
Dengan dada berdebar Fahrul menjalan mendekati bed. Suster yang bersamanya tadi menunjuk bed yang letaknya kedua dari ujung. Perlahan namun pasti Fahrul semakin mendekati bed. Dia terdiam saat melihat seorang pria terbaring di atas bed.
Cukup lama Fahrul memandangi pria seumuran dirinya yang tengah terbaring di atas bed dengan beberapa peralatan medis terpasang di tubuhnya. Matanya nampak berkaca-kaca. Pria itu menarik nafas panjang, mencoba membuang kesedihan yang melanda hatinya.
“Gue harap lo cepet sadar, bro. Ada keluarga dan sahabat yang menunggu lo kembali.”
Fahrul membalikkan tubuhnya kemudian berjalan keluar ruangan ICU. Dilepaskan satu per satu pakaian steril yang membalut tubuhnya. Kemudian dia kembali ke meja perawat untuk mengambil belanjaannya.
“Bagaimana pak? Apa benar itu teman bapak? Kami harus melengkapi data administrasi dan menghubungi keluarganya.”
“Dia bukan teman yang saya cari sus. Maaf.. dan terima kasih sudah mengijinkan saya melihatnya. Semoga keluarganya cepat ditemukan.”
Fahrul mengambil bungkusan putih di atas meja kemudian berjalan meninggalkan area ICU. Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam lift. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding lift. Sesaat tadi dia sungguh berharap kalau orang yang dilihatnya adalah Nick. Namun dirinya juga bersyukur, kondisi pria di ruang ICU tadi begitu parah. Dia tak berani membayangkan kalau itu adalah Nick.
Pintu ruang rawat inap Maira terbuka, Fahrul masuk dengan membawa susu hamil untuk istrinya. Pria itu berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya. Fahrul meletakkan bungkusan di atas nakas lalu menarik kursi ke dekat bed Maira. Diraihnya tangan Maira lalu mencium punggung tangannya.
“Kenapa a? Aa kelihatan sedih.”
“Apa kelihatan? Padahal aku sudah coba tersenyum.”
“Bibirmu tersenyum tapi matamu menunjukkan kesedihan. Ada apa?” Maira mengusap lembut rahang Fahrul.
“Tadi aa baru dari ruang ICU. Ada pasien tak dikenal dan ciri-cirinya mirip dengan Nick. Aa ke sana dan berharap itu Nick, tapi ternyata bukan. Entah aa harus senang atau sedih tahu itu bukan Nick. Keadaan orang itu parah, banyak alat medis terpasang di tubuhnya, bahkan tanda vitalnya juga kurang bagus. Aa takut kalau Nick juga mengalami hal yang sama. Aa takut dia kembali merasakan sakit dan terlantar...”
Fahrul tak sanggup melanjutkan ucapannya. Pria itu menangis membayangkan sesuatu yang buruk menimpa sahabatnya. Dia membenamkan kepalanya ke punggung tangan sang istri. Maira mengusap lembut puncak kepala suaminya.
“Aa yang sabar. Percayalah, ada Allah yang akan selalu menjaganya. Nick itu orang baik, In Syaa Allah akan ada orang baik yang menolongnya. Jangan berputus asa dan jangan berhenti berdoa. Tidak ada yang mustahil untuk Allah, jika Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi.”
Fahrul hanya menganggukkan kepalanya saja. Sungguh dirinya merasa beruntung, di saat terberatnya, ada sang istri yang mampu menenangkan perasaannya. Tak dapat dibayangkan jika dia juga harus berpisah dengan Maira dan calon anaknya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Sebuah suara mengejutkan Fahrul dan Maira. Sontak pria itu mengangkat kepala kemudian menolehkan wajahnya. Ayah Maira datang bersama istrinya. Matanya menatap tajam ke arah Fahrul.
“Abah..”
Fahrul berdiri dari duduknya kemudian menghampiri pria itu. Diraihnya tangan sang mertua kemudian mencium punggung tangannya bergantian dengan ibu mertuanya. Walau tak menolak salam dari menantunya, namun bukan berarti Surya bisa menerima kehadiran Fahrul. Pria itu tetap belum membukakan pintu maaf untuk menantunya itu.
“Pergi..”
“Abah aku mohon..”
“Pergi.. Mai dan anaknya tidak membutuhkanmu.”
“Abah...”
Surya menoleh pada Maira yang sudah nampak berkaca-kaca. Tak ingin membuat sang anak tertekan karena pertengkaran mereka, Surya mengajak Fahrul ke luar ruangan. Pria itu mendudukkan diri di kursi yang ada di depan kamar. Fahrul menyusul duduk di sebelahnya.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Mai istriku... apa aku tidak boleh menjenguknya.”
“Istri.. setelah kamu menyia-nyiakannya, berselingkuh dengan perempuan lain sampai mengandung anakmu, masih berani kamu menyebutnya istri.”
“Aku akui aku salah. Aku sudah melakukan dosa besar telah berselingkuh dan menyakiti perasaan Mai. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku juga akan membuktikan kalau anak yang dikandung Reisa bukanlah anakku. Aku mohon beri aku kesempatan. Aku mencintai Mai.”
“Cinta? Perbuatanmu itu tak menunjukka kalau kamu mencintainya. Pantas saja dulu kamu terlihat enggan setiap kami membahas pernikahan. Kenapa kamu menerima Mai kalau tidak menginginkannya? Ah ya.. abah lupa, kamu menerima Mai demi bisa hidup enak dan terus membiayai selingkuhanmu. Benar begitu?”
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Fahrul. Apa yang dituduhkan Surya padanya benar adanya. Tujuan awalnya menikahi Maira hanya demi mempertahankan apa yang sudah dimiliki. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, sejuta penyesalan yang dirasakannya pun tidak ada artinya. Semua sudah terjadi, walau Maira sudah memaafkannya namun jalan untuk bisa bersamanya tetaplah sulit.
“Jangan temui Mai lagi.”
“Aku masih suaminya. Abah tahu betul saat ini aku yang lebih berhak atasnya dibanding abah. Jadi aku tidak akan berhenti menemuinya.”
“Kamu tahu hakmu sebagai suami tapi melalaikan kewajibanmu. Sekarang kamu berteriak kalau Mai, istrimu. Lalu kemana kamu ketika Mai membutuhkanmu? Mai itu anak abah, abah tahu betul bagaimana sifatnya. Dia selalu memendam masalahnya sendiri. Melihat dia tidak terkejut saat Reisa datang dan mengatakan dirinya adalah kekasihmu, abah tahu kalau Mai sudah tahu tentang perselingkuhanmu. Demi menjaga nama baikmu, dia telan semua kesedihan seorang diri. Bahkan dia masih membelamu sampai saat ini. Mau berapa banyak lagi rasa sakit yang kamu berikan pada Mai?”
“Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku tidak akan menyakitinya lagi. Tolong berikan aku kesempatan. Mai juga sudah memaafkanku.”
“Apa kamu yakin kalau dia sudah memaafkanmu dan menerimamu lagi? Apa itu murni dorongan dari dirinya atau hanya pengaruh hormon kehamilan? Bukan tidak mungkin sikapnya sekarang karena anak yang dikandungnya. Abah tidak mau ambil resiko, ceraikan Mai setelah anak kalian lahir. Tinggalkan dia, biarkan dia memulai hidup baru dengan pria yang benar-benar mencintainya. Sekarang kamu pergi dan tidak usah datang lagi.”
“Baiklah, tapi ijinkan aku berpamitan.”
“Lima menit.”
Fahrul berdiri dari duduknya kemudian masuk ke dalam ruangan. Dihampirinya Maira yang menunggunya dengan cemas. Fahrul menggenggam tangan Maira erat. Hari ini dia akan mengalah karena tak ingin membuat istrinya sedih.
“Aa pergi dulu. Masih ada yang harus aa urus.”
“Aa mau kemana?”
“Aa harus mencari rumah untuk tempat tinggal kita nanti. Aa juga mau ke perkebunan daddy Bryan. Kamu ingat kan aa pernah bilang mau mendirikan koperasi untuk para petani bersama Abe?” Maira hanya menganggukkan kepalanya.
“Aa pergi dulu. Doakan aa, semoga semuanya lancar. Aa akan menyiapkan dunia yang lebih baik untuk kita dan calon anak kita.”
Fahrul mencium kening Maira, kemudian mencium perut sang istri yang sudah terlihat sedikit menonjol. Diusapnya perut itu sambil mengucapkan doa-doa untuk sang anak. Reni menyusut sudut matanya yang berair. Dia terharu melihat sikap Fahrul pada anaknya. Wanita itu percaya kalau Fahrul sudah menyesal dan mencintai putrinya, sayang sang suami masih tetap pada pendiriannya, meminta keduanya berpisah.
Setelah berpamitan pada Reni, Fahrul keluar dari ruangan. Dilihatnya Surya masih bertahan di tempatnya tadi. Pria itu tetap menunjukkan penghormatan pada mertuanya itu. Fahrul mencium punggung tangan Surya untuk berpamitan.
“Aku titip Mai, abah. Aku akan menuruti keinginan abah untuk saat ini. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap memperjuangkan Mai. Biarlah Allah yang memutuskan, usahaku atau usaha abah yang akan menang nantinya.”
Fahrul melangkahkan kakinya menjauhi ruang rawat inap sang istri. Pembicaraan dengan Surya tidak lantas mematahkan semangatnya. Justru dia semakin terlecut untuk membuktikan semua ucapannya. Fahrul meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menyerah dan mempertahan Maira di sisinya.
🍂🍂🍂
Usai menjemput Sansan di kampusnya, Abe memacu kendaraan menuju kediaman orang tuanya. Tadi Syarif menghubunginya dan mengatakan untuk datang ke rumah dengan Sansan. Abe sudah tahu apa yang akan dibicarakan sang ayah. Bersama dengan Sansan, dia akan datang menemui sang ayah.
Kedatangan Abe dan Sansan disambut gembira oleh Eni. Wanita paruh baya itu memeluk gadis yang akan menjadi menantunya. Sejak awal bertemu, Eni memang sudah jatuh hati pada Sansan. Entah mengapa dia merasa kalau Sansan akan mampu menaklukkan hati Abe yang keras.
Syarif bangun dari kursi kerjanya kemudian berpindah duduk di sofa begitu melihat istrinya masuk bersama dengan Abe dan Sansan. Eni duduk di samping suaminya, sedang Sansan dan Abe duduk berhadapan dengan mereka.
“Bagaimana kabarmu San?” Syarif berbasa-basi.
“Alhamdulillah baik, om.”
“Om kemarin sudah bertemu dengan papa mamamu. Kami sepakat akan melangsungkan pernikahan kalian minggu depan. Semua persiapan sudah dilakukan.”
Abe terkejut mendengar penuturan papanya, begitu pula dengan Sansan. Pasalnya kedua orang tuanya belum mengatakan apapun padanya. Abe menatap sang ayah kesal, perjanjian awal mereka tidaklah seperti ini.
“Aku bilang aku akan menikah kalau papa sudah berhasil menemukan Nick.”
“Bagaimana kalau papa tidak bisa menemukannya? Apa kamu akan membatalkan pernikahan?”
“Aku akan tetap menikah dengan Sansan, tapi tanpa campur tangan papa. Kami yang akan menentukan kapan kami akan menikah. Ayo San, kita pergi. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi.”
Syarif mengambil sebuah kartu nama dari saku kemejanya lalu melemparkannya ke meja. Sekilas Abe melirik kartu pipih itu. Tertera nama dokter dari sebuah rumah sakit. Syarif memberi isyarat dengan mata dan kepalanya agar Abe mengambil kartu tersebut. Abe mengulurkan tangannya mengambil kartu nama tersebut.
“Nick ada di sana. Itu nama dokter yang menanganinya. Di belakang kartu ada nama yang digunakan Nick dan orang yang bertanggung jawab atasnya.”
Abe membaca kartu nama di tangannya, dr. Reyhan Fatansyah Vaughan, Sp.B, Sp. Em. dari rumah sakit Ibnu Sina, Bandung. Dia lalu membalikkan kartu di sana, tertera nama pasien David dan penanggung jawab Salsabila Khairina. Di bagian bawah juga tertulis nama ruangan tempat Nick di rawat.
“Baiklah. Aku akan ke sana untuk melihatnya.”
“Tidak usah. Berikan saja informasi ini pada keluarganya. Biarkan mereka yang ke sana. Sedang kamu, urus saja persiapan pernikahan kalian.”
“Aku akan pergi. Aku harus memastikannya dengan mata kepalaku sendiri kalau memang orang yang bernama David adalah Nick.”
“Kamu memang keras kepala! Urus pernikahanmu mulai besok atau papa akan menangguhkan perceraian kakakmu!!”
Abe geram mendengar ucapan ayahnya. Eni hanya menghela nafas saja melihat pertengkaran anak dan suaminya. Sansan tak berani berkata-kata, dia cukup terkejut melihat perdebatan di depannya. Dengan kesal Abe berdiri dari duduknya, ditariknya tangan Sansan hingga ikut berdiri.
“Lakukan apa yang mau papa lakukan. Aku muak dengan semua perintah dan aturan papa!! Kalau papa mau menghalangi perceraian kak Ambar, silahkan! Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga supaya kakak bisa lepas dari suami bajingannya itu!!”
“ABE!!”
“Sudah cukup! Ada dengan kalian, kenapa selalu bertengkar setiap bertemu. Abe.. tolong dengarkan ucapan ayahmu, nak. Mengalahlah satu kali ini saja.”
“Mengalah? Mama mau aku mengalah lagi? Mama sadar sudah berapa kali mama meminta itu? Apa aku tak pernah mengalah selama ini? AKU SELALU MENGALAH! DAN ITU AKU LAKUKAN DEMI MAMA! Tapi apa mama pernah meminta papa mengalah untukku?”
“Abe!! Jangan kurang ajar kamu!! Beraninya kamu berteriak pada mamamu!!”
“Dengar bapak Syarif yang terhormat,” Abe mengacungkan telunjuknya di depan wajah Syarif.
“Abe!! Jaga sikapmu! Dia papamu!! Suami mama!!”
“Yaa.. dia memang suami mama. Dan aku berikan semua jempolku untuk mama karena sudah menjadi istri yang baik untuk papa. Selama berpuluh tahun mama menunjukkan ketaatan mama dengan selalu berada di samping papa, mengikuti semua kemauan papa tanpa membantahnya. Tapi menjadi istri yang baik bukan hanya menaati apa perintah suaminya. Istri yang baik juga harus bisa mengingatkan kalau suaminya berbuat salah. Mama mungkin istri yang baik tapi bukan ibu yang baik untuk kami.”
“ABE!!” murka Syarif.
“Apa pernah mama satu kali saja berdiri di. samping kami, anak-anak mama. Apa pernah mama menentang keputusan papa demi kami? Mama tahu kalau tidak semua keputusan yang papa ambil itu benar tapi mama hanya diam dan diam. Mama selalu meminta kami mengerti dan mengalah untuk papa. Tapi apa pernah mama melakukan hal sama pada papa? Apa tidak cukup bang Fikri yang menjadi korban? Mama tahu betul apa keinginan bang Fikri. Tapi apa usaha mama saat papa memaksanya mengikuti pendidikan pamongpraja demi ambisinya, menjadikan abang pegawai negri dan bisa berkarir di dunia politik? Bahkan kalian diam saja saat abang kehilangan nyawanya karena disiksa para seniornya. APA YANG KALIAN LAKUKAN??!!”
Syarif menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu mendengar Abe mengungkit masalah Fikri, putra sulungnya. Eni mulai menangis mengingat kejadian tragis yang menimpa anaknya. Fikri adalah kakak pertama Abe. Fikri bercita-cita menjadi arsitek, tapi Syarif memaksanya kuliah di institut pemerintah dalam negeri. Ambisi menjadikan anaknya politisi mengikuti jejaknya yang mendorongnya melakukannya.
Sayang di tahun kedua, Fikri menjadi korban bully para seniornya. Hanya karena kesalahan kecil, Fikri disiksa oleh para seniornya. Dia dijadikan samsak bergilir oleh sembilan orang seniornya. Nyawa Fikri tak dapat diselamatkan setelah mengalami pendarahan internal di kepalanya.
Saat itu Syarif tidak bisa berbuat banyak, karena beberapa pelaku adalah anak pejabat tinggi. Sebagai ganti rugi kejadian itu, Syarif dijanjikan posisi tinggi di partai dan diajukan sebagai anggota dewan. Hingga sekarang dirinya telah menjabat sebagai anggota dewan selama dua periode. Dan sejak meninggalnya Fikri, Abe berubah menjadi sosok pemberontak untuk menunjukkan kekecewaan pada kedua orang tuanya, terutama sang papa.
“Kalau papa mau membatalkan perceraian kak Ambar silahkan. Aku sendiri yang akan berjuang untuknya. Tapi kalau sesuatu terjadi pada kakak, jangan harap aku akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Aku akan memutuskan hubungan ini untuk selamanya. Bagiku, ada tidaknya kalian dalam hidupku tidak ada pengaruhnya. Silahkan kalian lihat sendiri perbuatan menantu kesayangan kalian. Kalian bisa menemuinya di rumah sakit Mitra Medika, aku yang mengirimnya ke IGD. Katakan padanya kalau dia mau mengajukan tuntutan, aku siap.”
Abe mengambil foto-foto dari saku jaketnya. Foto bukti perselingkuhan Thomas, suami Ambar serta gambar Ambar setelah mendapatkan kdrt dari suaminya. Dilemparkannya foto-foto tersebut ke atas meja hingga bertebaran. Pria itu kemudian menarik tangan Sansan keluar dari sana.
Eni terkejut melihat foto yang berserakan di meja. Tangisnya pecah saat melihat wajah dan tubuh anaknya dipenuhi lebam. Semua itu adalah hasil perbuatan Thomas. Saat dilanda kekesalan, pria itu selalu melampiaskan kemarahannya pada Ambar. Selama ini Ambar diam karena takut akan ancaman Thomas. Namun kini dia sudah tidak tahan lagi dan mengatakan semuanya pada Abe.
Mengetahui perbuatan Thomas membuat Abe murka. Selama ini dia hanya tahu kalau Thomas hanya berselingkuh. Begitu tahu pria itu juga melakukan kekerasan, Abe mengamuk. Didatanginya Thomas dan menghajar pria itu habis-habisan sampai harus dibawa ke rumah sakit karena luka-luka yang dideritanya.
“Aaargghhh!!!”
BUGH
BUGH
BUGH
Abe melampiaskan kekesalannya dengan memukul tembok di samping pintu pagar. Terkejut melihat emosi Abe, Sansan berusaha menenangkannya. Ditariknya tangan Abe agar pria itu tak lagi memukulkannya ke tembok. Buku-buku tangan Abe nampak memerah dan lecet di beberapa bagian.
“Istighfar kak, jangan seperti ini.”
“Kamu lihat sendiri San. Aku bukan hanya laki-laki brengsek. Tapi keluargaku juga kacau. Tak ada hal baik yang bisa kubanggakan dari diriku. Apa kamu masih mau menikah denganku?”
“Laki-laki yang berusaha memperjuangkan kebahagiaan kakaknya, laki-laki yang begitu menyayangi sahabatnya, laki-laki yang mau memperbaiki diri, laki-laki yang selalu melindungiku, laki-laki yang sedang merancang masa depan untukku. Kalau itu yang kakak maksud brengsek, maka jawabanku iya. Aku akan menikah dengan laki-laki brengsek itu.”
“San...”
“Aku mencintaimu kak. Aku mencintaimu apa adanya, semua kelebihan dan kekuranganmu.”
“Terima kasih San.. terima kasih..”
Abe menarik Sansan ke dalam pelukannya. Didekapnya erat gadis yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai istrinya. Di antara semua hal buruk yang diberikan ayahnya, terselip satu anugerah untuknya. Sansan, gadis itu ibarat oase di padang pasir. Karena Sansan, pria itu masih menganggap Syarif sebagai ayahnya. Jika bukan Sansan yang menjadi pilihan sang ayah, mungkin saja Abe akan membenci Syarif seumur hidupnya.
🍂🍂🍂
Ada yang merasa familiar ngga dengan nama dokter dan rumah sakitnya😁