. aku belum memiliki perasaan apapun padamu.”
“Aku ngga menuntut banyak Mai. Asalkan kamu mau memaafkanku dan tetap bersamaku, aku terima. Biar aku yang mencintaimu saja. Mulai sekarang aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu.”
Fahrul mengurai pelukannya kemudian membalikkan tubuh Maira menghadapnya. Tangannya mengusap pipi Maira yang mulai terlihat chuby. Kemudian pria itu mendaratkan ciuman di kening sang istri. Maira memejamkan matanya, dia pun bisa merasakan perasaan tulus Fahrul padanya.
Untuk kedua kalinya Fahrul menata makanan pesanan di atas piring. Kali ini ada Maira yang membantunya. Usai menata makanan, Maira memeriksa persediaan gula dan kopi dan ternyata kosong. Fahrul memutuskan pergi ke mini market yang ada di lobi apartemen. Maira juga ingin ikut, ada beberapa makanan ringan yang hendak dibelinya.
🍂🍂🍂
Suasana ceria nampak di kediaman Fahrul saat orang tua beserta mertuanya sampai. Maira memeluk ummi tercintanya, tak bisa dilukiskan kerinduannya pada wanita yang telah melahirkannya. Dia juga memeluk ibu Fahrul. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi dirinya seperti anak sendiri.
Fahrul memasukkan koper milik orang tua dan mertuanya ke kamar yang masih kosong. Di unit apartemennya ini memang tersedia tiga buah kamar. Kemudian pria itu mengajak semuanya untuk menikmati makan siang.
Wajah Asti, ibu Fahrul nampak bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya. Awalnya dia sempat khawatir kalau pernikahan sang anak tak berjalan dengan baik, mengingat bagaimana dulu Fahrul nampak enggan menikah dengan Maira. Namun kini wanita paruh baya itu nampak lega.
“Rul.. kok kamu kelihatan kurus. Apa Maira ngga pernah masak buat kamu?” tanya Reni, ummi Maira.
“Ngga ummi. Maira mengurusku dengan baik. Cuma akhir-akhir ini aku memang sering mual, dan ngga n*fsu makan kalau pagi. Jadi aku jarang sarapan. Kalau ngga ada Maira aku juga males makan.”
“Loh kok gitu? Jangan-jangan...”
“Iya ummi.. Maira lagi hamil. Sekarang kehamilannya jalan tiga bulan.”
“Alhamdulillah.. abah mau cucu,” seru ayah Maira.
Semua langsung mengucap syukur begitu mengetahui kalau Maira tengah berbadan dua. Ternyata waktu menengok anak-anak mereka benar-benar tepat. Bukan hanya bisa melepas rindu, mereka juga mendapat kabar bahagia.
Seusai makan siang, mereka melanjutkan perbincangan di ruang tengah. Maira duduk di antara dua wanita yang begitu disayanginya. Mereka terus memberikan nasehat bagaimana menjaga kehamilan dengan baik, makanan apa saja yang baik dan tidak dikonsumsi selama hamil.
“Nanti syukuran empat bulannya di Bandung aja ya. Abah akan undang anak yatim dan para santri untuk mendoakan calon anak kalian.”
“Iya abah, aku ikut aja gimana baiknya,” jawab Fahrul.
“Mai ada ngidam yang aneh-aneh ngga?”
“Ngga bu. Alhamdulillah morning sick juga ngga, cuma gampang cape sama ngantuk aja.”
“Wajar itu. Tapi kamu enak ya, yang ngalamin morning sick, Fahrul,” Reni tekikik geli.
“Bagus itu, jangan mau enaknya aja. Dia harus merasakan bagaimana susahnya wanita hamil, supaya ngga semena-mena sama istrinya,” timpal Asti.
“Kalau Fahrul macam-macam, bilang aja ke bapak. Nanti biar bapak yang hukum dia.”
Maira tersenyum simpul mendengar ucapan ayah mertuanya. Fahrul menundukkan kepalanya. Karena kebaikan hati Maira, orang tua juga mertuanya tak mengetahui kelakuan bejatnya. Digenggamnya tangan Maira dengan erat. Entah dengan cara apa dia harus menunjukkan rasa terima kasih pada wanita yang saat ini sudah memenuhi hatinya.
🍂🍂🍂
Setelah mengunci pintu dan mematikan lampu di ruang tengah, Fahrul masuk ke dalam kamar. Dia menyalakan lampu tidur lalu mematikan lampu utama. Tak lama kemudian dia merangkak naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap Maira yang belum tertidur.
“Kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
“Sini sayang.”
Fahrul merentangkan lengannya lalu memindahkan kepala Maira agar berbaring di atas lengannya. Tangan satunya menarik pinggang Maira hingga tubuh mereka berdekatan. Semenjak hamil, Maira memang sulit tidur kalau tidak dipeluk olehnya. Maira menelusupkan kepalanya ke dada Fahrul. Faktor hormon kehamilan membuatnya begitu menyukai aroma tubuh suaminya.
Fahrul berusaha menahan diri saat Maira terus saja bergerak dan mengusik adik kecilnya. Dia berusaha memejamkan matanya, mengalihkan hasrat yang tiba-tiba menyeruak. Maira bukanlah wanita polos, dia tahu kalau suaminya sedang menahan diri untuk tidak menerkamnya. Pahanya bisa merasakan tusukan dari benda tumpul milik Fahrul.
“Aa kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk. Kamu tidur ya sayang. Anak kita pasti udah ngantuk.”
“Dia belum ngantuk, a.”
“Masa? Emang dia bilang?” Fahrul terkekeh.
“Kayanya dia belum mau tidur kalau belum ditengok ayahnya.”
“Maksudnya?”
Maira tak menjawab pertanyaan Fahrul, dia semakin menelusupkan kepalanya ke dada sang suami. Tak percaya kalau dirinya punya keberanian mengatakan hal tersebut. Fahrul terdiam sejenak, mencoba memahami kata-kata Maira barusan. Matanya membulat saat tahu arah pembicaraan sang istri. Fahrul menjauhkan sedikit tubuhnya kemudian meraih dagu Maira. Didongakkan wajah sang istri ke arahnya.
“Kamu serius Mai? Aku boleh....”
“Hmm.. itu hakmu dan kewajibanku juga melayanimu.”
“Tapi kalau kamu ngga mau, aku ngga akan memaksa.”
“Aku ngga merasa terpaksa. Dokter juga sudah memperbolehkan. Kalau aa mau, aku bersedia.”
Mata Fahrul berkaca-kaca mendengar penuturan Maira. Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Maira. Pria itu terus memagut dan me**mat bibir Maira yang jarang tersentuh bibirnya. Dia membimbing Maira untuk membalas ciumannya. Walau masih terasa kaku, sebisa mungkin Maira membalas ciuman sang suami.
Pelan-pelan tangan Fahrul bergerak melepaskan daster yang membalut tubuh sang istri. Jantungnya berdegup kencang melihat tubuh Maira yang putih mulus bak porselen. Dia juga melepaskan kaos yang membalut tubuh kekarnya. Pria itu memulai cumbuannya, menciumi tubuh Maira dan memberikan sesapan kecil serta rematan di bukit kembarnya.
Terdengar erangan Maira ketika benda tumpul milik Fahrul masuk ke gua miliknya. Ini kali kedua mereka bercinta, dan Fahrul melakukannya dengan penuh kelembutan. Dia ingin sang istri juga menikmati percintaan mereka.
******* dan lenguhan Maira bersahutan dengan deru nafas Fahrul saat pria itu memacu tubuhnya di atas sang istri. Harus Maira akui kali ini dia menikmati penyatuan mereka. Fahrul bisa membuatnya merasakan surga dunia yang sering diceritakan rekan kerjanya jika tengah bersenda gurau.
Maira memeluk leher Fahrul erat saat gelombang hangat menghantam dirinya untuk kedua kali. Fahrul mempercepat gerakannya, dia juga ingin segera mencapai kepuasaannya. Tak lama kemudian terdengar erangannya saat dirinya berhasil melepaskan cairan kental ke dalam rahim Maira.
Tangan Fahrul mengusap kening Maira yang dipenuhi peluh. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di wajah cantik itu. Bahkan Fahrul membopong Maira ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sia percintaan mereka. Dia lalu membantu Maira memakai kembali baju tidurnya, baru kemudian membaringkan diri kembali.
“Terima kasih Mai... aku mencintaimu.”
Bisik Fahrul di telinga Maira sambil memeluk wanita itu dari belakang. Senyum tipis tercetak di wajah Maira. Tak dipungkiri, hatinya juga merasa bahagia. Berharap kebahagiaan ini akan terus berlangsung selamanya.
🍂🍂🍂
Fahrul bergegas pulang ke apartemennya begitu Maira menghubunginya. Mendengar nada suara sang istri, perasaannya menjadi was-was. Seperti orang kesetanan, Fahrul memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sambil berlari Fahrul memasuki gedung apartemen tempatnya tinggal. Tangannya memijit tombol 12, lantai di mana unitnya berada. Hatinya terus saja gelisah, seakan ada hal buruk yang tengah menantinya.
TING
Dengan cepat Fahrul keluar dari lift. Langkah panjangnya menyusuri koridor untuk sampai di unitnya. Tangan Fahrul bergerak cepat memencet bel yang terletak di samping pintu. Tak lama pintu terbuka, muncul wajah Asti yang menunjukkan raut kekecewaan. Fahrul semakin bingung.
Langkah Fahrul terhenti ketika memasuki ruang tengah. Di sana nampak Reisa tengah duduk bersimpuh di hadapan ayah dan ayah mertuanya. Pria itu menoleh ke arah Maira yang duduk di meja makan. Wajah Maira nampak pucat, matanya juga berkaca-kaca.
“Maafkan saya om.. tante.. tolong maafkan saya. Bukan maksud saya merusak rumah tangga kak Fahrul. Saya hanya ingin menuntut pertanggungjawaban darinya atas anak yang saya kandung,” ucap Reisa di sela-sela isaknya.
🍂🍂🍂
Nah loh.. gue ngga ikuta ya Rul, kabooorrr🚴🚴🚴